Analisis efisiensi ekonomi merupakan pengukuran efisiensi menggunakan pendekatan biaya untuk mengukur perbandingan jumlah biaya yang dikeluarkan terhadap hasil (output) yang dihasilkan, hal ini sesuai pendapat Soekartawi (2002) bahwa efisiensi dengan pendekatan biaya adalah mengukur sejauh mana biaya yang dikeluarkan oleh suatu unit ekonomi atau perusahaan untuk mendapatkan hasil tertentu yang diharapkan, sehingga dapat dibuat perbandingan diantara kedua variabel tersebut. Menurut pendapat Mubyarto (1995), analisis efisiensi secara ekonomi dapat dilakukan dengan membandingkan nilai produk marjinal (NPM) dengan jumlah biaya korbanan marjinal (BKM) suatu variabel. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai efisiensi ekonomi masing- masing faktor produksi sebesar 0,72; -28,57; 9,71; -2,53; -25,20; -11,92; 0,57 dan -9,92. Nilai efisiensi ekonomi masing- masing faktor produksi dapat dilihat pada Tabel 9.
76
Tabel 9. N ilai Koefisien Regresi (B), N ilai Produk Marginal (NPM), Biaya Korbanan Marginal (BKM) dan Hasil Perhitungan Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Tembakau di
Kecamatan Getasan Variabel B NPM BKM Efisiensi X1 Luas lahan 0,807 36219,65 50000 0,72 X2 Jumlah benih -0,011 -285724,06 10000 -28,57 X3 Tenaga kerja 0,249 485401,59 50000 9,71 X4 Pupuk kandang -0,022 -1012,15 400 -2,53 X5 Pupuk ZA -0,040 -100817,11 4000 -25,20 X6 Pupuk NPK Fertila -0,096 -151359,38 12696 -11,92 X7 Pupuk KNO3 0,009 156295,01 19638 0,57 X8 Pestisida -0,035 -2281572,64 230000 -9,92
Sumber: Data Primer Penelitian, 2016.
4.11.1. Efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi luas lahan
Berdasarkan hasil analisis efisiensi ekonomi pada Tabel 9 diketahui bahwa penggunaan jumlah luas lahan mempunyai hubungan positif dengan produksi usahatani tembakau dengan nilai elastisitas sebesar 0,807. Artinya apabila jumlah luas lahan dalam proses produksi tembakau ditambah sebesar 1% dari jumlah rata-rata 2.748 m2/petani dan dengan asumsi faktor- faktor produksi lainnya dianggap konstan (ceteris paribus), maka dapat meningkatkan rata-rata produksi tembakau sebesar 0,807% dari jumlah produksi tembakau 2439,75 kg/masa tanam.Biaya korbanan marginal (BKM) yang dikeluarkan petani adalah sebesar Rp 50.000 yang merupakan harga rata-rata lahan per meter persegi (m2) di Kecamatan Getasan. N ilai produk marginal (NPM) yang diperoleh adalah Rp 36.219 sehingga lebih rendah dari biaya korbanan marginalnya. N ilai efisiensi ekonomi yang diperoleh dari faktor produksi luas lahan adalah sebesar 0,72. N ilai efisiensi
77
kurang dari satu artinya penggunaan faktor produksi luas lahan tidak efisien. Perhitungan efisiensi ekonomi faktor produksi luas lahan dapat dilihat pada Lampiran 8.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa nilai koefisien regresi variabel luas lahan tidak efisien secara teknis karena nilai koefisien kurang dari satu, diduga penggunaan faktor produksi luas lahan berlebihan. Penggunaan lahan tidak efisien secara ekonomi, hal tersebut disebabkan oleh nilai biaya korbanan marginal (BKM) yakni harga lahan per m2 di Kecamatan Getasan terlalu tinggi. Nilai efisiensi luas lahan secara ekonomi dapat diperoleh dengan pengurangan penggunaan luas lahan dan pengurangan harga lahan per m2. Pengurangan luas lahan bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan dan faktor produksi sehingga pengurangan luas lahan dapat berdampak pada peningkatan produktivitas petani. Pengurangan luas lahan yang digunakan disesuaikan dengan jarak tanam tanaman, menurut Akbar et al. (2011) bahwa pengaturan jarak tanam yang sesuai dapat mengurangi terjadinya kompetisi terhadap faktor-faktor tumbuh tanaman yang mempengaruhi produktivitas tanaman. Pendapat tersebut sesuai dengan Tambunan (2003) bahwa pada lahan yang sempit upaya pengawasan faktor produksi akan semakin baik. Pengurangan penggunaan luas lahan dapat mempengaruhi peningkatan nilai produk marginal (NPM) sehingga nilai produk marginal dapat sebanding dengan harga lahan per m2.
78
4.11.2. Efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi jumlah benih
Berdasarkan hasil analisis efisiensi ekonomi pada Tabel 9 diketahui bahwa penggunaan jumlah benih mempunyai hubungan negatif dengan produksi usahatani tembakau dengan nilai elastisitas sebesar 0,011. Artinya apabila jumlah benih dalam proses produksi tembakau ditambah sebesar 1% dari jumlah rata-rata 5,49 gram/petani dan dengan asumsi faktor-faktor produksi lainnya dianggap konstan (ceteris paribus), maka dapat menurunkan rata-rata produksi tembakau sebesar 0,011% dari jumlah produksi tembakau 2439,75 kg/ masa tanam. Biaya korbanan marjinal(BKM) yang dikeluarkan petani adalah sebesar Rp 10.000 yang merupakan harga rata-rata benih per gram. N ilai produk marjinal (NPM) yang diperoleh adalah Rp -285.724,065sehingga lebih rendah dari biaya korbanan marjinalnya. Hal tersebut menyebabkan nilai efisiensi ekonomi yang diperoleh dari faktor produksi jumlah benih adalah sebesar -28,57. N ilai efisiensi menunjukkan angka lebih rendah dari satu artinya penggunaan faktor produksi jumlah benih tidak efisien. Perhitungan efisiensi ekonomi faktor produksi jumlah benih dapat dilihat pada Lampiran 9.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa nilai koefisien variabel jumlah benih tidak efisien secara teknis, diduga penggunaan benih melebihi jumlah benih yang dianjurkan. Kelebihan penyebaran jumlah benih dapat menyebabkan tanaman tumbuh terlalu rapat. Pertumbuhan tanaman yang terlalu rapat dapat menyebabkan tanaman tumbuh tidak normal sehingga mengganggu produktivitas tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Sahid (1986) dalam jurnal Akbar et al.(2011) yang menyatakan bahwa populasi yang padat akan menurunkan
79
produktivitas dikarenakan tanaman kerdil dan banyaknya tanaman yang mati.Menurut pendapat Dinas Provinsi Jawa Timur (2013) penggunaan benih yang tidak sesuai pada lahan pertanian menyebabkan inefisiensi secara teknis pada petani sehingga jumlah output yang diterima petani tidak sesuai dengan keluaran yang telah diusahakannya.Penggunaan jumlah benih tidak efisien secara ekonomi, hal tersebut disebabkan oleh nilai biaya korbanan marjinal (BKM) yakni harga benih per gramdi Kecamatan Getasan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai produk marjinalnya. Diduga jumlah benih yang digunakan tidak sesuai sehingga perlu dilakukan pengurangan penggunaan jumlah benih sehingga nilai marginal physical product (MPP) jumlah benih dapat meningkat. Peningkatan MPP berbanding lurus dengan peningkatan nilai produk marjinal (NPM). Untuk mencapai nilai efisiensi jumlah benih secara ekonomi, nilai biaya korbanan marjinal (BKM) benih per gram perlu dikurangi sehingga NPM jumlah benih dapat sebanding dengan harga benih per gram.
4.11.3. Efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi tenaga kerja
Berdasarkan hasil analisis efisiensi ekonomi pada Tabel 9 diketahui bahwa penggunaan jumlah tenaga kerja mempunyai hubungan positif dengan produksi usahatani tembakau dengan nilai elastisitas sebesar 0,249. Artinya apabila jumlah tenaga kerja dalam proses produksi tembakau ditambah sebesar 1% dari jumlah rata-rata 62,634 tenaga kerja/HOK dan dengan asumsi faktor- faktor produksi lainnya dianggap konstan (ceteris paribus), maka dapat meningkatkan rata-rata produksi tembakau sebesar 0,249% dari jumlah produksi tembakau 2439,75 kg/
80
masa tanam. Biaya korbanan marjinal yang dikeluarkan petani adalah sebesar Rp 50.000 yang merupakan upah rata-rata tenaga kerja per HOK di Kecamatan Getasan. N ilai produk marjinal (NPM) yang diperoleh adalah Rp 485.401 sehingga lebih besar dari biaya korbanan marjinalnya (BKM). Hal tersebut menyebabkan nilai efisiensi ekonomi yang diperoleh dari faktor produksi tenaga kerja adalah sebesar 9,71. N ilai efisiensi menunjukkan angka lebih besar dari satu artinya penggunaan faktor produksi tenaga kerja belum efisien. Perhitungan efisiensi ekonomi faktor produksi tenaga kerja dapat dilihat pada Lampiran 10.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa nilai koefisien regresi variabel tenaga kerja tidak efisien secara teknis sehingga perlu dilakukan pengurangan jumlah tenaga kerja yang digunakan. Menurut hasil penelitian Fauziyah (2010) input tenaga kerja tidak berpengaruh terhadap produksi tembakau, implikasinya penambahan tenaga kerja tidak akan menyebabkan peningkatan jumlah produksi tembakau. Hal tersebut menunjukkan bahwa kelebihan jumlah tenaga ke rja tidak berdampak pada hasil produksi namun kelebihan tenaga kerja berdampak pada analisis ekonomi berupa keuntungan yang diterima petani. Pengurangan tenaga kerja dilakukan guna meningkatkan efektivitas kerja petani tembakau. Jumlah tenaga kerja yang berlebihan dan tidak sesuai dengan hasil produksi dapat menyebabkan kerugian akibat ketidak sesuaian pembayaran upah petani. Penggunaan tenaga kerja belum efisien secara ekonomi. Hal tersebut disebabkan oleh nilai BKM yakni upah rata-rata tenaga kerja per HOK di Desa Tajuk Kecamatan Getasan terlalu rendah. N ilai efisiensi tenaga kerja secara ekonomi dapat diperoleh dengan pengurangan jumlah tenaga kerja agar nilai marginal
81
physical product (MPP) dan upah tenaga kerja dapat meningkat. Penggunaan tenaga kerja harus disesuaikan dengan produktivitas, hal ini sesuai pendapat Sokartawi (2002) bahwa tenaga kerja yang digunakan pada suatu usahatani harus disesuaikan dengan tingkat produktivitas hasil produksi agar usahatani dapat menghasilkan keuntungan.Peningkatan nilai MPP berpengaruh terhadap peningkatan nilai produk marjinal (NPM). Peningkatan NPM harus sebanding dengan peningkatan upah rata-rata tenaga kerja per HOK di Kecamatan Getasan.
4.10.4. Efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi pupuk kandang
Berdasarkan hasil analisis efisiensi ekonomi pada Tabel 9 diketahui bahwa penggunaan jumlah pupuk kandang mempunyai hubungan negatif dengan produksi usahatani tembakau dengan nilai elastisitas sebesar 0,022. Artinya apabila jumlah pupuk kandang dalam proses produksi tembakau ditambah sebesar 1% dari jumlah rata-rata 3519 kg/petani dan dengan asumsi faktor-faktor produksi lainnya dianggap konstan (ceteris paribus), maka dapat menurunkan rata-rata produksi tembakau sebesar 0,022% dari jumlah produksi tembakau 2439,75 kg/ masa tanam.Biaya korbanan marjinal yang dikeluarkan petani adalah sebesar Rp 400 yang merupakan harga rata-rata pupuk kandang per kilogram (kg). Nilai produk marjinal (NPM) yang diperoleh adalah Rp -1012,154407 sehingga lebih rendah dari biaya korbanan marjinalnya. N ilai efisiensi ekonomi yang diperoleh dari faktor produksi pupuk kandang adalah sebesar -2,53. N ilai efisiensi kurang dari satu artinya penggunaan faktor produksi pupuk kandang tidak efisien.
82
Perhitungan efisiensi ekonomi faktor produksi pupuk kandang dapat dilihat pada Lampiran 11.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa bahwa penambahan 1% input dapat menurunkan hasil produksi sebesar 0,022%. N ilai koefisien menunjukkan bahwa variabel pupuk kandang tidak efisien secara teknis, diduga penggunaan pupuk kandang pada usahatani tembakau belum sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Rata-rata petani tembakau di Kecamatan Getasan menggunakan pupuk kandang sebesar 1280 gram/m2, jumlah ini lebih besar dari dosis penggunaan pupuk kandang yang dianjurkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (2013) yang menyatakan jumlah penggunaan pupuk kandang pada 1 Ha lahan tembakau adalah 5000 kg atau sama dengan 500 gram per m2. Penggunaan pupuk kandang yang berlebihan dapat berdampak pada tanaman tembakau terutama jika pupuk kandang yang digunakan belum terfermentasi secara sempurna, menurut Cahyono (2005) penggunaan pupuk kandang yang belum matang atau terfermentasi sempurna dapat menyebabkan perkembangan jamur pada tanah sehingga dapat menyebabkan penyakit akar pada tanaman tembakau seperti penyakit lanas dan rebah kecambah. Penggunaan pupuk kandang tidak efisien secara ekonomi, hal tersebut disebabkan oleh nilai produk marjinal (NPM) pupuk kadangdi Desa Tajuk Kecamatan Getasan terlalu rendah. Diduga penggunaan pupuk kandang tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan sehingga penggunaan pupuk kandang harus dikurangi, karena apabila digunakan secara berlebihan pupuk kandang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pengurangan penggunaan pupuk kandang secara langsung dapat berpengaruh
83
pada peningkatan nilai marginal physical product (MPP). Peningkatan nilai MPP tersebut berbanding lurus dengan peningkatan nilai produk marjinal (NPM). Untuk memperoleh nilai efisiensi penggunaan pupuk kandang secara ekonomi, nilai biaya korbanan marjinal (BKM) perlu dikurangi sehingga NPM dapat sebanding dengan harga rata-rata pupuk kandang per kilogram (kg).
4.11.5. Efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi pupuk ZA
Berdasarkan hasil analisis efisiensi ekonomi pada Tabel 9 diketahui bahwa penggunaan jumlah pupuk ZA mempunyai hubungan negatif dengan produksi usahatani tembakau dengan nilai elastisitas sebesar 0,040. Artinya apabila jumlah tenaga kerja dalam proses produksi tembakau ditambah sebesar 1% dari jumlah rata-rata 73,64 kg/petani dan dengan asumsi faktor- faktor produksi lainnya dianggap konstan (ceteris paribus), maka dapat menurunkan rata-rata produksi tembakau sebesar 0,040% dari jumlah produksi tembakau 2439,75 kg/ masa tanam.Biaya korbanan marjinal (BKM) yang dikeluarkan petani adalah Rp 4.000 yang merupakan harga rata-rata pupuk ZA per kilogram (kg). N ilai produk marjinal (NPM) yang diperoleh adalah Rp -10.0817,109 sehingga lebih rendah dari biaya korbanan marjinalnya. N ilai efisiensi ekonomi yang diperoleh dari faktor produksi pupuk ZA adalah sebesar -25,20. Nilai efisiensi kurang dari satu artinya penggunaan faktor produksi pupuk ZA tidak efisien. Perhitungan efis iensi ekonomi faktor produksi pupuk ZA dapat dilihat pada Lampiran 12.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa penambahan 1% input dapat menurunkan hasil produksi sebesar 0,04%. N ilai koefisien regresi menunjukkan
84
bahwa variabel pupuk ZA tidak efisien secara teknis, diduga penggunaan pupuk ZA oleh petani pada usahatani tembakau melebihi dosis yang dianjurkan sehingga perlu dilakukan pengurangan jumlah pupuk yang digunakan. Penggunaan pupuk ZA yang dianjurkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (2013) adalah sebanyak 40-50 kg/Ha atau setara dengan 5 gram/m2, sedangkan rata-rata pupuk yang digunakan oleh petani di Desa Tajuk adalah sebanyak 73,64 kg atau setara dengan 26,8 gram/m2. Pemberian pupuk ZA yang berlebihan dapat berakibat pada kelebihan unsur nitrogen pada tanah yang dapat menyebabkan hama pada tanaman, hal ini sesuai dengan pendapat Hanum (2008) pemberian pupuk nitrogen yang berlebihan dapat memacu perkembangan populasi hama terutama kutu tembakau. Perkembangan hama pada tanaman ini dapat mengurangi produktivitas tanaman tembakau. Penggunaan pupuk ZA tidak efisien secara ekonomi, hal tersebut disebabkan oleh nilai produk marjinal (NPM) pupuk ZAdi Desa Tajuk Kecamatan Getasan terlalu rendah. Diduga penggunaan pupuk ZA tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan sehingga penggunaan pupuk ZA harus dikurangi, karena apabila digunakan secara berlebihan pupuk ZA dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Nilai efisiensi pupuk ZA secara ekonomi dapat diperoleh dengan pengurangan nilai biaya korbanan marjinal (BKM) sehingga nilai produk marjinal (NPM) pupuk ZA sebanding dengan harga rata-rata pupuk ZA per kilogram (kg).
85
4.11.6. Efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi pupuk NPK fertila
Berdasarkan hasil analisis efisiensi ekonomi pada Tabel 9 diketahui bahwa penggunaan jumlah NPK fertila mempunyai hubungan negatif dengan produksi usahatani tembakau dengan nilai elastisitas sebesar 0,096. Artinya apabila jumlah pupuk NPK fertila dalam proses produksi tembakau ditambah sebesa r 1% dari jumlah rata-rata 85,15 kg/petani dan dengan asumsi faktor- faktor produksi lainnya dianggap konstan (ceteris paribus), maka dapat menurunkan rata-rata produksi tembakau sebesar 0,096% dari jumlah produksi tembakau 2439,75 kg/ masa tanam.Biaya korbanan marjinal (BKM) yang dikeluarkan petani adalah sebesar Rp 12.697 yang merupakan harga rata-rata pupuk NPK Fertila. N ilai produk marjinal (NPM) yang diperoleh adalah Rp -151.359,3782 sehingga lebih rendah dari biaya korbanan marjinalnya. N ilai efisiensi ekonomi yang diperoleh dari faktor produksi pupuk NPK Fertila adalah sebesar -11,92. Nilai efisiensi kurang dari satu artinya penggunaan faktor produksi pupuk NPK Fertila tidak efisien. Perhitungan efisiensi ekonomi faktor produksi pup uk NPK fertila dapat dilihat pada Lampiran 13.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa penambahan 1% input dapat menurunkan hasil produksi sebesar 0,096%. N ilai koefisien menunjukkan bahwa variabel pupuk NPK tidak efisien secara teknis, diduga penggunaan pupuk NPK melebihi dosis yang dianjurkan sehingga perlu dilakukan pengurangan jumlah pupuk yang digunakan. Penggunaan pupuk NPK menurut Hanum (2008) adalah sebanyak 10 gram per batang, sedangkan rata-rata pupuk yang digunakan oleh petani di Desa Tajuk adalah sebanyak 21,68 gram per batang. Pupuk NPK pada
86
tanaman tembakau digunakan sebagai pupuk starter yang diberikan pada awal penanaman. Pupuk ini berfungsi sebagai pemenuh zat nitrogen dan kalium yang berfungsi pada pertumbuhan akar tanaman, hal ini sesuai pendapat Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (2013) bahwa pupuk starter diberikan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan unsur N bagi tanaman tembakau yang berfungsi sebagai penguat tanaman dan menjaga kualitas daun tembakau.Penggunaan pupuk NPK fertila tidak efisien secara ekonomi, hal tersebut disebabkan oleh nilai produk marjinal (NPM) pupuk NPKdi Desa Tajuk Kecamatan Getasan terlalu rendah. Diduga penggunaan pupuk NPK tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan sehingga penggunaan pupuk NPK harus dikurangi, karena apabila digunakan secara berlebihan pupuk NPK dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pengurangan penggunaan pupuk NPK secara langsung dapat berpengaruh pada peningkatan nilai marginal physical product (MPP). N ilai efisiensi penggunaan pupuk NPK fertila secara ekonomi dapat diperoleh dengan pengurangan nilai biaya korbanan marjinal (BKM) sehingga nilai produk marjinal (NPM) dapat sebanding dengan harga rata-rata pupuk NPK fertila per kilogram (kg).
4.11.7. Efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi pupuk KNO3
Berdasarkan hasil analisis efisiensi ekonomi pada Tabel 9 diketahui bahwa penggunaan pupuk KNO3 mempunyai hubungan positif dengan produksi usahatani tembakau dengan nilai elastisitas sebesar 0,009. Artinya apabila jumlah pupuk KNO3 dalam proses produksi tembakau ditambah sebesar 1% dari jumlah
87
rata-rata 37,15 kg/petani dan dengan asumsi faktor- faktor produksi lainnya dianggap konstan (ceteris paribus), maka dapat menaikan rata-rata produksi tembakau sebesar 0,009% dari jumlah produksi tembakau 2439,75 kg/ masa tanam.Biaya korbanan marjinal (BKM) yang dikeluarkan petani adalah sebesar Rp 19.638 yang merupakan harga rata-rata pupuk KNO3 per kilogram (kg). N ilai produk marjinal (NPM) yang diperoleh adalah Rp 11201 sehingga lebih rendah dari biaya korbanan marjinalnya. N ilai efisiensi ekonomi yang diperoleh dari faktor produksi pupuk KNO3 adalah sebesar 0,57. Nilai efisiensi kurang dari satu artinya penggunaan faktor produksi pupuk KNO3 tidak efisien. Perhitungan efisiensi ekonomi faktor produksi pupuk KNO3 dapat dilihat pada Lampiran 14.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa nilai koefisien regresi menunjukkan variabel pupuk KNO3 tidak efisien secara teknis, diduga penggunaan pupuk KNO3 tidak sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan sehingga perlu dilakukan pengurangan jumlah pupuk yang digunakan. Rata-rata jumlah pupuk KNO3 yang digunakan oleh petani tembakau di Desa Tajuk Kecamatan Getasan adalah sebanyak 37,32 kg sedangkan dosis penggunaan pupuk KNO3 yang dianjurkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (2013) adalah 200-250 kg/Ha atau setara dengan 20-25 gram/m2. Kelebihan penggunaan pupuk pada tanaman tembakau dapat menyebabkan penurunan produktivitas, hal ini sesuai dengan pendapat Cahyono (2005) bahwa kelebihan beberapa unsur dapat mendorong pertumbuhan tanaman yang tidak normal ataupun peningkatan penyebaran hama dan penyakit.Pengurangan penggunaan pupuk KNO3 secara langsung dapat berpengaruh pada peningkatan nilai marginal physical product
88
(MPP) sehingga secara simultan NPM akan meningkat. N ilai efisiensi penggunaan pupuk KNO3 secara ekonomi dapat diperoleh dengan pengurangan nilai biaya korbanan marjinal (BKM) sehingga nilai produk marjinal (NPM) dapat sebanding dengan harga rata-rata pupuk NPK fertila per kilogram (kg).
4.11.8. Efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi pestisida
Berdasarkan hasil analisis efisiensi ekonomi pada Tabel 9 diketahui bahwa penggunaan pestisida mempunyai hubungan negatif dengan produksi usahatani tembakau dengan nilai elastisitas sebesar 0,035. Artinya apabila jumlah pestisida dalam proses produksi tembakau ditambah sebesar 1% dari jumlah rata-rata 2,7561 liter/petani dan dengan asumsi faktor- faktor produksi lainnya dianggap konstan (ceteris paribus), maka dapat menurunkan rata-rata produksi tembakau sebesar 0,035% dari jumlah produksi tembakau 2439,75 kg/ masa tanam. Biaya korbanan marjinal (BKM) yang dikeluarkan petani adalah sebesar Rp 230.000 yang merupakan harga rata-rata pestisida per liter. N ilai produk marjinal (NPM) yang diperoleh adalah Rp -2281572,642 sehingga lebih rendah dari biaya korbanan marjinalnya. N ilai efisiensi ekonomi yang diperoleh dari faktor produksi luas lahan adalah sebesar -9,92. Nilai efisiensi kurang dari satu artinya penggunaan faktor produksi pestisida tidak efisien. Perhitungan efisiensi ekonomi faktor produksi pestisida dapat dilihat pada Lampiran 15.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa penambahan 1% input dapat menurunkan hasil produksi sebesar 0,035%. N ilai koefisien menunjukkan bahwa variabel pestisida tidak efisien secara teknis, diduga penggunaan pestisida oleh
89
petani pada usahatani tembakau melebihi dosis yang dianjurkan sehingga perlu dilakukan pengurangan jumlah pestisda yang digunakan. Penggunaan pestisida yang dianjurkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (2013) adalah sebanyak 4 gram/liter air. Penggunaan pestisida rata-rata di Desa Tajuk adalah 27,56 gram/ liter air. Penggunaan pestisida yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, menurut Budiman (2011) penggunaan pestisida berlebihan dapat memicu kekebalan hama sehingga hama tidak mudah dibasmi atau membuat tanaman lebih rentan terkena hama penyakit. Penggunaan pestisida secara berlebihan juga dapat merusak ekosistem tanaman sehingga perlu dilakukan pengurangan dosis pestisida.Penggunaan pestisida tidak efisien secara ekonomi, hal tersebut disebabkan oleh nilai produk marjinal (NPM) pestisidadi Desa Tajuk Kecamatan Getasan terlalu rendah. Diduga penggunaan pestisida tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan sehingga penggunaan pestisida harus dikurangi, karena apabila digunakan secara berlebihan pestisida dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan dapat merusak perkembangan hama tanaman tembakau. Pengurangan penggunaan pestisida secara langsung dapat berpengaruh pada peningkatan nilai marginal physical product (MPP). N ilai efisiensi penggunaan pestisida secara ekonomi dapat diperoleh dengan pengurangan nilai biaya korbanan marjinal (BKM) yakni biaya input pestisida perlu dikurangi sehingga nilai produk marjinal (NPM) dapat sebanding dengan harga rata-rata pestisida per liter.