• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Framing Pan dan Kosicki Pemberitaan mengenai Peringatan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian

4.2.3 Analisis Framing Pan dan Kosicki Pemberitaan mengenai Peringatan

Report.nz

1. Analisis Berita Asia Pacific Report.nz Edisi 1 Desember 2021

Judul : Raising West Papua‘s Banned Morning Star Flag- A Global Act of Solidarity

Reporter : Editor APR

Tabel 4. 9Analisis Berita 9

No Struktur Unit yang Diamati

Hasil Pengamatan

1 Struktur Sintaksis

Headline, Lead, Latar Informasi, Kutipan Sumber, Pernyataan, penutup

Headline: ―Raising West Papua‘s Banned Morning Star Flag- A Global Act of Solidarity‖.

(Mengibarkan Bendera Bintang Kejora yang Dilarang di Papua Barat-Tindakan Solidaritas Global)

Lead: From Auckland Tāmaki Makaurau in Aotearoa New Zealand to Paris, France, and from Wellington Te Whanganui-a-Tara to Jayapura and far beyond, thousands of people across the world today raised the Morning Star flag — banned by Indonesian authorities — in simple acts of defiance and solidarity with West Papuans.

78

(paragraf 1)

(Dari Auckland Tāmaki Makaurau di Aotearoa Selandia Baru ke Paris, Prancis, dan dari Wellington Te Whanganui-a-Tara ke Jayapura dan jauh di luar, ribuan orang di seluruh dunia hari ini mengibarkan bendera Bintang Kejora — dilarang oleh otoritas Indonesia — dalam tindakan sederhana pembangkangan dan solidaritas dengan orang Papua Barat).

Latar informasi dalam teks berita yaitu mengenai pengibaran bendera Bintang Kejora yang dilakukan di seluruh dunia dalam rangka memperingati hari kemerdekaan West Papua 1 Desember yang mana dilarang di Indonesia.

Kutipan sumber yang diambil yakni:

 Dr. Emalani Case, dosen pengajar Victoria University Pacific. (paragraf 4)

 Stefan Armbruster, jurnalis dari SBS News (paragraf 8)

 Ronny Kareni, perwakilan Australia dari United Liberation Movement of West Papua (ULMWP). (paragraf 10)

 Vedi Hadiz, WNI dan direktur lembaga Asia di University of Melbourne. (paragraf 14) Pernyataan yang diambil berupa kutipan langsung dan tidak langsung, yakni :

―Here in Aotearoa, we have the opportunity and the privilege of being able to raise the flag without being punished for it,‖ Dr Case

said. (paragraf 5)

(―Disini, di Aotearoa, kami memiliki kesempatan dan hak istimewa untuk dapat mengibarkan bendera tanpa dihukum karenanya‖ kata Dr. Case).

 In six decades of brutal civil conflict, hundreds of thousands of lives have been lost through combat and deprivation, and Indonesia has been criticised internationally for human rights abuses, reports Stefan Armbruster of SBS News. (paragraf 8) (Dalam enam dekade konflik sipil yang brutal, ratusan ribu nyawa telah hilang melalui pertempuran dan perampasan, dan Indonesia telah dikritik secara internasional karena pelanggaran HAM, lapor Stefan Armbruster dari SBS News).

―It brings tears of joy to me because many Papuan lives, those who have gone before me, have shed blood or spent time in prison, or died just because of raising the Morning Star flag,‖ Kareni, the Australian representative of the United Liberation Movement of West Papua (ULMWP), told SBS. (paragraf 10)

(―Ini membawa air mata kebahagiaan bagi saya karena banyak orang Papua yang hidup, mereka yang telah pergi sebelum saya, telah menumpahkan darah atau menghabiskan

80

waktu di penjara, atau meninggal hanya karena mengibarkan bendera Bintang Kejora‖

Kareni, perwakilan Australia dari ULMWP kepada SBS).

 Kareni, ―Commemorating the 60th anniversary for me demonstrates hope and also the continued spirit in fighting for our right to self-determination and West Papua to be free from Indonesia‘s brutal occupation‖.

(paragraf 11)

(Memperingati ulang tahun ke-60 bagi saya menunjukkan harapan dan juga semangat yang berkelanjutan dalam memperjuangkan hak kami untuk menentukan nasib sendiri dan West Papua untuk bebas dari pendudukan brutal Indonesia).

―It‘s a symbol of an aspiring independent state which would secede from the unitary Indonesian republic, so the flag itself isn‘t particularly welcome within official Indonesian political discourse,‖ said Vedi Hadiz, an Indonesian citizen and director of the Asia Institute at the University of Melbourne. (paragraf 14)

(―Ini adalah simbol negara merdeka yang ingin memisahkan diri dari NKRI, jadi bendera itu sendiri tidak terlalu diterima dalam wacana politik resmi Indonesia‖ kata Vedi Hadiz, WNI dan direktur Institut Asia di

Universitas tersebut, dari Melbourne).

 Hadiz, ―The raising of the flag is an expression of the grievances they hold against Indonesia for the way that economic and political governance and development has taken place over the last 60 years.‖

(paragraf 15)

(―Pengibaran bendera merupakan ekspresi dari keluhan yang mereka miliki terhadap Indonesia atas tata kelola dan pembangunan ekonomi serta politik yang telah berlangsung selama 60 tahun terakhir‖).

 Hadiz, ―But it‘s really part of the job of Indonesian officials to make a counterpoint that West Papua is a legitimate part of the unitary republic.‖ (paragraf 16)

(Tapi itu benar-benar bagian dari tugas pejabat Indonesia untuk membuat tandingan bahwa West Papua adalah bagian yang sah dari republik kesatuan).

―The five-pointed star has the cultural connection to the creation story, the seven blue lines represent the seven customary land groupings,‖ Kareni told SBS. (paragraf 22) (―Bintang berujung lima memiliki hubungan budaya dengan kisah penciptaan, tujuh garis biru mewakili tujuh pengelompokan tanah adat‖ kata Kareni kepada SBS).

―It‘s a milestone, 60 years, and we‘re still

82

waiting to freely sing the national anthem and freely fly the Morning Star flag so it‘s very significant for us, ‖ Kareni said.

(paragraf 32)

(―Ini tonggak sejarah, 60 tahun, dan kami masih menunggu untuk bebas menyanyikan lagu kebangsaan dan mengibarkan bendera Bintang Kejora secara bebas sehingga sangat berarti bagi kami‖ kata Kareni)

 Kareni, We still continue to fight, to claim our rights and sovereignty of the land and people.

(paragraf 33)

(kami masih terus berjuang, untuk mengklaim hak dan kedaulatan kami atas tanah rakyat).

Penutup dalam artikel ini yakni kutipan pernyataan dari Kareni terkait rakyat West Papua yang sampai sekarang masih terus berjuang untuk merdeka. (paragraf 33)

2 Struktur Skrip

What, Where, When, Who, Why, How.

What: Ribuan orang di seluruh dunia sedang melakukan aksi pengibaran bendera Bintang Kejora.

Where: Beberapa Negara di dunia.

When: 1 Desember 2021.

Who: Masyarakat dan para aktivis yang mendukung kemerdekaan West Papua

Why: Dalam rangka memperingati ulang tahun kemerdekaan West Papua yang ke-60

How: -

3 Struktur Tematik

Paragraf, Proposisi, Kalimat, Hubungan antar Kalimat.

Artikel ini terdiri dari 33 paragraf pendek, dimana artikel ini menggunakan empat kutipan sumber yang berbeda, dan penulis dalam memberikan pendapatnya terkadang disertai dengan pernyataan ahli.

Dalam teks berita ditemukan penggunaan kata hubung:

 And

 For

 Because 4 Struktur

Retoris

Kata, Idiom, Gambar atau Foto, Grafik.

Ditemukan adanya penggunaan kata ―brutal civil conflict‖ pada laporan Stefan Armbruster dari SBS News (paragraf 8) dan ―brutal occupation‖

pada kutipan pernyataan Kareni (paragraf 11) Ditemukan adanya penggunaan foto sepanjang keseluruhan artikel terkait orang-orang yang sedang melakukan pengibaran bendera bintang kejora. Contohnya:

Ditemukan juga adanya penggunaan video pendek dari twitter tentang aktivitas pengibaran bendera Bintang Kejora di West Papua.

84

Pada analisis struktur sintaksis berita 9, baik headline dan lead sudah cukup untuk mewakili keseluruhan isi berita. Artikel berita yang diterbitkan oleh APR ini berfokus pada aksi kelompok solidaritas global dalam memperingati hari kemerdekaan West Papua 1 Desember. Artikel ini sendiri secara garis besar dibangun berdasarkan pernyataan 3 narasumber (tokoh masyarakat). Dari kutipan-kutipan pernyataan tokoh yang dilampirkan, dapat dilihat bahwa APR lebih condong berpihak pada West Papua.

Artikel berita 9 dapat dianggap belum memenuhi unsur kelengkapan berita 5W+1H dari struktur skrip dikarenakan menghilangkan unsur how. Pada analisis tematik ditemukan bahwa untuk memperkuat pendapatnya sendiri, APR selalu menyertakan kutipan pernyataan narasumber. Kemudian, juga ditemukan beberapa kata hubung sebab seperti ―for‖ dan ―because‖.

Terakhir, pada analisis retoris ditemukan adanya penggunaan kata ―brutal civil conflict‖ pada kutipan pernyataan tidak langsung dari laporan Stefan Armbruster

dari SBS News yakni ―In six decades of brutal civil conflict, hundreds of thousands of lives have been lost through combat and deprivation, and Indonesia…,‖ (paragraf 8) yang artinya ―Dalam enam decade konflik sipil yang brutal, ratusan ribu nyawa telah hilang melalui pertempuran dan perampasan, dan Indonesia…,‖ dan kata

―brutal occupation‖ pada kutipan pernyataan langsung Kareni yakni ―…and also the continued spirit in fighting for our right to self-determination and West Papua to be free from Indonesia‘s brutal occupation‖ (paragraf 11) yang artinya‖...dan juga semangat yang terus menerus dalam memperjuangkan hak kami untuk menentukan nasib sendiri dan West Papua untuk bebas dari pendudukan brutal Indonesia‖. Dapat dilihat bahwa APR menggunakan kata ―brutal‖ yang maknanya buruk dalam menggambarkan konflik sipil yang terjadi di Papua, Indonesia dan seperti apa kependudukannya atas Papua. Hal seperti ini membuat Indonesia dipandang secara negatif karena pembaca akan beranggapan bahwa Indonesia kejam terhadap Papua.

Ditemukan juga sekitar 7 foto tokoh maupun aksi pengibaran bendera Bintang Kejora di berbagai Negara. Bahkan salah satu foto merupakan foto bendera bintang kejora yang berkibar berdampingan dengan bendera belanda di tahun 1961 serta penggunaan 1 video rekaman di twitter terkait aksi pengibaran bendera bintang kejora.

Penggunaan foto maupun video tersebut dapat dikatakan bertujuan untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa ada banyak pendukung kemerdekaan West Papua dan West Papua sebenarnya sudah dapat dikatakan merdeka sejak tahun 1961.

2. Analisis Berita Asia Pacific Report.nz Edisi 4 Desember 2021

Judul : Indonesian Police Charge 8 Papuan Youths with ‗Treason‘

Over Flying Morning Star

86

Reporter : Editor APR

Tabel 4. 10Analisis Berita 10

No Struktur Unit yang Diamati

Hasil Pengamatan

1 Struktur Sintaksis

Headline, Lead, Latar Informasi, Kutipan Sumber, Pernyataan, penutup

Headline: ―Indonesian Police Charge 8 Papuan Youths with ‗Treason‘ Over Flying Morning Star‖.

(Polisi Indonesia Mendakwa 8 Pemuda Papua dengan ‗Pengkhianatan‘ Karena Mengibarkan Bintang Kejora)

Lead: Eight youths have been declared suspects on charges of makar (treason, subversion, rebellion) for flying the banned Papuan independence flag Morning Star at the Cenderawasih Sports Centre in the capital Jayapura this week on December 1. (paragraf 1) (Delapan pemuda telah ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan makar (pengkhianatan, subversi, pemberontakan) karena mengibarkan bendera kemerdekaan Papua yang dilarang Bintang Kejora di Gelanggang Olahraga Cenderawasih, Jayapura minggu ini pada 1 Desember).

Latar Informasi yang diambil dari artikel ini yakni mengenai penanganan dan penangkapan oleh polisi kepada pelaku pengibaran bendera Bintang Kejora di seluruh Indonesia yang dilarang, dimana dianggap kasar dan tidak adil.

Kutipan sumber diambil dari pernyataan:

 Kabag Humas Polda Papua Kombes, AM Kamal. (paragraf 9)

 Direktur Amnesty Indonesia, Usman Hamid.

(paragraf 14)

 Beritabeta (paragraf 17)

 Kepala Divisi Humas Polres Ambon dan Kepulauan Ambon, Inspektur Polisi II Izaac Leatemia. (paragraf 20)

 Detik.com. (paragraf 21)

 Ketua AMP-KKB Yesaya Gobay. (paragraf 23)

Pernyataan yang diambil berupa kutipan langsung dan tidak langsung, yakni :

 Papua regional police public relations division head Senior Commissioner AM Kamal explained that seven of the youths were tasked with flying the flag and marching towards the Papua regional police headquarters (Mapolda) while carrying a banner with the Morning Star drawn on it.

The eighth person meanwhile was tasked with documenting the action and spreading it on social media.

The eight have been charged under Article 106 of the Criminal Code (KUHP) in conjunction with Article 110 of the KUHP in conjunction with Article 87 of the KUHP on

―plotting to commit crimes against state

88

security‖. (paragraf 9, 10 dan 11)

(Kabag Humas Polda Papua Kombes AM Kamal menjelaskan, 7 pemuda tersebut bertugas mengibarkan bendera dan berbaris menuju Mapolda Papua sambil membawa spanduk bergambar Bintang Kejora.

Sedangkan orang kedelapan bertugas mendokumentasikan aksi tersebut dan menyebarkannya di media sosial.

Kedelapan orang tersebut dijerat dengan Pasal 106 KUHP juncto, Pasal 110 KUHP juncto, Pasal 87 KUHP tentang

―bersekongkol untuk melakukan kejahatan terhadap keamanan negara‖)

―Currently the eight suspects are being held at the Papua Mapolda detention centre for further legal processing,‖ said Kamal.

(paragraf 12)

(―Saat ini ke delapan tersangka ditahan di rutan (rumah tahanan) Mapolda Papua untuk proses hukum lebih lanjut‖ kata Kamal).

―No one should be detained simply for peacefully expressing their political opinions,‖ said Amnesty‘s Indonesia director Usman Hamid, news agency reports said.

(paragraf 14)

(―Tidak seorang pun harus ditahan hanya karena mengekspresikan pendapat politik mereka secara damai‖ kata direktur Amnesty

Indonesia Usman Hamid, lapor kantor berita).

 In Ambon, Maluku, Beritabeta reports that a demonstration by scores of Papuan students marking Independence Day ended in chaos after it was forcibly broken up by police.

(paragraf 17)

(Di Ambon, Maluku, Beritabeta melaporkan aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa Papua yang menandai hari kemerdekaan berakhir ricuh setelah dibubarkan paksa oleh polisi).

 Ambon and the Ambon islands municipal police public relations division head, Second Police Inspector Izaac Leatemia, told journalists that the demonstration was broken up because the protesters did not have a permit from police. (paragraf 20)

(Kepala Divisi Humas Polres Ambon dan Kepulauan Ambon, Inspektur Polisi II IZaac Leatemia, mengatakan kepada wartawan bahwa demonstrasi dibubarkan karena para pengunjuk rasa tidak memiliki izin dari polisi.)

 In the Balinese provincial capital of Denpasar, a protest by the Bali City Committee Papua Student Alliance (AMP-KKB) and the Indonesian People‘s Front for West Papua (FRI-WP) ended in a clash with a vigilante group called the Nusantara Garuda Patriots (PGN), reports Detik.com.

90

(paragraf 21)

(Di ibukota provinsi Bali, Denpasar, protes oleh AMP-KKB dan FRI-WP berakhir dengan bentrokan dengan kelompok main hakim sendiri bernama PGN).

 The AMP-KKB said that 12 of its members were injured during the clash.

―Based on our data from the AMP there were 12 of our comrades (who suffered injuries).

Some were kicked by the PGN, and then there were comrades who were hit by rocks,‖, said AMP-KKB chairperson Yesaya Gobay.

(paragraf 22 dan 23)

(AMP-KKB mengatakan bahwa 12 anggotanya terluka dalam bentrokan tersebut.

―Berdasarkan data kami dari AMP ada 12 rekan kami (yang mengalami luka-luka). Ada yang ditendang PGN, lalu ada kawan-kawan yang kena batu‖ kata ketua AMP-KKB Yesaya Gobay.)

Penutup dari artikel ini yakni pernyataan dari ketua AMP-KKB Yesaya Gobay terkait kondisi para mahasiswa yang berunjuk rasa. (paragraf 23)

2 Struktur Skrip

What, Where, When, Who, Why, How.

What: Polisi tetapkan 8 tersangka pengibaran bendera Bintang Kejora atas tuduhan makar.

Where: - When: -

Who: Polisi Indonesia

Why: Karena tersangka mengibarkan bendera kemerdekaan Papua Bintang Kejora yang dilarang.

How: 8 orang dijerat dengan pasal 106 KUHP juncto, Pasal 110 KUHP juncto dan Pasal 87 KUHP tentang ―bersekongkol untuk melakukan kejahatan terhadap keamanan Negara‖.

3 Struktur Tematik

Paragraf, Proposisi, Kalimat, Hubungan antar Kalimat.

Artikel ini terdiri dari 23 paragraf pendek, dimana artikel ini menggunakan bermacam kutipan sumber dari media dan tokoh masyarakat.

Dalam teks berita ditemukan penggunaan kata hubung:

 And

 Because 4 Struktur

Retoris

Kata, Idiom, Gambar atau Foto, Grafik.

Pada bagian headline dari artikel 10 ini, ditemukan adanya penggunaan tanda baca (‗) dalam membingkai kata ‗treason‘ yang artinya pengkhianatan. Selanjutnya pada paragraf 21 ditemukan penggunaan kata ―vigilante group‖

dalam menggambarkan ormas Patriot Garuda Nusantara (PGN).

Ditemukan juga adanya penggunaan 2 foto yakni setelah headline (mahasiswa Papua yang sedang berunjuk rasa di Ambon) dan di dalam artikel (bendera bintang kejora yang berkibar di GOR Cenderawasih).

92

Pada analisis sintaksis berita 10, ditemukan bahwa baik headline dan lead sudah cukup mewakili isi berita. Secara keseluruhan, artikel berita 10 ini lebih menyoroti bagaimana perlakuan polisi Indonesia terhadap para pengunjuk rasa kemerdekaan West Papua yang dianggap kasar dan tidak adil. Karena selain memaparkan kasus penangkapan 8 pemuda pengibaran bendera GOR Cenderawasih, artikel ini juga memaparkan beberapa kasus serupa lainnya di berbagai daerah di Indonesia melalui 4 sumber referensi.

Selanjutnya pada analisis skrip, ditemukan bahwa artikel berita 10 belum memenuhi unsur kelengkapan isi berita yakni 5W+1H dimana unsur where dan when dihilangkan. Kemudian pada analisis struktur tematik saat memaparkan pendapatnya, APR selalu menyertai dengan kutipan pernyataan tokoh. Ditemukan juga penggunaan kata hubung sebab seperti ―because‖.

Terakhir, pada headline ditemukan penggunaan tanda kutip (‗) dalam membingkai kata ‗treason‘ yang berarti pengkhianatan, dapat dilihat bahwa APR ingin menonjolkan kata tersebut dan membuat pembaca akan lebih terfokus pada kata tersebut. Ditemukan juga adanya penggunaan kata ―vigilante group‖ yang artinya kelompok main hakim sendiri dalam menggambarkan PGN, dapat dilihat bahwa APR berusaha memberikan gambaran buruk terhadap organisasi masyarakat Indonesia tersebut dengan melabelinya sebagai organisasi ilegal.

3. Analisis Berita Asia Pacific Report.nz Edisi 6 Desember 2021

Judul : Yamin Kogoya: 60 Years Ago, Indonesia Invaded West Papua with Guns, 60 Years Later, They‘re Still Ruling with Guns

Reporter : Yamin Kagoya

Tabel 4. 11 Analisis Berita 11

No Struktur Unit yang Diamati

Hasil Pengamatan

1 Struktur Sintaksis

Headline, Lead, Latar Informasi, Kutipan Sumber, Pernyataan, penutup

Headline: ―Yamin Kogoya: 60 Years Ago, Indonesia Invaded West Papua with Guns, 60 Years Later, They‘re Still Ruling with Guns‖.

(Yamin Kogoya: 60 Tahun yang Lalu, Indonesia Menginvasi Papua Barat dengan Senjata, 60 Tahun Kemudian, Mereka Masih Memerintah dengan Senjata)

Lead: This past week marked 60 years since West Papua declared independence on 1 December 1961. (paragraf 1)

(Minggu terakhir ini menandai 60 tahun sejak West Papua mendeklarasikan kemerdekaan pada 1

94

Desember 1961).

Latar informasi dalam teks berita yakni mengenai sejarah pendudukan Indonesia di West Papua selama 60 tahun terakhir yang membuat rakyat Papua menderita karena mengalami ketidakadilan dan banyaknya pelanggaran HAM.

Kutipan sumber yang digunakan dalam artikel ini yakni pernyataan:

 Powes Parkop, gubernur ibukota Papua Nugini. (paragraf 3)

 Shamima Ali, koordinator dan aktivis HAM dari pusat krisis Fiji. (paragraf 8)

 SBS Australia. (paragraf 10)

 Amnesty International Indonesia. (paragraf 13)

 Ahmad Musthofa Kamal, Kepala Humas Polda Papua. (paragraf 17)

 Pendeta Socrates Sofyan Yoman. (paragraf 30)

Pernyataan yang diambil berupa kutipan langsung dan tidak langsung, yakni :

 Outraged by 60 years of silence and ignorance, Powes Parkop, the Governor of Papua New Guinea‘s capital, strongly condemned the PNG government in Port Moresby last week. He said the government should not ignore the crisis in the Indonesian-controlled region of New Guinea.

(paragraf 3)

(Marah karena 60 tahun diam dan tidak peduli, Powes Parkop, gubernur ibukota Papua Nugini, mengecam keras pemerintah PNG di Port Moresby pekan lalu. Dia mengatakan pemerintah tidak boleh mengabaikan krisis di wilayah Papua Nugini yang dikuasai Indonesia).

 Parkop accused the government of doing little to hold Indonesia accountable for decades of human rights violations in West Papua in a series of questions in Parliament directed at Foreign Minister Soroi Eoe.

(paragraf 4)

(Parkop menuduh pemerintah tidak berbuat banyak untuk meminta pertanggungjawaban Indonesia selama beberapa dekade pelanggaran HAM di Papua Barat dalam serangkaian pertanyaan di parlemen yang ditujukan kepada menteri luar negeri Soroi Eoe).

―Hiding under a policy of ‗Friends to All, Enemy to None‘ might be okay for the rest of the world, but it is total capitulation to Indonesian aggression and illegal occupation,‖ Parkop said. (paragraf 5) (―Bersembunyi dibawah kebijakan ‗teman untuk semua, tidak ada musuh‘ mungkin baik-baik saja untuk seluruh dunia, tetapi itu

96

adalah penyerahan total terhadap agresi dan pendudukan Indonesia secara ilegal‖ kata Parkop).

 Parkop, ―It is more a policy of seeing no evil, speaking no evil and to say no evil against the evils of Indonesia.‖ (paragraf 6)

(―Ini lebih merupakan kebijakan melihat tidak ada kejahatan, tidak berbicara kejahatan dan mengatakan tidak ada kejahatan melawan kejahatan Indonesia‖).

 Shamima Ali, coordinator and human rights activist from the crisis centre, said Pacific leaders — including Fiji — have been too silent on the issue of West Papua and the ignorance needed to stop. (paragraf 8) (Shamima Ali, koordinator dan aktivis HAM dari pusat krisis, mengatakan para pemimpin Pasifik –termasuk Fiji- terlalu diam tentang masalah Papua Barat dan ketidaktahuan perlu dihentikan).

Ali said that since Indonesia‘s occupation of West Papua, gross human rights violations — including enforced disappearances, bombings, rocket attacks, torture, arbitrary detention, beatings, killings, sexual torture, rape, forced birth control, forced abortions, displacement, starvation, and burnings– had sadly become an enforced ―way of life‖ for West Papuans. (paragraf 9)

(Ali mengatakan bahwa sejak pendudukan Indonesia di Papua Barat, pelanggaran HAM berat –termasuk penghilangan paksa, pemboman, serangan roket, penyiksaan, penahanan sewenang-wenang, pemukulan, pembunuhan, penyiksaan seksual, pemerkosaan, pengendalian kelahiran paksa, aborsi paksa, pemindahan, kelaparan, dan pembakaran- sayangnya telah menjadi ―cara hidup‖ yang dipaksakan bagi orang Papua Barat.)

SBS also narrated last week‘s commemoration of December 1 in Canberra, in which Papuans raised the banned Morning Star flag and expressed the significance of the flag-raising to Papuans. (paragraf 10) (SBS juga menceritakan peringatan 1 Desember di Canberra pekan lalu, dimana orang Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora yang dilarang dan menyatakan pentingnya pengibaran bendera bagi orang Papua.)

 Amnesty International Indonesia reported last Friday that police arrested and charged eight Papuan students for peacefully expressing their political opinions on December 1 — Papuans‘ Independence Day.

The report also stated that Papuans frequently face detention and charges for

98

peacefully expressing their political views.

But counterprotesters often assault Papuans under police watch with no repercussions.

(paragraf 13 dan 14)

(Amnesty International Indonesia melaporkan Jumat lalu bahwa polisi menangkap dan mendakwa 8 mahasiswa Papua karena mengekspresikan pendapat politik mereka secara damai pada 1 Desember –hari kemerdekaan Papua.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa orang Papua sering menghadapi penahanan dan tuduhan karena mengekspresikan pandangan politik mereka secara damai. Tapi kontra-pemrotes sering menyerang orang Papua di bawah pengawasan polisi tanpa dampak).

 In Ambon and Bali, 19 people were injured by police beatings, and 13 people were injured when protesters were physically attacked by counter-protesters who used racist language, reports Amnesty International Indonesia (AII). (paragraf 16) (di Ambon dan Bali, 19 orang terluka oleh pemukulan polisi, dan 13 orang terluka ketika pengunjuk rasa diserang secara fisik oleh para pengunjuk rasa yang menggunakan bahasa rasis, lapor AII).

 In West Papua, the Indonesian police are

also reported to have investigated eight young Papuans involved in raising the Morning Star flag in front of the Cenderawasih Sport Stadium, known as GOR in Jayapura Papua, according to the public relations Chief of Papua Police, Ahmad Musthofa Kamal. (paragraf 17)

(Di Papua Barat, polisi juga dilaporkan telah menyelidiki 8 pemuda Papua yang terlibat dalam pengibaran bendera Bintang Kejora di depan Stadion Olahraga Cenderawasih, yang dikenal sebagai GOR di Jayapura Papua, menurut Kepala Humas Polda Papua, Ahmad Musthofa Kamal).

 The Papuan church leaders stated in local media, Jubi, on Thursday November 25, that a massive military build-up and conflict between Indonesian security forces and TPNPB had resulted in displacing more than 60,000 Papuan civilians.

―More than 60,000 people have been displaced. Many children and mothers have been victims and died while in the evacuation camps,‖ said the chair of the Synod of West Papua Baptist Churches Reverend Socrates Sofyan Yoman. (paragraf 29 dan 30)

(Pemimpin gereja Papua menyatakan di media lokal Jubi, pada hari Kamis 25 November, bahwa pembangunan militer

100

besar-besaran dan konflik antara pasukan keamanan Indonesia dan TPNPB telah mengakibatkan lebih dari 60.000 warga sipil Papua mengungsi.

―Lebih dari 60.000 orang telah mengungsi.

Banyak anak dan ibu yang menjadi korban dan meninggal saat berada di pengungsian‖

kata ketua Sinode Gereja Baptis Papua Barat, Pendeta Socrates Sofyan Yoman).

Penutup dari artikel 11 ini yakni mengenai pendapat jurnalis terkait pemerintah Indonesia yang harus memilih apakah akan terus mengabaikan orang Papua dan menggunakan senjata dan bom untuk menghancurkan mereka atau mengenali mereka dengan perspektif baru.

(paragraf 40) 2 Struktur

Skrip

What, Where, When, Who, Why, How.

What: Yamin Kogoya membuat laporan khusus terkait pengalaman rakyat Papua selama pendudukan 60 tahun Indonesia.

Where: -

When: 6 Desember 2021 Who: Yamin Kogoya

Why: Dalam rangka memperingati 60 tahun deklarasi kemerdekaan West Papua sejak 1 Desember 1961.

How: Setelah 60 tahun, Indonesia masih memilih senjata dan bom dalam menangani orang Papua.

3 Struktur Tematik

Paragraf, Proposisi,

Artikel 11 ini terdiri dari 40 paragraf pendek, dimana artikel ini menggunakan 6 sumber

Kalimat, Hubungan antar Kalimat.

referensi dari bermacam tokoh masyarakat.

Dalam teks berita ditemukan penggunaan kata hubung:

 And

 But 4 Struktur

Retoris

Kata, Idiom, Gambar atau Foto, Grafik.

Ditemukan adanya penggunaan kata ―invaded‖

pada headline dan ―many‖ (paragraf 30).

Idiom ‗Friends to All, Enemy to None‘ (paragraf 5) dan ―It is more a policy of seeing no evil, speaking no evil and to say no evil against the evils of Indonesia.‖ (paragraf 6).

Penggunaan tanda baca (―…‖) pada kata ―way of life‖ (paragraf 9).

Artikel ini menggunakan dua video yakni video rekaman yang menunjukkan helikopter TNI menembak tanpa pandang bulu ke desa-desa sipil di distrik Suru-Suru, Yahukimo, Papua dan video rekaman militer Indonesia mengangkut tentara yang terluka untuk perawatan di rumah sakit.

102

Ditemukan juga adanya penggunaan 2 foto narasumber yakni Parkop dan kelompok solidaritas yang mendukung West Papua di Fiji.

Pada analisis berita 11, headline sendiri sudah cukup mewakili keseluruhan isi berita. Sementara lead dari artikel ini belum dapat mewakili isi berita dan harus didukung dengan paragraf penjelas berikutnya. Karena fokus dari artikel ini sendiri mengenai pengalaman dan sejarah tidak menyenangkan rakyat Papua selama pendudukan Indonesia, dapat dilihat kemana APR lebih condong berpihak. Artikel ini disusun berdasarkan berbagai macam pendapat narasumber yakni 6 narasumber yang membuat artikel ini sendiri sudah dapat dianggap lumayan lengkap.

Selanjutnya, artikel berita 11 ini belum memenuhi unsur kelengkapan berita yakni 5W+1H struktur skrip dimana menghilangkan unsur where. Kemudian pada analisis struktur tematik, ditemukan bahwa artikel ini disusun dari berbagai macam sumber referensi yang dapat memperkuat isi teks berita. Terakhir, ditemukan adanya penggunaan kata ―invaded‖ yang artinya menginvasi pada headline ―Yamin Kogoya:

60 years ago, Indonesia invaded West Papua with guns. 60 years later, they‘re still ruling with guns‖ (Yamin Kogoya: 60 Tahun yang Lalu, Indonesia Menginvasi Papua Barat dengan Senjata, 60 Tahun Kemudian, Mereka Masih Memerintah dengan Senjata), penggunaan kata menginvasi sendiri oleh APR dimaksudkan untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa Indonesia memasuki wilayah negara lain (West Papua) dengan mengerahkan angkatan bersenjata dengan maksud menyerang atau menguasai West Papua. Penggunaan kata ―many‖ yang artinya banyak dalam kutipan pernyataan Yoman ―…Many children and mothers have been victims and died while in the evacuation camps‖ (paragraf 30) yang artinya ―…Banyak anak dan ibu yang menjadi korban dan meninggal saat berada di pengungsian‖, kata ini membuat pembaca berpikiran bahwa jumlah ibu dan anak warga Papua yang mengungsi sangatlah banyak. Ditemukan juga penggunaan dua Idiom pada paragraf 5 dan 6 dalam kutipan pernyataan Parkop untuk menggambarkan Indonesia secara buruk. Ada juga penggunaan tanda baca (―…‖) pada kata ―way of life‖ yang artinya cara hidup dalam kutipan pernyataan tidak langsung dari yakni ―…..Indonesia‘s occupation of West Papua, gross human rights violations — including enforced disappearances, bombings, rocket attacks, torture, arbitrary detention, beatings, killings, sexual torture, rape, forced birth control, forced abortions, displacement,