Posisi Strategis Riau
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis Disparitas Sosial-Ekonomi Antar-Daerah
Sejak diberlakukannya otonomi daerah, pembangunan ekonomi di Provinsi Riau terus mengalami peningkatan secara signifikan. Daerah-daerah yang memiliki APBD yang relatif besar biasanya melakukan upaya-upaya intensif untuk memperkecil ketertinggalan pembangunan sosial-ekonominya dengan melakukan pembangunan aspek tersebut secara maksimal. Pemerintah Provinsi Riau memiliki program K2I dalam mengatasi masalah Kemiskinan, Ketertinggalan sumberdaya manusia, dan Infrastruktur guna mempersempit ketertinggalan pembangunannya selama ini. Untuk mengejar ketertinggalan sosial-ekonomi tersebut, program pembangunan K2I dilakukan secara simultan (multiyears). Untuk menjaga efisiensi pembangunan tersebut, maka tingkat keberhasilan program-program pemerintah baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota selama ini dalam memanfaatkan potensi ekonomi kabupaten/kota perlu dicermati.
5.1.1 Kesenjangan Ekonomi Antar-Daerah
Indeks Williamson merupakan suatu indeks yang digunakan untuk mengukur ada tidaknya kesenjangan antar-daerah. Indeks Williamson memiliki nilai antara 0 hingga 1. Apabila nilai indeksnya mendekati 1, maka dapat dikatakan bahwa kesenjangan antar daerah yang terjadi relatif tinggi, dan sebaliknya. Data yang digunakan adalah Produk Domestik Regional Bruto per kapita per tahun (dengan dan tanpa migas). Hasil analisis indeks Williamson untuk Provinsi Riau disajikan pada Tabel 19.
Tabel 19. Kesenjangan Ekonomi Antar-Daerah di Provinsi Riau, Dengan dan Tanpa Migas, Tahun 2001-2005
Tahun Tanpa Migas Dengan Migas 2001 0,2800 0,8211 2002 0,3157 0,7295 2003 0,3919 0,6899 2004 0,4953 0,6705 2005 0,5832 .0,7381
Dari Tabel 19 tampak bahwa nilai lndeks Williamson tanpa migas tahun 2001 sebesar 0,2800. Ini berarti bahwa kesenjangan ekonomi antar-daerah di kabupaten/kota Provinsi Riau pada tahun 2001 masih relatif rendah. Namun, jika dilihat antar waktu, tampak bahwa angka lndeks Williamson dari tahun ke tahun semakin meningkat. Angka lndeks Williamson dari tahun 2001-2005 terjadi peningkatan dari 0,2800 menjadi 0,5832. Kondisi ini menggambarkan bahwa kesenjangan ekonomi antar kabupaten/kota di Provinsi Riau dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini bisa diartikan bahwa pembangunan ekonomi di Provinsi Riau tidak merata.
Ketika nilai produksi migas dimasukkan ke dalam perhitungan, Angka Indeks
Williamson dengan migas pada tahun 2001 sangatlah besar, hingga mendekati angka 1. Hal ini memberikan informasi bahwa dengan memasukkan unsur migas ke dalam perekonomian Riau, maka terjadi kesenjangan yang sangat tinggi antar kabupaten/kota di Provinsi Riau, karena ada beberapa daerah yang tidak memiliki minyak dan gas bumi, sehingga kesenjangan (gap) antar-daerah menjadi sangat besar. Namun, selama periode 2001-2004 angka lndeks Williamson mengalami penurunan, dari 0,8211 menjadi 0,6899.
Hal ini terjadi karena adanya penurunan produksi minyak yang secara tidak langsung menurunkan pendapatan daerah yang memiliki migas. Bila dibandingkan antara angka lndeks Williamson tanpa migas dan dengan migas maka terjadi perbedaan yang sangat besar. Walaupun ada kenaikan pada angka Indeks Williamson tanpa migas, namun nilainya lebih kecil dari angka Indeks Williamson dengan migas. Ini bisa diartikan bahwa kesenjangan ekonomi akibat adanya unsur minyak akan lebih tinggi daripada kenaikan kesenjangan ekonomi selama periode 2001-2005 tanpa memasukkan unsur migas.
5.1.2 Disparitas Sosial-Ekonomi Antar Kabupaten/Kota
Tabel 20 menginformasikan bahwa besarnya PDRB per kapita di tingkat kabupaten/kota belum secara langsung dapat mengurangi tingkat kemiskinan yang ada di kabupaten/kota tersebut. Dari Tabel 20 tersebut terlihat bahwa kabupaten/kota yang memiliki PDRB per kapita tertinggi adalah Kabupaten Pelalawan dengan nilai sebesar Rp 29,43 juta pertahun. Namun, di kabupaten ini 32,50 persen rumahtangga penduduknya dikategorikan miskin. Selanjutnya, dapat pula diinformasikan dari tiga kabupaten yang memiliki PDRB per kapita terendah yaitu Kota Dumai (dengan nilai Rp10,05 juta per kapita per tahun), Kabupaten Kampar (dengan nilai Rp11,29 juta per kapita per tahun), dan Kabupaten Bangkalis (dengan nilai Rp13,04 juta per kapita per tahun) ternyata memiliki tingkat kemiskinan yng relatif tinggi pula.
Analisis dispritas sosial-ekonomi antar-wilayah ini bertujuan untuk menggambarkan kesenjangan sosial-ekonomi antar kabupaten/kota di Provinsi Riau. PDRB per kapita per tahun digunakan sebagai proksi bagi variabel ekonomi, sedangkan tingkat kemiskinan sebagai proksi bagi variabel sosial. Pada analisis disparitas sosial-ekonomi ini, kedua variabel tersebut
disatukan ke dalam sebuah analisis kuadran, untuk memperoleh sebaran wilayah-wilayah yang memiliki keadaan ekonomi dan sosial yang baik dan yang buruk. Dengan menggunakan data PDRB atas dasar harga berlaku dan persentase rumahtangga miskin di masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Riau pada tahun 2005, kondisi disparitas sosial-ekonomi wilayah-wilayah di Provinsi Riau disajikan pada Tabel 21.
Tabel 20. Hubungan PDRB Per Kapita dan Persentase Rumahtangga Miskin Se-Riau, Tahun 2005
Kabupaten/Kota PDRB Per Kapita
(Ribu Rp) Rumahtangga Miskin (%) 1. Kuantan Singingi 2. Indragiri Hulu 3. Indragiri Hilir 4. Pelalawan 5. Siak 6. Kampar 7. Rokan Hulu 8. Bengkalis 9. Rokan Hilir 10. Pekanbaru 11. Dumai 21.386,57 19.990,13 15.327,80 29.432,19 28.521,78 11.285,93 15.516,64 13.041,35 15.792,41 18.670,21 10.053,94 28,10 40,51 31,78 32,50 23,35 25,70 31,44 30,85 24,23 8,21 19,19 Riau 17.131,83 25,18
Catatan: Angka Kemiskinan dari PSE'OS (angka sementara)
Tabel 21. Rekapitulasi Disparitas Ekonomi dan Sosial Provinsi Riau Tahun 2003 – 2005
Kuadran Keterangan Kabupaten/Kota
I PDRB/kapita tinggi, RT Miskin tinggi
Indragiri Hulu, Pelalawan, Kuansing
II PDRB/kapita rendah, RT Miskin tinggi
Indragiri Hilir, Rokan Hulu, Bengkalis, Kampar
III PDRB/kapita rendah, RT Miskin rendah
Rokan Hilir, Dumai IV PDRB/kapita tinggi,
RT Miskin rendah
Siak, Pekanbaru Catatan: RT = rumahtangga
Tabel 21 tersebut menggambarkan disparitas sosial-ekonomi antar kabupaten/kota di Provinsi Riau. Dari tabel tersebut terlihat bahwa kabupaten/kota yang ada di Kuadran I adalah kabupaten/kota yang memiliki PDRB per kapita tinggi dan persentase rumahtangga miskin tinggi, atau memiliki PDRB per kapita dan persentase rumahtangga miskin lebih tinggi dari angka rata-rata Provinsi Riau. Kabupaten/kota tersebut antara lain adalah Kabupaten Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, dan Pelalawan Kuadran II menginformasikan kabupaten yang memiliki PDRB per kapita rendah dan persentase rumahtangga miskin tinggi. Kabupaten/kota yang masuk dalam kuadran ini diantaranya adalah Kabupaten Indragiri Hilir, Bengkalis, Rokan Hulu, dan Kampar.
Pada Kuadran III menginformasikan kabupaten yang memiliki PDRB per kapita rendah dan persentase rumah tangga miskin rendah. Ada dua kabupaten yang berada di kuadran ini yaitu Kabupaten Rokan Hilir dan Kota Dumai. Kuadran IV menggambarkan kabupaten-kabupaten yang PDRB per kapitanya tinggi dan persentase rumahtangga miskin rendah. Ada dua kabupaten/kota yang masuk dalam kuadran ini yaitu Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak.
Dari keempat kuadran tersebut, kabupaten/kota yang berada di Kuadran IV adalah kabupaten yang berstatus baik dilihat dari segi ekonomi maupun sosial, sedangkan kabupaten/kota yang berada di Kuadran II berstatus tidak baik. Kabupaten/kota yang berada di kuadran ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah Provinsi Riau dan Kabupaten yang bersangkutan. Diharapkan prioritas pembangunan hendaknya mengacu pada sektor-sektor yang dapat memacu aktivitas perekonomian masyarakat di kabupaten tersebut.
Adanya paradoks pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan di Provinsi Riau ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi yang dilaksanakan bukan bersumber dari sektor-sektor utama
yang memiliki pengaruh yang kuat ke masyarakat, yakni sektor pertanian, dan sektor industri pengolahan hasil-hasil pertanian; yang memiliki kontribusi tinggi terhadap pendapatan maupun penyerapan tenaga kerja. Sebagaimana diindikasikan Tambunan (2006), masalah ini bisa terjadi karena pertumbuhan ekonomi yang ada tidak terlalu tinggi, sehingga upaya pengurangan kemiskinan (dan pengangguran) perlu dilaksanakan lebih serius. Pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini disampaikan pada sub-bab 5.2.