• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EFEKTIFITAS PROGRAM LIFE SKILLS OLEH PKBM AL-WATHONIYAH

Menganalisis efektifitas PKBM Al-Wathoniyah berarti menganalisis sejauh mana tujuan pembentukan PKBM itu tercapai. Untuk menganalisis efektifitas program life skills yang dilaksanakan, terlebih dahulu diperlukan analisis terhadap kelembagaan PKBM Al-Wathoniyah itu sendiri, analisis proses pembentukan PKBM, pemenuhan syarat minimal pembentukan, analisis bidang-bidang kegiatan yang dikelola, serta analisis indikator keberhasilan program-program yang dicapai PKBM, termasuk di dalamnya program-program life skills. Selanjutnya, analisis efektifitas program life skills perlu dilakukan untuk mengetahui apakah jenis keterampilan yang dilaksanakan sudah sesuai dengan kehendak warga, apakah memberi manfaat bagi warga belajar, masyarakat, dan pemerintah misalnya dalam perluasan jaringan maupun peningkatan ekonomi. Analisis terhadap efektifitas PKBM tersebut di atas, adalah sebagaimana diuraikan di bawah ini.

Analisis Kelembagaan PKBM Al-Wathoniyah

PKBM dapat digolongkan dalam collective action sector karena dilakukan secara kolektif oleh elemen masyarakat, baik sebagai pengelola, tutor/nara sumber teknik, maupun warga belajar. Analisis kelembagaan PKBM Al-Wathoniyah sebagai collective action sector dengan melihat perubahan kelembagaan PKBM dalam dimensi historis dan prospek kelembagaan, pilar-pilar yang diperlukan untuk menopang kelembagaan PKBM, serta melihat PKBM sebagai suatu sistem organisasi dan kontrol terhadap sumber daya, sebagai berikut:

Perubahan Kelembagaan

Menganalisis kelembagaan PKBM dari dimensi historis dan prospeknya, berkaitan dengan analisis terhadap penyelenggaraan PLS yang menjadi fokus kegiatannya. Kebijakan PKBM muncul setelah terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan, sehingga terjadi perubahan kebijakan dalam implementasi PLS dalam kehidupan masyarakat.

Merujuk pada teori Carney and Gedajlevic (2005, diacu oleh Nasdian 2008), bahwa perubahan bersama antara kelembagaan dan organisasi sebagai suatu “institutional and organizational co-evolution”, penyelenggaraan PLS di Desa Sukosono dapat dilihat berdasarkan perubahan atau evolusi antara pranata-pranata yang ada dengan organisasi penyelenggara yang terbentuk, seperti diuraikan di bawah ini.

Istilah life long education atau pendidikan sepanjang hayat (PSH) telah dikenal lama dalam dunia pendidikan internasional, terlebih setelah PBB menetapkan PSH sebagai asas pendidikan. Konsep-konsep dalam PSH tersebut menyatakan terjadi perubahan paradigma terhadap dunia pendidikan, dari yang berorientasi sekolah (formal) menuju ke batasan pendidikan yang lebih luas, meliputi juga PLS. Beberapa hasil penelitian terhadap sekolah mengungkapkan bahwa peningkatan kuantitas dan kualitas sekolah tidak akan membantu memecahkan masalah kekurangan tenaga kerja, bahkan memperlebar jurang antara yang kaya dan miskin karena hanya yang kaya yang mendapat kesempatan sekolah. Kenyataannya, sepanjang kehidupan seseorang, dunia luar sekolah menempatkan porsi waktu yang lebih besar dibandingkan dunia sekolah. Sebagai ilustrasi dapat digambarkan: berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2006 (Badan Pusat Statistik 2006) berkaitan dengan Indeks Pembangunan Manusia, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia adalah 7,3 tahun; rata-rata lama sekolah penduduk Propinsi Jawa Tengah mencapai 6,6 tahun, dan rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Jepara adalah 6,9 tahun. Apabila asumsi angka harapan hidup penduduk Indonesia adalah 70 tahun, maka terlihat bahwa dunia sekolah hanya “menyita” waktu + sepersepuluh sepanjang hidup seorang penduduk Indonesia. Konsep PSH membawa perubahan pemikiran tentang pentingnya PLS. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mendayagunakan dan mengembangkan PLS agar berperan lebih besar dalam pembangunan.

Joesoef (2004) menyebutkan bahwa PLS pada umumnya lebih banyak yang bersifat praktis, agar segera dapat menerapkan hasil pendidikannya dalam praktek kerja dan merupakan respons dari pada kebutuhan khusus yang mendesak. Sebenarnya, konsep PLS telah diterapkan pada Sistem Pendidikan Nasional sejak masa orde baru, melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989. Tetapi, penyelenggaraan PLS tampak lebih bersifat sentralistik karena berlandaskan pada konsep pembangunan (developmentalism), akibatnya ketika

mengalami krisis, masyarakat mengalami keterpurukan. Meskipun dunia pendidikan bukan satu-satunya yang harus bertanggung jawab terhadap krisis yang berkepanjangan, tetapi kenyataan ini mengindikasikan bahwa “proyek” PLS yang sentralistik tidak menciptakan masyarakat yang “tahan” terhadap terpaan krisis ekonomi.

Pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang penetapannya dipicu setelah adanya krisis ekonomi yang memunculkan gerakan reformasi, terjadi perubahan penyelenggaraan PLS melalui konsep broad based education, yaitu penyelenggaraan pendidikan berbasis keragaman dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat luas. Konsep ini memungkinkan pemerintah lebih mendorong masyarakat agar dapat turut andil dalam penyelenggaraan PLS, melalui regulasi yang lebih memihak. Masyarakat dapat berperan mendirikan lembaga-lembaga kursus, Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Terpadu Masyarakat (LPTM), dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Depdiknas (2004) merumuskan batasan pengertian kelembagaan-kelembagaan pendidikan masyarakat tersebut sebagai berikut:

a) Lembaga kursus merupakan lembaga pendidikan non formal yang diselenggarakan oleh masyarakat (dulu dikenal dengan sebutan diklusemas kependekan dari pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat) yang berada di bawah pembinaan Dinas Pendidikan. Lembaga kursus berpengalaman menyelenggarakan pendidikan dan/atau latihan keterampilan dan profesi tertentu untuk masyarakat, didukung oleh fasilitas dan intruktur/tenaga pendidik yang kompeten.

b) LPTM adalah lembaga milik masyarakat yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan atau pelatihan bagi masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan (capacity building) masyarakat di bidang kecakapan hidup baik pangan maupun jasa. Sasaran LPTM adalah pemberdayaan masyarakat yang tergolong kurang beruntung.

c) PKBM merupakan salah satu satuan pendidikan non formal yang diprakarsai, dibentuk, dan dikelola sendiri oleh masyarakat, untuk pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kebutuhan belajar masyarakat setempat. Karenanya, prinsip PKBM ialah DOUM dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat.

Artinya bahwa prakarsa penyelenggaraan pembelajaran diharapkan dapat tumbuh dan berkembang atas prakarsa dan kebutuhan masyarakat sendiri, sehingga masyarakat setempat akan lebih mempunyai rasa memiliki yang selanjutnya kegiatan belajar tersebut dapat berkembang dan berkelanjutan.

Dari pengertian tersebut, terlihat bahwa pemerintah mulai memberikan ruang yang luas bagi masyarakat dalam menyelenggarakan PLS, dengan didukung oleh regulasi yang lebih memihak dan stimulan anggaran. Meskipun dalam pelaksanaannya terkadang terdapat kendala misalnya terlambatnya petunjuk teknis diberikan, minimnya stimulan anggaran, serta pendampingan yang kurang maksimal, tetapi secara konsep, pemerintah telah berupaya mendorong masyarakat untuk berperan lebih besar dalam PLS. Selanjutnya yang perlu dilihat adalah bagaimana kebijakan ini diimplementasikan di lapangan.

Berkepanjangannya krisis ekonomi telah mendorong pemerintah merumuskan reformasi pendidikan termasuk dalam penyelenggaraan PLS, dari yang bersifat sentralistik menuju pemberdayaan masyarakat. Kritikan terhadap penyelenggaraan PLS yang bersifat top-down seperti dipraktekkan pada masa orde baru, adalah bahwa dalam proses penyelenggaraannya, “program” identik dengan “proyek”. Dalam kebijakan yang baru, walaupun dalam proses penyelenggaraan tetap berpedoman pada “garis” kebijakan Sistem Pendidikan Nasional yang ditetapkan pemerintah, tetapi mengedepankan adanya partisipasi masyarakat. Hanya saja, dalam prakteknya, seperti ditemui oleh penulis di PKBM Al-Wathoniyah, prinsip partisipasi ini dalam program PLS (termasuk program life skills) tidak dibarengi dengan “konsistensi pendampingan” pemerintah dalam hal pendanaan, manajemen, dan kurikulum. Prinsip partisipasi ini tidak terlepas dari adanya pro-kontra pada awal pembentukan PKBM Al-Wathoniyah karena perbedaan persepsi di kalangan masyarakat Desa Sukosono, yaitu menganggap PKBM adalah partai politik.

Pertama, dalam hal pendanaan, pada kenyataan yang ditemui penulis di lapangan, “partisipasi” masyarakat dalam hal ini tidak bisa lepas dari pendanaan pemerintah. Selain karena memang sudah teranggarkan dalam APBN/APBD, kondisi krisis yang berkepanjangan menyebabkan keterbatasan dana dari penyelenggara program (PKBM atau masyarakat), apalagi tidak adanya kontribusi berupa dana/iuran dari warga belajar yang notabene adalah warga miskin. Birokrasi pengucuran dana yang panjang, menjadikan penyelenggara

program tidak dapat melaksanakan tugasnya terutama pada awal tahun anggaran akibat keterbatasan dana, karena bergantung pada penetapan APBD/APBN yang sering terlambat.

Kedua, dalam hal manajemen, keterbatasan kemampuan manajerial pengelenggara program dan tutor, menuntut adanya pendampingan dari dinas terkait misalnya Dinas Pendidikan. Kenyataan di lapangan terlihat bahwa perekrutan tenaga tutor masih kurang optimal dari segi kualitas tutor itu sendiri. Tutor diambilkan dari masyarakat yang mengandalkan penguasaan keterampilan secara alami, yang diperoleh dari kursus bahkan otodidak, mengakibatkan program berjalan kurang maksimal.

Ketiga, dalam hal kurikulum, sering terlambatnya panduan modul dan bahan ajar turut menyumbang keterlambatan penyelenggaraan pendidikan. Program-program tertentu seperti life skills dan keaksaraan fungsional lebih banyak diserahkan kepada kreatifitas tutor dan pengelola program dalam perencanaan dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman. Dalam kenyataannya, kurikulum ini menyulitkan tutor yang terbatas kemampuannya untuk mencari atau membuat “tema” ajar tersebut. Untuk itu, tenaga pendamping sangat diperlukan untuk memacu para tutor dalam menyelenggarakan pendidikan. Tetapi keterbatasan jumlah pendamping dirasa kurang, yaitu TLD (Tenaga Lapangan Dikmas) sebanyak satu orang dan penilik PLS satu atau dua orang tiap kecamatan, apalagi untuk wilayah kecamatan yang luas dan terdapat banyak penyelenggaran program. TLD merupakan tenaga honor Dinas Pendidikan Propinsi, sedangkan penilik PLS merupakan pegawai Dinas Pendidikan setempat. Jika dalam pendidikan sekolah telah disusun kurikulum yang jelas dengan Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) untuk setiap mata pelajaran setiap harinya, di mana tenaga pengajarnya relatif lebih memadai, lain halnya dengan PLS. Kurikulum diserahkan kepada daya kreativitas tutor menyikapi kebutuhan warga belajar; di satu sisi dapat fleksibel menyesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan warga belajar, tetapi di sisi lain dapat menyulitkan tutor dalam membuat bahan ajar, apalagi sering terlambatnya modul panduan yang diberikan oleh Depdiknas.

Perubahan regulasi kelembagaan PLS sebagaimana diuraikan di atas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 17. Perubahan Kelembagaan Pendidikan Luar Sekolah

Sebelum krisis ekonomi 1998 Setelah krisis ekonomi

Perubahan

kelembagaan Evolusi pranata sosial (UU Sisdiknas bersama antara No. 2 Tahun 1989) dan paradigma PLS yang berori-entasi sentralistik dan

top-down berlandaskan

pem-bangunan (developmentalism)

Evolusi bersama antara pra-nata sosial (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003) dan para-digma PLS sebagai pengganti, penambah, pelengkap pendi-dikan sekolah yang berori-entasi partisipasi dan otonomi daerah berlandaskan broad based education

Peran kelembagaan melaksanakan “proyek”

pe-merintah sinergi antara program peme-rintah dengan partisipasi ma-syarakat, antara lain mem-buahkan terbentuknya PKBM Efektivitas

Kelembagaan Kurang masyarakat tidak banyak efektif karena terlibat sehingga tidak ada keberlanjutan

Efektif karena masyarakat

terlibat aktif sehingga ada keberlanjutan

Berdasarkan teori perubahan kelembagaan atau “institutional and organizational co-evolution” tersebut, dapat dikonstruksikan hal-hal berikut: 1. Penyelenggaraan PLS di Desa Sukosono beradaptasi terhadap perubahan

pranata sosial (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan nilai-nilai dalam masyarakat) dari berbasis sentralistik dan top-down menjadi desentralistik yang berdasar partisipatoris. Perubahan ini melahirkan PKBM Al-Wathoniyah sebagai mitra pemerintah dalam menyelenggarakan PLS; 2. Respons terhadap perubahan pranata sosial tersebut menimbulkan bentuk

kelembagaan PLS baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat Sukosono; 3. Bentuk program yang baru tersebut merupakan sinergi dari pertukaran sistem

norma dan nilai (asimilasi dan akulturasi) peraturan pemerintah dan nilai-nilai masyarakat Desa Sukosono.

Pilar-Pilar Penopang Kelembagaan

Perubahan program PLS termasuk program life skills yang diselenggarakan melalui PKBM tersebut di atas secara teoritis tidak hanya disebabkan oleh faktor regulasi, walaupun faktor ini yang dominan. Selain faktor tersebut faktor struktur sosial masyarakat dan faktor kultural merupakan

faktor-faktor yang dapat mempercepat atau memperlambat evolusi bersama pranata dan organisasi PKBM tersebut. Oleh karena itu, merujuk pendapat Scott (2008, diacu oleh Nasdian 2008), pada setiap tahap atau periode perubahan (evolusi bersama) tersebut perlu ditelaah apa dan bagaimana “pilar-pilar kelembagaan” yang mendukungnya.

Tabel 18. Tiga Pilar Kelembagaan

Regulatif Normatif Cultural-Cognitive

Basis Pemenuhan

Kebijaksanaan Tanggung-jawab sosial Pertukaran pemahaman

Basis Tatanan Aturan regulasi Ekspetasi Skema pendukung

Mekanisme Paksaan Normatif Meniru

Logika Instrumental Tepat-guna Ortodoks

Indikator Aturan, Hukum, Sanksi Sertifikat, Akreditasi Kepercayaan umum

Pengaruh Khawatir-mantap Memalukan-Penghargaan Kepastian-Kebingungan

Basis Legitimasi

Sanksi-Legal Tata pengaturan secara

Moral Secara kultural didu-kung dengan pemaham-an pendukung setempat

Sumber: Nasdian (2007)

Dari tiga pilar kelembagaan tersebut, kelembagaan PKBM berada pada pilar regulatif dan normatif yang mendasarkan pada aturan pemerintah dan kepentingan struktur sosial, dan bukan pada pilar cultural-cognitif yang berbasis pada nilai-nilai dalam masyarakat. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Basis Pemenuhan, PKBM menyelenggarakan PLS berdasarkan program pemerintah dan dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.

Basis Tatanan, bahwa penyelenggaraan PLS diatur pelaksanaannya melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional beserta aturan pelaksanaannya, yang dalam prakteknya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Mekanisme yang dikembangkan bersifat normatif dan demi kepentingan struktur sosial, penyelenggaraan PLS berdasarkan kepentingan ekonomis, di mana PKBM sendiri mempunyai kepentingan struktur sosial.

Logika dalam penyelenggaraan PLS adalah instrumental dengan menggunakan petunjuk-petunjuk pelaksanaan, yang dimaksudkan agar program berjalan dengan tepat-guna sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Indikator keberhasilan program adalah apakah program dijalankan sesuai dengan aturan yang berlaku, akreditasi bagi penyelenggara program (PKBM), dan pemanfaatan ilmu dan keterampilan yang diperoleh.

Pengaruh dilaksanakannya program, mengindikasikan pemerintah telah melaksanakan kewajibannya dalam bidang PLS.

Basis Legitimasi PLS adalah legal karena diatur melalui undang-undang beserta petunjuk pelaksanaannya.

Dari penjelasan di atas, pilar-pilar kelembagaan PKBM dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 9. Pilar Penopang Kelembagaan PKBM Al-Wathoniyah

Pilar Penopang Kelembagaan PKBM

Regulative Normative

Cultural-Cognitive

PKBM sebagai Organisasi dan Kontrol terhadap Sumber Daya

Dari perspektif kelembagaan, PKBM dapat dianalisis sebagai sistem organisasi dan kontrol terhadap sumber daya menurut konsepsi Schmid (1972, diacu oleh Nasdian 2008), yaitu dengan melihat batas yurisdiksi; property rights; dan aturan representasi (rules of representation), sebagai berikut:

1. Batas Yurisdiksi; sampai sejauh mana peran kelembagaan dalam mengatur alokasi sumber daya. Kelembagaan PKBM bergerak pada sektor PLS, yaitu untuk memberikan layanan pendidikan bagi warga masyarakat yang tidak mungkin terlayani kebutuhan pendidikannya melalui jalur pendidikan formal/sekolah, atau untuk memberikan dukungan dan melengkapi pendidikan formal di sekolah. Sasaran PLS diprioritaskan pada anak usia 0 – 6 tahun yang tidak terlayani dalam satuan pendidikan pra sekolah apa pun, penduduk buta huruf, siswa putus sekolah dalam dan antar jenjang, serta warga masyarakat lainnya yang ingin belajar kecakapan hidup untuk meningkatkan taraf hidupnya.

2. Property rights; “penguasaan” sumber daya oleh organisasi secara sosiologis tidak dapat dipisahkan dengan pengaturan oleh hukum

positif, adat, dan tradisi serta kesepakatan-kesepakatan sosial yang mengatur hubungan antar-komunitas terhadap sumber daya.

Dilihat dari segi ini, PKBM Al-Wathoniyah dimiliki oleh masyarakat, karena pembentukannya atas prakarsa dan partisipasi aktif dari sebagian masyarakat. Sehingga dalam pelaksanaan fungsinya harus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sosial politik Desa Sukosono, tidak semata-mata menjalankan petunjuk pelaksanaan PLS yang ditetapkan pemerintah. Dalam kenyataannya, karena masih adanya ketergantungan yang tinggi terhadap pemerintah dalam hal dana, manajemen, dan kurikulum; maka penguasaan PKBM terhadap sumber daya masih lemah.

3. Rules of representation; kelembagaan berperan sebagai fasilitasi partisipasi multi-pihak dalam satuan wilayah dengan berlandaskan kaidah-kaidah representasi yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu, aturan representasi menentukan alokasi dan distribusi sumber daya yang dibatasi oleh pola hubungan vertikal.

Kelembagaan PKBM Al-Wathoniyah menjadi fasilitator dalam mensinergikan kekuatan-kekuatan (multi-pihak) baik secara horizontal dan vertikal dalam batas wilayahnya. Secara vertikal mengacu pada aturan main yang ditetapkan pemerintah, khususnya Depdiknas dan Dinas P dan K Kabupaten Jepara. Secara horizontal, PKBM menjalin kemitraan dengan kelembagaan yang lain, misalnya Forum PKBM, Pemerintahan Desa Sukosono, pesantren, tokoh masyarakat dan tokoh agama, kumpulan musholla, kelembagaan pendidikan, dan kelembagaan agama demi tercapainya program PLS. Dalam hal ini PKBM Al-Wathoniyah belum maksimal dalam menjalin kemitraan secara horizontal.

Dari uraian di atas, analisis kelembagaan sebagai suatu sistem dan kontrol terhadap sumber daya dalam lingkup fungsinya, PKBM Al-Wathoniyah lemah, tetapi dapat dikatakan sebagai rules of representation karena menjalin kemitraan dengan kelembagaan horizontal yaitu pesantren Mamba’ul Qur’an.

Analisis Proses Pembentukan PKBM Al-Wathoniyah

Upaya yang dilakukan oleh PKBM Al-Wathoniyah dalam memberikan pelayanan PLS kepada warga yang tidak terlayani kebutuhan formalnya sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dapat disebut

sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Beberapa program seperti life skills yang memberikan bekal keterampilan dan stimulan modal, secara nyata dapat menambah penghasilan bagi warga belajarnya sehingga bisa mendayagunakan dirinya dan tercipta kemandirian. Hal ini sesuai dengan Sumodiningrat (1999), yang secara sederhana mengemukakan bahwa pemberdayaan sebagai upaya memberi daya kepada mereka yang kurang atau tidak berdaya agar bisa mendayagunakan dirinya. Strategi pemberdayaan dilakukan secara kolektif dengan kelompok sebagai media intervensi untuk meningkatkan keterampilan yang dapat digunakan untuk mencari penghasilan. Beberapa program tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan, tetapi sebagai kegiatan yang dinamis hal tersebut selayaknya mendapatkan umpan balik demi perbaikan di masa mendatang. Sebagian warga belajar yang pada awalnya tidak mempunyai kegiatan positif dapat memberdayakan dirinya melakukan kegiatan yang menghasilkan. Jenis keterampilan yang dipilih adalah sesuai dengan penawaran dari PKBM yang disetujui bersama, bukan merupakan “paksaan” dari pengelola program tersebut. Hal ini mendorong rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki. Dalam perspektif pekerjaan sosial, apa yang dilakukan oleh PKBM merupakan ‘self determination’ yang pada intinya mendorong warga belajar untuk mengikuti program keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minatnya, sehingga warga belajar mempunyai kesadaran dan kekuasaan dalam membentuk hari depannya.

Kesesuaian PKBM dengan pengembangan masyarakat, ditelaah dari pengertian pengembangan masyarakat itu sendiri, yaitu sebagai suatu metode atau pendekatan pembangunan yang menekankan adanya partisipasi dan keterlibatan langsung penduduk dalam proses pembangunan, di mana semua usaha swadaya masyarakat diintegrasikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat untuk menaikkan taraf hidup, dengan sebesar mungkin ketergantungan pada inisiatif penduduk sendiri, serta pelayanan teknis sehingga proses pembangunan berjalan efektif (Nasdian 2007).

Sumardjo (2007) menyebutkan berbagai tafsiran makna partisipasi dalam pengembangan masyarakat, yaitu:

1. kontribusi sukarela dari seseorang dalam suatu hal/kegiatan;

2. adanya kesadaran (pemahaman), yang disertai disertai kemauan (sikap) dan kemampuan (tindakan) untuk menanggapi kegiatan;

3. suatu proses aktif orang/kelompok terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasan untuk melakukan sesuatu hal;

4. keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam suatu perubahan yang dikehendakinya (ditentukan/diputuskannya sendiri).

PKBM Al-Wathoniyah terbentuk dari partisipasi masyarakat, dapat dilihat dari adanya kontribusi sukarela dari beberapa pemrakarsa yaitu MIM (unsur pemerintah) dan MF (unsur masyarakat), serta mendapat persetujuan Petinggi (Kepala Desa) Sukosono waktu itu, AG. Berawal dari kebijakan pemerintah mengenai pembentukan PKBM, beberapa orang secara sukarela disertai kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk membentuk PKBM. Prakarsa ini ditindaklanjuti dengan musyawarah yang melibatkan kelompok masyarakat yang pada awalnya mendapatkan respon pro dan kontra. Respon ini menandakan bahwa tidak ada unsur paksaan dalam proses pembentukan PKBM Al-Wathoniyah.

PKBM dibentuk dari, oleh, dan untuk masyarakatnya. Dari konsep ini terkandung makna partisipasi masyarakat dalam pembangunan karena di dalamnya terdapat keterlibatan aktif warga masyarakat secara perseorangan, kelompok, atau dalam kesatuan masyarakat dalam pelaksanaan program pemerintah di dalam lingkungan masyarakatnya atas dasar rasa dan kesadaran tanggung jawab sosialnya. Secara perseorangan partisipasinya terwujud dalam mengikuti program menjadi warga belajar maupun tutor, secara kelompok terwujud dalam PKBM Al-Wathoniyah yang menjalankan program, sedangkan dalam kesatuan masyarakat dapat dilihat dari dukungan kapital sosial seperti kelembagaan pesantren, kumpulan-kumpulan musholla, yayasan pendidikan, dan Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kedung.

Berdasarkan tipologi partisipasi menurut Bass et al (Sumardjo 2007) dan melihat proses pembentukan PKBM Al-Wathoniyah, maka jenis partisipasi yang digunakan adalah partisipasi fungsional, yaitu masyarakat membentuk kelompok untuk mencapai tujuan proyek. Pembentukan kelompok pada jenis partisipasi ini (biasanya) setelah ada keputusan-keputusan utama yang disepakati. Pada tahap awal, masyarakat tergantung kepada pihak luar, tetapi secara bertahap menunjukkan kemandiriannya. Musyawarah dilakukan setelah ada keputusan pemerintah mengenai pendirian PKBM, yang telah ditetapkan syarat-syarat, bidang kegiatan, dan indikator keberhasilan PKBM tersebut. Pada awalnya masih tergantung kepada pemerintah, tetapi secara bertahap berusaha menjalankan

program secara mandiri. Misalnya program life skills, penetapan jenis keterampilan didahului dengan perumusan ide dan dimusyawarahkan dengan calon pesertanya. Di sini peserta turut aktif merespon tawaran yang diberikan, kemudian setelah terjadi kesepakatan bersama, sehingga program dapat dijalankan.

PKBM Al-Wathoniyah dibentuk dengan memanfaatkan swadaya masyarakat Sukosono dan berintegrasi dengan Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kedung. Hal ini karena pembentukan PKBM bukanlah suatu keharusan bagi masyarakat, tetapi menekankan pada inisiatif dan swadaya masyarakat sendiri. KS (unsur pemerintah) menjelaskan:

Sebagai mitra PLS, setiap ada kegiatan PLS dan berhubungan dengan bidang garapan PKBM, kita selalu komunikasikan.

Dokumen terkait