4.2 Foraminifera .1 Pendahuluan
4.2.4 Analisis Foraminifera Satuan Batupasir Formasi Kalibiuk
Analisis foraminifera pada Satuan Batupasir di daerah penelitian menggunakan analisis semikuantitatif. Terdapat 12 sampel yang dianalisis yaitu KWG-1, KWG-2, KWG-7A, KWG-8, KWG-19, KWG-22, KWG-24, KWG-26, KWG-46, KWG-48, KWG-50, dan KWG-51. Terdapat beberapa fosil indeks dan biodatum yang didapatkan pada analisis ini.
Berdasarkan hasil analisis mikropaleontologi (Lampiran E-2 dan Lampiran D-1), didapatkan kisaran umur relatif dari Satuan Batupasir adalah Pliosen Akhir-Pleistosen (N21 bagian bawah–N22 dan atau lebih muda) berdasarkan Biozonasi Blow (1969). Umur pada satuan ini dicirikan dengan kemunculan akhir dari Globigerinoides trilobus fistulosus pada batas Satuan Batulempung dengan Satuan Batupasir. Selain itu ditemukan pemunculan akhir dari Globigerinoides trilobus extremus yang punah pada N21 setelah pengendapan KWG-48. Hal ini menunjukkan bahwa pada bagian atas Satuan Batupasir umur telah berubah menjadi Pleistosen (N22 dan atau lebih muda). Selain itu Spesies – spesies foraminifera plangton lainnya yang terdapat pada satuan ini antara lain Orbulina universa, Globigerinoides trilobus trilobus, Gloigerinoides trilobus immaturus,
71 Globigerinoides ruber, Globigerina bulloides, Neogloboquadrina pseudopima, Globigerinoides trilobus sacculifer, Globorotalia menardii, Hastigerina siphonifera, Hastigerina pelagica, Globorotalia tumida, Globigerinoides obliquus, Globoquadrina altispira, dan Neogloboquadrina acostaensis. Tetapi, pada kisaran umur di Satuan Batupasir ini ditemukan spesies Puleniatina primalis (KWG-2, KWG-19, KWG-26, KWG-50) yang mempunyai kisaran umur N6-N20 (Blow, 1969) dan Sphaerodinellopsis seminulina (KWG-7, KWG8, KWG19, dan KWG-26) dengan kisaran umur N16-N20 (Blow, 1969) (Lampiran E-2 dan Lampiran D-1). Adanya kehadiran fosil dengan umur yang lebih tua terdapat pada suatu pengendapan dengan umur yang lebih muda dapat diinterpretasikan bahwa Puleniatina primalis dan Sphaerodinellopsis seminulina merupakan fosil rombakan.
Analisis foraminifera pada 12 sampel yang diambil di daerah penelitian juga digunakan untuk menginterpretasi lingkungan pengendapan pada Satuan Batupasir berdasarkan asosiasinya berdasarkan klasifikasi Robertson Research (1983). Hasil dari analisis tersebut adalah sebagai berikut (Lampiran E-2 dan lampiran D-1):
• Neritik Tengah (KWG-1 hingga KWG-7A).
Pada awal pengendapan KWG-1 hingga KWG-7A ditemukan asosiasi dari Lagena sp, Uvigerina sp, Uvigerina peregrina, Oolina sp, dan Amphistegina sp. Berdasarkan dari asosiasi tersebut, maka didapatkan lingkungan pengendapan Neritik Tengah (100-200m).
• Neritik Dalam (KWG-7A hingga KWG-51).
Kemudian, pada awal pengendapan 8 hingga pengendapan KWG-51 mulai hadir spesies-spesies penciri Neritik Dalam seperti Asterorotalia trispinosa, Ammonia beccarri, Nonion scaphum, Quinqueloculina sp, Elphidium sp, Cellanthus craticulatus. Hadirnya spesies-spesies tersebut dapat diasumsikan bahwa lingkungan mendangkal dari Neritik Tengah menjadi Neritik Dalam. Tetapi asosiasi tersebut bercampur dengan spesies-spesies penciri Laut Dalam (Neritik Luar) seperti Uvigerina peregrina, Sphaeroidina bulloides, Planulina wuelerstorfi, Gyroidina sooldani, Uvigerina sp, Bulimina striata, Bulimina marginata, dan
72 Hyalinea balthica dengan jumlah yang sangat sedikit. Adanya percampuran tersebut dapat diinterpretasikan bahwa spesies-spesies Neritik Luar merupakan fosil rombakan karena hadir dalam jumlah yang sedikit bila dibandingkan dengan spesies-spesies penciri Neritik Dalam.
4.3 Moluska
4.3.1 Pendahuluan
Menurut Wikipedia, moluska berasal dari bahasa latin molluscus yang berarti lunak merupakan hewan triploblastik selomata yang bertubuh lunak.
Moluska merupakan filum terbesar kedua dalam kerajaan hewan setelah filum Arthropoda. Tubuh dari moluska dapat tersusun atas cangkang atau tidak tersusun cangkang. Bentuk cangkang bervariasi, yaitu cangkang tunggal (Gastropoda), cangkang ganda (Bivalvia), berbentuk seperti tanduk atau gading gajah (Scaphopoda), berlapis–lapis (Polyplacophora /Chiton) dan ada pula yang terletak di dalam tubuhnya, misalnya pada cumi–cumi (Loligo) dan suntung (Sepia sp.).
Moluska muncul pada permulaan Zaman Kambrium. Moluska dapat hidup di lingkungan air tawar, payau, darat, dan laut. Saat ini diperkirakan ada 75 ribu jenis, ditambah 35 ribu jenis dalam bentuk fosil. Moluska dicirikan dengan Tubuh tidak bersegmen, simetri bilateral, tubuhnya terdiri dari "kaki" muskular, dengan kepala yang berkembang beragam menurut kelasnya. Kaki dipakai dalam beradaptasi untuk bertahan di substrat, menggali dan membor substrat, atau melakukan pergerakan.
Filum moluska dapat dibagi menjadi tujuh kelas, antara lain:
1. Kelas Gastropoda, disebut juga binatang berkaki perut. Gastropoda merupakan kelas terbesar dari filum moluska. Pada awalnya kelas ini hidup di laut tetapi mulai Zaman Mesozoikum kelas ini menyesuaikan diri hidup di air tawar atau payau. Gastropoda yang hidup di laut terdiri dari dua golongan yaitu yang dapat berenang seperti Pteropoda dan Heteropoda, sebagian lagi melekat pada batuan, pada cangkang gastropoda lain atau pada dasar laut. Bagian tubuh gastropoda terdiri dari kepala, isi perut, kulit mantel, dan cangkang. Bagian cangkang inilah yang akan menjadi fosil.
73 Cangkang gastropoda dapat bersifat planispiral (terputar pada satua bidang) dan trochospiral (terputar tiga dimensi). Putaran saling berhubungan satu sama lain dengan garis sambungannya disebut sutura.
Gambar 4.10. Bagian-bagian dari gastropoda, kiri: sisi dorsal; kanan: sisi ventral.
2. Kelas Scaphopoda, memiliki cangkang yang berbentuk seperti tanduk, hidup di laut dengan cara membenamkan sebagian dari cangkangnya di dalam pasir atau pasir berlumpur di dasar laut, hanya sebagian kecil atasnya saja yang kelihatan di permukaan. Tidak mempunyai kepala, mata dan insang, tetapi mempunyai radula. Alat kelaminnya terpisah.
3. Kelas Bivalvia (Pelecypoda), mempunyai dua kepingan atau belahan yang dihubungkan oleh engsel elastis yang disebut ligament dan mempunyai satu atau dua buah otot adductor di dalam cangkangnya yang berfungsi untuk membuka dan menutup kedua belahan valve-nya. Tidak mempunyai kepala, mata dan radula. Beberapa ada yang memiliki banyak mata di tepi mantelnya. Banyak diantaranya yang mempunyai sepasang insang.
Umumnya memiliki alat kelamin terpisah. Beberapa diantaranya dapat hidup di air tawar.
4. Kelas Cephalopoda, sering disebut binatang berkaki kepala, anggotanya diantaranya adalah cumi–cumi (Loligo sp.), Suntung (Sepia sp.), gurita (Octopus sp.), Argonauta dan Nautilus. Hanya Nautilus yang mempunyai cangkang luar. Organisme dari kelas ini mempunyai mata, radula dan alat kelamin terpisah serta hidup dengan berenang di air laut.
74 5. Kelas Polyplacophora, dikenal pula dengan sebutan Chiton, memiliki cangkang yang tersusun bertumpuk seperti genting. Mempunyai banyak insang dan mempunyai radula. Hidup di laut menempel pada benda–benda keras.
6. Kelas Monoplacophora, hanya dikenal beberapa spesies saja. Memiliki lima atau enam pasang insang dan mempunyai radula. Hidup di laut yang sangat dalam dan sangat jarang dijumpai.
7. Kelas Aplacophora, bentuknya menyerupai cacing, tidak bercangkang dan hidup di dasar laut dangkal.
Posisi hidup dari fosil (moluska) terhadap dasar cekungan (sungai, danau, atau laut) dapat dibagi menjadi 4 (empat), yaitu:
1. Infaunal, posisi hidup dengan menguburkan seluruh tubuhnya dalam substrat sedimen.
2. Semi-Infaunal, posisi hidup yang mengubur sebagian dari tubuhnya ke dalam substrat sedimen dengan orientasi vertikal (posterior berada di bawah).
3. Epifaunal, posisi hidup dengan menambatkan diri pada suatu obyek lain seperti sedimen, atau tanaman-tanaman laut.
4. Reclining, posisi hidup hewan seperti melayang berorientasi horizontal di substrat sedimen.
4.3.2 Preparasi dan Metoda Analisis Moluska