BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.2 Analisis Faktor yang Mempengaruhi Konsumi Tempe
Model atau bentuk persamaan yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi tempe adalah dengan menggunakan model persamaan regresi berganda. Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap konsumsi tempe adalah harga tempe (X1), harga tahu (X2), harga telur (X3), jumlah anggota keluarga (X4), pendidikan terakhir (X5), dan kelas ekonomi atas (D1), kelas ekonomi menengah (D2), dan kelas ekonomi atas (D3)
Hasil pendugaan yang diperoleh dengan menggunakan regresi linear berganda adalah sebagai berikut :
C = - 32094 + 11.4 X1 + 10.2 X2 + 2.06 X3 + 1732 X4 + 726 X5 + 3892 D1 + 6864 D2 Keterangan : C = Konsumsi Tempe X1 = Harga Tempe X2 = Harga Tahu X3 = Harga Telur
X4 = Jumlah anggota Keluarga X5 = Pendidikan Terakhir D1 = Kelas Ekonomi Bawah D2 = Kelas Ekonomi Menengah D3 = Kelas Ekonomi Atas
Tabel 18. Hasil Analisis Ragam
Source DF SS MS Fhit P
Regression 7 27205949362 3886564195 108.90 0.000 Residual Error 142 5067785638 35688631
Total 149 32273735000
Dari hasil pendugaan diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 84.3 persen. Hal ini mengartikan bahwa model regresi yang digunakan dapat menerangkan variasi keragaman dari nilai konsumsi tempe beserta variabel independennya sebesar 84.3 persen, kemudian sisanya sebesar 15.7 persen diterangkan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.
Dari tabel diketahui nilai F-hitung sebesar 108.90 yang lebih besar dari nilai F-tabel sebesar 2,01 pada selang kepercayaan 95 persen, sehingga dapat dihipotesiskan bahwa variabel independen yaitu harga tempe, harga tahu, harga telur, jumlah anggota keluarga, dan pendidikan terakhir secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe.
Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan linear pada variabel itu sendiri yang terlambat beberapa periode dilakukan uji autokorelasi. Statistik uji
Durbin-Watson digunakan untuk mengetahui apakah terdapat autokorelasi atau tidak. Nilai Durbin-Watson (d) yang didapatkan pada model ini adalah 0.43. Nilai ini menandakan bahwa terdapat autokorelasi pada model regresi. Untuk mengetahui apakah residual atau error sudah menyebar normal dilakukan uji normalitas dengan uji Komogorov-Smirnov. Nilai dengan uji uji Komogorov-Smirnov kurang dari 0,01, ini berarti residual atau error dalam model regresi linear berganda sudah tidak menyebar normal. Untuk melihat signifikansi dan koefisien masing-masing variabel independent yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Analisis Variabel Pada Model Regresi Linear Berganda Konsumsi Tempe
Predictor Coef SE Thitung Phitung VIF
Constant -32094 13940 -2.30 0.023
Harga Tempe (X1) 11.4281 0.5555 20.57 0.000 1.7 Harga Tahu (X2) 10.194 1.857 5.49 0.000 1.4 Harga Telur (X3) 2.0633 0.9035 2.28 0.024 1.7 Jumlah Anggota Keluarga (X4) 1732.4 696.4 2.49 0.014 1.2 Pendidikan Terakhir (X5) 726.3 316.0 2.30 0.023 2.1 Kelas Ekonomi Bawah (D1) 3892 1730 2.25 0.026 2.8 Kelas Ekonomi Menengah (D2) 6864 1308 5.25 0.000 1.6 Ttabel(0,05;142) = 1,645
Interpretasi koefisien dan signifikansi setiap variabel independen dari hasil analisis secara detail dapat dilihat sebagai berikut :
Harga Tempe (X1)
Koefisien harga tempe bernilai positif yaitu sebesar 11.4281 Angka ini mengartikan bahwa jika terjadi kenaikan harga tempe sebesar satu rupiah, maka rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 11.4281. Pernyataan ini tidak sejalan dengan hipotesis awal, yaitu semakin tinggi harga tempe maka konsumsi tempe akan turun, dimana harga tempe mempunyai hubungan negatif dengan konsumsi tempe. Ketidaksesuaian ini mungkin terjadi karena konsumen sudah mengetahui kandungan gizi yang terdapat dalam tempe, sehingga walaupun harga tempe naik mereka tetap tidak mengurangi untuk mengonsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel harga tempe secara parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk variabel harga tempe nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata lima persen. Hal ini mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap konsumsi tempe. Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel harga tempe
lebih kecil dari lima yaitu sebesar 1,7. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel harga tempe dengan variabel independen lainnya.
Harga Tahu (X2)
Koefisien harga tahu bernilai positif yaitu sebesar 10.194. Angka ini mengartikan bahwa jika terjadi kenaikan harga tahu sebesar satu rupiah, maka rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 10.194. Pernyataan ini sejalan dengan hipotesis awal, yaitu semakin tinggi harga tahu maka konsumsi tempe akan naik, dimana harga tahu mempunyai hubungan positif dengan konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel harga tahu secara parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk variabel harga tahu nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel
(1,645) pada taraf nyata lima persen. Hal ini mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap konsumsi tempe. Kemudian nilai
Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel harga tahu lebih kecil dari lima yaitu sebesar 1,4. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel harga tahu deng an variabel independen lainnya
Harga Telur (X3)
Koefisien harga telur bernilai positif yaitu sebesar 2.0633. Angka ini mengartikan bahwa jika terjadi kenaikan harga telur sebesar satu rupiah, maka rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 2.0633. Pernyataan ini sejalan dengan hipotesis awal, yaitu semakin tinggi harga telur maka konsumsi tempe akan naik, dimana harga telur mempunyai hubungan positif dengan konsumsi tempe
Untuk mengetahui apakah variabel harga telur secara parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk variabel
harga telur nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata lima persen. Hal ini mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial dan dapat menjelaskan konsumsi tempe. Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel harga telur lebih kecil dari lima yaitu sebesar 1,7. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel harga telur dengan variabel independent lainnya.
Jumlah Anggota Keluarga (X4)
Koefisien pendapatan bernilai positif yaitu sebesar 1732.4. Angka ini mengartikan bahwa jika jumlah anggota betambah sebesar satu orang, maka rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 1732.4. Pernyataan ini sejalan dengan hipotesis awal, yaitu semakin banyak anggota keluarga maka konsumsi tempe akan naik, dimana jumlah anggota keluarga mempunyai hubungan positif dengan konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel jumlah anggota keluarga secara parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk variabel jumlah anggota keluarga nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata lima persen. Hal ini mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap konsumsi tempe. Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel pendapatan lebih kecil dari lima yaitu sebesar 1,2. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel jumlah anggota keluarga dengan variabel independent lainnya.
Pendidikan Terakhir (X5)
Koefisien pendidikan terakhir bernilai positif yaitu sebesar 726.3. Angka ini mengartikan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, maka rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 726.3. Pernyataan ini sejalan sejalan dengan hipotesis awal, yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka konsumsi tempe akan naik, dimana tingkat pendidikan mempunyai hubungan positif dengan konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel tingkat pendidikan secara parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk variabel tingkat pendidikan nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata lima persen. Hal ini mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap konsumsi tempe. Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel pendapatan lebih kecil dari lima yaitu sebesar 2.1. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel tingkat pendidikan dengan variabel independent lainnya.
Kelas Ekonomi Bawah (D1)
Koefisien pendidikan terakhir bernilai positif yaitu sebesar 3892. Angka ini mengartikan bahwa semakin tinggi kelas ekonomi bawah, maka rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 3892. Pernyataan ini sejalan sejalan dengan hipotesis awal, yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka konsumsi tempe akan naik, dimana kelas ekonomi bawah mempunyai hubungan positif dengan konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel kelas ekonomi bawah secara parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk variabel kelas ekonomi bawah nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata lima persen. Hal ini mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap konsumsi tempe. Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel kelas ekonomi bawah lebih kecil dari lima yaitu sebesar 2.8. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel tingkat pendidikan dengan variabel independent lainnya
Kelas Ekonomi Menengah (D2)
Koefisien pendidikan terakhir bernilai positif yaitu sebesar 6864. Angka ini mengartikan bahwa semakin tinggi kelas ekonomi menengah, maka rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 6864. Pernyataan ini sejalan sejalan dengan hipotesis awal, yaitu semakin tinggi kelas ekonomi menengah maka konsumsi tempe akan naik, dimana kelas ekonomi menengah mempunyai hubungan positif dengan konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel kelas ekonomi menengah secara parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk variabel kelas ekonomi menengah nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata lima persen. Hal ini mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap konsumsi tempe. Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel kelas ekonomi menengah lebih kecil dari lima yaitu
sebesar 1.6. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel kelas ekonomi menengah dengan variabel independent lainnya
Faktor-faktor yang berpengaruh nyata dalam mengonsumsi tempe adalah harga tempe itu sendiri, harga tahu, harga telur, jumlah anggota keluarga, pendidikan terakhir dari responden, kelas ekonomi bawah, dan kelas ekonomi menengah. Harga tempe berpengaruh nyata karena konsumen melihat harga dari barang yang akan dibelinya atau dikonsumsinya. Harga tahu berpengaruh nyata karena, apabila harga tahu naik maka konsumen akan beralih pada makanan yang bahan dasarnya sama dari kedelai dan salah satunya tempe. Harga telur berpengaruh nyata karena apabila harga telur naik, maka konsumen akan mengurangi untuk mengonsumsi telur dan beralih pada makanan lain yang harganya lebih murah.
Jumlah anggota keluarga berpengaruh nyata karena, semakin banyak anggota keluarga maka konsumsi suatu barangpun akan semakin meningkat. Sedangkan pendidikan terakhir berpengaruh nyata karena konsumen akan mempertimbangkan produk mana yang lebih bermanfaat atau berguna sebelum membelinya. Kelas ekonomi bawah dan menengah berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe karena harganya yang murah dan bergizi, selain itu karena sudah menjadi kebiasaan untuk mengonsumsi tempe.
Harga tempe merupakan variabel yang paling responsif diantara variabel-variabel lainnya, hal ini di karenakan konsumen akan mengonsumsi suatu barang dilihat dari harga barang itu sendiri Apabila harga barang itu murah maka konsumen akan mengonsumsinya, apabila harganya tinggi, maka konsumen akan mempertimbangkan untuk mengonsumsi barang tersebut.