HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Kondisi Daerah
B. ANALISIS DATA
3. Analisis Gabungan LQ dan DLQ
Analisis ini didasarkan pada penggabungan hasil LQ dan DLQ dengan mempunyai empat kriteria yang dapat digunakan untuk membaca hasil analisis gabungan tersebut. Dimana dalam hasil analisis akan ditemukan adanya reposisi dari komoditas sektor pertanian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI reposisi dapat diartikan dengan penempatan ke posisi yang berbeda atau baru, yang dalam hal ini reposisi berupa perubahan dari komoditas basis komoditas nonbasis, dan komoditas nonbasis menjadi komoditas basis di masa yang akan datang
Berikut empat kriteria yang digunakan untuk membaca analisis gabungan LQ dan DLQ yaitu, Jika LQ>1 dan DLQ>1 maka komoditas pertanian tersebut belum mengalami reposisi, sehingga komoditas tersebut akan tetap menjadi komoditas unggulan pada saat ini dan di masa yang akan datang. Sedangkan jika hasil LQ>1 dan DLQ<1 maka komoditas pertanian tersebut sudah mengalami reposisi, artinya komoditas tersebut tidak dapat diharapkan lagi untuk menjadi komoditas unggulan di masa yang akan datang.
Kemudian jika LQ<1 dan DLQ>1 maka komoditas pertanian tersebut mengalami reposisi dari komoditas nonbasis akan menjadi
komoditas basis (komoditas unggulan) pada masa yang akan datang, sedangkan jika LQ<1 dan DLQ<1 maka komoditas pertanian tersebut tidak mengalami reposisi dan akan tetap menjadi komoditas nonbasis baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Berikut hasil analisis dari masing-masing komoditas sektor pertanian di Kabupaten Bondowoso tahun 2014-2017:
a. Subsektor Tanaman Pangan
Analisis ini dilakukan dengan menggabungkan nilai dari LQ dan DLQ pada perhitungan komoditas subsektor tanaman pangan, adapun hasil analisis gabungan LQ dan DLQ pada subsektor tanaman pangan dapat dilihat pada tabel 4.14 berikut ini:
Tabel 4.14
Hasil Perhitungan Gabungan LQ dan DLQ Subsektor Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso Tahun 2014-2017
Subsektor Tanaman Pangan Rata- Rata LQ Rata- Rata DLQ Keterangan 1 Padi 1.00 1.02
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis
2 Jagung 1.01 0.69
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
3 Kedelai 0.99 0.42 Tetap menjadi komoditas nonbasis.
4
Kacang
Tanah 1.00 0.7
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
5
Kacang
Hijau 0.99 0.24
Tetap menjadi komoditas nonbasis.
6 Ubi Kayu 1.00 0.91
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
7 Ubi Jalar 0.97 0.21 Tetap menjadi komoditas nonbasis.
8
Bawang
Merah 0.98 1.38
Mengalami reposisi, dari komoditas nonbasis menjadi basis.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
9 Kentang 1.01 1.70
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis
10
Cabai
Besar 1.02 0.10
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
11 Cabai Kecil 1.00 1.19 Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi
komoditas basis. 12
Kacang
Panjang 1.01 0.38
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
13 Sawi 1.03 0.51
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
14 Kubis 0.99 0.07 Tetap menjadi komoditas nonbasis.
15 Ketimun 1.03 0.05
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
16 Labu Siam 1.00 1.07
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
17 Tomat 1.00 1.00
Hanya mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri
18 Mangga 1.02 0.89
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
19 Rambutan 1.03 1.70
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
20 Durian 1.04 0.22
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
21 Alpukat 0.99 0.05 Tetap menjadi komoditas nonbasis.
22 Pisang 1.03 0.13
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
23 Pepaya 1.00 0.70
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
24 Nangka 1.00 0.05
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
25 Jahe 1.23 1.83
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
26 Laos 1.07 0.02
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
27 Kencur 1.01 0.05
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
Sumber : BPS Kabupaten Bondowoso 2019, (Data Diolah).
Diketahui hasil dari perhitungan pada tabel 4.14 diatas terdapat hasil rata-rata analisis gabungan LQ dan DLQ komoditas pada subsektor tanaman pangan yang menghasilkan nilai LQ>1 dan DLQ>1 yang artinya komoditas tersebut tidak mengalami reposisi adalah padi, kentang, cabai besar, cabai kecil, labu siam,
rambutan, dan jahe. Sedangkan yang menghasilkan nilai LQ<1 dan DLQ>1 dengan artian bahwa komoditas pertanian tersebut mengalami reposisi dari komoditas nonbasis menjadi komoditas basis (komoditas unggulan) di masa yang akan datang adalah bawang merah.
Pada hasil perhitungan analisis LQ bawang merah nilainya 0.98 sedangkan pada DLQ nilainya 1.38, adanya peningkatan nilai tersebut dikarenakan adanya peningkatan jumlah komoditas bawang merah pada tahun 2017 jika dibandingkan dengan jumlah komoditas bawang merah pada tiga tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang terus melonjak, meskipun barangnya sedikit tetapi tetap dibutuhkan oleh masyarakat karena termasuk kedalam komoditas yang dibutuhkan oleh masyrakat setiap harinya. Oleh karena itu untuk meminimalisir kegagalan pasar pemerintah meningkatkan jumlah komoditas bawang merah melalui penanaman bawang merah organik pada daerah-daerah yang menghasilkan komoditas tersebut di Kabupaten Bondowoso melalui gerakan Kelompok Wanita Tani atau KWT.73
b. Subsektor Perkebunan
Analisis ini dilakukan dengan menggabungkan nilai dari LQ dan DLQ pada perhitungan komoditas subsektor perkebunan,
73 Nikke Arnita, Peran Komoditas Unggulan Sektor Pertanian dalam Meningkatkan Pengembangan Wilayah di Kabupaten Bondowoso. Jurnal Agrbisnis. 2017. Hal.55
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
adapun hasil analisis gabungan LQ dan DLQ pada subsektor tanaman pangan dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut ini:
Tabel 4.15
Hasil Perhitungan Gabungan LQ dan DLQ Subsektor Perkebunan Kabupaten Bondowoso Tahun 2014-2017
No Subsektor Perkebunan Rata- Rata LQ Rata-Rata DLQ Keterangan 1 Kelapa 1.00 0.48
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
2 Kakao 1.00 0.04
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
3
Kapuk
Randu 1.05 1.66
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
4 Jambu Mete 1.00 0.34
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
5 Cengkeh 1.03 1.99
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
6 Kopi 1.16 1.07
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
7 Tembakau 1.00 0.47
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
8 Tebu 1.04 1.05 Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
Sumber : BPS Kabupaten Bondowoso 2019, (Data Diolah).
Diketahui hasil dari perhitungan pada tabel 4.15 diatas terdapat hasil rata-rata analisis gabungan LQ dan DLQ komoditas pada subsektor perkebunan yang menghasilkan nilai LQ>1 dan DLQ>1 yang artinya komoditas tersebut tidak mengalami reposisi, sehingga tetap menjadi komoditas unggulan pada saat ini dan di masa yang akan datang adalah kapuk randu, cengkeh, kopi dan tebu.
c. Subsektor Peternakan
Analisis ini dilakukan dengan menggabungkan nilai dari LQ dan DLQ pada perhitungan komoditas subsektor peternakan, adapun hasil analisis gabungan LQ dan DLQ pada subsektor peternakan dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut ini:
Tabel 4.16
Hasil Perhitungan Gabungan LQ dan DLQ Subsektor Peternakan Kabupaten Bondowoso Tahun 2014-2017
Subsektor Peternakan Rata- Rata LQ Rata-Rata DLQ Keterangan 1 Sapi Perah 1.00 0.85
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
2 Sapi Potong
1.00 1.01
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
3 Kuda
1.00 1.67
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
4 Kambing
1.00 1.00
Hanya mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri.
5 Domba
1.00 0.52
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
6 Ayam Buras
1.00 0.30
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
7 Ayam Petelor
1.00 0.79
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
8 Ayam Pedaging
1.00 0.43
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
9 Itik
1.00 1.89
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
Sumber : BPS Kabupaten Bondowoso 2019, (Data Diolah).
Diketahui hasil dari perhitungan pada tabel 4.16 diatas terdapat hasil rata-rata analisis gabungan LQ dan DLQ komoditas pada subsektor peternakan yang menghasilkan nilai LQ>1 dan DLQ>1 yang artinya komoditas tersebut tidak mengalami reposisi
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
d. Subsektor Perikanan
Analisis ini dilakukan dengan menggabungkan nilai dari LQ dan DLQ pada perhitungan komoditas subsektor perikanan, adapun hasil analisis gabungan LQ dan DLQ pada subsektor perikanan dapat dilihat pada tabel 4.17 berikut ini:
Tabel 4.17
Hasil Perhitungan Gabungan LQ dan DLQ Subsektor Perikanan Kabupaten Bondowoso Tahun 2014-2017
Subsektor Perikanan Rata- Rata LQ Rata- Rata DLQ Keterangan 1 Budidaya 1.02 0.76
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
2 Perairan Umum 1.11 0.24
Mengalami reposisi, dari komoditas basis menjadi komoditas nonbasis.
3 Lahan Bebas 1.05 1.25
Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi komoditas basis.
Sumber : BPS Kabupaten Bondowoso 2019, (Data Diolah).
Diketahui hasil dari perhitungan pada tabel 4.16 diatas terdapat hasil rata-rata analisis gabungan LQ dan DLQ pada subsektor perikanan yang menghasilkan nilai LQ>1 dan DLQ>1 yang artinya komoditas tersebut tidak mengalami reposisi, sehingga tetap menjadi komoditas unggulan pada saat ini dan di masa yang akan datang adalah hasil perikanan yang berasal dari jenis perairan lahan bebas.
e. Subsektor Kehutanan
Analisis ini dilakukan dengan menggabungkan nilai dari LQ dan DLQ pada perhitungan komoditas subsektor kehutanan,
adapun hasil analisis gabungan LQ dan DLQ pada subsektor perikanan dapat dilihat pada tabel 4.18 berikut ini:
Tabel 4.18
Hasil Perhitungan Gabungan LQ dan DLQ Subsektor Kehutanan Kabupaten Bondowoso Tahun 2014-2017
Subsektor Kehutanan Rata- Rata LQ Rata- Rata DLQ Keterangan
1 Jati 1.11 1.69 Tidak mengalami reposisi, tetap menjadi
komoditas basis.
2 Getah
Pinus
1.00 0.25 Mengalami reposisi, dari komoditas
basis menjadi komoditas nonbasis.
3 Rimba Lain 1.08 0.31 Mengalami reposisi, dari komoditas
basis menjadi komoditas nonbasis. Sumber : BPS Kabupaten Bondowoso 2019, (Data Diolah).
Diketahui hasil dari perhitungan pada tabel 4.18 diatas terdapat hasil rata-rata analisis gabungan LQ dan DLQ komoditas subsektor kehutanan yang menghasilkan nilai LQ>1 dan DLQ>1 yang artinya komoditas tersebut tidak mengalami reposisi, dan tetap menjadi komoditas basis yaitu kayu jati.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan dari perhitungan analisis LQ, DLQ serta gabungan LQ dan DLQ maka didapatkan hasil penelitian yang diinterprestasikan dalam pembahasan berikut ini.
A. Komoditas Unggulan Sektor Pertanian di Kabupaten Bondowoso