• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kondisi Eksisting Faktor Eksternal Dianalisis dengan Skor Faktor eksternal hasil kuisioner penelitian dan observasi yang diperoleh

4.6 Hasil dan Pembahasan .1 Analisis Faktor Internal

4.6.2 Analisis Faktor Eksternal

4.6.2.1 Analisis Kondisi Eksisting Faktor Eksternal Dianalisis dengan Skor Faktor eksternal hasil kuisioner penelitian dan observasi yang diperoleh

lalu di skoring. Skoring faktor eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman, dimana jika nilai skor yang di peroleh 1 dan 2 maka menunjukkan ancaman dari faktor tersebut dan skor 3 dan 4 menunjukkan peluang dari faktor tersebut. Dari hasil penelitian didapatkan hasil pada Tabel 9.

Tabel 9. Kondisi Eksisting Faktor Eksternal dengan Skor

No Uraian Rata – rata Skor Keterangan

1 Pengalaman Berusahatani 4 Peluang

2 Kemampuan Petani Mengatasi HPT 3 Peluang 3 Harga Jual Kakao di Tingkat Petani 4 Peluang

4 Modal yang Digunakan Petani 4 Peluang

5 Luas Lahan 3 Peluang

6 Permintaan Kakao 3 Peluang

7 Ketersediaan Tenaga Kerja 4 Peluang

8 Penggunaan Bibit Unggul 4 Peluang

9 Sarana Pendukung dan Infrastruktur 1 Ancaman 10 Pelaksanaan GAP (Good

Agriculture Practice)

2 Ancaman

Sumber : Lampiran 9

Dari Tabel 9. Menjelaskan hasil penelitian faktor eksternal peningkatan produksi komoditi kakao di Desa Lubuk Palas Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan dimana yang menjadi peluang faktor eksternal adalah pengalaman berusahatani, kemampuan petani mengatasi HPT, harga jual kakao ditingkat petani, modal yang digunakan petani, luas lahan, permintaan kakao, ketersediaan tenaga kerja dan penggunaan bibit unggul dan ancaman faktor eksternal adalah sarana pendukung dan infrastruktur dan pelaksanaan GAP (Good Agriculture Practice). Faktor eksternal tersebut dijelaskan sebagai berikut:

a. Pengalaman Berusahatani

Pengalaman berusahatani merupakan peluang faktor eksternal dengan skor 4 dengan parameter > 15 tahun. Berdasarkan penilaian pengalaman tersebut petani memiliki pengalaman yang cukup berpengalaman dalam mengendalikan permasalahan tanaman kakao. Lamanya pengalaman yang dimiliki oleh petani responden sangat berpengaruh baik terhadap pengambilan keputusan yang akan di ambil petani dalam menjalankan usahatani dan merupakan salah satu faktor yang dapat dikategorikan sebagai penunjang keberhasilan suatu usahatani. Pengalaman berusahatani yang lama menunjukkan telah terbiasanya petani menghadapi masalah – masalah yang beresiko berkaitan dengan usahatani yang dijalankan sehingga lebih berpengalaman dalam menghadapinya.

b. Kemampuan Petani Mengatasi HPT

Serangan hama dan penyakit tanaman paling besar pengaruhnya dalam produksi kakao. Hasil wawancara yang diperoleh dari petani bahwa menurunnya produksi kakao umumnya disebabkan serangan hama dan penyakit tanaman kakao.

Sumber : Lampiran 9

Gambar 4. Jenis Hama Pada Tanaman Kakao 92,31 84,62 11,54 80,77 34,62 50,00

Jenis Hama Pada Tanaman Kakao

Hama PBK

Hama HELOPELTIS Hama ULAT

Dari Gambar 4 berdasarkan hasil wawancara dan observasi di wilayah petani hama yang menyerang tanaman kakao rakyat di Desa Lubuk Palas Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan yang paling tinggi adalah PBK (Penggerek Buah Kakao) sebesar 92,31 %, 84,62% serangan helopeltis, 80,77% serangan penggerek batang, 50% serangan tupai, 34,62% serangan tikus dan 11,54% ulat kilan.

Gambar 5. Jenis penyakit pada tanaman kakao menjelaskan penyakit yang tertinggi menyerang tanaman kakao 88,46% adalah penyakit busuk buah, 61,54% diserang oleh penyakit bercak daun dan kanker batang dan 30,77% penyakit VSD (Vascular Streak Dieback).

Sumber : Lampiran 9

Gambar 5. Jenis Penyakit Pada Tanaman Kakao

Kemampuan petani mengatasi HPT merupakan peluang dalam faktor eksternal dengan skor 3 dimana parameter kemampuan petani mengatasi HPT 50 – 80%. Yang artinya petani kakao mampu mengatasi hama dan penyakit yang menyerang tanaman kakao sebesar 50 – 80 % dimana dari keterangan ini dapat kita ketahui petani memiliki kemampuan untuk mengatasi hama dan penyakit tanaman kakao.

30,77

88,46 61,54 61,54

Jenis Penyakit Pada Tanaman kakao

Penyakit VSD Penyakit BBU Penyakit BD Penyakit KB

c. Harga Jual Kakao di Tingkat Petani

Harga merupakan faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi kakao. Harga jual kakao memiliki skor 4, merupakan peluang faktor eksternal dengan parameter harga kakao diatas Rp. 30.000/kg. Pada saat penelitian harga kakao terendah yang pernah dialami petani untuk kakao yang di fermentasi Rp 30.000/kg dan tertinggi Rp. 35.000/kg sedangkan biji kakao yang tidak difermentasi harga terendah Rp. 5.000/kg dan yang tertinggi Rp.10.000/kg pada pedagang pengumpul desa. Biji kakao yang difermentasi memiliki harga terendah Rp.32.000/kg dan harga tertinggi Rp.38.000/kg sedangkan biji kakao yang tidak di fermentasi memiliki harga terendah Rp. 8.000/kg dan harga tertinggi Rp. 32.000/kg pada pedagang kabupaten.

Tidak ada yang lebih menggembirakan petani produsen dari pada diperolehnya harga yang tinggi pada waktu ia menjual produksinya. Harga baik atau buruk (tinggi atau rendah) pada umumnya dilihat oleh petani dalam hubungan dengan harga – harga saat panen sebelumnya. Masalah fluktuasi harga hasil – hasil pertanian yang disebabkan oleh adanya fluktuasi musiman merupakan fenomena yang biasa dalam kehidupan ekonomi pertanian. Variasi harga merupakan sifat yang khas dari hasil – hasil pertanian. Perubahan harga lebih besar di negara – negara yang belum maju disebabkan: 1) peranan sektor pertanian masih sangat penting, 2) pemerintah dan sektor – sektor di luar pertanian belum mampu untuk menyumbang pada stabilitas harga – harga hasil pertanian itu. Karena harga hasil – hasil pertanian yang sangat besar fluktuasinya, maka petani selalu berusaha untuk mencari harga – harga yang “baik”. Fluktuasi harga yang terlalu besar merupakan penghambat pembangunan pertanian. Harga

dan pendapatan yang rendah mengurangi semangat petani untuk berproduksi dan sebaliknya harga dan pendapatan yang tinggi merangsang kaum tani. (Mubyarto, 1984)

d. Modal yang Digunakan Petani

Modal merupakan faktor yang sangat penting bagi petani. Dalam memelihara tanaman kakao, petani memerlukan modal dalam usahatani mereka untuk mengelola lahan seperti untuk pembukaan lahan, pemberantasan hama dan penyakit, untuk pemupukan tanaman dan lainnya. Modal yang digunakan petani dalam budidaya kakao mendapat skor 4 dengan parameter 100% petani memakai modal sendiri dan pinjaman. Petani mendapat modal bantuan dari pemerintah dalam mengusahakan tanaman kakao. Modal bantuan yang diperoleh petani yaitu modal pemerintah yang disalurkan melalui program rehabilitasi tanaman kakao.

Petani kakao yang memakai modal sendiri sebesar 100%. Petani kakao yang memakai modal pinjaman dalam memelihara tanaman kakao setelah ditanam ada 50% dan 69,23% petani kakao di Desa Lubuk Palas menggunakan bantuan pemerintah yang digunakan untuk meningkatkan produksi komoditi kakao petani. Modal adalah uang tidak dibelanjakan, jadi disimpan untuk kemudian diinvestasikan. Modal merupakan salah satu faktor produksi dalam pertanian di samping tanah, tenaga kerja dan pengusaha, sedangkan kredit tidak lain dari pada suatu alat untuk membantu penciptaan modal itu. Ada petani yang dapat memenuhi semua keperluan modalnya dari kekayaan yang dimilikinya, bahkan petani kaya dapat meminjamkan modal kepada petani lain yang memerlukan. Tetapi secara ekonomi dapatlah dikatakan bahwa modal pertanian dapat berasal dari milik sendiri atau pinjaman dari luar. (Mubyarto, 1984)

e. Lahan

Lahan merupakan faktor utama dalam budidaya kakao karena tanaman kakao dibudidayakan pada lahan. Desa Lubuk Palas memiliki luas lahan 3.309 ha yang digunakan untuk tanaman perkebunan seluas 3.252 ha. Luas lahan tanaman kakao rata – rata petani 0,8 ha dan pada umumnya lahan tersebut adalah lahan milik petani. Skor luas lahan yang diperoleh adalah 3 merupakan peluang bagi faktor eksternal dengan parameter luas lahan 0,6 – 1 ha yang artinya luas lahan yang dimiliki petani masih memungkinkan untuk usaha tani kakao. Luas lahan komoditi kakao di Desa Lubuk Palas menurun akan tetapi masih ada petani yang mempertahankan lahan kakao. Menurunnya luas lahan kakao di Desa Lubuk Palas merupakan faktor yang sangat penting untuk di perhatikan sebab komoditi pertanian dibudidayakan di lahan agar berproduksi.

f. Permintaan Kakao

Permintaan kakao merupakan peluang bagi peningkatan tanaman kakao. Permintaan kakao terus meningkat karena semakin meningkatnya kebutuhan kakao dunia untuk konsumsi. Kakao dapat menghasilkan coklat yang banyak digemari sebagai bahan makanan. Permintaan kakao lebih besar dibandingkan tersedianya kakao yang ada. Permintaan kakao di Desa Lubuk Palas diharapkan dapat mencapai > 1 ton, sementara jika buah kakao dalam kondisi baik kakao yang mampu tersedia di Desa Lubuk Palas sekitar 500 kg - < 1 ton. Permintaan kakao memiliki skor 3 merupakan peluang faktor eksternal dengan parameter tinggi dan tidak kontiniu. Kondisi ini menjelaskan bahwa permintaan kakao selalu tinggi sedangkan ketersediaan pkakao tidak selalu mampu memenuhi permintaan, ini menunjukkan produksi komoditi kakao masih memiliki peluang untuk

ditingkatkan. Sebab itu peningkatan produksi kakao sangat penting agar kakao yang di butuhkan tersedia setiap saat.

g. Tenaga Kerja

Dalam usahatani tenaga kerja adalah salah satu faktor produksi yang utama, maka yang dimaksudkannya adalah mengenai kedudukan si petani dalam usahataninya. Petani dalam usahatani tidak hanya menyumbangkan tenaga saja, tapi lebih dari pada itu. Petani adalah pemimpin usahatani yang mengatur organisasi produksi secara keseluruhan. Petani memutuskan berapa pupuk akan dibeli dan digunakan, berapakali tanah dibajak dan diratakan, berapa kali rumput – rumput akan dibersihkan dan bahkan petanilah yang memutuskan apakah akan dipakai tenaga kerja dari luar disamping tenaga kerja dari keluarga sendiri. (Mubyarto, 1984)

Tenaga kerja sangat diperlukan dalam mengelola tanaman kakao karena tanaman kakao memerlukan perawatan yang baik. Tenaga kerja dalam keluarga di Desa Lubuk Palas yang mengelola tanaman kakao sebesar 96,15% dan 26% petani memakai tenaga kerja luar keluarga. Skor tenaga kerja 4 merupakan peluang dengan parameter (1 orang petani anggota kelompok pernah ikut SLPHT). Petani kakao di Desa Lubuk Palas memiliki waktu untuk mengelola kakao milik mereka sebanyak 4,2 jam, waktu ini sangat kurang untuk memelihara tanaman kakao. Petani kakao Desa Lubuk Palas memelihara tanaman kakao dengan gotong royong dengan petani lainnya dalam membersihkan lahan kakao mereka sehingga pekerjaan mereka lebih ringan dengan intensitas pemeliharaan beragam.

h. Penggunaan Bibit Unggul

Bibit yang digunakan petani kakao di Desa Lubuk Palas 56% petani memakai bibit unggul berasal dari Dinas Perkebunan yaitu bibit RCL, RCC dan TSH dan 46% petani memakai bibit yang berasal dari lahan petani yang ada di Desa Lubuk Palas dan petani dari desa lain. Skor penggunaan bibit unggul 4 dengan parameter menggunakan bibit unggul hasil penelitian atau dari DISBUN. Pemakaian bibit unggul di Desa Lubuk Palas masih sangat kurang karena 56% petani memakai bibit unggul. Pemakaian bibit unggul dari perkebunan merupakan modal dasar untuk mencapai produksi yang diharapkan.

Penggunaan bahan tanam unggul yang toleran (salah satu komponen dalam pengendalian hama dan penyakit secara terpadu) akan memiliki peran penting. Alasannya, selain dapat mengurangi kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit, penggunaan bahan tanam unggul yang toleran dapat mengurangi penggunaan pestisida sehingga akan mengurangi biaya pemeliharaan tanaman secara keseluruhan. Selain itu, pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida dapat dikurangi. Sebagai tanaman yang dapat dibudidayakan sampai umur panjang dan sebagai inang dari berbagai macam hama dan penyakit, kesalahan dalam pemeliharaan bahan tanam akan membawa resiko kegagalan tersebut, pemilihan dan penggunaan bahan tanam unggul merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dan merupakan modal dasar untuk mencapai produksi sesuai dengan yang diharapkan. (pusat penelitian kopi dan kakao indonesa, 2010)

i. Sarana Pendukung dan Infrastruktur

Sarana pendukung dan infrastruktur Desa Lubuk Palas tidak baik karena kondisi jalan yang beraspal sangat sedikit dan sarana transportasi umum ke Desa Lubuk Palas sangat kurang, data BPS menjelaskan transportasi umum ada 3 unit kendaraan umum yang masuk ke desa yaitu becak bermotor sedangkan transportasi umum lain tidak ada yang masuk ke desa. Jalan menuju desa dari kabupaten sudah beraspal sampai jalan ke kecamatan dan dari kecamatan menuju desa jalan berbatu dengan kondisi jalan yang rusak. KUD yang ada di Desa Lubuk Palas hanya ada satu KUD yang berfungsi sebagai distribusi pupuk dan pestisida/obat – obatan, dimana pada masa tanaman kakao berjaya KUD yang ada sebagai tempat lelang para eksportir dan dinas. Skor sarana pendukung dan infrastruktur yang diperoleh 1 merupakan ancaman yang dimiliki Desa Lubuk Palas dengan parameter tidak baik dan menjadi salah satu faktor yang harus di perhatikan pemerintah.

Sentra – sentra produksi kakao nasional terletak di daerah – daerah terpencil dari kota besar tempat penampungan komoditi kakao ataupun pelabuhan. Padahal jalan dan khususnya jembatan sebagai infrastruktur yang menghubungkan sentra – sentra produksi kakao belum terbangun dengan baik. Disamping itu jumlah dan kualitas sarana gudang dan pelabuhan kurang memenuhi syarat untuk menjangkau sentra – sentra produksi kakao. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis kakao adalah masih melambatnya penyebar luasan teknologi maju hasil penelitian. Kondisi ini terutama disebabkan oleh terbatasnya tenaga penyuluh dan pembina petani serta terbatasnya dana penyebarluasan teknologi maju. ( Kristanto, 2015)

j. Pelaksanaan GAP (Good Agriculture Practice)

Faktor pertumbuhan dan perkembangan tanaman kakao dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain budidaya dan lingkungan tanaman. Lingkungan yang sesuai untuk budidaya tanaman kakao sangat penting untuk itu pengontrolan terhadap sistem budidaya kakao di mulai dari penentuan kesesuaian lahan untuk mengetahui potensi sumber daya lahan dalam mendukung suatu usaha tani tertentu dan memprediksi produksi yang dapat diperoleh serta tindakan – tindakan agronomi yang mendukung keberhasilan usaha tani (pusat penelitian kopi dan kakao indonesia, 2010), asal perolehan benih dimana benih yang berkualitas merupakan modal dasar untuk mencapai produksi kakao yang tinggi karena benih kakao merupakan bagian terpenting dari segala aktivitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman kako dimana pertumbuhan dan produksi sebagai suatu fenotipe tanaman merupakan interaksi antara faktor genetis tanaman dan lingkungannya (Kristanto, 2015), pemupukan kakao bertujuan untuk meningkatkan kesehatan tanaman dan produksi buah dimana pemupukan dilakukan setelah pangkasan, dengan jenis, dosis, dan waktu yang tepat (pusat penelitian kopi dan kakao indonesia, 2010), pemangkasan ini ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik dan untuk mengurangi kelembapan yang terlalu tinggi dimana pemangkasan terdiri dari : 1) pangkas bentuk dilakukan umur 1 tahun setelah muncul cabang primer atau sampai umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya simetris, 2) pangkas pemeliharaan bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dengan cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya, 3) pangkas produksi bertujuan agar sinar matahari

dapat masuk tetapi tidak secara langsung sehingga bunga dapat terbentuk dimana pangkas ini tergantung keadaan dan musim sehingga ada pangkas berat pada musim hujan dan pangkas ringan pada musim kemarau,4) pangkas restorasi memotong bagian tanaman yang rusak dan memelihara tunas air atau dapat dilakukan dengan side budding (Kristanto, 2015), panen sering pada saat buah masak awal yang diikuti sanitasi bisa menekan populasi PBK karena pada buah yang masak awal ulat PBK belum keluar sehingga ulat yang ada didalamnya akan mati jika kulit buah dan plasenta langsung dibenam dan berdasarkan hasil pengamatan lubang keluar PBK yang paling banyak dijumpai adalah pada buah yang masak sempurna yaitu sebesar 55%, sedangkan pada buah hijau sebesar 10% dan pada buah agak kuning (masak awal) sebesar 35% dimana rotasi panen yang dianjurkan adalah selang satu minggu (Wahyudi, 2013), sanitasi lingkungan dilakukan dengan memangkas ranting – ranting sakit dan pemetikan buah – buah busuk kemudian dipendam dalam tanah dan pada saat musim hujan dilakukan satu minggu sekali dan dapat dilakukan antara lain pembenaman kulit buah, plasenta, buah busuk, dan semua sisa panen kedalam lubang pada hari panen yang kemudian ditutup dengan tanah setebal 20 cm hal ini bertujuan untuk membunuh larva PBK yang terdapat di kulit kakao (Wahyudi, 2013), sarungisasi buah kakao bertujuan untuk menyelamatkan buah dari serangan PBK yaitu mencegah imago PBK bertelur pada buah kakao (Wahyudi, 2013), teknik sambung samping merupakan metode untuk merehabilitasi tanaman kakao dewasa dimana dengan cara ini diharapkan dalam satu hamparan kebun kakao semua tanaman menjadi produktif dan kualitas bijinya tinggi (Wahyudi, 2013), hingga tahap pasca panen adalah hal yang sangat penting untuk dikontrol.

Dari hasil wawancara dengan petani responden perolehan bibit yang digunakan petani responden terdiri dari berbagai sumber yaitu, 1) Dinas Kehutanan dan Perkebunan, 2) lahan sendiri, 3) dibeli dari sesama petani desa dan 4) dibeli dari sesama petani desa lain. Pendistribusian bibit dapat dipersentasekan secara rinci dengan persentase 61,54% petani memperoleh bibit dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan namun banyak tanaman telah diganti karena serangan hama dan tanaman tua karena itu hanya 56 % petani yang memakai bibit unggul, 23,08% petani membeli bibit dari sesama petani, 7,69% petani membudidayakan bibit dari lahan sendiri dan 3,85% petani membeli bibit kakao dari petani desa lain. Pemupukan yang digunakan petani desa pada umumnya pupuk anorganik dimana 50% pupuk yang digunakan berasal dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan, 46,15% pupuk berasal dari toko saprodi desa dan 23,08% pupuk berasal dari toko saprodi di luar desa. Pemupukan yang dilakukan petani 65,38% melakukan pemupukan dengan cara ditebar langsung kepermukaan tanah, 23,08% petani membenamkan pupuk dalam lubang dekat akar, 15,38% petani melakukan pemupukan dengan menabur pupuk dalam larikan dan 11,54% petani menempatkan pupuk dalam lubang melingkar. Waktu pemupukan yang dilakukan petani yaitu; 46,15% petani melakukan pemupukan 4 kali dalam satu tahun, 34,62% petani melakukan pemupukan 2 kali dalam satu tahun dan 23,08% petani melakukan pemupukan 1 kali dalam satu tahun.

Pemangkasan merupakan salah satu perlakuan yang berpengaruh besar terhadap perkembangan dan produksi kakao. Pemangkasan tanaman kakao merupakan tindakan pembuangan atau pengurangan sebagian dari organ tanaman seperti ranting, cabang, dan daun. Pemangkasan bukan perlakuan yang hanya

dapat mengurangi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), akan tetapi juga untuk menurunkan kelembaban dan kecukupan sinar matahari dan fotosintesis. Jenis pemangkasan yang dilakukan petani dilokasi penelitian yaitu; a) pemangkasan bentuk, b) pemangkasan pemeliharaan dan c) pemangkasan produksi. Dari hasil wawancara dengan petani responden 80,77% petani melakukan pemangkasan pemeliharaan, 76,92% petani melakukan pemangkasan produksi, dan 73,08% pemangkasan bentuk. Waktu pemangkasan yang dilakukan petani 76,92% petani melakukan pemangkasan dengan waktu pemangkasan rutin/sering dan 7,69% petani melakukan pemangkasan 2 kali satu tahun.

Sanitasi merupakan kegiatan pembersihan kebun dari sampah – sampah tanaman kakao, seperti kulit – kulit buah kakao yang terinfeksi oleh hama dan penyakit tanaman kakao khususnya PBK, daun kakao yang terserang penyakit. Kegiatan sanitasi yang dilakukan petani dengan cara yang beragam, 46,15% petani mengumpulkan sampah daun dan kulit buah kakao di sekitar lahan kakao, 26,92 % petani membenamkan kulit buah sehabis panen dan memetik buah yang terserang hama dan penyakit, 11,54% petani mengumpulkan daun dan kulit buah kakao di luar lahan kakao. Petani kakao responden 42% melakukan teknik sambung samping tanaman kakao untuk mengganti tanaman kakao yang rusak atau sudah tua dan 11,54% petani melakukan sarungisasi buah kakao untuk mencegah tanaman kakao dari serangan hama dan penyakit.

Pemanenan adalah kegiatan pemetikan buah kakao yang mulai menunjukkan gejala masak dan layak untuk dipetik yang tidak kelewat masak. Panen sering dilakukan setiap 7 – 10 hari sekali tergantung banyak buah yang masak. Petani responden yang melakukan kegiatan panen sering saat kakao

berbuah sebesar 69,23%, petani yang melakukan panen dua minggu satu kali ada 23,08% dan petani yang melakukan panen lebih dari dua minggu serta petani yang tidak memanen buah kakao ada 7,69%. Petani yang memanen buah kakao mereka 84,62% melakukan fermentasi pada biji kako yang di panen dan 7,69% petani menjual langsung ke pedagang tanpa melakukan fermentasi.

Skor yang diperoleh dari faktor pelaksanaan GAP (Good Agriculture Practice) adalah 2 merupakan ancaman yang dimiliki dengan parameter kurang baik. Diharapkan petani melaksanakan teknik budidaya kakao yang baik dan peran penyuluh sangat diperlukan untuk memotivasi petani dan membantu petani dalam mengatasi masalah teknik budidaya yang dilakukan petani dan dalam memanajemen teknik budidaya yang dilakukan oleh petani kakao.

Dokumen terkait