ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Destruksi Eksergi
4.2.1 Analisis Destruksi Eksergi pada SRO Sederhana
Pada siklus SRO ini terdapat empat komponen utama dalam siklusnya antara lain pompa, evaporator, turbin, dan kondensor. Perhitungan analisis eksergi pada SRO mengacu pada lima variasi tekanan dimana tekanan diberikan pada pompa 9 β 13 bar.
Sehingga diperoleh deskruksi eksergi masing-masing komponen adalah sebagai berikut:
Kode Entalpi Entropi Mass Flow Temperatur Pressure Kualitas
KJ/kg KJ/kg-K kg/s OC bar Uap
1. Pompa
Gambar 4.1 Pompa (skenario tekanan pompa 9 bar)
Pompa merupakan komponen yang berfungsi untuk menaikkan tekanan fluida kerja dan mengalirkan fluida kerja pada sistem. Dalam pengoptimasian fungsi pompa berdasarkan metode eksergi dipengaruhi oleh laju eksergi aliran masuk dan keluar pompa beserta kerja yang dibutuhkan pompa.
Secara teoritis mengacu kepada persamaan perhitungan destruksi eksergi pada bab 2 maka diperoleh laju destruksi eksergi pada pompa adalah sebgai berikut:
πΜππ’ππ = π. ππ ππΎ ( nilai W didapat dari hasil simulasi pada Aspen Plus) πΈΜππ πΆπΉ1= π . π
= π . (βππ πΆπΉ1β β0) β π0 (π ππ πΆπΉ1β π 0)
= 0.694ππ
π (β8940.3ππ½
ππβ (β8757.9ππ½ ππ))
β 300πΎ (β4.260 ππ½
ππ. πΎ β (β3.625ππ½ ππ. πΎ))
= 5.71 ππ
πΈΜππ πΆπΉ2= π . π
Sedangkan pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada pompa berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut.
Tabel 4.11 Destruksi Eksergi pada pompa
Komponen Parameter Tekanan
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar
Berdasarkan data tabel diatas maka didapat kecenderungan daripada laju destruksi eksergi pada pompa dapat dilihat pada grafik
Gambar 4.2 Grafik destruksi eksergi pada Pompa
Berdasarkan grafik diatas dtunjukkan bahwa kecenderungan perubahan deestruksi eksergi akibat kenaikan tekanan pompa mengakibatkan peningkatan destruksi eskergi. Pada tekanan 9 bar destruksi eksergi adalah 0.87 kW dan meningkat ketika tekanan 13 bar adalah 1.36 kW. Kondisi ini disebabkan karena perubahan tekanan fluida kerja akan berdampak pada kebutuhan kerja pompa sehingga berdampak kepada besarnya destruksi eksergi yang dialami pompa.
2. Evaporator
Gambar 4.3 Evaporator (skenario tekanan 9 bar)
0.87 0.99 1.12 1.23 1.36
9 BAR 10 BAR 11 BAR 12 BAR 13 BAR
I Pump (kW)
Tekanan
Evaporator adalah komponen yang berfungsi untuk menaikkan temperatur fluida kerja serta merubah fasa fluida kerja dari kondisi cair menjadi uap. Dalam pengoptimasian fungsi evaporator berdasarkan metode eksergi dipengaruhi oleh laju eksergi aliran fluida panas masuk dan keluar evaporator beserta laju eksergi aliran fluida kerja masuk dan keluar evaporator.
Secara teoritis mengacu kepada persamaan perhitungan destruksi eksergi pada bab 2 maka diperoleh laju destruksi eksergi pada pompa adalah sebgai berikut:
πΈΜπ»ππΉ3 = π . π
= 0.694ππ
Sedangkan pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada pompa berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut.
Tabel 4.12 Destruksi eksergi pada evaporator
Komponen Parameter Tekanan
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar
Berdasarkan data tabel diatas maka didapat kecenderungan daripada laju destruksi eksergi pada pompa dapat dilihat pada grafik
Gambar 4.4 Grafik destruksi eksergi pada evaporator
Berdasarkan grafik diatas dtunjukkan bahwa kecenderungan perubahan deestruksi eksergi pada evaporator akibat kenaikan tekanan pompa adalah terjadinya penurunan destruksi eskergi. Pada tekanan 9 bar destruksi eksergi adalah 24.08 kW dan menurun ketika tekanan 13 bar adalah 19.66 kW.
24.08
3. Turbin
Gambar 4.5 Turbin (Skenario tekanan 9 bar)
Turbin adalah komponen yang berfungsi untuk mengekspansi tekanan fluida kerja sehingga diproduksi kerja. Dalam pengoptimasian fungsi turbin berdasarkan metode eksergi dipengaruhi oleh laju eksergi aliran fluida kerja masuk dan keluar turbin beserta total kerja yang dihasilkan turbin.
Secara teoritis mengacu kepada persamaan perhitungan destruksi eksergi pada bab 2 maka diperoleh laju destruksi eksergi pada pompa adalah sebgai berikut:
πΜππ’ππππ = ππ. ππ π²πΎ ( nilai W didapat dari hasil simulasi pada Aspen Plus) πΈΜππ πΆπΉ3= π . π
= π . (βππ πΆπΉ3β β0β π0 (π ππ πΆπΉ3β π 0)
= 0.694ππ
π (β8667.2ππ½
ππβ (β8757.9ππ½ ππ))
β 300 πΎ (β3.49286 ππ½
ππ. πΎ β (β3.625ππ½ ππ. πΎ))
=35.28 W πΈΜππ πΆπΉ4= π . π
= π . (βππ πΆπΉ4β β0β π0 (π ππ πΆπΉ4β π 0)
= 0.694ππ
Sedangkan pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada turbin berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut
Tabel 4.13 destruksi eksergi pada turbin
Komponen Parameter Tekanan
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar Berdasarkan data tabel diatas maka didapat kecenderungan daripada laju destruksi eksergi pada pompa dapat dilihat pada grafik
5.26 5.61 5.92 6.2 6.46
9 BAR 10 BAR 11 BAR 12 BAR 13 BAR
I Turbin (kW)
Tekanan
Gambar 4.6 Grafik Destruksi eksergi pada turbin
Berdasarkan grafik diatas dtunjukkann bahwa kecenderungan perubahan destruksi eksergi pada turbin akibat kenaikan tekanan pompa adalah terjadinya peningkatan destruksi eskergi. Pada tekanan 9 bar destruksi eksergi adalah 5.26 kW kW dan menurun ketika tekanan 13 bar adalah 6.46 kW.
4. Kondensor
Gambar 4.7 Kondensor (skenario tekanan 9 bar)
Kondensor adalah komponen yang berfungsi untuk mengembunkan kembali uap yang berasal dari turbin. Dalam pengoptimasian fungsi eksergi aliran
fluida dingin masuk dan keluar kondensor beserta laju eksergi aliran fluida kerja masuk dan keluar kondensor.
Secara teoritis mengacu kepada persamaan perhitungan destruksi eksergi pada bab 2 maka diperoleh laju destruksi eksergi pada pompa adalah sebgai berikut:
πΈΜππ πΆπΉ4= π . π
πΈΜππΆ3 = π . π
Sedangkan pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada turbin berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut
Tabel 4.14 destruksi eksergi pada kondensor
Komponen Parameter Tekanan
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar
Berdasarkan data tabel diatas maka didapat kecenderungan daripada laju destruksi eksergi pada kondensor dapat dilihat pada grafik
Gambar 4.8 Grafik destruksi eksergi pada kondensor
Berdasarkan grafik diatas dtunjukkann bahwa kecenderungan perubahan destruksi eksergi pada kondensor akibat kenaikan tekanan pompa adalah terjadinya peningkatan destruksi eskergi. Pada tekanan 9 bar destruksi eksergi adalah 16.98 kW dan menurun ketika tekanan 13 bar adalah 18.7 kW.
16.98
17.41
17.83
18.26
18.7
9 BAR 10 BAR 11 BAR 12 BAR 13 BAR
I kondensor (kW)
Tekanan
5. Ruang Pembakaran
Gambar 4.9 Ruang pembakaran (skenario tekanan 9 bar)
Ruang pembakaran merupakan tempat terjadinya pembakaran bahan bakar biomassa sehingga diperoleh panas pembakaran yang akan digunakan untuk memanaskan fluida thermal oil heater untuk selanjutnya memanaskan fluida kerja.
Analisa destruksi eksergi pada ruang bakar ditentukan dengan menghitung laju eksergi biomassa serta laju eksergi aliran-aliran yang terdapat pada ruang bakar seperti eksergi udara , eksergi gas buang.
Dalam menghitun eksergi biomassa mengacu kepada rumus yang digunakan pada
π = 1812.5 + 295.606πΆ + 587.354π» + 17.506π + 17.735π + 95.615π
β 31.8π΄
π = 1812.5 + 295.606 (48.63 %) + 587.354 (5.81 %) + 17.506 (38.95 %) + 17.735 (0.63 %) + 95.615 (0.09 %) β 31.8 (5.89 %)
π = 20115 ππ½ ππ πΈ = πΜ . π
= 0.052841667 kg/s x 20115 kJ/kg = 1062.910125 kW
Sedangkan pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada turbin berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut
141
Berdasarkan tabel diatas dijelaskan bahwa destruksi eksergi pada ruang pembakarang seiring dengan naiknya tekanan mengakibatkan meningkatnya nilai destruksi eksergi dan jugag ditampilkan dalam bentuk grafik dibawah ini
Gambar 4.10 Grafik destruksi eksergi pada ruang pembakaran Tabel 4.15 destruksi eksergi pada ruang pembakaran
Berdasarkan grafik diatas semakin naik tekanan pada pompa maka nilai destruksi eksergi pada ruang pembakaran juga akan meningkat hanya saja peningkatan destruksi eksergi pada ruang pembakaran tidak terlalu besar tetapi paling besar menghasilkan destrusi eksergi dari semua komponen pada sistem.
4.2.2 Analisis Destruksi Eksergi pada SRO dengan Rakuperator
Pada siklus SRO Rekuperator ini terdapat lima komponen utama dalam siklusnya antara lain pompa, evaporator, turbin, dan kondensor dan Rekuperator.
Perhitungan analisis eksergi pada SRO mengacu pada lima variasi tekanan dimana tekanan diberikan pada pompa 9 β 13 bar.
Sehingga diperoleh deskruksi eksergi masing-masing komponen adalah sebagai berikut:
1.pompa
Gambar 4.11 Pompa (skenario tekanan 9 bar)
0
Sama halnya dengan fungsi pompa pada SRO sederhana, pengoptimasian fungsi pompa berdasarkan metode eksergi pada SRO dengan Rekuperator dipengaruhi oleh laju eksergi aliran masuk dan keluar pompa beserta kerja yang dibutuhkan pompa.
Pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada pompa berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut.
Tabel 4.16 destruksi eksergi pada pompa
Berdasarkan data tabel diatas maka didapat kecenderungan daripada laju destruksi eksergi pada kondensor dapat dilihat pada grafik dibawah ini
Gambar 4.12 Grafik destruksi eksergi pada pompa
Komponen Parameter Tekanan
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar
Berdasarkan pada Gambar 4.11 semakin naik tekanan yag diberikan destruksi eksergi juga akan semakin naik dimana pada tekanan 9 bar destruksi eksergi bernilai 0.87 kW dan pada tekanan 13 bar destruksi ekserginya bernilai 1.36 kW.
2. evaporator
Gambar 4.13 evaporator (skenario tekanan 9 bar)
Dalam pengoptimasian fungsi evaporator berdasarkan metode eksergi pada SRO dengan Rekuperator dipengaruhi oleh laju eksergi aliran fluida panas masuk dan keluar evaporator beserta laju eksergi aliran fluida kerja masuk dan keluar evaporator.
Sedangkan pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada evaporator berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut.
Tabel 4.17 destruksi eksergi pada evaporator
Komponen Parameter Tekanan
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar
Evaporator πΈΜπ»ππΉ3 53.26 kW 53.30 kW 53.31 kW 53.30 kW 53.26 kW πΈΜπ»ππΉ4 8.24 kW 8.24 kW 8.24 kW 8.24 kW 8.24 kW
πΈΜππ πΆπΉ4 35.28 kW 36.24 kW 37.07 kW 37.78 kW 38.39 kW πΈΜππ πΆπΉ3
7.58 kW 7.53 kW 7.49 kW 7.46 kW 7.44 kW
πΌΜππ£π 17.32 kW 16.35kW 15.50 W 14.74 kW 14.07 kW π πΌ ππ£π 61.53 % 63.72 % 65.62 % 67.28 % 68.75 %
Berdasarkan data tabel diatas maka didapat kecenderungan daripada laju destruksi eksergi pada kondensor dapat dilihat pada grafik dibawah ini
Gambar 4.14 Grafik destruksi eksergi pada evaporator
Berdasarkan grafik diatas dtunjukkann bahwa kecenderungan perubahan deestruksi eksergi di SRO Rekuperator pada evaporator akibat kenaikan tekanan pompa adalah terjadinya penurunan destruksi eskergi. Pada tekanan 9 bar destruksi eksergi adalah 17.32 kW dan menurun ketika tekanan 13 bar adalah 14.07 kW.
0 5 10 15 20
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar
I Evaporator kW
Tekanan
3. turbin
Gambar 4.15 turbin (skenario tekanan 9 bar)
Dalam pengoptimasian fungsi turbin berdasarkan metode eksergi pada SRO Rekuperator dipengaruhi oleh laju eksergi aliran fluida kerja masuk dan keluar turbin beserta total kerja yang dihasilkan turbin.
Sedangkan pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada turbin berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut.
Tabel 4.18 destruksi eksergi pada turbin
Komponen Parameter Tekanan
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar
Turbin
πΈΜππ πΆπΉ4 35.28 kW 36.24 kW 37.07 kW 37.78 kW 38.39 kW πΈΜππ πΆπΉ5 13.44 kW 13.09 kW 12.77 kW 12.47 kW 12.19 kW πΌΜππ’ππππ 5.26 kW 5.61 kW 5.92 kW 6.20 kW 6.46 kW πΜππ’ππππ 16.58 kW 17.54 kW 18.38 kW 19.11 kW 19.74 kW π πΌ π‘π’ππππ 75.92 % 75.75 % 75.63 % 75.51 % 75.35 %
0 1 2 3 4 5 6 7
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar
I Turbin KW
Tekanan
Berdasarkan data tabel diatas maka didapat kecenderungan daripada laju destruksi eksergi pada turbin dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Gambar 4.16 Grafik destruksi eksergi pada turbin
Berdasarkan grafik diatas dtunjukkann bahwa kecenderungan perubahan destruksi eksergi pada turbin akibat kenaikan tekanan pompa adalah terjadinya peningkatan destruksi eskergi. Pada tekanan 9 bar destruksi eksergi adalah 5.26 kW kW dan menurun ketika tekanan 13 bar adalah 6.46 kW.
4. Rekuperator
Gambar 4.17 Rekuperator (skenario tekanan 9 bar)
Dalam pengoptimasianya fungsi Rekuperator dalam SRO ini untuk memanfaatkan panas yang masih terkandung pada stream aliran keluaran turbin.
Sedangkan pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada Rekuperator berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut.
Tabel 4.19 destruksi eksergi pada Rekuperator
Komponen Parameter Tekanan
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar Berdasarkan data tabel diatas maka didapat kecenderungan daripada laju destruksi eksergi pada Rekuperator dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Gambar 4.18 Grafik destruksi eksergi pada rekuperator 0
Berdasarkan grafik diatas dtunjukkann bahwa kecenderungan perubahan destruksi eksergi pada rekuperator akibat kenaikan tekanan pompa adalah terjadinya penurunan destruksi eskergi. Pada tekanan 9 bar destruksi eksergi adalah 2.16 kW dan menurun ketika tekanan 13 bar adalah 1.53 kW.
5. kondensor
Gambar 4.19 kondensor (skenario tekanan 9 bar)
Dalam pengoptimasian kondensor aliran fluida dingin masuk dan keluar kondensor beserta laju eksergi aliran fluida kerja masuk dan keluar kondensor.
Sedangkan pengaruh perubahan tekanan pompa terhadap destruksi eksergi pada Rekuperator berdasarkan analisis Aspen Plus adalah sebagai berikut.
Tabel 4.20 destruksi eksergi pada kondensor
Komponen Parameter Tekanan
9 bar 10 bar 11 bar 12 bar 13 bar
Kondensor
πΈΜππΆ2 0.18 kW 0.18 kW 0.18 kW 0.18 kW 0.18 kW πΈΜππΆ3 1.16 kW 1.15 kW 1.14 kW 1.13 kW 1.13 kW πΈΜ 9.79 kW 9.72 kW 9.65 kW 9.59 kW 9.53 kW
πΈΜππ πΆπΉ1 5.71 kW 5.71 kW 5.71 kW 5.71 kW 5.71 kW πΌΜππππ 3.10 kW 3.04 kW 2.98 kW 2.93 kW 2.87 kW π πΌ ππππ 23.94 % 24.11 % 24.29 % 24.40 % 24.79 %
Berdasarkan data tabel diatas maka didapat kecenderungan daripada laju destruksi eksergi pada kondensor dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Gambar 4.20 Grafik destruksi eksergi pada kondensor
Berdasarkan grafik diatas dtunjukkann bahwa kecenderungan perubahan destruksi eksergi pada rekuperator akibat kenaikan tekanan pompa adalah terjadinya penurunan destruksi eskergi. Pada tekanan 9 bar destruksi eksergi adalah 3.10 kW dan menurun ketika tekanan 13 bar adalah 2.87 kW.
3.1
6. ruang pembakran
Gambar 4.21 Ruang pembakaran (skenario tekanan 9 bar)
Ruang pembakaran merupakan tempat terjadinya pembakaran bahan bakar biomassa sehingga diperoleh panas pembakaran yang akan digunakan untuk memanaskan fluida thermal oil heater untuk selanjutnya memanaskan fluida kerja.
Analisa destruksi eksergi pada ruang bakar di sistem SRO Rekuperator ditentukan dengan menghitung laju eksergi biomassa serta laju eksergi aliran-aliran yang terdapat pada ruang bakar seperti eksergi udara , eksergi gas buang.
Tabel 4.21 destruksi eksergi pada ruang pembakaran
Berdasarkan tabel diatas dijelaskan bahwa destruksi eksergi pada ruang pembakaran seiring dengan naiknya tekanan mengakibatkan meningkatnya nilai destr uksi eksergi dan jugag ditampilkan dalam bentuk grafik dibawah ini
128.50
1.36