VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
2. Arus Pengeluaran
7.1.2 Analisis Finansial Usaha Budidaya Jarak Pagar Petani
Untuk menganalisis kelayakan aspek finansial pada usaha budidaya tanaman jarak pagar milik petani di Desa Lempopacci, digunakan satu sampel petani. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa petani yang mengusahakan tanaman jarak pagar di Desa Lempopacci memiliki lahan paling luas satu hektar saja. Untuk itu, akan dilihat bagaimana kelayakan usaha budidaya jarak pagar tersebut jika skala produksinya relatif kecil.
1. Arus Penerimaan
Arus penerimaan dari usahatani jarak pagar yang dilakukan oleh petani terdiri dari tiga jenis, yaitu penerimaan berupa nilai penjualan biji jarak pagar kering, nilai bagi hasil dari produksi CJO, dan nilai sisa.
a. Nilai Penjualan Biji Jarak Pagar
Penjualan biji jarak pagar hasil produksi petani hanya dilakukan pada tahun pertama dan kedua saja, yaitu pada saat kelompok tani belum dapat mengolah biji jarak pagar menjadi minyak mentah jarak pagar (CJO) akibat mesin pengolah yang belum dapat digunakan. Dari lahan seluas satu hektar, bibit yang ditanam sebanyak 1.200 pohon dan berhasil tumbuh 700 pohon. Produksi biji pada tahun pertama diperkirakan mencapai 80 kg biji kering. Dengan harga biji jarak pagar kering Rp 800, maka nilai penjualan biji jarak milik petani tersebut adalah Rp 64.000. Jumlah produksi biji jarak pagar tersebut dapat dilihat pada Lampiran 7.
b. Nilai Bagi Hasil Produksi CJO
Hasil produksi biji jarak pagar petani terus meningkat dari tahun pertama hingga ke lima lalu stabil mulai tahun ke lima tersebut hingga akhir tahun umur proyek. Hasil produksi biji jarak pagar petani mulai tahun kedua tidak dijual dalam bentuk biji kering lagi, melainkan diolah di UPH jarak pagar milik kelompok tani. Dari hasil pengolahan tersebut, petani akan memberikan bagi hasil kepada kelompok tani sebesar 40 persen. Dengan demikian, 60 persen minyak jarak pagar yang dihasilkan dari pengolahan biji jarak milik petani akan menjadi milik petani.
Berdasarkan perkiraan jumlah produksi biji jarak pagar kering, nilai produksi CJO petani pada tahun ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5 berturut-turut adalah 280 kg, 560 kg, 980 kg, dan 1.400 kg. Jumlah produksi CJO petani dari tahun ke lima hingga akhir tahun proyek stabil, yaitu 1.400 kg, sama dengan jumlah produksi optimal pada tahun ke lima. Setelah melalui pembagian hasil, maka nilai produksi CJO dari hasil biji jarak pagar petani pada tahun 2 hingga ke-5 adalah Rp 490.644, Rp 981.288, Rp 1.717.2ke-54, dan Rp 2.4ke-53.220. Nilai CJO pada tahun ke-6 hingga akhir tahun proyek adalah sama dengan nilai CJO pada tahun ke-5. Rincian produksi biji jarak pagar petani dan nilai CJO setelah bagi hasil dengan kelompok tani tersebut dapat dilihat pada Lampiran 7.
c. Nilai Sisa
Nilai sisa pada usaha petani yang sedang berjalan ini adalah nol. Hal ini berdasarkan pada asumsi nilai sisa yang ditetapkan sebesar nol dan pada akhir umur proyek, semua aktiva tetap juga berada pada akhir umur ekonomis. Apabila pada akhir proyek masih terdapat barang yang umur ekonomisnya belum habis, maka akan terdapat nilai sisa yang akan menjadi penerimaan dalam usaha ini.
2. Arus Pengeluaran
Arus pengeluaran pada usaha budidaya jarak pagar petani dibagi menjadi dua, yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya Operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
a. Biaya Investasi
Nilai investasi total pada usaha budidaya jarak pagar yang dilakukan oleh petani responden ini adalah sebesar Rp 1.074.000. Jenis biaya investasi yang dikeluarkan terdiri dari benih jarak pagar IP1, sprayer, cangkul, gunting pangkas, bak penampung air, polybag, dan tenaga kerja pembukaan lahan. Nilai investasi terbesar adalah pada pembelian polybag sebesar Rp 525.000 yang digunakan untuk pembibitan sebanyak 2.000 benih.
Adapun nilai investasi lainnya, yaitu Rp 42.000 untuk pembelian benih jarak pagar IP1, Rp 250.000 untuk membeli sprayer, Rp 45.000 untuk cangkul, Rp 12.000 untuk gunting pangkas, Rp 150.000 untuk pembuatan bak penampung air, dan Rp 50.000 untuk menyewa tenaga kerja pembukaan lahan
pertanian untuk ditanami jarak pagar. Rincian biaya investasi tersebut dapat dilihat pada Lampiran 8.
b. Biaya Operasional
Biaya operasional usaha budidaya jarak pagar milik petani responden ini terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya Tetap
Biaya tetap yang dikeluarkan dalam usaha budidaya tanaman jarak pagar yang dilakukan petani responden terdiri dari biaya sewa lahan, gaji tenaga kerja, biaya transportasi, dan furadan atau obat pembasmi hama. Rincian biaya tetap per tahun tersebut dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Biaya Tetap per Tahun
Uraian Biaya/Tahun (Rp)
Sewa lahan 200.000
Gaji Tenaga Kerja 1.242.857
Biaya tranportasi 1.440.000
Furadan 20.000
Total Biaya Tetap/Tahun 2.902.857
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa total nilai biaya tetap setiap tahunnya dalam pelaksanaan usahatani jarak pagar tersebut adalah Rp 2.902.857.
Biaya Variabel
Biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani responden dalam usaha budidaya tanman jarak pagar yang dilakukannya terdiri dari biaya pupuk kompos, SP-36, dan pupuk KCl. Penggunaan pupuk tersebut berbeda tiap tahunnya mulai dari tahun pertama hingga tahun ke lima. Penggunaan ke tiga pupuk tersebut nilainya akan sama setelah tahun ke lima. Total biaya variabel dari tahun pertama hingga tahun ke lima, yaitu Rp 1.878.800, Rp 1.943.200, Rp 2.041.200, Rp 2.186.800, dan Rp 2.332.400.Adapun rincian penggunaan pupuk oleh petani responden dan biayanya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Biaya Variabel per Tahun
Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa biaya variabel terbesar dikeluarkan untuk membeli pupuk kompos.
3. Kriteria Kelayakan Investasi
Kriteria kelayakan investasi pada usahatani jarak pagar milik responden petani ini terdiri dari empat, yaitu penilaian terhadap NPV, IRR, Net B/C, dan PBP. Setelah melakukan perhitungan pada arus uang masuk dan arus uang keluar selama umur proyek, diperoleh hasil bahwa selisih arus masuk dengan arus keluar bernilai negatif dari tahun pertama hingga akhir proyek. Hal ini mengakibatkan nilai NPV menjadi negatif, yang berarti kurang dari nol, sehingga usaha ini dianggap tidak layak dijalankan. Nilai NPV usaha ini adalah (– Rp 21.068.821). Karena nilai manfaat bersih yang negatif di semua tahun, nilai IRR, Net B/C, dan PBP tidak dapat dihitung. Hal ini dikarenakan semua kriteria tersebut mensyaratkan adanya nilai positif pada manfaat bersih untuk dapat dihitung. Hal ini menunjukkan bahwa usaha yang dijalankan oleh salah satu petani responden ini tidak layak secara finansial. Perhitungan nilai kriteria investasi tersebut dapat dilihat pada proyeksi arus kas petani di Lampiran 9.
Hasil analisis finansial baik pada usaha yang dilakukan oleh petani maupun kelompok tani menunjukkan bahwa keduanya tidak layak. Hal ini diduga terjadi akibat luas lahan produktif yang kecil, yaitu dengan total 40 hektar lahan petani dan lahan kebun induk. Selain itu, produktivitas di lahan milik petani juga masih sangat rendah akibat perawatan yang kurang optimal, dimana jumlah pohon yang berhasil tumbuh di lahan petani rata-rata hanya 700 pohon sedangkan pada kondisi optimal dapat mencapai 2.500 pohon. Pada penelitian yang dilakukan oleh Rohmawati, luas produksi mencapai 800 hektar lahan dan penerimaan diperoleh dari tigs jenis produk, yaitu biodiesel, gliserol, dan bungkil sehingga usaha tersebut memperoleh NPV yang besar. Demikian pula dengan penelitian yang
Uraian Tahun 1 2 3 4 5 dst Pupuk Kompos 1.750.000 1.750.000 1.750.000 1.750.000 1.750.000 SP-36 67.200 100.800 168.000 252.000 336.000 KCl 61.600 92.400 123.200 184.800 246.400 Total 1.878.800 1.943.200 2.041.200 2.186.800 2.332.400
dilakukan oleh Kusumayanti, dinyatakan layak dengan nilai NPV mencapai milyaran rupiah. Pada usaha tersebut dengan skenario ke tiga, penerimaan hanya diperoleh dari penjualan CJO saja, sama dengan usaha pada Desa Lempopacci ini. Namun, tingkat harga CJO yang digunakan jauh berbeda. Pada penelitian Kusumayanti, harga CJO ditetapkan sebesar Rp 9.615/liter yang merupakan harga determinasi pada saat harga minyak bumi US$ 65/barel, sedangkan pada usaha jarak pagar di Desa Lempopacci, harga CJO ditetapkan sebesar Rp 5.500/liter. Hal ini menyebabkan tingkat kelayakannya juga berbeda.
Selain itu, sistem yang digunakan dalam pengembangan jarak pagar di Desa Lempopacci juga jauh berbeda dengan usaha yang dilakukan pada perusahaan seperti pada kedua penelitian tersebut. Sistem yang berbeda ini mempengaruhi besarnya komponen biaya yang harus dikeluarkan. Dalam usaha pengembangan tanaman jarak pagar di Desa Lempopacci, komponen biaya yang cukup besar dikeluarkan adalah untuk bagi hasil dengan pemilik lahan pabrik sebesar 25 persen dari total hasil produksi di pabrik tersebut. Hasil CJO yang diperoleh kelompok tani dari pengolahan biji jarak pagar petani adalah sebesar 40 persen, sehingga jika dikurangi dengan bagi hasil ke pemilik lahan, CJO yang tersisa adalah 15 persen yang harus dikurangi lagi dengan biaya-biaya lainnya. Apabila dihubungkan juga dengan produktivitas lahan petani yang rendah, maka kesemua hal tersebut dapat menjelaskan mengapa usaha pengembangan jarak pagar yang dilakukan di Desa Lempopacci ini tidak layak secara finansial.