HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Analisis Diskriptif 1 Ketuaan Warna
Ketuaan warna digunakan untuk mengetahui perbandingan antara besarnya larutan terhadap berat bahan tekstil yang diproses. Untuk mendapatkan warna-warna tua diusahakan memakai perbandingan celup yang kecil dengan harapan zat warna yang terbuang atau hilang hanya sedikit. Berdasarkan hasil penelitian terhadap hasil pengujian ketuaan warna yang dilakukan pada Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII) diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.1. Nilai Ketuaan Warna
Variasi Pengujian Nilai Ketuaan Warna Rata-rata
Tanpa I 391.50 389.75 II 388.00 50 gr/l I 392.00 391.00 II 390.00 100 gr/l II I 383.00391.00 387.00 150 gr/l II I 390.50384.00 387.3 200 gr/l I 394.00 392.25 II 390.5
Mencermati tabel 4.1 menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan kulit bawang merah (Allium Ascolonium l) sebagai pewarna kain satin dengan menggunakan mordan jeruk nipis untuk pembuatan mukena pada konsentrasi tanpa mordan, 50 gr/l, 100 gr/l, 150 gr/l dan 200 gr/l menghasilkan nilai ketuaan yang berbeda-beda. Dengan menggunanan kulit bawang merah (Allium
Ascolonium l) sebagai pewarna kain satin dengan konsentrasi mordan jeruk nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) sebesar 200 gr/l menghasilkan nilai tertinggi dibandingkan dengan mengunakan konsentrasi tanpa mordan, 50 gr/l, 100 gr/l maupun dengan 150 gr/l. Pada konsentrasi 200 gr/l diperoleh rata-rata nilai ketuaan sebesar 392,25, selanjutnya pada nilai ketuaan konsentrasi 50, gr/l dengan nilai ketuaan rata-rata 391,00 sedangkan dengan konsentrasi tanpa mordan diperoleh nilai ketuaan rata-rata sebesar 389,75, selanjutnya dengan konsentrasi 150 gr/l diperoleh hasil rata-rata 387,30 dan nilai yang paling rendah pada konsentrasi 100 gr/l dengan hasil sebesar 387,00. Untuk lebih jelasnnya dapat dilihat dalam grafik berikut ini.
Gambar 4.1.
Nilai Ketuaan (menggunakan Grey Scale) pada konsentrasi Tanpa mordan, 50 gr/l, 100 gr/l, 150 gr/l dan 200 gr/l 4.1.2. Kelunturan
Standar skala abu-abu (Grey Scale) digunakan untuk menilai perubahan warna pada uji bahan luntur warna. Nilai Grey Scale menentukan tingkat perbedaan atau konsentrasi warna dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi.
Standar grey scale terdiri dari 9 pasang lempeng standar abu-abu dan setiap pasang menunjukkan perbedaan atau kekontrasan warna yang sesuai dari deretan standar perubahan warna yang digambarkan oleh standard skala abu-abu, dan dinyatakan dengan rumus nilai kekromatikan adam. Standard Grey Scale dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 4.2. Evaluasi tahan luntur warna
Nilai tahan luntur Evaluasi tahan luntur warna
5 Baik Sekali 4-5 Baik 3-4 Cukup Baik 3 Cukup 2-3 Kurang 1-2 Jelek
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap produk kain untuk pembuatan mukena hasil pencelupan dengan memanfaatkan kulit bawang merah (Allium Ascolonium) sebagai pewarna kain satin menggunakan mordan jeruk nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) untuk pembuatan mukena dengan konsentrasi tanpa Mordan, 50 gr/l, 100 gr/l, 150 gr/l dan 200 gr/l dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.2. Nilai Kelunturan (Menggunakan Grey Scale)
Variasi Nilai Kelunturan
(Menggunakan Grey Scale)
Kategori
Tanpa Morgan 1 Jelek
50 gr/l 1 Jelek
100 gr/l 1 Jelek
150 gr/l 1 Jelek
200 gr/l 1 Jelek
Mencermati tabel 4.2 menunjukkan bahwa dengan pemanfaatan kulit bawang merah (Allium Ascolonium) sebagai pewarna kain satin menggunakan konsentrasi mordan jeruk nipis dengan konsentrasi tanpa mordan, 50 gr/l, 100 gr/l,
150 gr/l dan 200 gr/l secara keseluruhan menghasilkan nilai kelunturan dengan kategori jelek setelah dilakukan pencucian menggunakan sabun. Untuk lebih jelasnnya dapat dilihat dalam grafik berikut ini.
Grafik 4.2
Nilai kelunturan (pakai Grey Scale) pada konsentrasi Tanpa mordan, 50 gr/l, 100 gr/l, 150 gr/l dan 200 gr/l.
4.1.3 Penodaan
Uji yang kedua adalah dengan dengan uji skala penodaan dengan menggunakan staining shale. Staining scale adalah alat yang dipakai untuk menilai penodaan warna pada kain putih yang digunakan pada pengujian tahan luntur warna. Untuk penilaian penodaan pada kain sama seperti penilaian grey scale. Staining scale ini terdiri dari sepasang lempeng standar putih dari 8 lempeng standar putih abu-abu yang pada tiap pasang menunjukkan perbedaan atau kekontrasan warna yang sesuai dengan nilai penodaan warna. Pada staining scale penilaian penodaan pada kain putih pengujian pada tahap luntur warna, dilakukan dengan membandingkan dari kain putih yang dinodai dan yang tidak dinodai terhadap perbedaan yang digambarkan oleh staining scale dan dinyatakan
juga dengan nilai kekromatikan adam. Standard Staining Scale dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 4.3. Evaluasi Nilai Penodaan (Menggunakan Staning Scale) Nilai tahan noda Evaluasi tahan noda
5 Baik Sekali 4-5 Baik 3-4 Cukup Baik 3 Cukup 2-3 Kurang 1-2 Jelek
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap produk kain untuk pembuatan mukena hasil kulit pencelupan dengan pemanfaatan kulit bawang merah (Allium Ascolonium) sebagai pewarna kain satin menggunakan mordan jeruk nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) untuk pembuatan mukena dengan konsentrasi tanpa mordan, 50 gr/l, 100 gr/l, 150 gr/l dan 200 gr/l dapat diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 4.3. Nilai Penodaan (Menggunakan Staining Scale)
Variasi Nilai Penodaan (Menggunakan Staining
Scale)
Kategori
Tanpa Mordan 5 Baik Sekali
50 gr/l 5 Baik Sekali
100 gr/l 5 Baik Sekali
150 gr/l 5 Baik Sekali
200 gr/l 5 Baik Sekali
Mencermati tabel 4.3 menunjukkan bahwa dengan pemanfaatan kulit bawang merah (Allium Ascolonium) sebagai pewarna kain satin menggunakan mordan jeruk nipis untuk pembuatan mukena dengan konsentrasi tanpa mordan, 50 gr/l, 100 gr/l, 150 gr/l dan 200 gr/l menghasilkan nilai penodaan dengan kategori sangat baik keseluruhannya. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa dengan pemakaian bawang merah (Allium Ascolonium) sebagai pewarna kain satin menggunakan mordan jeruk nipis untuk pembuatan mukena dengan
konsentrasi tanpa mordan, 50 gr/l, 100 gr/l, 150 gr/l dan 200 gr/l dapat menghasilkan hasil penodaan yang baik sekali karena secara keseluruhan masih termasuk dalam kategori baik sekali. Untuk lebih jelasnnya dapat dilihat dalam grafik berikut ini.
Gambar 4.3.
Nilai Penodaan (menggunakan Staining Scale) pada konsentrasi Tanpa mordan, 50 gr/l, 100 gr/l, 150 gr/l dan 200 gr/l 4.1.5 Analisis Prasyarat Pengujian Statistik
Analisis statistik parametri dapat digunakan apabila data berdistribusi normal dan homogen, sedangkan apabila data tidak berdistribusi normal atu tidak homogen maka untuk analisis data harus dilakukan dengan analisis non parametrik.
4.1.6 Uji Nornalitas Data
Data hasil penelitian mempunyai distribusi normal atau tidak, dapat dilakukan dengan uji normalitas. Uji normalitas dapat diketahui dari beberapa cara yang akan menghasilkan kesimpulan yang hampir sama. Uji asumsi normalitas dapat dideteksi dari plot sebaran data maupun uji statistik. Demikian juga uji
normalitas dapat dideteksi dengan uji Kolmogorov-Smirnov Z. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil uji normalitas data dengan menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov Z dapat dilihat pada lampiran hal 117.
Berdasarkan hasil uji normalitas data diperoleh nilai z untuk data pakai Grey Scale sebesar 0,000 dengan probabilitas 0,000 data pakai staining scale diperoleh hasil yang sebesar 0.000 dengan probabilitas 0,00. Data nilai ketuaan warna diperoleh nilai z sebesar 0,830 dengan probabilitas 0,496. Karena nilai probabilitas secara keseluruhan untuk data pakai Grey Scale dan pakai staining Scale signifikansi kurang dari 0,05 maka data tidak berdistribusi normal sedangkan pada nilai ketuaan warna karena nilai probabilitas lebih besar dari 0,05 maka data terdistribusi normal
4.1.7 Uji Homogenitas
Uji Homogenitas ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah sampel-sampel dalam penelitian ini berasal dari varian yang sama dan ini merupakan prasyarat bila uji statistik inferensial hendak dilakukan (Singgih Santoso, 2005:209), uji homogenitas dalam penelitian dengan menggunakan Levene’s Test dengan ketentuan jika nilai signifikasi atau nilai probabilitas > 0,05 berarti data berasal dari populasi-populasi yang mempunyai varians sama atau homogen, sedang jika nilai signifikasi atau nilai probabilitas < 0,05 berarti data berasal dari populasi-populasi yang mempunyai varian tidak sama atau tidak homogen.