V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Analisis Finansial Usaha Hutan Rakyat
Kelayakan hutan rakyat dapat diketahui menggunakan perhitungan analisis finansial dengan menggunakan metode analisis aliran kas dari biaya dan pendapatan yang telah didiskonto. Besarnya suku bunga yang digunakan adalah 6.5%yaitu suku bunga makro Bank Indonesia yang berlaku di daerah saat penelitian berlangsung. Kelayakan hutan rakyat ini bisa dijadikan acuan untuk perbaikan pengelolaan hutan rakyat kedepannya dari segi pemeliharaan dan pengaturan biaya yang dikeluarkan.
Biaya secara sederhana dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengurangi suatu tujuan. Jadi biaya pengusahaan hutan rakyat adalah segala bentuk korbanan ekonomi yang dikeluarkan atau akan dikeluarkan untuk mencapai tujuan pembangunan hutan rakyat. Pada prinsipnya biaya yang terlibat dalam perusahaan hutan rakyat dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu biaya produksi tetap (fix cost) dan biaya produksi berubah (variable cost). Biaya
produksi tetap adalah semua jenis biaya yang seolah-olah tidak berubah besarnya walaupun jumlah barang yang dihasilkan berubah, misalnya tanah. Sedangkan biaya produksi berubah adalah biaya produksi yang besarnya tergantung dari jumlah barang yang dihasilkan, misalnya membeli pupuk, bibit, upah tenaga kerja (Sumatra 1963 dalam Indra 2007).
Biaya pengusahaan hutan rakyat terdiri dari biaya tetap, antara lain biaya sewa/pajak, biaya peralatan, biaya bangunan dan biaya lainnya. Biaya variable terdiri dari biaya pengadaan benih dan bibit, biaya persiapan lahan, biaya penanaman, biaya pemeliharaan dan biaya lainnya. Biaya pemanenan terdiri dari biaya penmaenan tanaman teh, baik sistem upah atau tidak dan biaya pemanenan pohon yang menggunakan sistem borongan.
Tabel 8 Rata-rata biaya pengusahaan hutan rakyat berdasarkan strata
Strata Pajak Biaya Variabel (Rp/thn)
(Rp/thn) Bibit Tanam Pemeliharaan Pemanenan Lain-lain I 41.867 92.667 172.600 1.140.625 1.057.813 60.000 II 148.800 99.000 109.000 1.060.000 2.404.500 178.700 III 375.000 525.000 640.000 2.900.000 7.417.667 414.000 Rata-Rata 188.556 238.889 307.200 1.700.208 3.626.660 217.567
Berdasarkan Lampiran 5 dapat dilihat bahwa biaya pengusahaan hutan rakyat di Desa Legokhuni terdiri dari :
A.Biaya Tetap
Pembayaran pajak merupakan salah satu biaya tetap usaha hutan rakyat. Besarnya nilai pajak tergantung dari luasan hutan rakyat yang dimiliki petani. Biaya pajak selalu dikeluarkan setiap tahunnya oleh petani yang dipengaruhi oleh luasan lahan yang dimiliki. Pada strata I rata-rata besarnya pajak adalah Rp. 41.867,00 per tahun sedangkan pada strata II sebesar Rp. 148.800,00 per tahun dan strata III sebesar Rp. 375.000,00 per tahun.
B.Biaya Variabel
1. Biaya Pengadaan Bibit,bibit teh (Camellia sinensis) yang digunakan pada lahan usaha hutan rakyat ini berasal dari pemberian Dinas Kehutanan dan Pertanian Daerah Purwakarta. Biaya usaha tani ini lebih besar untuk biaya penanaman pohon. Bibit pohon biasanya didapat dari terubusan untuk jenis sengon, dan 35
yang lainnya bisa dibeli sendiri ataupun dapat dari pembagian Dinas Kehutan dan Perkebunan. Sehingga besarnya nilai pengadaan bibit ini tidak bernilai terlalu tinggi, yaitu berkisar antara Rp. 92.6671,00 per tahun sampai Rp. 525.000,00 per tahun.
2. Biaya penanaman ini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menanam berbagi tanaman di lahan milik petani. Kegiatan penanaman biasanya dilakukan oleh petani pemilik lahan sendiri untuk lahan strata I, tetapi pada strata II dan strata III ada sebagian petani yang membayar jasa penanaman dengan upah. Upah untuk kegiatan ini besarnya Rp. 20.000,00/hari/orang. Biaya penanaman yang dikeluarkan pada strata I rata-rata bernilai Rp. 172.600,00 per tahun sedangkan pada strata II dan III masing-masing bernilai Rp. 109.000,00 per tahun dan Rp. 640.000,00 per tahun.
3. Biaya pemeliharaan ini terdiri dari kegiatan pemangkasan cabang, pengadaan alat, pemberian pupuk dan upah tenaga kerja. Seluruh biaya tersebut lalu dijumlahkan dan dirata-ratakan untuk masing-masing strata. Strata I memiliki rata-rata biaya pemeliharaan sebesar Rp.1.140.625,00 per tahun. Strata II bernilai Rp. 1.060.000,00 per tahun dan strata III sebesar Rp. 2.900.000,00 per tahun.
4. Biaya pemanenan yang ada di lahan hutan rakyat desa Legokhuni ini tidak terperinci. Kegiatan pemanenan ini selalu dilakukan dengan sistem borongan sehingga biaya pemanenan merupakan hasil negosiasi antara petani dan pihak pemborong. Pada strata I didapatkan biaya rata-rata pemanenan sebesar Rp. 1.057.813,00 per tahun, untuk strata II dan strata III bernilai masing Rp. 2.404.500,00 per tahun dan Rp. 7.417.667,00 per tahun. Biaya pemanenan pada strata III bernilai cukup tinggi, karena pemilik lahan pada strata ini banyak yang melakukan penebangan pada kurun waktu tahun 2008-2010.
5. Biaya lain-lain ini biasanya biaya yang dikeluarkan petani untuk kegiatan pendukung usaha tani. Biaya ini berkisar antara biaya pemberian makan dan rokok bagi para pekerja di lahan yang bersangkutan. Besarnya biaya ini berkisar antara Rp. 1.057.813,00 per tahunya sampai Rp. 414.000,00 per tahunnya.
C.Nilai Tegakan Sisa Tahun2010
Nilai tegakan sisa ini merupakan perkiraan biaya yang harus dikeluarkan oleh petani saat pertama kali melakukan usaha hutan rakyat sampai sekarang. Nilai tersebut diperoleh dari jumlah tegakan sisa yang ada saat penelitian berlangsung atau belum ditebang hingga tahun 2010, kemudian dikalikan dengan harga tegakan yang berlaku di pasar.Harga tegakan sengon Rp 410.000,00/m3, harga tegakan mindi Rp. 420.000,00/m3 dan harga tegakan mahoni Rp. 400.000,00/m3. Menentukan harga tegakan untuk semua jenis tegakan menggunakan cara harga tertimbang. Dimana jumlah rata-rata masing jenis pohon dikalikan dengan harga jual pohon tersebut, kemudian dibagi dengan jumlah total ketiga jenis pohon. Tegakan yang siap tebang adalah tegakan yang berumur 6 tahun ke atas, artinya sudah memasuki daur tebang. Pendapatan dari tegakan ini merupakan pendapatan kotor hutan rakyat yang belum dikurangi biaya pemanenan.
Pendeketan di bawah, menghasilkan rata-rata nilai tegakan sisa dari hasil pemanenan pada strata I sebesar Rp. 4.000.000,00 dengan jumlah tegakan sisa 10 batang. Strata II rata-rata nilai tegakan sisa yang berjumlah 19 batang memiliki nilai Rp. 7.600.000,00, sedangkan untuk strata III rata-rata besarnya pendapatan dari usaha hutan rakyat sebesar Rp. 32.000.000,00 (51 tegakan sisa). Perincian jumlah tegakan sisa pada lahan hutan rakyat dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9 Simulasi proyek sisa kayu tanaman tahun 2010
Strata Jumlah Tegakan Sisa pada Umur ke- (batang) total
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
I 3 3 4 0 0 0 0 0 0 0 0 10
II 12 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 19
III 25 17 8 0 1 0 0 0 0 0 0 51
Total 40 24 17 3 5 5 6 7 8 9 10 80
D.Simulasi Proyeksi Hasil Tanam
Perhitungan dilakukan dalam tiga daur yaitu dari tahun 2008 sampai 2025. Daur yang digunakan adalah 6 tahun. Pendapatan hutan rakyat dapat diilustrasikan dengan pemasukan ke dalam aliran kas, yaitu kegiatan penjualan tegakan kayu dan penjualan tanaman teh. Sedangkan untuk pengeluaran usaha hutan rakyat 38
adalah kegiatan penebangan saja. Perhitungan ini dilakukan atas dasar biaya penebangan borongan dan hasil pemetikan pucuk daun teh selama tiga tahun terakhir. Sistem penebangan borongan ini memberikan nilai pemasukan dan pengeluaran untuk perhitungan aliran kas (cashflow), karena pada tahun tebang tersebut petani akan kembali menanam tegakan baru untuk mengganti tegakan yang ditebang. Nilai pengeluaran ini berupa biaya bibit dan penanaman.
Jumlah pohon yang digunakan sebagai acuan adalah 22 pohon untuk luasan lahan 0,2 hektar, dengan asumsi jarak tanam yang digunakan oleh petani adalah 10 m x 10 m. Digunakan jarak tanam 10 m x 10 m merupakan jarak yang paling memungkinkan untuk pertumbuhan teh yang tetap stabil walaupun di antara tanaman teh itu ditanam tegakan pohon, karena cahaya matahari akan tetap masuk untuk tanaman teh. Acuan jumlah pohon ini dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah pohon pada setiap strata untuk hutan normal. Pada strata I diperoleh jumlah tegakan normal sebanyak 15 pohon, pada stara II sebanyak 50 pohon dan pada strata III sebanyak 130 pohon.
Pada Lampiran 7 menjelaskan mengenai jumlah tegakan sisa yang menjadi dasar perhitungan cashflow. Jumlah tegakan normal ini memiliki pengertian dimana jumlah pohon yang ditanam sama dengan jumlah pohon yang ditebang, pada tahun tersebut yaitu sebesar 3 pohon. Pada strata I ini terdapat tegakan sisa sebelum tahun 2010 sebanyak 4 pohon pada tahun 2008, 3 pohon pada tahun 2009 dan 2010. Tegakan sisa sebelum tahun 2010 didahulukan untuk ditebang pada masa tebang daur pertama. Jumlah pohon untuk memenuhi syarat hutan normal mulai terjadi pada tahun 2013 dan mulai mencapai jumlah tegakan yang normal di tahun 2018.
Tegakan sisa pada strata II berjumlah 12 pohon pada tahun 2008, 2009 dan 2010. Jumlah pohon memasuki syarat tegakan normal pada tahun 2012 dan pada tahun ini mulai dilakukan penebangan sebanyak 10 pohon. Jumlah penebangan setara dengan jumlah penanaman terjadi pada tahun 2020, pada tahun tersebut tegakan telah mengalami normalitas. Pada strata III diperoleh normalitas pada tahun 2018, kegiatan pemanenan mulai dilakukan pada tahun 2013 dengan jumlah 25 tegakan yang ditebang.
Pendapatan bersih petani merupakan hasil dari pengurangan keuntungan yang didapat dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan. Keuntungan ini diperoleh dari hasil pemetikan pucuk teh dan penebangan pohon. Faktor bunga juga mempengaruhi pendapatan bersih petani. Perhitungan aliran kas ini lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 6.
Tabel 10 Distribusi pendapatan dan biaya dengan dan tanpa suku bunga masa 3 daur
Strata Tanpa suku bunga (Rp/thn) x 1000 Dengan Suku Bunga (Rp/thn) x 1000
Benefit Cost NPV Benefit Cost NPV
I 61.800 44.126,34 17.673,66 34.489,17 24.724,65 9.764,51 II 129.000 103.212,4 25.787,6 69.311,91 59.540,72 16.090,81 III 283.000 263.442 19.558 151.443,83 139.929,39 11.514,45 Rata-rata 157.933,33 136.926,91 21.006,42 83.647,67 74.731,59 8.916,09
Berdasarkan Tabel 10 pendapatan tertinggi terdapat pada strata III sebesar Rp. 283.000.000,00 per tahun tanpa suku bunga dan Rp. 263.442.000,00 per tahun dengan suku bunga yang berlaku dari Bank Indonesia pada saat penelitiaan sebesar 6,5%. Nilai pendapatan terendah tanpa suku bunga terdapat pada strata I sebesar Rp. 61.800.000,00 per tahun sedangkan dengan suku bunga bernilai Rp. 44.126.340,00 per tahun. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa luas lahan berbading lurus dengan jumlah pendapatan dari lahan itu. Semakin luasnya lahan hutan rakyat maka pendapatan dari usaha hutan rakyat semakin meningkat pula. Data pada tabel di atas telah dihitung cash balance dikalikan dengan discount rate, didapat untuk setiap strata nilai NPV positif dimana BCR>1 dan IRR> suku bunga yang berlaku saat penelitian.Untuk perhitungan lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 6.
Tabel 11 Analisis finasial hutan rakyat Desa Legokhuni berdasarkan strata
Strata Analisis Finansial
NPV (Rp x 1000) BCR IRR (%)
I 9.764,51 1,22 28,56
II 16.090,81 1,16 32,23
III 11.514,45 1,08 26,76
Rata-rata 8.916,09 1,16 29,18
Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa nilai NPV terbesar ada pada strata II sebesar Rp. 16.090.810.000,00 sedangkan nilai terkecil ada pada strata I 40
sebesar Rp. 9.764.510,00. Nilai NPV ini bisa diakibatkan oleh rata-rata besarnya biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang didapat selama umur daur. Nilai BCR terendah ada pada strata III sebesar 1,08 hal ini bisa diakibatkan karena perbandingan antara total pengeluaran dan total pemasukan dalam cashflow
selama 3 daur memiliki perbandingan yang tidak begitu besar. Nilai BCR terbesar ada pada strata I yaitu 1,22 hal ini menggambarkan bahwa nilai perbandingan total pendapatan dan pengeluaran total pada strata I memiliki nilai yang cukup besar. Bunga pengembalian terbesar ada pada strata II sebsar 32,23%, tingkat pengembalian bunga ini diikuti pula dengan nilai NPV yang besar. Dari nilai yang didapat strata I, II dan III untuk ketiga komponen kelayakan usaha dapat dikatakan bahwa usaha hutan rakyat di Desa Legokhuni layak untuk dikelola, karena memiliki nilai NPV positif, nilai BCR yang lebih besar dari satu dan nilai IRR yang lebih besar daripada suku bunga yang berlaku.