5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Analisis Keberlanjutan Perikanan
5.2.2. Analisis Ecological Footprint Perikanan
untuk mengeksploitasi sumberdaya lokal (F vs N, R; keberlanjutan ekonomi) dengan kualitas sumberdaya (R vs N, F; keberlanjutan ekologi) (Ulgiati dan Brown 1998). ESI<1 menjadi indikasi dari konsumen, produk atau proses, ESI>1 mengindikasikan bahwa produk memiliki kontribusi bersih terhadap masyarakat. Berkaitan dengan ekonomi ESI<1 berindikasi terhadap orientasi konsumen suatu sistem yang sangat berkembang. Sementara untuk ESI>10 berindikasi terhadap perekonomian yang belum berkembang, sedangkan kisaran ESI antara 1 dan 10 merupakan indikasi suatu negara atau sistem sedang berkembang (Brown dan Ulgiati 1997). Dengan nilai ESI 7.48 sej/yr, ini mengindikasikan bahwa kegiatan penangkapan ikan mempunyai pengaruh nyata terhadap perekonomian yang ada di Desa Olele dan berkelanjutan, tetapi disisi lain dengan meningkatnya nilai ESI belum tentu daerah ini dianggap sebagai daerah berkembang.
ESI<1 menjadi indikasi dari konsumen, produk atau proses, ESI>1 mengindikasikan bahwa produk memiliki kontribusi bersih terhadap masyarakat. Berkaitan dengan ekonomi ESI<1 berindikasi terhadap orientasi konsumen suatu sistem yang sangat berkembang. Sementara untuk ESI>10 berindikasi terhadap perekonomian yang belum berkembang, sedangkan kisaran ESI antara 1 dan 10 merupakan indikasi suatu negara atau sistem sedang berkembang. Menurut Cao dan Feng (2007) yang dikutip oleh Zhang et al. (2010, 2011) bahwa nilai ESI<1 menunjukkan bahwa produk dan proses suatu sistem tidak berkelanjutan. Nilai suatu sistem dengan 1<ESI<5 menunjukkan bahwa sistem produksi atau suatu proses memiliki keberlanjutan dan berkontribusi terhadap perekonomian untuk jangka menengah, dan produk atau proses dengan ESI>5 dapat dianggap berkelanjutan jangka panjang.
5.2.2. Analisis Ecological Footprint Perikanan
Kehidupan manusia dan semua kegiatan manusia bergantung pada alam. Implikasi dari hal ini pepatah ekologis menjelaskan bahwa menjadi manusia yang berkelanjutan harus hidup dalam kapasitas daya dukung alam (Wackernagel et al. 1999). Daya dukung akan sangat ditentukan oleh batasan-batasan kawasan yang akan dianalisa misalnya dengan melihat luasan wilayah, kondisi biogeofisik wilayah, serta kebutuhan manusia terhadap sumberdaya untuk memenuhi
0.000 0.001 0.001 0.002 0.002 2007 2008 2009 2010 EF (km 2 /ka p it a Tahun
kebutuhannya. Untuk analisis daya dukung perikanan suatu kawasan dapat diketahui dengan melihat seberapa besar konsumsi perikanan dengan luasan lahan atau kawasan tersedia sehingga keberlanjutan ekosistem perikanan itu tetap lestari. Swartz (2010) mengemukakan bahwa dampak global penangkapan ikan pada suatu sistem ekosistem yang meliputi spesies di seluruh rantai makanan dari herbivora sampai ke pemangsa atas tidak dapat sepenuhnya dinilai oleh studi satu jenis spesies ikan saja.
Gambar 11. Ecological footprint perikanan Desa Olele
Selanjutnya Swartz (2010) menjelaskan bahwa cara yang lebih tepat dalam mengukur ekspansi dan batasan perikanan adalah dengan melihat kebutuhan produktifitas primer (PPR) dari berbagai jenis ikan untuk melihat daya dukung (ecological footprint analysis/EFA) perikanan. Seperti yang didefinisikan oleh Pauly dan Cristensen (1995) bahwa PPR memungkinkan untuk melihat perbandingan langsung dari produktifitas primer yang dibutuhkan berdasarakan
trophic level (TL) dalam menghasilkan tangkapan kelompok spesies tertentu dan
dalam satu periode waktu tertentu minimal satu tahun. Wackernegel (1996) menjelaskan bahwa indokator ecological footprint disebut juga indikator ecospace didefinisikan untuk menjawab seberapa besar area produktif dari daratan perairan sebagai sumberdaya bagi keberlanjutan hidup manusia secara langsung untuk standar kehidupan dan dengan teknologi. Dong-dong (2010) berpendapat bahwa
57
luas lahan yang dibutuhkan untuk dimanfaatkan oleh suatu populasi sangat bergantung pada sistem produksi ekologis dan pola konsumsi sumberdaya.
Berdasarkan hasil perhitungan untuk ecological footprint (EF) di Desa Olele yang ditampilkan pada Gambar 11, menunjukkan bahwa EF di Desa Olele dalam empat tahun terakhir setalah pembentukan KKLD Olele memiliki nilai EF yang tidak terlalu jauh berubah. Pada Tahun 2007, estimasi EF sebesar 0.0017
km2/kapita dengan luasan area yang dibutuhkan adalah 1 342 km2 atau sekitar 53
kali luas daratan Desa Olele. Setelah itu, mengalami peningkatan pada tahun 2008 sebesar 0.002 dengan luasan area yang dibutuhkan 1 624 km2. Pada tahun 2009
dengan estimasi kebutuhan area menjadi 1 476 km2. Terakhir pada tahun 2010
terjadi lagi kenaikan kebutuhan luasan sebesar 1 506 km2 (lebih lengkapnya pada
Lampiran 2).
Tabel 15. Kebutuhan ruang ekologis sistem akuatik lokal dan regional.
Karakteristik 2007 2008 2009 2010
Desa Olele
PPR Trophic Shelves (Kg) 413 735.20 502 343.34 455 426.61 464 968.04 PPR Coastal n and Coral System
(Kg) 6 432.26 3 163.69 5 811.47 5 344.63
Jumlah Penduduk 810 835 864 983
EF (km2/Kapita) 0.0017 0.0019 0.0017 0.0015
Kebutuhan Ruang (km2) 1 342 1 624 1 475 1 506
Cakupan (kali) 53 64 58 59
Kecamatan Kabila Bone
PPR Trophic Shelves (Kg) 467 129.36 429 828.33 374 985.91 358 002.21 PPR Coastal n and Coral System
(Kg) 24 333.92 19 951.85 21 574.75 22 627.88
Jumlah Penduduk 1 534 9 150 9 176 10 346
EF (Km2/Kapita) 0.0002 0.0002 0.0001 0.0001
Kebutuhan Ruang (km2) 1 534 1 409 1 234 1 180
Cakupan (kali) 11 10 9 8
Ket : Luas Desa Olele 25.40 km2, Kecamatan Kabila Bone 143.51 km2
(BPS Kabupaten Bone Bolango, 2011)
Tabel 15 merupakan ringkasan perhitungan EF sistem perikanan di Desa Olele dan Kecamatan Kabila Bone untuk periode tahun 2007-2010. Untuk perhitungan yang lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 2. Dari Tabel 13 dapat dilihat nilai EF lokal rata-rata adalah 0.002 km2/kapita dan membutuhkan
rata-rata luasan area 1 487 km2 atau sekitar 58.5 kali luas daratan Desa Olele. Sementara untuk EF regional rata-rata sebesar 0.0002 ha/kapita dan membutuhkan area seluas 1 339 km2 atau sekitar 9 kali luas daratan Kecamatan Kabila Bone. Semakin kecilnya kebutuhan ruang regional disebabkan besarnya jumlah produksi perikanan, lebih beragamnya alat tangkap yang digunakan serta jumlah nelayan yang lebih banyak, sebaliknya dengan luasan pada Desa Olele karena dengan kondisi alat tangkap, produksi yang kecil dan jumlah nelayan yang sedikit berdampak terhadap kebutuhan ruang ekologis yang besar.
Tabel 16. Perbandingan kebutuhan ruang ekologis untuk perikanan antara Desa Olele dengan daerah lain.
Negara/Daerah/Pulau EF Untuk Perikanan Kebutuhan Area
Sumberdaya Global (*) 0.30 23 x 106
Hongkong (*) 0.20 14 220 km2
Guersney UK (*) 1.41 84 000 km2
Japan (*) 1.90 -
Yoron Islands Japan (*) 0.014 8 7168 km2
Brazil (**)
Gugus Pulau Batudaka (***)
0.25 0.0004
-
5 339 km2
Kabupaten Tojo Una-Una (***) 0.003 446 402 km2
KKLD Olele 0.002 1 487 km2
Kecamatan Kabila Bone 0.0002 13 394 km2
Sumber : (*) Dikutip dari Adrianto (2004); (**) Pereira dan Ortega (2012); (***) Sulistiawati (2011)
Presentase perbandingan EF untuk perikanan lokal dan regional dengan beberapa daerah lain di dunia ditampilkan pada Tabel 16. Desa Olele dan Kecamatan Kabila Bone dengan daerah lain nilai EF Perikanan cukup kecil bila
dibandingkan dengan Hongkong (0.2 km2/kapita), Guernsey UK (1.41
km2/kapita), Japan (1.90 km2/kapita), Yoron Island Japan (0.014 km2/kapita) maupun Brazil (0.25). Sementara untuk daerah di Gugus Pulau Batudaka dan Kabupaten Tojo Una-Una memiliki nilai estimasi EF Perikanan sedikit lebih besar dibandingkan dengan Desa Olele dan Kecamatan Kabila Bone yaitu (0.0004 dan 0.003 km2/kapita).
Besarnya kebutuhan ruang ekologis bagi kegiatan perikanan sangat dipengaruhi oleh produksi perikanan/jumlah tangkapan dan populasi penduduk. Adrianto dan Matsuda (2004) menjelaskan bahwa analisis ruang ekologis,