HASIL DAN PEMBAHASAN
ANALISIS EKONOMI USAHATAN
Sarana Produksi
Umur tanaman karet di daerah penelitian pada umumnya antar 7 – 50 tahun. Hal ini berpengaruh pada pemakaian sarana produksi termasuk pupuk serta penggunaan penggunaan tenaga kerja yang berbeda pada tanaman karet yang lebih muda. Pemberian pupuk pada tanaman karet yang sudah tua, dosisnya lebih rendah jika dibandingkan dengan tanaman yang masih muda sehingga kebutuhan tenaga kerja yang digunakan lebih sedikit, selain itu tanaman yang sudah tua juga membutuhkan perawatan juga lebih sedikit. Seperti yang telah diketahui di daerah penelitian umur tanaman karet sejumlah besar sudah tergolong tanaman tua. Sarana produksi petani karet di Desa Tanobato terdiri dari jumlah pokok (batang) atau jumlah bibit karet, pupuk, dan obat-obatan yang dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 13. Rata-rata Penggunaan Sarana Produksi Pada Usahatani Karet Rakyat di Desa Tanobato Tahun 2007, ( Kg/Ha/Tahun)
No. Uraian Per/Petani/Tahun Per/Ha/Tahun 1. Jumlah pokok/ bibit
(Batang) 1.553,3 Btg/Petani 384,72 Btg/Ha 2. Urea (Kg) Sp-36 (Kg) Npk (Kg) Kcl (Kg) 1139 95,5 77,58 23,58 267,4 13,73 23,58 18,2 3. Roundup (ltr) 11,51 2,37 Sumber : Lampiran 2
Dari Tabel diatas dapat diliha bahwa rata-rata penggunaan sarana produksi bibit adalah 1.553,3 batang/petani atau 384,72 batang/Ha, Sedangkan rata-rata penggunaan sarana produksi pupuk yang terbesar adalah Urea sebesar 1139 Kg/petani atau 267,4 Kg/ Ha dan untuk herbisida (Roundup) sebesar 11,51 liter/Petani atau 2,37 liter/Ha. Sehingga dapat disimpulkan penggunaan sarana produksi bibit sangat dominan pada usahatani karet dan kemudian diiringi oleh sarana produksi pupuk pada usahatani karet di daerah penelitian.
Untuk mengetahui biaya sarana produksi pada budidaya karet rakyat dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 14. Rata-rata Biaya Sarana Produksi Pada Usahatani Karet Rakyat di Desa Tanobato Tahun 2007, (Rp/Ha/Tahun).
No. Uraian Rp/Petani/Tahun Rp/Ha/Tahun % 1. Jumlah pokok/ bibit
(Batang) 6.070.000 1.021.805 61,57 2. Urea Sp-36 Npk Kcl 1.682.550 349.300 617.283,3 345.866,6 216.005,3 84.233,3 195.387,5 32.800 13,01 5,07 11,78 1,98 3. Roundup 526.716,6 109.383,3 6,59 Jumlah 9.592.716,5 1.659.614,4 100.00 Sumber : Lampiran 3
Dari Tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata biaya sarana produksi yang terbesar adalah bibit sebesar Rp. 6.070.000,-/petani atau Rp. 1.021.805,-/ha
Tenaga Kerja
Penggunaan tenaga kerja dalam usahatani karet rakyat di Desa Tanobato terdiri dari tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Untuk mengetahui rata-rata curahan tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 15. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja Pada Usahatani Karet Rakyat di Desa Tanobato Tahun 2007, ( HKP/Ha/Tahun)
No. Uraian HKP/Petani/Tahun HKP/Ha/Tahun % 1. 2. TKDK TKLK 165,2 881.191 74,997 164,090 31,37 68,63 Jumlah 881.356,2 239,087 100.00 Sumber : Lampiran 4
Dari Tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata penggunaan tenaga kerja untuk TKDK adalah 165,2 HKP/petani atau 74,997 HKP/Ha (31,37%) sedangkan untuk TKLK adalah sebesar 881.191 HKP/petani atau 164,090 HKP/Ha (68,64%).
Untuk mengetahui biaya tenaga kerja pada budidaya karet rakyat dapat dilihat Pada Tabel 16.
Tabel 16. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Pada Usahatani Karet Rakyat di Desa Tanobato Tahun 2007, (Rp/Ha/Tahun).
No. Uraian Rp/Petani/Tahun Rp/Petani/Tahun % 1. 2. TKDK TKLK 3.683.500 24.358.166,6 1.392.855,5 4.549.198,14 23,44 76,56 Jumlah 28.041.666,6 5.942.053,64 100.00 Sumber : Lampiran 4
Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata penggunaan tenaga kerja untuk TKDK adalah Rp.3.683.500,-/petani atau Rp.1.392.855,5,-/Ha (23,44%)
sedangkan rata-rata penggunaan tenaga kerja TKLK adalah sebesar Rp. 24.358.166,6,-/petani atau 4.549.198,14,-/Ha (76,56%) .
Biaya Produksi
Adapun yang termasuk ke dalam biaya produksi di Desa Tanobato adalah biaya sarana produksi, biaya tenaga kerja, biaya penyusutan. Untuk mengetahui rata-rata biaya produksi usahatani karet rakyat dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 17. Rata-rata Biaya Produksi Pada Usahatani Karet Rakyat di Desa Tanobato Tahun 2007, (Rp/Ha/Tahun).
No. Uraian Rp/Petani/Tahun Rp/Ha/Tahun % 1. Sarana Produksi 9.593.716,6 1.873.615 23,08 2. Tenaga Kerja 28.041.666,6 6.000.356,48 73,90
3. Penyusutan 891.050 2.457.68,48 3,02
Jumlah 38.526.433,2 8.119.748,9 100.00
Sumber : Lampiran 7
Dari Tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata biaya produksi yang
terbesar adalah tenaga kerja sebesar Rp. 28.041.666,6,-/petani atau Rp. 6.000.356,48,-/Ha (73,90%) sedangkan yang terkecil adalah penyusutan
sebesar Rp. 891.050,-/petani atau Rp. 2.457.68,48,-/Ha (3,02%) jika dilihat dari Rp/petani/tahun, tetapi rata-rata biaya terkecil jika dilihat dari Rp/ha/tahun nya adalah sarana produksi yaitu senilai Rp. 1.873.615,-/ha (23,08%).
Tabel 18. Analisis Ekonomi Petani Karet Yang Sudah Menghasilkan (TM) Per Kg Produksi Cup lump di Desa Tanobato Tahun 2007
No. Komponen Biaya Rp./Kg (%)
1.
2.
Biaya Penyusutan Peralatan - Cangkul - Parang - Ember - Knapsack - Pisau Deres - Talang - Kawat - Tempurung - Bak getah - Mangkok getah Pupuk Herbisida Tenaga Kerja
Total Biaya Penyusutan Peralatan
Profit petani 10,027 9,234 21,343 13,041 14,511 9,336 23,856 2,624 533,34 4,483 311,594 45,969 1.867,192 + 2.866,55 5.723,45 0,11 0,11 0,25 0,15 0,17 0,10 0,27 0,03 6,21 0,05 3,62 0,53 21,74 33,37 66,63
3. Harga jual cup lump petani 8590 100,00
Sumber : Lampiran 11 dan 12.
Dari Tabel 18, dapat diketahui bahwa biaya produksi petani sebesar Rp. 2.866,55,-/Kg (33,37%), sedangkan profit petani sebesar Rp. 5.723,45,-/Kg
Produksi, Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Karet Rakyat
Produksi merupakan keseluruhan hasil panen yang dihasilkan dalam kegiatan usahatani yang dinyatakan dalam satuan Kg atau Ton. Produktifitas adalah perbandingan antara jumlah produksi dengan luas lahan dalam suatu kegiatan usahatani yang dinyatakan dalam satuan Kg/Ha atau Ton/Ha. Penerimaan diperoleh dari hasil kali jumlah produksi dengan harga jual. Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan total biaya produksi . Total biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Untuk mengetahui produksi, penerimaan dan pendapatan bersih dari usahatani karet rakyat dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 19. Rata-rata Produksi, Produktifitas, Harga, Penerimaan, Total Biaya Produksi dan Pendapatan Bersih Pada Usahatani Karet Rakyat di desa Tanobato Tahun 2007, ( Rp/Ha/Tahun)
No. Uraian per/Petani per/Ha
1. Produksi (Kg) 12.308,26 257.267
2. Produktifitas (Kg/ Ha) 2.945,11 -
3. Harga (Rp) 8613 8613
4. Penerimaan (Rp) 107.906.693,3 25.788.577,78 5. Total Biaya Produksi (Rp) 38.490.400 8.048.419,2 6. Pendapatan bersih (Rp) 69.416.293,3 17.626.858,6
Sumber : Lampiran 7,8,9.
Dari Tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata produksi karet rakyat sebesar 12.308,26 Kg/petani atau 257.267 Kg/ha dan produktifitas sebesar 2.945,11 Kg/Ha per petani, sedangkan harga rata-rata sebesar Rp. 8.613,- baik per petani maupun per hektar, sedangkan penerimaan sebesar Rp. 107.906.693,3,-
/petani atau Rp. 25.788.577,78,-/Ha, total biaya produksi sebesar Rp. 38.490.400,-/petani atau Rp.8.048.419,2,-/Ha, dan pendapatan bersih sebesar
Rp. 69.416.293,3,-/petani atau Rp. 17.626.858,6,-/ha.
Kendala Dalam Teknologi Usahatani Karet Rakyat
Dalam menjalankan usahatani karet petani masih banyak menghadapi suatu kendala. Kendala yang dihadapi tersebut kurang lebih berasal dari diri petani sendiri yaitu kurangnya modal untuk menggunakan input produksi secara optimal sehingga dalam menjalankan usahatani terutama pembudidayaan tanaman karet belum sesuai dengan teknik budidaya, seperti :
•Harga bibit okulasi yang mahal sehingga menyebabkan masih banyak petani menggunakan bibit dari biji (seling) atau hampir setengah dari jumlah populasi sampel petani di tempat penelitian menggunakan bibit dari biji .
•Harga pupuk yang mahal menyebabkan banyak petani yang melakukan pemupukan dengan frekuensi 1 kali dalam setahun dan sejumlah kecil yang melakukan pemupukan 2 kali dalam setahun, dan ada juga sejumlah kecil petani yang tidak memberikan pemupukan sama sekali karena diakibatkan faktor biaya karena harga pupuk yang mahal sehingga produksi karet petani kurang optimal. •Dalam hal pengendalian hama penyakit , petani banyak yang kurang mengerti
cara pengendalian, sehingga tanaman yang terserang hanya dilakukan pengendalian seadanya bahkan ada yang tidak dilakukan pengendalian sama sekali sehingga tanamn tidak bisa disadap lagi.
• Belum memadainya / belum adanya pabrik pengolahan hasil karet
(Cumb Rubber) di daerah atau kabupaten daerah penelitian, karena jika dilihat
menduduki peringkat kedua penghasil karet terbanyak di Sumatera Utara, oleh sebab itu perlu didirikannya remeling/ pabrik pengolahan karet.
Selain kendala yang dihadapi dalam teknologi anjuran budidaya karet kendala terbesar yang dihadapi petani adalah faktor sosial ekonomi petani itu sendiri . Dalam segi pendidikan formal tingkat pendidikan petani rata-rata adalah digolongkan rendah dan pengetahuan tentang usahatani dan budidaya karet petani diperoleh hanya berdasarkan pengalamannya saja serta tidak adanya pendidikan dan pelatihan yang diterima oleh petani, dan walaupun ada sejumlah kecil petani yang mengerti dalam teknologi anjuran budidaya karet, tetapi boleh dikatakan tingkat pengetahuan petani tentang budidaya usahatani karet di daerah penelitian masih kurang.
Upaya yang Dilakukan Dalam Mengatasi Kendala yang Dihadapi Petani Setelah mengetahui kendala yang dihadapi petani maka upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan :
• Petani membeli bibit okulasi dari penangkar bibit karet hasil okulasi yang berasal dari desa tetangga maupun luar daerah dengan mecari bibit yang lebih murah sehingga dapat terjangkau oleh petani.
• Petani lebih banyak menggunakan pupuk urea dibandingkan pupuk Npk,Sp-36, dan Kcl mungkin dikarenakan harganya yang cukup relatif murah dibandingkan harga pupuk lain dan sekaligus untuk lebih menghemat biaya.
• Dalam pengendalian penyakit, khususnya penyakit jamur akar putih, petani biasanya menggali tanah disekitar leher akar, kemudian akar di kerok diantara jarak pohon yang satu dengan yang lainnya di sepanjang permukaan akar
kemudian tanah ditutup kembali guna mencegah penyakit tersebut tidak berjangkit pada pohon lain.
• Pada saat ini usulan pendirian pabrik Crumb Rubber di daerah penelitian telah telah direalisasi dan disetujui oleh pemerintah kabupaten Mandailing Natal dan pada waktu dekat ini akan didirikan pabrik crumb rubber tersebut tiga pabrik pengolahan sekaligus di daerah yang berbeda di Kabupaten Mandailing Natal.