• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian serta saran untuk penggiat fotografi dan Mahasiswa Fakultas Komunikasi khususnya

TEMUAN DAN ANALISIS DATA

E. Analisis Foto V

1. Tahap Denotasi

Jika dilihat dari foto ke V ini makna denotasinya adalah ibu-ibu yang sedang menangis, salah satunya terlihat menggendong seorang anak kecil. Pakaian yang mereka gunakan menunjukkan bahwa mereka adalah sekumpulan masyarakat pedesaan. Dibelakang mereka juga terlihat sebuah bangunan yang dijadikan sebagai tempat pengungsian.

2. Tahap Konotasi

a. Trick Effect (Memanipulasi Foto)

Seperti foto-foto sebelumnya, foto ini pun tidak menggunakan manipulasi secara berlebihan. Foto ini juga merupakan salah satu foto dari rangkaian foto seri yang mendapat penghargaan dari WPP dalam kategori People in The News.

b. Pose

Dalam foto ini jelas terlihat bahwa ekspresi objek yang merupakan sekumpulan ibu-ibu sangat ditonjolkan oleh fotografer. Gaya dan posisi objek pun mendukung ekspresi ibu-ibu tersebut, dimana seorang ibu yang menggendong anak kecil terlihat memegang kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang sedang ia alami, dan berusaha pasrah menghadapi cobaan hidup. Posisi mereka terlihat sedang berkumpul di suatu tempat.

c. Objek

Objek dalam foto ini adalah sekumpulan ibu-ibu yang menjadi pengungsi bencana Gunung Merapi. Penulis melihat bahwa dalam foto

ini, fotografer tidak memasukkan objek lain karena fokus pada sekumpulan ibu-ibu tersebut.

d. Photogenia (Teknik Foto)

Teknik dalam foto ini memperlihatkan bahwa fotografer ingin memfokuskan pada ekspresi para pengungsi. Angel yang diambil pun tidak terlalu ekstrim, yaitu eye level. Seperti pada foto II, pemilihan angle

tersebut tidak memiliki makna khusus. Foto yang diambil diluar ruangan tersebut memperlihatkan teknik pencahayaan normal, namun sedikit gelap karena fotografer ingin memberikan kesan yang lebih mendalam. e. Aestheticism (Komposisi)

Pengambilan foto yang cenderung close up ini memperlihatkan bahwa fotografer ingin menyampaikan bagaimana penderitaan yang dialami oleh para korban terutama ibu-ibu dengan terfokus pada ekspresi wajah mereka lebih dekat. Baju-baju yang mereka gunakan pun menggambarkan kondisi kekurangan yang sedang mereka alami.

f. Syntax

Fotografer membuat para penikmat foto dapat memahami apa yang ingin disampaikan melalui foto ini tanpa harus melihat caption atau keterangan foto. Fotografer ingin menyampaikan bagaimana para pengungsi merasa sedih karena harus berpindah tempat pengungsian karena tempat sebelumnya sudah tidak aman lagi. Kita dapat memahami tersebut karena fotografer berhasil menyampaikan pesan dengan menonjolkan ekspresi para pengungsi tanpa keterangan foto. Penulis

meyakini bahwa siapapun yang melihat foto ini mempunyai pemikiran bahwa sekumpulan ibu-ibu sedang mengalami penderitaan karena bencana alam yang terjadi di daerah tempat tinggal mereka. Syntax dalam foto dibangun dengan penempatan objek sesuai dengan pesan yang akan disampaikan oleh fotografer.

Jika dilihat dari beberapa aspek yang telah disebutkan sebelumnya, pada foto ini terlihat bagaimana kondisi pasca terjadinya letusan Gunung Merapi yang telah menelan banyak korban tersebut. Penulis mengamati bahwa fotografer hanya ingin menyampaikan apa yang dialami oleh korban dengan menampilkan foto yang terfokus pada ekspresi ibu-ibu tersebut. Letusan yang kembali terjadi membuat tempat pengungsi yang sebelumnya aman dari abu vulkanik, terancam tidak lagi dapat ditempati. Hal tersebut mengharuskan para pengungsi di evakuasi ke tempat yang lebih aman. Ekspresi yang ditunjukkan fotografer dalam foto V ini memperlihatkan kepedihan dan penderitaan yang mereka alami. Kehilangan harta benda bahkan sanak saudara adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidup mereka. Melalui foto ini, penulis melihat bahwa fotografer berhasil menghasilkan gambar yang mewakili penderitaan para korban letusan Gunung Merapi tahun 2010. Melalui foto ini, secara tidak langsung kita dapat merasakan bagaimana penderitaan yang mereka alami.

3. Mitos

Mitos merupakan salah satu kebudayaan yang telah ada sejak masa lampau. Mitos dapat berkembang dari bagaimana cara masyarakat

menanggapinya. Terjadinya bencana alam selalu dikaitkan dengan mitos yang telah ada sebelumnya. Masih banyak masyarakat yang percaya terhadap mitos walaupun belum diketahui benar atau tidaknya.

Dalam foto ini mitos yang dapat dikembangkan adalah mengenai sebuah keputusasaan dan penderitaan yang dialami oleh para pengungsi. Bencana besar yang terjadi mengakibatkan korban kehilangan harta benda bahkan sanak saudara. Hal tersebut membuat mereka berpikir bahwa tidak ada lagi harapan untuk mereka karena semuanya telah hilang. Keputusasaan dan penderitaan tidak selamanya dialami oleh korban bencana alam. Jika mereka mau survive dan kembali menjalani hidup, rasa syukur akan mereka rasakan setelah ujian berat yang mereka alami.

Apapun mitos yang marak dibicarakan masyarakat terkait dengan bencana yang terjadi, kehendak Tuhan tetap yang paling menentukan. Apabila Tuhan sudah berkehendak, tidak ada satupun manusia yang mampu menghindarinya. Mungkin itu sebuah teguran dari Tuhan kepada manusia yang kurang menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.

81

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian terhadap lima foto karya Kemal Jufri pada pameran Aftermath adalah sebagai berikut:

1. Tahap Denotasi

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan terhadap kelima foto yang merupakan bagian dari rangkaian foto seri yang mendapatkan penghargaan dalam kategori People in The News pada World Press Photo tahun 2011 ini memberikan gambaran tentang upaya fotografer dalam menyampaikan sebuah informasi mengenai suatu bencana alam. Melalui foto-foto ini, terlihat jelas bagaimana kondisi setelah terjadinya bencana yang menimbulkan banyak korban jiwa tersebut. Fotografer dalam penyampaian pesan atau informasinya, tidak menggunakan manipulasi foto yang mengakibatkan perubahan makna pada foto itu sendiri. Foto-foto tersebut menunjukkan bagaimana realita yang terjadi.

Dalam tahap ini juga dapat disimpulkan bahwa fotografer ingin memberikan informasi kepada masyarakat secara akurat tanpa adanya rekayasa dan opini visual. Dengan gambaran mengenai kondisi pada saat dan setelah terjadinya bencana tersebut, fotografer menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa bencana yang tidak terduga dapat menimbulkan dampak

yang sangat besar. Sehingga masyarakat akan lebih waspada dalam menghadapi bencana yang suatu saat akan terjadi kembali.

2. Tahap Konotasi

Dalam tahap ini penulis menemukan makna-makna konotasi yang terdapat pada kelima foto tersebut. Selain itu tahap ini juga memperlihatkan bahwa foto dapat dipahami tidak hanya dengan melihat fotonya saja tetapi terdapat cara-cara dalam membaca foto agar pesan yang diterima sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh fotografer.

Pada foto pertama, penulis dapat menyimpulkan bahwa makna konotasi yang terdapat pada foto ini adalah keagamaan dan introspeksi diri. Terlihat dari simbol keagamaan yang terlihat pada foto ini. Simbol tersebut dikaitkan dengan dampak bencana yang terdapat pada latar belakang foto. Sehingga menimbulkan makna bahwa bencana yang terjadi merupakan sebuah peringatan dari Tuhan. Selain itu, secara tidak langsung fotografer juga mengajak pembaca foto untuk introspeksi diri dari perilaku yang melanggar norma-norma atau ajaran Tuhan. Karena Tuhan tidak akan segan memberi hukuman berupa bencana alam yang akan merugikan manusia itu sendiri.

Makna kesederhanaan terlihat pada foto kedua. Salah seorang yang sedang berdiri menghadap ke arah jalan tersebut menggunakan keranjang belanja untuk menutupi kepalanya agar terhindar dari abu vulkanik. Kesederhanaan merupakan sesuatu yang sulit ditemukan pada masyarakat masa kini. Namun, hal tersebut tidak terlihat pada masyarakat Yogyakarta

khususnya yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi. Selain itu, makna lainnya yang dapat disimpulkan dari foto tersebut adalah seorang wanita berkerudung yang dibuat blur oleh fotografer menunjukkan bahwa siapapun dapat menjadi korban dari ganasnya bencana alam, tidak memandang apakah dia adalah seorang yang beragama atau tidak.

Selanjutnya pada foto ketiga, makna yang dapat diambil adalah tolong menolong. Masyarakat Indonesia memang dikenal dengan keramahannya. Hal tersebut terlihat dari sifat tolong menolong yang masih kental terasa. Karena dalam foto ini tidak hanya tim penyelamat yang melakukan evakuasi, tetapi masyarakat setempat pun ikut membantu walaupun dengan peralatan yang tidak memadai.

Pada foto keempat, penulis mengambil kesimpulan bahwa makna dari foto ini adalah kesigapan dan rasa tanggungjawab. Seorang aparat Negara harus memiliki kedua hal tersebut. Kesigapan diperlukan karena sebagai aparat Negara yang ditugaskan untuk melakukan evakuasi terhadap korban bencana alam kesigapan menjadi salah satu hal terpenting yang harus dimiliki, yaitu sigap dalam menghadapi sesuatu yang tidak terduga seperti wedus gembel yang kembali menerjang perkampungan lereng Gunung Merapi. Selain itu rasa tanggungjawab pun tidak boleh diabaikan begitu saja, karena setiap orang yang memiliki tugas dalam hal apapun harus bertanggungjawab dengan tugasnya itu dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi.

Pada foto terakhir, penulis dapat memaknai bahwa bencana alam yang terjadi menimbulkan dampak yang tidak hanya berupa materi namun

berdampak pula pada kehidupan yang dialami para korban setelahnya. Foto ini menunjukkan bahwa para korban mengalami suatu kepedihan dan penderitaan yang tidak kunjung henti. Mereka terlihat sudah tidak memiliki harapan untuk melanjutkan hidup karena bencana alam telah merenggut apa yang mereka miliki, seperti harta benda bahkan sanak saudara.

Beberapa makna yang dapat penulis pahami menunjukkan bahwa bencana alam tidak hanya menimbulkan dampak pada kerusakan infrastruktur saja tetapi mental serta psikologis para korban juga mengalami dampak cukup besar terutama pada anak-anak.

3. Mitos

Bencana letusan Gunung Merapi yang terjadi tahun 2010 silam tidak terlepas dari mitos yang berkembang di masyarakat, terutama yang berada di sekitar lereng Gunung Merapi. Mitos sudah menjadi kebudayaan masyarakat Indonesia terutama pada masyarakat pedesaan. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi yang masih percaya pada mitos.

Mitos dibangun dari kepercayaan masyarakat secara turun menurun. Pada rangkaian foto seri karya Kemal Jufri ini menunjukkan bahwa sebuah bencana alam seperti letusan Gunung Merapi yang terjadi di daerah Yogyakarta ini menimbulkan dampak yang tidak sedikit. Kehilangan harta benda bahkan sanak saudara dapat dialami oleh korban bencana alam. Dalam foto ini juga memperlihatkan bagaimana kuasa Tuhan yang menegur manusia dengan mendatangkan sebuah bencana besar sebagai akibat dari ulah manusia itu sendiri yang lalai akan perintah-Nya.

B. Saran

Saat ini seni fotografi bukan lagi sekedar wacana mengenai bagaimana foto itu dibuat, tetapi sudah bergerak pada makna apa yang terdapat pada foto tersebut. Sebuah karya fotografi menjadi lebih kaya informasi dengan wawasan budaya yang semakin luas dan berkembangan di kalangan masyarakat.

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan, ada beberapa hal yang dapat menjadi saran baik kepada segenap akademisi Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, khususnya Program Studi Konsentrasi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta bagi para peminat fotografi khususnya yang menekuni foto jurnalistik, yaitu:

1. Melihat hasil analisis atas makna denotasi yang di dapat dari kelima foto yang penulis teliti, memberikan suatu referensi tentang tampilan foto-foto mengenai sebuah bencana alam. Referensi tampilan foto-foto-foto-foto tersebut menjadi acuan bagi para fotografer khususnya pemula. Tampilan tersebut dapat dilihat dari sisi komposisi yang digunakan oleh fotografer.

2. Sedangkan dari hasil analisis atas makna konotasi yang di dapat dari kelima foto yang diteliti, dapat dijadikan sebuah kamus visual bagi para penikmat fotografi, khususnya fotografi jurnalistik. Metode Roland Barthes dalam membaca foto juga dapat menjadi acuan seorang fotografer untuk memahami bagaimana suatu kesan dapat terbentuk, ketika menyampaikan suatu pesan melalui foto.

3. Melihat dari hasil analisis pada makna mitos yang terdapat pada kelima foto tersebut, secara umum memuat fakta-fakta atas fenomena alam yang terjadi dapat menjadi sebuah peringatan untuk lebih waspada dalam menghadapinya. Kemudian bagi para akademisi yang juga

concern dalam seni membaca sebuah foto, metode semiotika yang dikemukakan oleh Barthes ini dapat pula menjadi pegangan dalam mengembangkan paradigma konstruktivis dan menggabungkannya dengan fenomena yang terjadi pada masyarakat zaman sekarang.

Selain yang telah disebutkan diatas, penulis juga dapat menyimpulkan bahwa sebagai seorang pewarta foto, Kemal Jufri ingin memberikan informasi kepada masyarakat tentang bagaimana dampak dari bencana yang terjadi dengan menampilkan foto-foto yang berisi realita tanpa adanya proses editing yang berlebihan ataupun opini visual. Ia ingin masyarakat benar-benar melihat apa yang sebenarnya terjadi melalui foto-foto tersebut.

Alwi, Audi Mirza, Foto Jurnalistik, Metode Memotret dan Mengirim Foto ke Media Massa, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2004

Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif (Tata Langkah dan Teknik-Teknik Teorisasi Data), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009

Barthes, Roland, Imaji Musik Teks, Yogyakarta: Jalasutra, 2010

Barthes, Roland, Mitologi (Mythologies), Bantul: Kreasi Wacana, 2004

Barthes, Roland, Petualangan Semiologi (L’aventure Semiologique), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007

Barthes, Roland, The Photographic Message, New York: Hill, 1977

Berger, Arthur Asa, Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2010

Bignell, Jonathan, Media Semiotics: An Introduction, Manchester: Manchester University Press, 1997

Birowo, Antonius, Metode Penelitian dan Komunikasi, Yogyakarta: Gitanyali, 2004 Budiman, Kris, Kosa Semiotika, Yogyakarta: KLIS, 1999

Budiman, Kris, Semiotika Visual, Yogyakarta: Buku Baik, 2003

Darmawan, Ferry, Dunia dalam Bingkai, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009

Emzir, Analisis Data: Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010

Freddy Susanto, Anthon, Semiotika Hukum dari Dekonstruksi Teks Menuju Progresivitas Makna, Bandung: PT. Refika Aditama, 2005

Gani, Rita, dam Ratri Rizki Kusumalestari, Jurnalistik Foto Suatu Pengantar, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2013

Gunawan, Imam, Metlit Kualitatif Teori dan Praktik, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013 Hoed, Benny H, Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya, Jakarta: Komunitas Bambu, 2011

Kasiram, Mohammad, Metlit Kualitatif dan Kuantitatif, Malang: UIN Maliki Press, 2010

Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, Jakarta: Salemba Humanika, 2009

Muhtadi, Asep Saeful, Jurnalistik: Pendekatan Teori dan Praktek, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999

Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 Naga, Karolus, Semiotika: Ilmu untuk Berdusta

O’Saughnessy, Michael and Jone Stadler, Media and Society: And Introduction third edition, Victoria, 2005

Sunardi, ST, Semiotika Negativa, Yogyakarta: Kanal, 2002

Sobur, Alex, Semiotika Komunikasi, Bandung: PT. Penerbit Remaja Rosdakarya, 2009

Wijaya, Taufan, Foto Jurnalistik, Klaten: CV. SAHABAT, 2011

Yunus, Syafrudin, Jurnalistik Terapan, Jakarta: PT. Ghalia Indonesia, 2010 Zoelverdi, Mat Kodak, Jakarta: PT. Temprint, 1985

Referensi Lain:

Dwifriansyah, Bonny. “Sejarah Fotografi Dunia, dari Mo Ti hingga Mendur Bersaudara” artikel dari

http://www.pasarkreasi.com/news/detail/photography/67/sejarah-fotografi-dunia

Hasby, Eddy. “Makalah Seminar Fotografi” artikel dari www.tribunkaltim.co.id http://diangela.wordpress.com http://id.wikipedia.org/wiki/semiotika http://worldpressphoto.org http://kamusbesarbahasaindonesia.org/pameran www.worldpressphoto.org/kemal-jufri kompas.lightstalker.org

Penulis sedang mengajukan pertanyaan kepada Kemal Jufri mengenai foto-fotonya yang memenangkan penghargaan World Press Photo tahun 2011.

Kemal Jufri sedang menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan penulis mengenai foto-fotonya yang memenangkan World Press Photo tahun 2011.

Penulis berfoto dengan sebagian karya Kemal Jufri di Pameran Aftermath

Beberapa foto karya Kemal Jufri pada Pameran Aftermath di Galeri Salihara

Dokumen terkait