Sejalan dengan pendekatan perubahan sosial Norman Faiclough, analisis pada level discourse practice merupakan analisis pada jenjang meso untuk memahami bagaimana teks diproduksi dan pada akhirnya akan berdampak bagaimana suatu teks dikonsumsi. Hal itu dilakukan dengan mewawancarai pihak pengelola media, dalam hal ini Warjamil selaku Sekretaris Redaksi Harian Analisa dan Ramadhan Batubara selaku Redaktur Pelaksana Harian Sumut Pos.
Secara umum, proses bagaimana teks dihasilkan pada sebuah media memiliki banyak kesamaan. Berita yang dihadirkan reporter dan kemudian diproses di ruang redaksi bisa jadi merupakan berita hasil insiatif reporter atau berita sesuai tema yang diorder atau diproyeksikan redaksi. Khusus mengenai pemberitaan Pilkadasung Medan, Harian Analisa berupaya semaksimal mungkin untuk menyajikan berita yang seimbang diantara kontestan yang bertarung. Meskipun begitu, harus diakui bahwa menyajikan berita yang objektif 100 persen merupakan hal yang mustahil, yang terpenting adalah berupaya menekan seminimal mungkin unsur subjektifitas. Bagi harian Analisa, media juga memiliki hak untuk menyajikan sesuatu yang lebih kepada pihak tertentu yang dinilai media tepat untuk dipilih publik karena dianggap bermanfaat bagi daerah atau rakyat atau juga melakukan terobosan atau pembaruan. Apalagi jika ada kontestan dalam pilkada yang sudah menjadi rahasia umum memiliki cacat atau hal negatif. Walaupun begitu, hal prinsip bagi Harian Analisa adalah berupaya untuk tidak berpihak kepada pihak tertentu atau mengistimewakan salah satu parpol saat pilkada.
Mekanisme yang berlaku di Harian Analisa, seluruh wartawan kota (tidak termasuk wartawan daerah) harus mengikuti rapat pagi untuk memproyeksikan kebutuhan berita setiap hari, selain berita yang menjadi insiatif wartawan. Berita
kemudian diserahkan ke kantor pusat atau diserahkan kepada Redaktur atau asisten redaktur sebelum deadline rubrik tiap-tiap halaman. Redaktur menjadi gawang (gate keeper) pertama untuk menentukan apakah isi dan judul berita yang diserahkan wartawan layak untuk diterbitkan. Dalam proses itu, Managing Editor atau Pemimpin Redaksi atau Wapemred bisa merubah isi dan judul berita jika dianggap perlu. Dalam keseharian, pendelegasian wewenang itu dapat diserahkan Pemred kepada masing- masing redaktur halaman atau rubrik. Terkait dengan divisi atau bagian lain dalam perusahaan media, Harian Analisa pada prinsipnya memiliki ketentuan bahwa judul dan isi berita merupakan wewenang penuh bagi bagian redaksi. Meskipun begitu, tetap saja sebelum memasuki proses cetak, isi dan judul berita akan dikoordinasikan dengan bagian lain seperti pemasaran dan iklan. Jika dianggap kurang tepat, tentunya judul dan isi berita dapat dikoordinasikan dan dikompromikan kembali untuk menghasilkan yang terbaik. Pembagian tugas dan mekanisme yang berlangsung dalam organisasi media pada akhirnya adalah kompromi dan kesepakatan bagaimana realitas dikontruksikan dalam bentuk teks kepada khalayak, Redaksi bukanlah bagian yang otonom dan mandiri untuk menentukan sebuah teks untuk disampaikan kepada pembaca. Sebab, banyak bagian dan divisi lainnya dalam organisasi media yang juga memiliki andil bagaimana teks diproduksi dan kemudian dikonsumsi khalayak pembaca.
Proses dan mekanisme yang sama juga berlaku di Harian Sumut Pos. Menurut Redaktur Pelaksana, Ramadhan Batubara, Harian Sumut Pos meletakkan posisinya sebagai media control sosial. Prinsip Harian Sumut Pos berusaha maksimal untuk melakukan pemihakan guna memuaskan pembaca dan keinginan masyarakat. Pemihakan terhadap pembaca dengan cara menyuguhkan berita seperti yang
diinginkan pembaca dalam rangka memberikan pelayanan dan mendekatkan diri dengan masyarakat. Mekanisme yang dilakoni redaksi juga dengan proses perencanaan melalui rapat proyeksi pagi untuk wartawan dan kemudian dilanjutkan dengan rapat budget untuk para redaktur atau manager halaman guna membahas isu dan berita yang diperoleh masing-masing reporter di lapangan. Persetujuan terhadap judul dan isi berita juga melibatkan beberapa gate keeper diinternal organisasi redaksi, mulai dari redaktur halaman, redaktur pelaksana, wakil pemimpin redaksi hingga pemred. Keseluruhan hasil proses itu juga akan dikordinasikan dengan bagian lainnya, khususnya iklan dan pemasaran untuk mengkoordinasikan tentang judul dan isi berita yang akan diterbitkan. Jika dikaji secara lebih mendalam, maka 12 (dua belas) berita kampanye yang menjadi unit analisis penelitian ini adalah berita yang terjadwal atau direncanakan. Hal itu wajar karena memang masa atau tenggang kampanye putaran kedua dalam Pilkadasung Medan memang sudah terjadwal dan ditentukan. Namun, bagaimana berita itu didapat dan kenapa dikontruksikan seperti itu, menurut Fairclough hal itu dipengaruhi 3 (tiga) factor. Pertama,terkait dengan individu reporter. Kedua, hubungan wartawan dengan organisai dan struktur media lainnya. Dan Ketiga, praktik atau rutinitas dalam pencarian, penulisan, proses editing sebuah berita.
Dari berita-berita yang muncul di Harian analisa, reporter cenderung memposisikan dirinya sebagai pihak yang pasif dalam mengembangkan sebuah wacana dalam teks. Misalnya dalam berita berjudul Koordinator Tim Basis Maulana Centre Muazzul SH M Hum, Sesalkan Pernyataan-pernyataan yang Mendiskreditkan Sofyan Tan. Dalam teks yang dihadirkan kepada khalayak, wartawan cenderung hanya menerima statemen yang disampaikan sumber tanpa ada
upaya melakukan upaya balik untuk menggali polemik yang dilontarkan dari pihak Sofyan Tan. Berita yang sepihak dan cenderung mengarah kepada berita yang partisan itu kemudian masuk ke ruang redaksi dan akhirnya disepakati. Hal itu mengindikasikan bahwa cara fikir dan persepsi yang sama ternyata tidak hanya terletak pada wartawan, melainkan juga pada bagian redaksi yang lain hingga akhirnya teks tersebut disepakati hadir sebagai berita. Kesemua itu, tentunya tidak bisa dilepaskan dengan persoalan bagaimana berita itu diperoleh, Khusus berita di atas, dapat disimpulkan bahwa wartawan cenderung mendapatkan berita tersebut melalui proses pers release atau konferensi pers. Namun, informasi awal yang diperoleh itu ternyata tidak digali dan dikembangkan wartawan di lapangan dengan memberikan ruang kepada pihak-pihak yang terlibat. Perlakuan yang sama juga dilakukan wartawan terhadap berita yang lain yang enderung searah dan hanya menerima informasi dari sumber tanpa berusaha memperkaya informasi atau menyediakan ruang yang sama terhadap partisipan yang terlibat dalam teks berita. Hal yang menarik di Harian Analisa adalah tidak ada satupun berita kampanye Pilkadasung Medan putaran kedua yang ditempatkan di halaman 1. Image koran dari kalangan pengusaha seakan- akan membuat Harian Analisa tidak geming dan latah untuk menjadikan isu kampanye Pilkada Medan untuk ditempatkan pada halaman 1, sebagian besar berita ditempatkan pada halaman 6.
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Harian Sumut Pos. Terjadwalnya tahapan kampanye putaran kedua membuat berita yang disampaikan kedua media tidak jauh berbeda. Perbedaan yang terjadi hanyalah sebatas pemilihan kata pada judul, sedangkan is berita secara umum sama. Wartawan Harian Sumut Pos dalam mengkokstruksi realitas kampanye juga memposisikan dirinya sebagai pihak
yang pasif dan tidak berupaya memberikan ruang dan kesempatan yang sama kepada pihak-pihak yang terlibat. Hal yang menarik adalah, berita berjudul Sofyan Tan dapatkan simpati Rudolf. Berita itu diturunkan satu hari setelah Sofyan Tan melakukan kampanye akbar di Lapangan Merdeka, namun Harian Sumut Pos dalam teks berita sama sekali tidak menyinggung soal kampanye akbar di lapangan Merdeka meskipun foto berita memperlihatkan salah satu aksi kampanye Sofyan Tan di Lapangan Merdeka. Menurut Ramadhan Batubara selaku redaktur pelaksana Harian Sumut Pos, pemilihan angle dan isi berita soal simpati Rudolf terhadap Sofyan Tan lebih menarik ketimbang kampanye akbar Sofyan Tan di Lapangan Merdeka. Tentunya, hal itu menunjukkan perlakuan yang beda ketika Harian Sumut Pos mekonstruksi realitas kampanye Rahudman Harahap yang dihadiri ratusan warga Jalan Air Bersih. Hal menggambarkan Harian Sumut Pos cenderung menerapkan standar ganda dalam mengkonstruksi realitas kampanye untuk disajikan kepada khalayak.