D. Analisa Spektrometri
2. Analisis Gas Chramatography- Mass Spetroscopy (GC-MS)
Marques et al.(1997) mengungkapkan bahwa, sintesa senyawa baru yang belum terdapat standar sebagai nilai pembanding, maka analisa yang sesuai yaitu dengan analisa pendeteksian jumlah bobot molekulnya diantaranya menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS).
GCMS merupakan alat analisa yang memiliki 2 komponen utama yakni GC (Gas Chromatography) dan MS (Mass Spectroscopy), sehingga dari sekali analisa dengan menggunakan GC-MS, akan diperoleh dua informasi dasar sekaligus, yaitu kromatogram gas dan spektrum massa.
Gas Chromatography adalah analisa yang digunakan untuk
mengetahui jumlah komponen yang dikandung olah sampel; getah pinus hasil modifikasi dari setiap perlakuan yang ditentukan dalam penelitian ini. Prinsip analisa kromatografi gas adalah pemisahan komponen berdasarkan perbedaan laju gerak komponen-komponen yang akan diidentifikasi. Berat molekul dan polaritas komponen adalah faktor-faktor yang akan mempengaruhi perbedaan laju gerak tersebut. Komponen yang akan menguap pada waktu awal pemisahan komponen adalah komponen dengan berat molekul rendah dan polaritas yang rendah pula.
Komponen yang menguap dari Gas Chromatography akan diidentifikasi oleh Mass Spectroscopy menggunakan referensi data base yang tersedia. Analisa MS yang dilakukan dalam penelitian kali ini menggunakan database WILEY 275.L, NIST.L, W8085.L. Semakin banyak database akan lebih mengakurasikan hasil penafsiran dari kromatogram gas.
Tafsiran Kromatogram GC-MS
Tafsiran hasil infra merah (FTIR) diperkuat dengan kromatogram GC-MS yang ditampilkan. Ditunjukkan bahwa asam pimarat, asam dehidroabietat, asam neoabietat, asam palustrat mengalami kecenderungan untuk berkurang konsentrasinya, hal itu ditunjukkan dengan semakin kecilnya area yang ditunjukkan oleh puncak-puncak yang ada pada kromatogram. Sementara di sisi lain, konsenterasi asam abietat semakin meningkat yang ditunjukkan oleh semakin menguat dan melebarnya puncak area pada kromatogram GC-MS.
4 . 0 0 6 . 0 0 8 . 0 0 1 0 . 0 0 1 2 . 0 0 1 4 . 0 0 1 6 . 0 0 1 8 . 0 0 2 0 . 0 0 2 2 . 0 0 2 4 . 0 0 2 6 . 0 0 2 8 . 0 0 3 0 . 0 0 3 2 . 0 0 2 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 1 e + 0 7 1 . 2 e + 0 7 1 . 4 e + 0 7 1 . 6 e + 0 7 1 . 8 e + 0 7 2 e + 0 7 2 . 2 e + 0 7 2 . 4 e + 0 7 2 . 6 e + 0 7 2 . 8 e + 0 7 T im e - -> A b u n d a n c e T I C : S R . D 5 . 3 5 7 . 1 0 1 3 . 2 4 1 3 . 3 4 1 3 . 5 7 1 3 . 9 8 1 4 . 0 8 1 4 . 8 6 1 5 . 7 7 1 6 . 8 8 1 8 . 2 7 2 0 . 0 8
Gambar 14. Kromatogram Gas Bahan Baku (Getah Pinus Merkusii) Tabel 11. Tafsiran Hasil GCMS Bahan Baku (Getah Pinus Merkusii)
No. RT Area Formula Nama Senyawa Quality
1. 3.22 3,34 C10H16 Delta 3 Carene 97
2. 3.37 0,25 C10H16 Beta Pellandrene 95
3. 3.83 0,38 C10H16 Alpha-terpinolene 98
4. 5.35 18,68 C21H22FeN205 Besi (Iron) 87
5. 6.77 0,14 C15H24 Trans-Carryophylene 99
6. 7.09 15,44 C21H22FeN205 Besi (Iron) 91
9. 12.91 0,44 C20H30O2 7,15 Asam Isopimarat 35 11. 13.23 4,68 C20H30O2 Asam Pimarat 50 12. 13.56 30,79 C20H30O2 Asam Rosin 93 13. 13.71 8,67 C19H26O2 Asam Dehidroabietat 99 14. 13.98 10,46 C20H30O2 Asam Abietat 99 15. 14.28 5,09 C20H30O2 Asam Neobaietat 60
Dari hasil tafsiran analisa GCMS bahan baku, dapat diketahui bahwa komponen terbesar dari bahan baku adalah asam rosin dengan waktu retensi 13.56 menit dengan kualitas 99 dan kisaran area mencapai 30,79%. Menurut Wiyono (2006), asam rosin adalah merupakan gabungan dari asam pallustrat dan asam levopimarat. Komponen asam-asam resin lainnya seperti asam abietat, asam alpha pimarat, asam dehidroabietat, asam pallustrat dan asam neoabietat juga ditemukan dalam bahan baku, namun dengan jumlah yang relative lebih sedikit dibandingkan dengan asam rosin.
Shen Zaobang (1995), komponen asam abietat yang seharusnya ada pada Pinus adalah 4,1-20% Untuk membandingkan kadar asam abietat bahan baku, dikarenakan sampai saat ini belum ada standar yang baku, maka, kadar asam abietat bahan baku yang berupa getah pinus dibandingkan dengan kadar asam abietat yang terdapat pada olahan getah pinus yang ada di pasaran, yakni dalam bentuk gondorukem. Gondorukem atau dikenal juga dengan gum rosin adalah hasil penyulingan getah pinus yang komponen utamanya adalah asam-asam resin, terutama asam abietat. Wiyono et al (2008) mencatatkan bahwa gondorukem Indonesia memiliki kadar asam abietat sebesar 28,9%. Sedangkan apabila kita bandingakan kadar asam abietat gondorukem berdasarkan sumber bahan baku maka kadar asam abietat jawa barat 7,0, jawa timur 24,0, dan Sumatera Utara 33,8. Jika membandingkan dengan kadar asam abietat bahan baku dengan kadar asam abietat gondorukem, maka dapat dilihat bahwa kadar asam abietat bahan baku tergolong rendah. Namun demikian, hal tersebut dapat dimengerti karena pada bahan baku masih terdapat
banyak komponen terpenoid terutama senyawa C10H16 yang merupakan
senyawa dari minyak terpentin, sedangkan pada gondorukem senyawa-senyawa tersebut hampir sebagian besar sudah diuapkan sehingga kadar asam abietat menjadi semakin meningkat.
4 . 0 0 6 . 0 0 8 . 0 0 1 0 . 0 0 1 2 . 0 0 1 4 . 0 0 1 6 . 0 0 1 8 . 0 0 2 0 . 0 0 2 2 . 0 0 2 4 . 0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 1 4 0 0 0 0 0 1 6 0 0 0 0 0 1 8 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 2 4 0 0 0 0 0 2 6 0 0 0 0 0 2 8 0 0 0 0 0 T im e - - > A b u n d a n c e T I C : R D 4 . D 3 . 4 2 1 2 . 0 7 1 2 . 8 1 1 2 . 9 4 1 3 . 0 7 1 3 . 2 6 1 3 . 5 2
Gambar 15. Kromatogram gas asam abietat kasar RUN 1 (3% katalis nikel, 0 Bar Nitrogen)
Tabel 12. Tafsiran Hasil GCMS RUN 1 (3% katalis nikel, 0 Bar Nitrogen)
No. RT Area Formula Nama Senyawa Quality
1. 3.41 3,04 C10H16 Alpha Terpinolene 97 2. 3.70 4,21 C10H16 Alloocimene 98 3. 4.28 0,27 C10H18O Alpha Terpineol 95 4. 10.64 0,32 C20H30O2 Asam Isopimarat 86 5. 12.08 4,53 C15H24 Trans Carryophylene 6. 13.06 25,79 C20H30O2 Asam Rosin 95 7. 13.26 8,83 C19H26O2 Asam Dehidroabietat 99 8. 13.52 52,96 C20H30O2 Asam Abietat 99
Hasil analisa GCMS kombinasi perlakuan 3% katalis nikel pada 0 bar nitrogen diperoleh asam abietat sebagai komponen terbesar dengan total persentase sebesar 52,96% pada waktu retensi menit ke 13.52. Disusul oleh asam rosin; yang merupakan gabungan antara asam pallustrat dan asam levopimarat yang ditemukan pada menit ke 13.06 dengan luas area sebesar 25,79%, asam dehidroabietat dengan luas area 8,83% yang terdeteksi pada menit ke 13.26, trans carryophylene dengan luas area 4,53% yang terdeteksi pada menit ke 12.08, alloocimene dengan luas area 4,21% yang terdeteksi pada menit ke 3.70, alpha terpinolene dengan luas area 3,04% yang terdeteksi pada menit ke 3.41, asam isopimarat dengan total persentase sebesar 0,32% pada
Asam Abietat
Alpha terpinolene
Asam Dehidroabietat
Metil Abietat Asam Rosin
waktu retensi menit ke 10,64 dan terakhir alpha terpineol dengan luas area 0,27% yang terdeteksi pada menit ke 4.28.
Dari hasil analisa tersebut, dapat diperlihatkan total jumlah golongan asam adalah sebesar 87,95% yang terdiri atas asam abietat (52,96%), asam rosin (25,79%), asam dehidroabietat (8,83%), asam 7,15 isopimarat (0,32%). Dari golongan asam yang terdeteksi, hanya terdapat dua tipe asam resin yakni asam resin tipe pimarat (asam pimarat) dengan jumlah sebesar 0,32% dan asam resin tipe abietat (asam abietat, asam rosin, dan asam dehidroabietat) dengan jumlah sebesar 87,63%. Selain dari asam-asam rosin, terdapat juga senyawa terpen dan terpen-O. Pada asam abietat kasar RUN 8 ditemukan senyawa
terpen golongan C10H16 sejumlah 11,78% yang terdiri atas komponen alpha
terpinolene (3,04%), alloocimene (4,21%) dan trans carryophylene (4,53%), serta sisanya adalah golongan terpen-O sejumlah 0,27% dalam bentuk alpha terpineol.
Dari tabel 12, dapat diketahui bahwa asam abietat muncul pada menit ke 13.52. Dari hasil analisa tersebut juga dapat diketahui bahwa golongan terpen akan terdeteksi lebih dahulu, baru kemudian disusul oleh golongan terpen-O dan yang terakhir adalah golongan asam. Hal itu dapat dilihat pada tabel, dimana golongan terpen muncul pada menit ke 3.41 (alpha terpinolene) dan 3.70 (alloocimene), kemudian disusul oleh golongan terpen-O pada menit ke 4.28 (alpha terpineol). Selanjutnya adalah golongan asam-asam rosin yang memiliki bobot molekul lebih tinggi. Perbedaan waktu retensi dari tiap golongan ini tergantung pada bobot molekul masing-masing senyawa, semakin kecil bobot molekulnya maka akan lebih mudah senyawa tersebut menguap dan akhirnya tertangkap oleh syringer pada kromatografi. Setelah dideteksinya asam abietat pada menit ke 13.52, tidak ditemukan senyawa lainnya, maka waktu retensi dari senyawa RUN 8 adalah 14 menit.
4 .0 0 6 .0 0 8 .0 0 1 0 .0 0 1 2 .0 0 1 4 .0 0 1 6 .0 0 1 8 .0 0 2 0 .0 0 2 2 .0 0 2 4 .0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 1 4 0 0 0 0 0 1 6 0 0 0 0 0 1 8 0 0 0 0 0 T ime --> A b u n d a n c e T IC: R D 5 .D 3 .4 2 3 .7 1 4 .1 2 4 .2 9 1 2 .0 7 1 2 .8 1 1 2 .9 4 1 3 .0 6 1 3 .2 5 1 3 .5 2 1 7 .5 7 1 8 .3 6
Gambar 16. Kromatogram gas asam abietat kasar RUN 2 (3% katalis nikel, 2 Bar Nitrogen)
Tabel 13. Senyawa Hasil GCMS RUN 2 (3% katalis nikel, 2 Bar Nitrogen)
No. RT Area Formula Nama Senyawa Quality
1. 3.41 4,79 C10H16 Alpha Terpinolene 98 2. 3.70 2,23 C10H16 Alloocimene 97 3. 4.13 1,79 C10H18O Isoborneol 95 4. 4.28 1,39 C10H18O Alpha terpineol 94 5. 10.64 0,35 C20H30O2 7,15 Asam Isopimarat 91 6. 12.06 3,71 C15H24 Trans Carryophylene 7. 12.93 1,65 C21H32O2 Metil Abietat 55 8. 13.06 18,61 C20H30O2 Asam Rosin 86 9. 13.26 9,55 C19H26O2 Asam Dehidroabietat 10. 13.52 55,93 C20H30O2 Asam Abietat 99
Hasil analisa GCMS kombinasi perlakuan 3% katalis nikel pada 2 bar nitrogen diperoleh asam abietat sebagai komponen terbesar dengan total persentase sebesar 55,93% pada waktu retensi menit ke 13.52. Disusul oleh asam rosin; yang merupakan gabungan antara asam pallustrat dan asam levopimarat yang ditemukan pada menit ke 13.06 dengan luas area sebesar 18,61%, asam dehidroabietat dengan luas area 9,55% yang terdeteksi pada menit ke 13.26, alpha terpinolene dengan luas area 4,79% yang terdeteksi pada menit ke 3.41, trans carryophylene dengan luas area 3,71% yang terdeteksi pada menit ke 12.06, alloocimene dengan luas area 2,23% yang terdeteksi pada
Asam Abietat Asam Rosin Asam Dehidroabietat Alpha terpinolene Metil Abietat Alpha terpineol
menit ke 3.70, isoborneol dengan luas area 1,79% yang terdeteksi pada menit ke 4.13, metil abietat dengan luas area 1,65% yang terdeteksi pada menit ke 12.93, alpha terpineol dengan luas area 1,39% yang terdeteksi pada menit ke 4.28, dan terakhir asam 7,15 isopimarat dengan total persentase sebesar 0,35% pada waktu retensi menit ke 10,64.
Dari hasil analisa tersebut, dapat diperlihatkan total jumlah golongan asam adalah sebesar 87,95% yang terdiri atas asam abietat (55,93%), asam rosin (18,61%), asam dehidroabietat (9,55%), asam 7,15 isopimarat (0,35%), dan metil abietat (1,65%). Dari golongan asam yang terdeteksi, hanya terdapat dua tipe asam resin yakni asam resin tipe pimarat (asam pimarat) dengan jumlah sebesar 0,35% dan asam resin tipe abietat (asam abietat, asam rosin, dan asam dehidroabietat) dengan jumlah sebesar 87,60%. Selain dari asam-asam rosin, terdapat juga senyawa terpen dan terpen-O. Pada asam-asam abietat
RUN 8 ditemukan senyawa terpen golongan C10H16 sejumlah 9,22% yang
terdiri atas komponen alpha terpinolene (4,79%), alloocimene (2,23%) dan trans carryophylene (3,71%), serta sisanya adalah golongan terpen-O sejumlah 3,18% dalam bentuk isoborneol (1,79%) dan alpha terpineol (1,39%).
Dari tabel 13, dapat diketahui bahwa asam abietat muncul pada menit ke 13.52. Dari hasil analisa tersebut juga dapat diketahui bahwa golongan terpen akan terdeteksi lebih dahulu, baru kemudian disusul oleh golongan terpen-O dan yang terakhir adalah golongan asam. Hal itu dapat dilihat pada tabel, dimana golongan terpen muncul pada menit ke 3.41 (alpha terpinolene) dan 3.70 (alloocimene), kemudian disusul oleh golongan terpen-O pada menit ke 4.11 (isoborneol) dan menit ke 4.28 (alpha terpineol). Selanjutnya adalah golongan asam-asam rosin yang memiliki bobot molekul lebih tinggi. Perbedaan waktu retensi dari tiap golongan ini tergantung pada bobot molekul masing-masing senyawa, semakin kecil bobot molekulnya maka akan lebih mudah senyawa tersebut menguap dan akhirnya tertangkap oleh syringer pada kromatografi. Setelah dideteksinya asam abietat pada menit ke 13.52, tidak ditemukan senyawa lainnya, maka waktu retensi dari senyawa RUN 8 adalah 14 menit.
4 .0 0 6 .0 0 8 .0 0 1 0 .0 0 1 2 .0 0 1 4 .0 0 1 6 .0 0 1 8 .0 0 2 0 .0 0 2 2 .0 0 2 4 .0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 1 4 0 0 0 0 0 1 6 0 0 0 0 0 1 8 0 0 0 0 0 T ime --> A b u n d a n c e T IC: R D 6 .D 3 .4 2 3 .7 1 1 2 .0 7 1 2 .8 1 1 2 .9 4 1 3 .0 6 1 3 .5 2 1 4 .1 1 1 7 .5 7 1 8 .3 6
Gambar 17. Kromatogram gas asam abietat kasar RUN 3 (3% katalis nikel, 5 Bar Nitrogen)
Tabel 14. Tafsiran Hasil GCMS RUN 3 (3% katalis nikel, 5 Bar Nitrogen)
No. RT Area Formula Nama Senyawa Quality
1. 3.41 1,29 C10H16 Alpha Terpinolene 97 2. 3.70 1,77 C10H16 Alloocimene 96 3. 10.64 0,22 C20H30O2 7,15 Asam Isopimarat 68 4. 12.06 1,79 C15H24 Trans-carryophylene 83 5. 12.67 0,46 C19H26O2 Asam Dehidroabietat 98 6. 12.93 1,41 C21H32O2 Metil abietat 93 7. 13.06 9,59 C20H30O2 Asam Rosin 90 8. 13.52 56,64 C20H30O2 Asam Abietat 99 9. 14.11 26,83 C20H30O2 Asam Pallustrat 55
Hasil analisa GCMS kombinasi perlakuan 3% katalis nikel pada 5 bar nitrogen diperoleh asam abietat sebagai komponen terbesar dengan total persentase sebesar 56,64% pada waktu retensi menit ke 13.52. Disusul oleh asam pallustrat dengan luas area 26,83% yang terdeteksi pada menit ke 14.11, kemudian asam rosin; yang merupakan gabungan antara asam pallustrat dan asam levopimarat yang ditemukan pada menit ke 13.06 dengan luas area sebesar 9,59%, trans carryophylene dengan luas area 1,79% yang terdeteksi pada menit ke 12.06, alloocimene dengan luas area 1,77% yang terdeteksi pada menit ke 3.70, metil abietat dengan luas area 1,41% yang terdeteksi pada menit ke 12.93, alpha terpinolene dengan luas area 1,29% yang terdeteksi pada
Asam Abietat Trans Carryoph,ylene Asam Rosin Asam Pallustrat Alpha terpinolene Alloocimene Metil Abietat
menit ke 3.41, asam dehidroabietat dengan luas area 0,46% yang terdeteksi pada menit ke 12.67 dan yang terakhir adalah asam 7,15 isopimarat dengan luas area 0,22% yang terdeteksi pada menit ke 10.64.
Dari hasil analisa tersebut, dapat diperlihatkan total jumlah golongan asam adalah sebesar 95,15% yang terdiri atas asam abietat (56,64%), asam rosin (9,59%), asam pallustrat (26,83), asam dehidroabietat (0,46%), asam 7,15 isopimarat (0,22%), dan metil abietat (1,41%). Dari golongan asam yang terdeteksi, hanya terdapat dua tipe asam resin yakni asam resin tipe pimarat (asam pimarat) dengan jumlah sebesar 0,22% dan asam resin tipe abietat (asam abietat, asam rosin, asam pallustrat, dan asam dehidroabietat) dengan jumlah
sebesar 94,93%. Sisanya adalah senyawa terpen golongan C10H16 sejumlah
4,85% yang terdiri atas komponen alpha terpinolene (1,29%), alloocimene (1,77%) dan trans carryophylene (1,79%).
Dari tabel 14, dapat diketahui bahwa asam abietat muncul pada menit ke 13.52. Dari hasil analisa tersebut juga dapat diketahui bahwa golongan terpen akan terdeteksi lebih dahulu, baru kemudian disusul oleh senyawa asam. Hal itu dapat dilihat pada tabel, dimana golongan terpen muncul pada menit ke 3.41 (alpha terpinolene) dan 3.70 (alloocimene). Selanjutnya adalah golongan asam-asam rosin yang memiliki bobot molekul lebih tinggi. Perbedaan waktu retensi dari tiap golongan ini tergantung pada bobot molekul masing-masing senyawa, semakin kecil bobot molekulnya maka akan lebih mudah senyawa tersebut menguap dan akhirnya tertangkap oleh syringer pada kromatografi. Setelah dideteksinya asam pallustrat pada menit ke 14.11, tidak ditemukan senyawa lainnya, maka waktu retensi dari senyawa RUN 3 adalah 15 menit.
4 . 0 0 6 . 0 0 8 . 0 0 1 0 . 0 0 1 2 . 0 0 1 4 . 0 0 1 6 . 0 0 1 8 . 0 0 2 0 . 0 0 2 2 . 0 0 2 4 . 0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 1 4 0 0 0 0 0 1 6 0 0 0 0 0 1 8 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 2 4 0 0 0 0 0 2 6 0 0 0 0 0 2 8 0 0 0 0 0 T im e - - > A b u n d a n c e T I C : R D 7 . D 3 . 4 2 3 . 7 1 3 . 8 2 4 . 1 2 4 . 2 9 1 0 . 7 8 1 2 . 0 7 1 2 . 5 7 1 2 . 6 8 1 2 . 8 1 1 2 . 9 4 1 3 . 0 7 1 3 . 5 5 1 6 . 8 5 1 7 . 5 8 1 8 . 3 6 1 8 . 6 5
Gambar 18. Kromatogram gas asam abietat kasar GCMS RUN 4 (3% katalis nikel, 10 Bar Nitrogen)
Tabel 15. Senyawa Hasil GCMS RUN 4 (3% katalis nikel, 10 Bar Nitrogen)
No. RT Area Formula Nama Senyawa Quality
1. 3.41 2,51 C10H16 Alpha Terpinolene 98 2. 3.70 0,83 C10H16 Alloocimene 98 3. 3.83 0,41 C10H16 Alloocimene 95 4. 4.13 0,48 C10H18O Isoborneol 78 5. 4.28 0,55 C10H18O Alpha Terpineol 91 6. 10.45 0,12 C20H30O2 Asam sandrakopimarat 93 7. 10.64 0,24 C20H30O2 7,15 Asam Isopimarat 94 8. 12.08 1,45 C15H24 Trans-Carryophylene 87 9. 12.67 0,45 C19H26O2 Asam Dehidroabietat 99 10. 12.93 1,44 C21H32O2 Metil Abietat 38 11. 13.06 9,35 C20H30O2 Asam Rosin 91 12. 13.54 82,17 C20H30O2 Asam Abietat 99
Hasil analisa GCMS kombinasi perlakuan 3% katalis nikel pada 2 bar nitrogen diperoleh asam abietat sebagai komponen terbesar dengan total persentase sebesar 82,17% pada waktu retensi menit ke 13.54. Disusul oleh asam rosin; yang merupakan gabungan antara asam pallustrat dan asam levopimarat yang ditemukan pada menit ke 13.06 dengan luas area sebesar 9,35%, alpha terpinolene dengan luas area 2,51% yang terdeteksi pada menit ke 3.41, trans carryophylene dengan luas area 1,45% yang terdeteksi pada
Asam Abietat Asam Sandrakopimarat Alpha terpineol Isoborneol Asam Dehidroabietat Alpha terpinolene Alloocimene Asam 7,15 pimarat Trans Caryophylene
menit ke 12.08, metil abietat dengan luas area 1,44% yang terdeteksi pada menit ke 12.93, alloocimene dengan luas area 0,83 dan 0,41% yang terdeteksi pada menit ke 3.70 dan 3.83, alpha terpineol dengan luas area 0,55% yang terdeteksi pada menit ke 4.28, isoborneol dengan luas area 0,48% yang terdeteksi pada menit ke 4.13, asam 7,15 isopimarat dengan total persentase sebesar 0,24% pada waktu retensi menit ke 10,64, dan terakhir asam sandrakopimarat yang terdeteksi pada menit ke 10.45 dengan luasan area 0,12%
Dari tabel 14, dapat diketahui bahwa asam abietat muncul pada menit ke 13.52. Dari hasil analisa tersebut juga dapat diketahui bahwa golongan terpen akan terdeteksi lebih dahulu, baru kemudian disusul oleh golongan terpen-O dan yang terakhir adalah golongan asam. Hal itu dapat dilihat pada tabel, dimana golongan terpen muncul pada menit ke 3.41 (alpha terpinolene) dan 3.70 (alloocimene), kemudian disusul oleh golongan terpen-O pada menit ke 4.11 (isoborneol) dan menit ke 4.28 (alpha terpineol). Selanjutnya adalah golongan asam-asam rosin yang memiliki bobot molekul lebih tinggi. Perbedaan waktu retensi dari tiap golongan ini tergantung pada bobot molekul masing-masing senyawa, semakin kecil bobot molekulnya maka akan lebih mudah senyawa tersebut menguap dan akhirnya tertangkap oleh syringer pada kromatografi. Setelah dideteksinya asam abietat pada menit ke 13.52, tidak ditemukan senyawa lainnya, maka waktu retensi dari senyawa RUN 8 adalah 14 menit.
4 . 0 0 6 . 0 0 8 . 0 0 1 0 . 0 0 1 2 . 0 0 1 4 . 0 0 1 6 . 0 0 1 8 . 0 0 2 0 . 0 0 2 2 . 0 0 2 4 . 0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 1 4 0 0 0 0 0 1 6 0 0 0 0 0 1 8 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 2 4 0 0 0 0 0 2 6 0 0 0 0 0 2 8 0 0 0 0 0 T im e - - > A b u n d a n c e T I C : R D 4 . D 3 . 4 2 1 2 . 0 7 1 2 . 8 1 1 2 . 9 4 1 3 . 0 7 1 3 . 2 6 1 3 . 5 2
Gambar 19. Kromatogram gas asam abietat kasar RUN 1 (5% katalis nikel, 0 Bar Nitrogen)
Tabel 16. Senyawa Hasil GCMS RUN 5 (5% katalis nikel, 0 bar nitrogen)
No. RT Area Formula Nama Senyawa Quality
1. 3.41 2,83 C10H16 Alpha Terpinolene 97 2. 3.70 0,27 C10H16 Alloocimene 98 3. 4.28 0,52 C10H18O Alpha Terpineol 95 4. 10.64 0,32 C20H30O2 7,15 Asam Isopimarat 86 5. 12.08 3,09 C15H24 Trans Carryophylene 6. 12.93 1,69 C21H32O2 Metil abietat 47 7. 13.06 33,97 C20H30O2 Asam rosin 95 8. 13.26 9,48 C19H26O2 Asam Dehidroabietat 99 9. 13.52 47,83 C20H30O2 Asam Abietat 99
Hasil analisa GCMS kombinasi perlakuan 5% katalis nikel pada 0 bar nitrogen diperoleh asam abietat sebagai komponen terbesar dengan total persentase sebesar 47,83% pada waktu retensi menit ke 13.52. Disusul oleh asam rosin; yakni merupakan gabungan antara asam pallusstrat dan levopimarat yang ditemukan pada menit ke 13.06 dengan luas area sebesar 33,97%, kemudian secara berturut-turut diikuti oleh asam dehidroabietat dengan total persentase sebesar 9,48% pada waktu retensi menit ke 13.26, trans carryophylene dengan total persentase sebesar 3,09% pada waktu retensi menit ke 12.08, alpha terpinolene dengan total persentase sebesar 2,83% pada waktu retensi menit ke 3.41, metil abietat dengan total persentase sebesar 1,69% pada
Asam Rosin
Alpha Terpinolene
Asam Abietat
Asam Dehidroabietat
waktu retensi menit ke 12.93, alpha terpineol dengan total persentase sebesar 0,52% pada waktu retensi menit ke 4.28, asam 7, 15 isopimarat dengan total persentase sebesar 0,32% pada waktu retensi menit ke 10.64, dan terakhir adalah alloocimena dengan total persentase sebesar 0,27% pada waktu retensi menit ke 3.70.
Dari hasil analisa tersebut, dapat diperlihatkan total jumlah golongan asam adalah sebesar 93,26 % yang terdiri atas 7,15 asam isopimarat (0,32%), methyl abietat (1,69%), asam rosin (33,97%), asam abietat (47,83%), dan asam dehidroabietat (9,48%). Dari golongan asam yang terdeteksi, hanya asam 7,15 isopimarat yang merupakan asam rosin tipe pimarat sedangkan lainnya merupakan asam rosin tipe abietat. Selain dari asam-asam rosin, terdapat juga
komponen lainnya yakni komponen diterpen C10H16 dan C15H24 dengan jumlah
6,21% yakni alpha terpinolene (2,8%) dan alloocimene (0,27%), serta trans carryophylene (3,09%), sisanya adalah golongan terpen-O dalam bentuk alpha terpineol sebesar 0,52%.
Dari hasil analisa tersebut juga dapat diketahui bahwa golongan terpen akan terdeteksi lebih dahulu, baru kemudian disusul oleh golongan terpen-O dan yang terakhir adalah golongan asam. Hal itu dapat dilihat pada tabel, dimana golongan terpen muncul pada menit ke 3.41 (alpha terpinolene) dan 3.70 (alloocimene), kemudian disusul oleh golongan terpen-O yang ditemukan pada menit ke 4.28. Selanjutnya adalah golongan asam-asam rosin yang memiliki bobot molekul lebih tinggi. Perbedaan waktu retensi dari tiap golongan ini tergantung pada bobot molekul masing-masing senyawa, semakin kecil bobot molekulnya maka akan lebih mudah senyawa tersebut menguap dan akhirnya tertangkap oleh syringer pada kromatografi.
4 . 0 0 6 . 0 0 8 . 0 0 1 0 . 0 0 1 2 . 0 0 1 4 . 0 0 1 6 . 0 0 1 8 . 0 0 2 0 . 0 0 2 2 . 0 0 2 4 . 0 0 2 6 . 0 0 2 8 . 0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 1 4 0 0 0 0 0 1 6 0 0 0 0 0 1 8 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 2 4 0 0 0 0 0 2 6 0 0 0 0 0 2 8 0 0 0 0 0 T im e --> A b u n d a n c e T I C : D I S -1 . D 3 . 2 3 3 . 3 6 3 . 5 8 3 . 8 3 4 . 1 1 4 . 2 3 7 . 1 6 1 1 . 2 2 1 2 . 5 1 1 3 . 1 0 1 3 . 2 1 1 3 . 4 6 1 3 . 6 4 1 3 . 9 0 1 4 . 2 3 1 5 . 7 5 1 8 . 5 3 1 9 . 4 4 2 4 . 5 8 2 4 . 7 1 2 4 . 7 8
Gambar 20. Kromatogram gas asam abietat kasar RUN 6 (5% katalis nikel, 2 Bar Nitrogen)
Tabel 17. Senyawa Hasil GCMS RUN6 6 (5% katalis nikel, 2 Bar Nitrogen)
No. RT Area Formula Nama Senyawa Quality
1. 3.22 16,18 C10H16 Delta 3 Carene 96 2. 3.55 18,72 C10H16 D-Limonene 98 3. 3.83 1,64 C10H16 Alpha-Terpinolene 97 4. 4.11 1,62 C10H16 Alloocimene 97 5. 13.45 15,49 C20H30O2 Asam Rosin 70 6. 13.65 9,17 C19H26O2 Asam Dehidroabietat 93 7. 13.91 29,15 C20H30O2 Asam Abietat 99 8. 14.21 8,03 C20H30O2 Asam Neoabietat 91
Hasil analisa GCMS RUN 6 kombinasi perlakuan 5% katalis nikel pada 2 bar nitrogen diperoleh asam abietat sebagai komponen terbesar dengan total persentase sebesar 29,15% pada waktu retensi menit ke 13.91. Disusul berturut-turut oleh d-limonen dengan total persentase sebesar 18,72% pada waktu retensi menit ke 3.55, delta 3-carene dengan total persentase sebesar 16,18% pada waktu retensi menit ke 3.22, asam rosin; yakni merupakan gabungan antara asam pallusstrat dan levopimarat yang ditemukan pada menit ke 13.45 dengan luas area sebesar 15,49%. kemudian secara berturut-turut diikuti oleh asam dehidroabietat dengan total persentase sebesar 9,17% pada waktu retensi menit ke 13.65, asam neoabietat dengan total persentase sebesar
Asam Abietat Asam Dehidroabietat Alpha terpinolene Asam Rosin Delta 3 Carene Alloocimene Asam Neoabietat D-Limonene
8,03% pada waktu retensi menit ke 14.21, alpha terpinolene dengan total persentase sebesar 1,64% pada waktu retensi menit ke 3.83, dan terakhir adalah alloocimena dengan total persentase sebesar 1,62% pada waktu retensi menit ke 4.11.
Dari hasil analisa tersebut, dapat diperlihatkan total jumlah golongan asam adalah sebesar 61,84 % yang terdiri atas; asam rosin (15,49 %), asam abietat (29,15%%), asam dehidroabietat (9,17%) dan asam neoabietat (8,03%). Dari golongan asam yang terdeteksi, keseluruhannya merupakan asam rosin tipe abietat. Selain dari asam-asam rosin, komponen lainnya yakni adalah
komponen diterpen C10H16 dengan jumlah 38,16 % yang terdiri atas delta 3
carene (16,18), d-limonene (18,72), alpha terpinolene (1,64%) dan alloocimene (1,62%)
Dari tabel 17, dapat diketahui bahwa asam abietat muncul pada menit ke 13.91. Dari hasil analisa tersebut juga dapat diketahui bahwa golongan terpen akan terdeteksi lebih dahulu, baru kemudian disusul oleh golongan asam. Hal itu dapat dilihat pada tabel, dimana golongan terpen muncul pada menit ke 3.22 (delta 3 carene), 3.55 (d-limonene), 3.83 (alpha terpinolene) dan 4.11 (alloocimene). Selanjutnya adalah golongan asam-asam rosin yang memiliki bobot molekul lebih tinggi. Perbedaan waktu retensi dari tiap golongan ini tergantung pada bobot molekul masing-masing senyawa, semakin kecil bobot molekulnya maka akan lebih mudah senyawa tersebut menguap dan akhirnya tertangkap oleh syringer pada kromatografi. Setelah dideteksinya asam neoabietat pada menit ke 14.21, tidak ditemukan senyawa lainnya, maka waktu retensi dari senyawa RUN 6 ini adalah 15 menit.
4 . 0 0 6 . 0 0 8 . 0 0 1 0 . 0 0 1 2 . 0 0 1 4 . 0 0 1 6 . 0 0 1 8 . 0 0 2 0 . 0 0 2 2 . 0 0 2 4 . 0 0 5 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 5 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 2 5 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 3 5 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 4 5 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 5 5 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 6 5 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 7 5 0 0 0 0 T i m e - - > A b u n d a n c e T I C : R D 2 . D 3 . 4 2 3 . 7 1 4 . 2 9 1 2 . 0 7 1 3 . 0 4 1 3 . 4 9
Gambar 21. Kromatogram gas asam abietat kasar RUN 7 (5% katalis nikel, 5 Bar Nitrogen)
Tabel 18. Senyawa Hasil GCMS RUN 7 (5% katalis nikel, 5 Bar Nitrogen)
No. RT Area Formula Nama Senyawa Quality
1. 3.41 28,93 C10H16 Alpha-Terpinolene 96 2. 3.70 10,02 C10H16 Alloocimene 98 3. 4.11 3,65 C10H18O Isoborneol 91 4. 4.28 6,92 C10H18O Alpha Terpineol 95 5. 12.67 0,99 C19H26O2 Asam Dehidroabietat 99 6. 13.04 22,57 C20H30O2 Asam Isopimarat 92 7. 13.50 26,92 C20H30O2 Asam Abietat 99
Hasil analisa GCMS kombinasi perlakuan 5% katalis nikel pada 5 bar nitrogen diperoleh alpha terpinolene sebagai komponen terbesar dengan total persentase sebesar 28,93% pada waktu retensi menit ke 3.41. Disusul oleh asam abietat yang ditemukan pada menit ke 13.50 dengan luas area sebesar 26,92%, asam isopimarat dengan luas area 22,57% yang terdeteksi pada menit ke 13.04, alloocimene dengan luas area 10,02% yang terdeteksi pada menit ke 3.70, alpha terpineol dengan luas area 6,92% yang terdeteksi pada menit ke 4.28, isoborneol dengan luas area 3,65% yang terdeteksi pada menit ke 4.11, dan terakhir asam dehidroabietat dengan total persentase sebesar 0,99% pada waktu retensi menit ke 12.67.
Asam Abietat Asam Isopimarat Alpha Terpinolene Alpha Terpineol Asam Rosin Alloocimene
Dari hasil analisa tersebut, dapat diperlihatkan total jumlah golongan asam adalah sebesar 50,48% yang terdiri atas asam isopimarat (22,57%), asam abietat (26,92%), dan asam dehidroabietat (0,99%). Dari golongan asam yang terdeteksi, hanya terdapat dua tipe asam resin yakni asam resin tipe pimarat (asam pimarat) dengan jumlah sebesar 22,57% dan asam resin tipe abietat (asam abietat dan asam dehidroabietat) dengan jumlah sebesar 27,91%. Selain dari asam-asam rosin, terdapat juga senyawa terpen dan terpen-O. Pada asam
abietat RUN 7 ditemukan senyawa terpen golongan C10H16 sejumlah 39% yang
terdiri atas komponen alpha terpinolene (28,93%) dan alloocimene (10,02%), serta sisanya adalah golongan terpen-O sejumlah 9,52% dalam bentuk alpha terpineol (6,92%) dan isoborneol (3,65).
Dari tabel 18, dapat diketahui bahwa asam abietat muncul pada menit ke 13.50. Dari hasil analisa tersebut juga dapat diketahui bahwa golongan terpen akan terdeteksi lebih dahulu, baru kemudian disusul oleh golongan terpen-O dan yang terakhir adalah golongan asam. Hal itu dapat dilihat pada tabel, dimana golongan terpen muncul pada menit ke 3.41 (alpha terpinolene) dan 3.70 (alloocimene), kemudian disusul oleh golongan terpen-O pada menit ke 4.11 (isoborneol), 4.28 (alpha terpineol). Selanjutnya adalah golongan asam-asam rosin yang memiliki bobot molekul lebih tinggi. Perbedaan waktu retensi dari tiap golongan ini tergantung pada bobot molekul masing-masing senyawa, semakin kecil bobot molekulnya maka akan lebih mudah senyawa tersebut menguap dan akhirnya tertangkap oleh syringer pada kromatografi. Setelah dideteksinya asam abietat pada menit ke 13.50, tidak ditemukan senyawa lainnya, maka waktu retensi dari senyawa RUN 7 adalah 14 menit.