BAB IV : ANALISIS DATA
KAJIAN TEORITIS
A. Kajian Pustaka 1. Media Cetak
4. Analisis Framing
intinya tidak menimbulkan makna yang biasa lagi bagi khalayak.
4. Analisis Framing
a. Pengertian Analisis Framing
Konsep framing telah digunakan secara luas dalam literatur ilmu komunikasi untuk menggambarkan proses penseleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media. Dalam ranah studi komunikasi,analisis framing mewakili tradisi yang mengedepankan pendekatan atau perspektif multidisipliner untuk menganalisis fenomena atau aktivitas komunikasi. Analisis framing digunakan untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksikan fakta.Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan tautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perpektifnya.29
Ada beberapa definisi framing dalam Eriyanto. Definisi tersebut dapat diringkas dan yang disampaikan oleh beberapa ahli. Meskipun berbeda dalam penekanannya dan pengertian. Masih ada titik singgung utama dari definisi tersebut, yaitu antara lain:
1) Menurut Robert Etman
Proses seleksi di berbagai aspek realitas sehingga aspek tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek
29 Alex Sobur. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Simiotik, dan Analisis Framing...hal 162
lainnya. Ia juga menyatakan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada sisi lainnya.
2) Menurut Todd Gitlin
Strategi bagaimana realitas atau dunia dibentuk dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada
khalayak. Peristiwa-peristiwa ditampilkan dalam
pemberitaan agar tampak menonjol dan menarik perhatian
khalayak pembaca. Itu dilakukan dengan seleksi,
pengulangan, penekanan dan presentasi aspek tertentu dari realitas.
3) Menurut David Snow dan Robert Benford
Pemberian makna untuk ditafsirkan peristiwa dari kondisi yang relevan. Frame mengorganisasikan system kepercayaan dan diwujudkan dalam kata kunci tertentu, seperti anak kalimat, citra tertentu, sumber informasi dan kalimat tertentu.
4) Menurut Zhongdan dan Pan Konsicki
Sebagai konstruksi dan memproses berita. Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi pembentukan berita.30
Proses pembentukan dan konstruksi realita tersebut hasil akhirnya ada bagian-bagian tertentu yang ditonjolkan dan ada bagian-bagian yang lain disamarkan atau bahkan dihilangkan. Aspek yang tidak ditonjolkan kemudian akan terlupakan oleh khalayak karena khalayak digiring pada satu realitas yang ditonjolkan oleh media tersebut. Framing adalah sebuah cara bagaimana peristiwa disajikan oleh media. Di tambah pula dengan berbagai kepentingan, maka konstruksi realitas politik sangat ditentukan oleh siapa yang memiliki kepentingan dengan berita tersebut.31
Disini media memberikan ruang kepada salah satu realita untuk terus ditonjolkan. Dan ini merupakan sesuatu realita yang direncanakan oleh suatu media untuk ditampilkan. Dalam menampilkan suatu realita ada pertimbangan terkait dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan.
Secara selektif media menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya. Seperti menyunting bahkan wartawan sendiri memilih mana berita yang disajikan dan mana yang disembunyikan. Dengan demikian media mempunyai kemampuan untuk menstruktur dunia dengan memilah berita tertentu dan mengabaikan yang lain. Media membentuk citra seperti apa yang disajikan oleh media dengan cara menyediakan ruang atau waktu untuk sebuah realitas dengan ruang dan waktu secara tertentu.
Ada dua aspek dalam framing, yaitu:
1) Memiliki fakta atau realitas
Proses pemilihan fakta adalah berdasarkan asumsi dari wartwan akan memilih bagian mana dari realitas yang akan diberitakan dan bagian mana yang akan dibuang. Setelah itu wartawan akan memilih angle dan fakta tertentu untuk menentukan aspek tertentu akan menghasilkan berita yang berbeda dengan media yang menekankan aspek yang lain. 2) Menuliskan fakta
Proses ini berhubungan dengan penyajian fakta yang akan dipilih kepada khalayak. Cara penyajian itu meliputi pemilihan kata, kalimat, preposisi, gambar dan foto pendukung yang akan ditampilkan. Tahap menuliskan fakta itu berhubungan dengan penonjolan realitas. Aspek tertentu yang ingin ditonjolkan akan mendapatkan alokasi dan perhatian yang lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas.
b. Proses Framing
Dengan analisis framing juga untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi dan menulis berita. Proses pemberitaan dalam organisasi media, akan sangat mempengaruhi suatu berita yang akan diproduksinya. Frame yang diproses dalam organisasi media tidak lepas dari latar belakang pendidikan wartawan sampai ideologi
institusi media tersebut. Tiga proses framing dalam organisasik berita antara lain sebagai berikut:
1) Proses framing sebagai metode penyajian realitas. Dimana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibalik secara halus. Dengan memberikan sorotan aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilah-istilah yang mempunyai konotasi tertentu dan dengan bantuan foto, karikatur dan alat-alat ilustrasi lainnya.
2) Proses Framing merupakan bagian yang tidak terpisahkan diproses penyuntingan yang melibatkan semua pekerja di bagian keredaksian media cetak redaktur dengan atau tanpa konsultasi dengan redaktur pelaksana, dalam menetukan laporan reporter akan dimuat atau tidak, serta menentukan judul yang akan diberikan.
3) Proses framing juga tidak hanya melibatkan para pekerja pers, tetapi juga pihak-pihak yang bersengketa dalam kasus-kasus tertentu, yang masing-masing berusaha menampilkan sisi informasi yang ingin ditonjolkan, sambil menyembunyikan sisi lain.32
Dalam analisis yang akan dilakukan pertama kali adalah melihat bagaimana media mengkonstruksi suatu realita. Peristiwa dipahami bukan sesuatu yang taken for Grated, sebaliknya wartawan dan medialah yang secara aktif membentuk realitas. Realitas tercipta dalam konsepsi wartawan. Berbagai hal yang terjadi, fakta, orang diabstrakan menjadi peristiwa yang kemudian hadir dihadapan
32 Kritisisme media: AG. Eka Wenats Wiryanto.com diakses pada 29 November 2018, pukul 19.34 WIB.
khalayak. Jadi, bagaimana media membingkai peristiwa dalam konstruksi tertentu, sehingga yang menjadi titik perhatian bukan apakah media memberikan negatif atau positif, melainkan bagaimana bingkai yang dikembangkan oleh media.
c. Efek Framing
Framing berkaitan dengan bagaimana realitas di bingkai dan disajikan kepada khalayak. Sebuah realitas bisa saja dibingkai dan dimaknai secara berbeda oleh media. Bahkan pemaknaan itu bisa saja akan sangat berbeda. Realitas begitu komplek dan penuh dimensi, ketika dimuat dalam berita bisa jadi akan menjadi realitas satu dimensi. Framing berhubungan dengan pendefinisian realitas. Bagaimana peristiwa dipahami sumber siapa yang diwawancarai. Peristiwa yang sama dapat menghasilkan berita dan pada akhirnya realitas yang berbeda ketika peristiwa tersebut dibingkai dengan cara yang berbeda.33
Salah satu efek framing yang paling mendasar adalah realitas sosial yang kompleks, penuh dimensi dan tidak beraturan disajikan dalam berita sebagai sesuatu yang sederhana, beraturan dan memenuhi logika tertentu. Teori framing menunjukan bagaimana jurnalis membuat simplikasi, prioritas dan struktur tertentu dalam peristiwa. Karenanya framing menyediakan kunci bagaimana peristiwa dipahamin oleh media dan ditafsirkan dalam bentuk berita. Karena media melihat peristiwa dari kacamata tertentu. Maka realitas
setelah dilihat oleh khalayak adalah realitas yang sudah terbentuk oleh bingkai media.
Framing pada umunya ditandai dengan menonjolkan aspek tertentu dari realitas. Dalam penulisan sering disebut sebagai fokus berita secara sadar atau tidak diarahkan pada aspek tertentu. Akibatnya adalah aspek lainnya yang tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Disini, menampilkan aspek tertentu menyebabkan aspek lain yang penting dalam memahami realitas tidak mendapatkan liputan yang memadai dalam berita. Berita juga sering kali memfokuskan pemberitaan aktor tertentu. Tetapi efek yang akan segera terlihat adalah memfokuskan pada satu pihak actor tertentu yang menyebabkan aktor lain yang mungkin relevan dan penting dalam pemberitaan menjadi tersembunyi.34
d. Teknik Framing Dan Konsep Model Zhondhang Pan Dan Gerald M. Kosicki
Disiplin ilmu ini bekerja dengan didasarkan pada fakta bahwa konsep ini bisa ditemui di berbagai literatur lintas ilmu sosial dan ilmu perilaku. Secara sederhana, analisis framing mencoba untuk membangun sebuah komunikasi bahasa, visual, dan pelaku dan menyampaikannya kepada pihak lain atau menginterpretasikan dan mengklasifikasikan informasi baru. Melalui analisa bingkai, kita
mengetahui bagaimanakah pesan diartikan sehingga dapat
34 Ibid hal.144
diinterpretasikan secara efisien dalam hubungannya dengan ide penulis.
Framing didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi lebih dari yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut, menurut Pan dan Konsicki ada dua konsep dari framing yang saling berkaitan, yaitu konsep psikologis dan konsep sosiologis yaitu :
1) Dalam konsep psikologis, framing dilihat sebagai penempatan informasi dalam suatu konteks khusus dan menempatkan elemen tertentu dari suatu isu dengan penempatan lebih menonjol dalam kognisi seseorang. Elemen-elemen yang diseleksi itu menjadi lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan seseorang saat membuat keputusan tentang realitas.
2) Sedangkan konsep sosiologis framing dipahami sebagai
proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan,
mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya Dalam Zhondhang Pan Dan Gerald M Kosicki, kedua konsep tersebut diintegrasikan.
Secara umum konsepsi psikologis melihat frame sebagai persoalan internal pikiran seseorang, dan konsepsi sosiologis melihat frame dari sisi lingkungan sosial yang dikontruksi seseorang. Menurut Etnman, framing berita dapat dilakukan dengan empat teknik, yakni pertama, problem identifications yaitu peristiwa dilihat
sebagai apa dan nilai positif atau negatif apa, causal interpretations yaitu identifikasi penyebab masalah siapa yang dianggap penyebab masalah, treatmen rekomnedations yaitu menawarkan suatu cara
penanggulangan masalah dan kadang memprediksikan
penanggulannya, moral evaluations yaitu evaluasi moral penilaian atas penyebab masalah.35
Dalam model Zhongdan Pan Konsicki, yang digunakan dibagi dalam empat struktur besar, yaitu:
Tabel 2.2 Perangkat Framing STRUKTUR PERANGKAT FRAMING UNIT YANG DIAMATI SINTAKSIS Cara wartawan menyusun fakta
1. Skema Berita Headline, Lead,
Latar Informasi, Kutipan Sumber, Pernyataan, penutup. SKIP Cara wartawan mengisahkan fakta 2. Kelengkapan Berita 5W+ IH
TEMATIK 3. Detail Paragraf,
Cara wartawan menulis fakta 4. Koherensi 5. Bentuk Kalimat 6. Kata Ganti proposisi, kalimat, hubungan antar kalimat RETORIS Cara wartawan menekankan fakta 7. Leksikon 8. Grafis 9. Metafora Kata, Idiom, Gambar/foto, grafik 1) Sintaksis
Adalah cara wartawan dalam penyusunan peristiwa dalam bentuk susunan umum berita. Struktur sintaksi memiliki perangkat, yaitu:
• Headline merupakan berita yang dijadikan topik utama oleh media
• Lead (teras berita) merupakan paragraf pembuka dari sebuah berita yang biasanya mengandung kepentingan lebih tinggi. Struktur ini sangat tergantung pada ideologi penulis terhadap peristiwa.
• Latar informasi • Kutipan
• Sumber • Pernyataan 2) Skrip
Adalah cara wartawan mengisahkan fakta atau bagaimana wartawan menceritakan peristiwa ke dalam berita. Struktur skrip memfokuskan perangkat framing pada kelengkapan berita:
• What (apa) • When (kapan) • Who (siapa) • Where (di mana) • Why (mengapa) • How (bagaimana) 3) Tematik
adalah cara wartawan menulis fakta atau bagaimana wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat, atau antar hubungan hubungan kalimat yang memberntuk teks secara keseluruhan. Struktur tematik mempunyai perangkat framing, yaitu antara lain:
• Detail
• Maksud dan hubungan kalimat • Nominalisasi antar kalimat • Koherensi
• Bentuk kalimat
• Kata ganti, Unit yang diamati adalah paragraf atau proposisi
Adalah cara wartawan menekankan fakta, bagaimana menekankan arti tententu dalam suatu berita. Struktur retoris mempunyai perangkat framing:
• Leksikon/pilihan kata. Perangkat ini merupakan penekanan terhadap sesuatu yang penting. • Grafis
• Metafor
• Pengandaian. Unit yang diamati adalah kata, idiom, gambar/foto, dan grafis
Secara teknis, tidak mungkin bagi seorang jurnalis untuk men-framing seluruh bagian berita.Artinya, hanya bagian dari kejadian-kejadian (happening) penting dalam sebuah berita saja yang menjadi objek framing jurnalis.Namun, bagian-bagian kejadian penting ini sendiri merupakan salah satu aspek yang sangat ingin diketahui khalayak.Aspek lainnya adalah peristiwa atau ide yang diberitakan.
Framing dalam berita dilakukan dengan empat cara, yakni: pertama, pada identifikasi masalah (problem identification), yaitu peristiwa dilihat sebagai apa dan dengan nilai positif atau negatif apa; kedua, pada identifikasi penyebab masalah (causal interpretation), yaitu siapa yang dianggap penyebab masalah; ketiga, pada evaluasi moral (moral evaluation), yaitu penilaian atas penyebab masalah;
recommendation), yaitu menawarkan suatu cara penanganan masalah dan kadang kala memprediksikan hasilnya.36