• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Dinamika Harga Pangan Pokok dan Penting

VI. KESIMPULAN

6.2. Analisis Dinamika Harga Pangan Pokok dan Penting

6. Pangan pokok dan penting yang dianaliss ada enam jenis, yaitu padi, beras, jagung, kedelai, bawang merah, dan daging sapi. Secara ringkas hasil analiss menunjukan beberapa hal menarik sebagai berikut:

a. Sejak tahun 2013 harga riil lima komoditas pangan (padi, beras, jagung, kedelai, dan daging sapi) relatif stabil, kecuali untuk bawang merah berfluktuasi.

b. Pada tahun 2017 usahatani pangan kelima komoditas (padi, jagung, kedelai, bawang merah, dan daging sapi)menguntungkan. dengan rasio R/C >1.3. Dari kelima komoditas tersebut, jagung yang memberikan keunungan paling tinggi disusul oleh padi.

c. Pada periode 2011-2017 daya beli atau tukar beras dan jagung terhadap faktor produksi pupuk Urea, NPK, dan sewa lahan meningkat; sementara itu terhadap tenaga kerja pertanian relatif stabil.

d. Pada periode 2014-2017 daya beli atau tukar beras, jagung, kedelai, dan daging sapi terhadap barang/jasa yang dinilai penting bagi rumah tangga yaitu kurs USD, harga bensin, dan ONH meningkat, namun terhada harga emas relatif stabil.

7. Berdasarkan analisis menggunakan hasil kajian dari IRRI, pada tahun 2013 biaya memproduksi padi/kg di Indonesia paling tinggi dibandingkan di lima negara di Asia, yaitu India, Tiongkok, Vietnam, Thailand, dan Filipina. Biaya produksi padi/kg di Indonesia sebesar 1,77 kali dari biaya tersebut di India dan Thailand, dan 2,40 di Vietnam. Walaupun demikian nilai R/C usahatani padi di Indonesia sebesar 1,34 (menguntungkan). Usahatani padi yang paling efisien di Asia adalah di Thailand dan Vietnam masing-masing dengan nlai R/C sebesar 1.59 dan 1.56.

8. Perkembangan harga beras internasional di beberapa negara ASEAN selama periode 2008-2017, secara rataan tertinggi adalah harga beras di Indonesia. Beras Thailand (FOB) broken5%, pada kurun waktu 2008-2017 rata-rata sebesar 490,99 US$/ton dan tren perkembangannya menunjukan penurunan sebesar 5,31 %/tahun. Sementara untuk harga beras di Vietnam (FOB, broken 5%) selama

104

kurun 2010-2017 secara rataan sebesar 406,01 US$/ton dan tren perkembangannya menunjukan penurunan sebesar 4,35 %/tahun. Kedaan serupa didapat di Filipina, harga beras kategori regular milled selama kurun 2008-2017 secara rataan sebesar 699,27 US$/ton. Adapun tren perkembangan harga beras di Filipina pada periode tersebut mengalami peningkatan sebesar 2,09 %/tahun. Sementara itu, di Indonesia, harga beras medium khususnya di tingkat wholesale selama kurun 2008-2017 secara rataan sebesar 770,51 US$/ton. Adapun tren harga beras di Indonesia pada periode tersebut menunjukan peningkatan sebesar 3,40 %/tahun.

9. Bila dilihat rataan harga jagung di tingkat produsen di Indonesia dalam kurun waktu 2008-2016 sebesar Rp 3.416/Kg. Adapun tren perkembangan harganya pada periode tersebut menunjukan peningkatan sebesar 5,98 %/tahun.Pada negara pengekspor jagung utama, seperti Brazil rataan harga jagung di tingkat produsen dalam kurun yang sama lebih rendah dari Indonesia yaitu sebesar Rp 2.116/Kg, dengan tren perkembangan harga menunjukan peningkatan sebesar 2,66 %/tahun. Di negara pengekspor lainnya yaitu Meksiko, rataan harga jagung di tingkat produsen dalam kurun waktu tersebut uga lebih rendah dari Indonesia yaitu sebesar Rp 2.699/Kg serta tren perkembangan harganya mengalami peningkatan sebesar 2,61 %/tahun.

10. Di Indonesia, rataan harga kedelai di tingkat produsen dalam kurun waktu 2008-2016 mencapai Rp 7.725/Kg, dengan tren perkembangan harga yang menunjukan peningkatan sebesar 4,09 %/tahun. Di negara pengekspor utama yaitu Amerika Serikat, rataan harga kedelai di tingkat produsen dalam kurun waktu 2008-2016 mencapai Rp 4.442/Kg dan menunjukan peningkatan sebesar 3,67 %/tahun. Pada negara pengekspor lainnya yaitu China, dan juga pengimpor kedelai, secara umum rataan harga kedelai di tingkat produsennya dalam kurun waktu sama lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia yaitu mencapai Rp 7.896/Kg. Adapun tren perkembangan harga pada periode tersebut juga menunjukan peningkatan signifikan sebesar 7,53 %/tahun.

105

11. Produksi bawang merah Indonesia pada tahun 2017 mencapai 1,47 juta ton. Rataan harga bawang merah kering di tingkat produsen dalam kurun waktu 2008-2016 mencapai Rp 13.314/Kg, dengan tren peningkatan sebesar 4,23 %/tahun. Di negara pengekspor bawang merah, yaitu Thailand, rataan harga bawang merah kering di tingkat produsen dalam kurun waktu sama sekitar Rp 3.196/Kg, dengan tren perkembangan peningkatan signifikan 10,27 %/tahun. Di negara pengekspor lainnya yaitu Tiongkok, rataan harga bawang merah kering di tingkat produsen dalam kurun waktu yang sama sekitarRp 1.733/Kg, dengan tren perkembangan harga mengalami peningkatan signifikan 19,73 %/tahun.

12. Rataan harga daging sapi di tingkat produsen di Indonesia dalam kurun waktu 2008-2016 mencapai Rp 75.861/Kg, dengan tren meningkat signifikan yaitu sebesar 9,00 %/tahun. Di negara pengekspor daging sapi utama yaitu Australia, rataan harga daging sapi di tingkat produsen dalam kurun waktu sama hanya mencapai Rp 33.439/Kg serta tren perkembangan harganya menagalami peningkatan signifikan sebesar 7,00 %/tahun. Di negara pengekspor lainnya yaitu Selandia Baru, rataan harga daging sapi di tingkat produsen hanya mencapai Rp 31.666/Kg, serta tren perkembangan harga yang menunjukan peningkatan signifikan yaitu 10,64 %/tahun.

13. Pada komoditas beras, harga paritas impor di tingkat konsumen (pedagang eceran) secara umum selalu dibawah harga beras produksi domestik di pasar yang sama di tingkat konsumen.Pada tahun 2010, harga beras domestik terpaut 15% lebih tinggi dari harga paritas impornya, sementara pada tahun 2017, perbedaan tersebut melebar menjadi sekitar 52%.

14. Untuk mengetahui daya saing komoditas pangan domestik terhadap komoditas impor dari negara produsen dan/atau pengekspor utama, dilakukan analasis perbandingan harga di yang diasumsikan di pasar yang sama (Gedebage, Bandung) antara harga pangan domestik tersebut dengan harga paritas impornya. Hasil analisis menunjukkan temuan sebagai berikut:

106

a. Untuk harga paritas impor di tingkat konsumen, besarannya selalu dibawah harga jagung domestik di pasar yang sama. Pada tahun 2010 dan 2017, harga jagung lokal terpaut sekitar 15% dan 52% lebih tinggi dari harga paritas impornya.

b. Harga paritas impor komoditas kedelai selalu dibawah harga kedelai domestik di tingkat pasar konsumen yang sama. Pada tahun 2010 dan 2017, harga kedelai lokal terpaut sekitar 71% dan 74% lebih tinggi dari harga paritas impornya. c. Bawang merah kering hargaharga paritas impornya di tingkat konsumen selalu

dibawah harga produk bawang merah domestik. Pada tahun 2010 dan 2017, harga bawang merah kering lokal terpaut sekitar 15% dan 52% lebih tinggi dari harga paritas impornya.

d. Untuk daging sapi, harga paritas impornya di tingkat konsumen juga secara umum selalu dibawah harga daging sapi domestik di tingkat konsumen. Pada tahun 2010 dan 2017, harga daging sapi lokal terpaut sekitar 60% dan 46% lebih tinggi dari harga paritas impornya.

15. Berpijak dari temuan seperti disajikan pada butir (14), dalam rangka meningkatkan daya saing komoditas pangan Indonesia terhadap komoditas pangan sejenis dari impor, diperlukan:

a. Peningkatan efisiensi dari sisi produksi, sehingga harga jual dapatbersaing; b. Dukungan kebijakan insentif berproduksi, diantaranya berupa fasilitasi akses

yang mudah terhadap input, sumber permodalan dan teknologi;

c. Penyediaan fasilitasi lingkungan usaha kondusif bagi proses produksi, panen, pasca panen dan pemasaran; dan

d. Kebijakan subsidi harga output atau terkait peningkatan harga jual produk pangan buakanlah solusi saat ini, mengingat harga jual produk pngan domestik saat ini lebih mahal dibandingkan dengan harga paritas produk sejenis impor. 16. Dari kesimpulan yang disajikan dalam bagian ini (butir 6 sampai 15) kesimpulan

penting yang dapat ditarik adalah kebijakan pangan nasional tidak menerapkan kebijakan harga pangan murah.

107

6.3. Dampak Kebijakan Harga Pangan terhadap Peningkatan Produksi

Dokumen terkait