III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.7 Analisis Efisiensi Penggunaan Input
Untuk mengetahui suatu usaha pembesaran dalam keadaan optimal maka perlu dilakukan penghitungan Nilai Produksi Marginal (NPM), input dan output yang efisien serta rasio NPM dengan harga input. Menurut Soekartawi (1994), penggunaan faktor produksi akan efisien apabila antara NPM dan Pxi sama dengan satu (NPM/Pxi = 1). Apabila rasio ini lebih besar dari satu, maka penggunaan faktor produksi (input) belum efisien dan masih dapat dilakukan penambahan. Apabila rasio ini kurang dari satu, maka penggunaan faktor produksi (input) sudah tidak efisien dan harus dikurangi. Berikut ini merupakan nilai Nilai NPM, Input dan Output yang Efisien, serta Nilai Rasio NPM dan Pxi Kecamatan Dramaga Tahun 2011. Setelah dilakukan analisa Cobb douglas menunjukkan bahwa nilai output pada kondisi optimal sebesar 2,7464 sedangkan pada kondisi aktual sebesar 2,1138 yang dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Nilai NPM, Input dan Output yang Efisien, serta Nilai Rasio NPM dan Pxi
pada Usaha Pembesaran Ikan Gurame di Kecamatan Dramaga Tahun 2011. No Keterangan bi Pxi NPM NPM/ Pxi Optimal (per m2) Aktual (per m2) 1 Output -0,8568 27000 2,7464 2,1138 2 Benih 0,5088 4000 5678,5 1,4196 7,2594 5,1135 3 Pelet (Kg) 0,2469 6167 4892,4 0,7933 2,2851 2,8805 4 Daun sente 0,0980 150 261,38 2,6138 37,2989 21,4054 5 Pupuk 0,0970 833 14942,6 17,9383 6,6470 0,0370 6 Tk 1 0,1515 2083 793212,6 380,803 4,1502 0,0169 7 Tk 2 0,0300 2083 6521,7 3,1309 8,2186 2,850
Sumber : Data Primer Tahun 2011
Berdasarkan Tabel 6, harga rata-rata untuk output (ikan gurame ukuran konsumsi) adalah Rp 27000/kg. Tingkat harga pada kisaran Rp 27000/kg diperoleh dari harga rata-rata yang diperoleh pembudidaya di Kecamatan Dramaga pada tingkat pengepul. Tingkat harga ikan gurame yang diperoleh pembudidaya bisa bertambah jika pemasarannya sampai pada konsumen akhir. Sedangkan tingkat harga pakan berupa pelet komersil sebesar Rp 6167/kg. Tingkat harga pakan yang diperoleh pembudidaya tidak tergolong tinggi hal ini bisa dilihat berdasarkan data harga pakan per karung dengan berat 30/kg ditingkat pasar, pada kisaran Rp 185000/30 kg dan Rp 186000/30kg. Harga rata-rata benih ikan gurame ukuran 12 cm- 15 cm sebesar Rp 4000/ekor. Benih ikan gurame yang diperoleh petani berasal dari wilayah Kecamatan Dramaga yang melakukan usaha pendederan ikan gurame. Rata-rata pembudiya ikan gurame yang melakukan usaha pembesaran tidak melakukan usaha pendederan sekaligus dengan pembesaran dikarenakan menurut pembudidaya, biaya yang dibutuhkan sangat besar dan memiliki resiko yang sangat tinggi.
Jika dilihat dari nilai rasio antara NPM dan Pxi maka faktor produksi yang belum optimal yaitu benih, daun sente, pupuk, tenaga kerja persiapan, dan tenaga kerja pemeliharaan. Menurut Soekartawi (1994), Apabila rasio NPM dan Pxi lebih besar dari satu, maka penggunaan faktor produksi (input) belum efisien dan masih dapat dilakukan penambahan. Apabila rasio ini kurang dari satu, maka penggunaan faktor produksi (input) sudah tidak efisien dan harus dikurangi. Agar penggunaan input efisien dan dapat menghasilkan output yang optimal, maka
penggunaan benih perlu ditambah dari kondisi aktualnya 5 ekor per m2 menjadi 7 ekor/m2. Peningkatan padat tebar dari 5 ekor/m2 menjadi 7 ekor/m2 masih layak dilakukan. Hal ini sesuai batas standar pada tebar SNI 01-7241 (2006) yang mengatakan bahwa pada tebar ikan gurame yang baik pada kisaran 5 ekor/m2 -7 ekor/m2. Peningkatan padat tebar dari 5 ekor/m2 menjadi 7 m2 akan menambah biaya produksi dan akan mempengaruhi kondisi teknis budidaya yang akan diterapkan. Biaya yang dibutuhkan pada kondisi aktual dengan luas lahan 550 m2 dengan jumlah benih 2.750 sebesar Rp 22.911.205 sedangkan pada kondisi optimal dengan padat tebar 7 ekor/m2 dengan jumlah benih 3.850 ekor membutuhkan biaya sebesar Rp 28.694.782. Penggunaan pakan perlu dikurangi dari 2,8805 kg/m2 menjadi 2,2851 kg/m2. Penggunaan pakan berlebih diakibatkan pada saat pemberian pakan harian, pembudidaya kurang memperhatikan nafsu makan ikan sehingga banyak pakan yang tidak habis dimakan. Pengaruh dari sisa pakan yang terkandung di wadah budidaya, menyebabkan kandungan ammonia semakin tinggi. Sehingga pada saat musim hujan sering sekali terjadi kematian massal akibat dari banyaknya ikan gurame yang terserang penyakit.
Penggunaan daun sente sebagai pakan tambahan wajib diberikan hal ini terkait dengan aspek fisiologis ikan gurame. Jika dilihat dari tabel di atas kebutuhan daun sente perlu ditambah dari 21,4054 kg/m2 menjadi 37,2989 kg/m2. Hal ini menunjukkan bahwa daun sente memegang peranan penting dalam rangka meningkatkan produksi. Pada saat harga pakan komersil melambung tinggi sering sekali pembudidaya di Kecamatan Dramaga menjadikan daun sente sebagai pakan utama. Akibatnya waktu pemeliharaan akan bertambah. Kandungan utama daun sente lebih didominasi oleh unsur karbohidrat sehingga kebutuhan protein sebagai penyumbang utama pertumbuhan ikan tidak terpenuhi.
Kebutuhan pupuk perlu ditambah dari 0,3705 kg/m2 menjadi 6,6470 kg/m2. Penggunaan pupuk organik berupa kompos akan merangsang pertumbuhan fitoplankton sehingga kesuburan tanah bisa tetap terjaga. Keberadaan fitoplanton akan memberikan pengaruh yang besar bagi petumbuhan ikan gurame. Tenaga kerja persiapan perlu ditambah dari 0,0169 jam/m2 menjadi 4,1502 jam/m2. Jika dilihat dari perbandingan kondisi aktual dan optimal terjadi perbedaan yang sangat signifikan hal ini menunjukkan bahwa waktu yang diberikan pembudidaya
terutama pada saat pengolahan lahan kolam kurang efisien. Sedangkan pada variabel tenaga kerja pemeliharaan perlu dilakukan penambahan dari 2,850 jam/m2 menjadi 8,2186 jam/m2 . Perbedaan yang signifikan antara kondisi aktual dan optimal menggambarkan bahwa sistem pemeliharaan ikan gurame perlu ditingkatkan sehingga dapat meningkatkan output. Waktu pemeliharaan ikan gurame tergolong lama, waktu pemeliharaaan yang dibutuhkan sampai ikan gurame sudah sampai ukuran panen selama 7 bulan. Sehingga manajemen pemeliharaan sangat berpengaruh besar terhadap peningkatan output yang dihasilkan.
c) Kriteria Ekonomi
Kriteria ekonomi berfungsi untuk menentukan variabel produksi yang bisa ditingkatkan dan yang tidak perlu ditingkatkan lagi untuk menambah output. Variabel yang bisa ditingkatkan memiliki nilai positif sedangkan variabel yang tidak bisa ditingkatkan karena akan menyebabkan ketidak efisienan ditunjukkan dengan nilai negatif. Berdasarkan analisis kuadrat terkecil menunjukkan bahwa variabel X1 (Benih), X2 (Pelet), X3 (Daun sente), X4 (Pupuk), X6 (Tenaga kerja persiapan), X7 (Tenaga kerja pemeliharaan) memiliki nilai positif yang menunjukkan bahwa variabel tersebut masih bisa ditingkatkan untuk menambah output sedangkan variabel X5 (Kapur), dan X8 (Tenaga kerja panen) memiliki koefisien yang negatif yang artinya apabila penggunaan variabel ini ditingkatkan justru akan mengurangi output. Jika variabel yang bernilai positif tersebut dibuat dalam bentuk persamaan maka akan memiliki bentuk persamaan seperti di bawah :
Ln Y = -0.8568+ 0.5088 Ln X1 + 0.24692 ln X2 + 0.09803Ln X3 + 0.0970 Ln X4 + 0.1515 LnX5 +0.3000 LnX6 ….…...
Persamaan di atas merupakan fungsi perhitungan output untuk menghitung jumlah faktor produksi yang dibutuhkan dalam rangka mengefisienkan biaya produksi. d) Elastisitas Produksi
Elastisitas produksi adalah nilai yang menunjukkan persentase perubahan dari output sebagai akibat dari persentase perubahan input. Nilai elastisistas pada variabel X1 (benur) sebesar 0,5088 yang artinya apabila jumlah benih ditambah sebesar 1 satuan dengan asumsi input yang lain dianggap tetap (ceteris paribus),
maka output akan bertambah sebesar 0,5088 satuan. Nilai elastisitas pada variabel X2 (pelet) 0,24692 adalah yang artinya apabila jumlah pakan ditambah sebesar 1 satuan dengan asumsi input yang lain dianggap tetap, maka output akan bertambah sebesar 0,24692 satuan. Nilai elastisitas pada variabel X3 (daun sente) adalah 0,09803 yang artinya apabila daun sente ditambah sebesar 1 satuan dengan asumsi input yang lain dianggap tetap, maka output akan bertambah sebesar 0,09803 satuan. Nilai elastisitas pada variabel X4 (Pupuk) sebesar 0,0970 yang artinya apabila jumlah pupuk ditambah sebesar 1 satuan dengan asumsi input yang lain dianggap tetap, maka output akan bertambah sebesar 0,0970 satuan. Nilai elastisitas pada variabel X5 (Tenaga kerja persiapan) sebesar 0,1515 yang artinya apabila jumlah tenaga kerja panen ditambah sebesar 1 satuan dengan asumsi input yang lain dianggap tetap, maka output akan bertambah sebesar 0,1515 satuan.
Nilai elastisitas pada variabel X6 (Tenaga kerja pemeliharaan) sebesar 0,3000 yang artinya apabila tenaga kerja pemeliharaan ditambah sebesar 1 satuan dengan asumsi input yang lain dianggap tetap, maka output akan bertambah sebesar 0,3000 satuan.
e) Skala Usaha (Return to Scale)
Analisa Return to Scale (RTS) sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah sebuah kegiatan usaha berada dalam kondisi increasing, constant, atau decreasing return to scale. Kondisi skala usaha ini dapat diketahui dengan cara menjumlahkan besaran elastisitas pada fungsi produksi.
Dalam penelitian ini diketahui bahwa usaha pembesaran ikan gurame di Kecamatan Dramaga berada dalam kondisi increasing return to scale. Hal ini dapat dilihat dari hasil penjumlahan besaran elastisitas yang terdiri atas variabel X1(0.5088), X2(0.24692), X3(0.09803), X4 (0.0970), X5 (0.1515) dan X6 (0.3000), dan yang hasilnya adalah 1.40225. Kondisi increasing to scale ini menunjukkan bahwa apabila kelima faktor produksi ditingkatkan secara proporsional sebesar satu satuan, maka output yang dihasilkan akan meningkat lebih dari satu satuan.