• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis gender dalam Sistem Kerja Perkebunan

BAB V RELASI GENDER DALAM SISTEM KERJA DI PERKEBUNAN GUNUNG

5.2  Relasi Gender dalam Sistem Kerja

5.2.2  Analisis gender dalam Sistem Kerja Perkebunan

Pembahasan sebelumnya menjabarkan relasi gender yang terjadi dalam sistem kapitalis yang dijalankan oleh perkebunan maupun dalam sistem kerja. Dalam pembahasan ini akan dianalisis sistem kerja di perkebunan secara lebih lanjut dengan melihat perbedaan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut dilihat dari kondisi sosial, ekonomi, dan kebijakan perkebunan terhadap keberadaan buruh khususnya pemetik di perkebunan. Analisis akses dan kontrol peluang kerja di Perkebunan Gunung Mas Tahun 2010 dengan menggunakan analisis Harvard sebagai alat analisis.

Peluang kerja di Perkebunan Gunung Mas terdiri dari berbagai posisi pekerjaan yang terdiri dari administratur, staf kantor induk, sinder, mandor, pekerja baik di pabrik teknik maupun kebun, dan pekerja di bagian agrowisata. Akses dan kontrol peluang kerja dalam hal ini melihat perbedaan peluang kerja yang diterima oleh laki-laki dan

perempuan dalam berbagai posisi pekerjaan di Perkebunan Gunung Mas yang ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2 Akses dan Kontrol Peluang Kerja di Perkebunan Gunung Mas Tahun 2010 Berdasarkan Analisis Harvard

No Peluang Kerja Laki-laki Perempuan Keterangan

(status kerja) Akses Kontrol Akses Kontrol

1. Administratur √ √ - - Karyawan

2. Staf Kantor

Induk √ - Karyawan

3. Sinder Kepala √ √ - - Karyawan

4. Sinder Afdeling √ √ - - Karyawan

5. Mandor Besar √ - - Karyawan Pelaksana I

6. Mandor - Karyawan Pelaksana I

7. Pekerja Pabrik √ - Pekerja Harian Tetap dan Lepas

8. Pekerja Teknik √ - - Pekerja Harian Tetap dan Lepas

9. Pemetik - Pekerja Harian Tetap

10. Pangkas - Pekerja Harian Tetap dan Lepas

11. Rawat √ - √ Pekerja Harian Tetap dan Lepas

12. Herbisida - - Pekerja Harian Tetap dan Lepas

13. Petugas Kebersihan

- - Pekerja Harian Tetap dan Lepas

14. Kasir Kantor

Induk √ - - Karyawan

15 Kasir Agrowisata - - Pekerja Harian Tetap

Sumber : Dikumpulkan penulis berdasarkan olahan catatan harian dari data primer hasil wawancara dan observasi di lapangan (2010)

Berdasarkan Tabel 2, dapat terlihat bahwa perempuan hanya berada pada posisi tertentu dalam pembagian kerja di perkebunan. Akses pekerja perempuan terbatas hanya pada pekerjaan tertentu antara lain pemetik, pekerja pabrik, pangkas, rawat, administrasi, dan kasir. Perempuan dianggap tidak memiliki keahlian tertentu sehingga hanya ditempatkan pada pekerjaan tertentu di perkebunan.

Mengutip teori yang dikemukakan Saptari dan Holzner (1997) menyebutkan bahwa ada empat bentuk marginalisasi, yaitu pengucilan, pergeseran perempuan ke pinggiran (margins), Feminisasi atau segregasi, dan ketimpangan ekonomi yang makin meningkat. Dalam hal ini pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan membuktikan teori yang dikemukakan oleh Scott. Bentuk marginalisasi dalam bentuk pengucilan terlihat dari pembagian kerja yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dimana perempuan ditempatkan pada jenis kerja upahan tertentu salah satunya adalah pemetik.

Pemetikan merupakan jenis pekerjaan yang mempunyai kelangsungan hidup tidak stabil, upah yang rendah, dan dianggap sebagai pekerjaan yang mudah serta dinilai tidak terampil sehingga terjadi pergeseran perempuan ke pinggiran (margins) akibat pembagian kerja. Akibatnya terjadi ketimpangan ekonomi yang meningkat antara laki-laki dan perempuan akibat perbedaan upah, perbedaan akses dan fasilitas kerja. Pekerja laki-laki umumnya memiliki sistem pengupahan yang stabil sebagai karyawan maupun pekerja dibagian lain. Pekerja laki-laki pun memiliki akses yang lebih besar dibandingkan dengan pekerja perempuan. Fasilitas yang diberikan kepada pekerja laki-laki lebih baik dibandingkan dengan pekerja perempuan.

Analisis Harvard juga dilakukan untuk melihat akses, kontrol, dan manfaat yang diterima pemetik dalam sistem kerja di perkebunan. Akses, kontrol, dan manfaat berdasarkan Analisis Harvard pada akan ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3 Profil Akses dan Kontrol dalam Wilayah Pemetikan di Perkebunan Gunung Mas Tahun 2010

No Keterangan Laki-laki Perempuan

Akses Kontrol Akses Kontrol Sumberdaya 1. Kebun Teh - √ - 2. Peralatan ‐  - 3. Uang (gaji) - - 4. Pelatihan - - 5. Lokasi Pemetikan - - 6. Jumlah Borongan - - 7. Waktu kerja - - 8. Hari Kerja - - 9. Status kerja - √ - 10. Naik golongan - - Manfaat 11. Pendapatan di luar pemetikan - √ - 12. Kekuasaan atasan - √ -

13. Kesempatan yang diberikan

atasan (mandor) - -

Sumber : Dikumpulkan penulis berdasarkan olahan catatan harian dari data primer hasil wawancara dan observasi di lapangan (2010)

Akses terhadap sumberdaya dan manfaat dalam pemetikan, didominasi oleh pekerja laki-laki dalam hal ini adalah mandor dan mandor besar. Pemetik hanya memiliki akses terhadap sumberdaya dan manfaat tersebut namun tidak memilki

kontrol. Dalam pemetikan, mandor dan mandor besar memiliki kekuasaan yang sangat besar untuk mengatur pekerja agar patuh terhadap kebijakannya, dan karena sebagian besar adalah perempuan maka kepatuhan lebih tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Perempuan ditempatkan pada pemetikan dipengaruhi dengan apa yang disebut oleh Saptari dan Holzner (1997) sebagai nilai feminitas perempuan dimana karakteristik perempuan dalam bentuk yang ideal seperti kerendahhatian dan ketaatan perempuan (modest dan submissive) serta keterampilan tangan perempuan (numble fingers). Dalam hal ini, perkebunan menempatkan perempuan sebagai pemetik sebab perempuan dianggap lebih taat dan patuh terhadap aturan dibandingkan dengan pekerja laki-laki. Selain itu, tangan perempuan lebih rapi dan terampil dalam memilih pucuk yang baik.

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan di perkebunan melahirkan suatu ketidakadilan gender dalam pekerjaan di perkebunan khususnya dalam pengupahan yang berdampak pada pekerja perempuan khususnya. Ketidakadilan tersebut tercermin dalam berbagai bentuk antara lain :

a. Subordinasi

Subordinasi adalah pandangan gender anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional sehingga tidak bisa tampil memimpin, akibatnya muncul sikap yang menempatkan perempuan pada posisi tidak penting (Fakih, 1996). Dalam pembagian kerja di perkebunan, subordinasi terhadap perempuan sangatlah terasa. Perempuan tidak pernah menempati posisi penting di perkebunan. Satu-satunya posisi penting yang baru ditempati perempuan saat ini adalah kepala bagian administrasi. Hal tersebut pun disebabkan karena perempuan dianggap lebih telaten dan rapi dalam mengatur administrasi (surat menyurat, perizinan, dan urusan administrasi lain).

Mandor perempuan dalam pekerjaan di kebun hanya terdapat di bagian perawatan, sedangkan di bagian pemetikan hanya terdapat mandor laki-laki saja. Hal

tersebut disebabkan karena perempuan dianggap tidak tegas dalam mengatur pemetik yang jumlahnya banyak, selain itu juga dianggap tidak akan dapat banyak membantu pemetik saat mengalami kesulitan seperti mengangkat pucuk. Namun, dalam kenyataan di lapangan mandor perempuan lebih tegas dalam bekerja, lebih objektf dalam melakukan penilaian terhadap pekerja, tidak hanya berdasarkan kedekatan. Selain itu, mandor laki-laki di lapangan pun tidak banyak membantu, hanya memperhatikan saja dan memberi perintah. Umumnya para pekerja melakukan seluruh pekerjaan sendiri.

Pandangan subordinasi juga membuat terjadinya pembagian kerja di perkebunan. Dimana perempuan hanya ditempatkan pada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang dianggap mudah, tidak terampil, tidak membutuhkan keahlian, dan hanya perempuan yang dapat melakukannya dengan baik. Pekerjaan tersebut menempatkan perempuan pada posisi yang dianggap tidak penting seperti administrasi yang menekankan ketelitian, pengepakan di pabrik yang menekankan kerapihan, dan pemetikan yang menekankan pada keterampilan tangan perempuan.

b. Stereotipe

Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Stereotipe selalu merugikan dan menimbulkan ketidakadilan bagi kelompok tertentu. Kehidupan masyarakat perkebunan adalah kehidupan yang unik, sebab masyarakat yang ada saat ini sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu sehingga kondisi sosial budaya masyarakat sudah dikonstruksi dalam kurun waktu yang sangat lama. Sejak dulu sampai hari ini, kehidupan di perkebunan identik dengan pembedaan antara buruh yang kehidupan sosial ekonominya pas-pasan dan manajemen (staf perkebunan) yang kehidupannya mewah.

Stereotipe yang selalu terdapat di perkebunan adalah bahwa perempuan perkebunan adalah perempuan ‘gampangan’ dan kehidupan perempuan yaitu pemetik

adalah identik dengan persaingan untuk menarik hati mandor dengan segala cara. Sejak dulu mandor dianggap memiliki kekuasaan dalam pekerjaan khususnya pemetikan, sehingga pemetik melakukan segala cara agar kehidupannya terjamin. Dulu stereotipe negatif tentang penggunaan susuk maupun pemetik yang bersolek hanya untuk menarik perhatian mandor sangatlah kental terasa di perkebunan.

Saat ini stereotipe negatif tersebut masih mengiringi pemetik teh, sebab hanya perempuan pemetiklah yang selalu tampil dengan dandanan menonjol dan bersolek setiap harinya, setelah sarapan di kebun, makan siang, dan sebelum pulang pemetik selalu merapikan riasannya. Selain itu, banyaknya pemetik yang berstatus janda dengan latar belakang pernikahan yang tidak jelas (berdasarkan keterangan responden namun harus dibuktikan dengan penelitian lebih lanjut) dan merokok membuat anggapan negatif terhadap pemetik sangatlah kuat. Hal tersebut berdampak pada pengucilan pemetik tertentu di masyarakat, walaupun saat ini masyarakat perkebunan lebih terbuka dalam artian tidak mengucilkan perseorangan secara langsung namun selentingan negatif terhadap pemetik masih sering terdengar. Selain itu stereotipe bahwa apapun yang dilakukan perempuan hanya dianggap sebagai sambilan berdampak pada rendahnya upah yang diterima oleh perempuan.

c. Kekerasan

Kekerasan yang dimaksud disini adalah kekerasan gender yang disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat. Umumnya kekerasan yang terjadi di perkebunan adalah kekerasan dalam bentuk pelecehan seksual. Dalam hal ini pelecehan seksual yang dimaksud adalah meminta imbalan seksual (melayani seks) dalam rangka janji untuk mendapatkan kerja atau untuk mendapatkan promosi dan janji-janji lainnya (Fakih, 1996). Di perkebunan khususnya dalam pemetikan kedekatan dengan mandor akan mempengaruhi pada kesempatan terhadap kenaikan golongan,

strip, peluang pendapatan di luar pemetikan (syuting, lomba, dan lain-lain), dan pengangkatan tetap dari lepas.

Kekerasan gender dalam hal ini terjadi akibat ketidaksetaraan kekuatan pada pemetik di perkebunan. Kedekatan dengan mandor dalam bentuk keakraban yaitu sering ngobrol dengan mandor, dekat dengan mandor, maupun kedekatan dengan mandor yaitu melayani mandor secara seksual. Hal tersebut sebagian besar disebabkan karena mandor memiliki kekuasan terhadap perbaikan kehidupan pemetik khususnya dalam pengangkatan tetap. Oleh sebab itu, imbalan seksual yang diberikan pemetik kepada mandor umumnya dapat membantu promosi pemetik tersebut, karena menurut keterangan narasumber kedekatan dengan mandor lebih berpengaruh dalam kesempatan misalkan diangkat tetap dibandingkan dengan prestasi yang dimiliki pekerja. Namun hal tersebut perlu diteliti lebih lanjut.

d. Beban Kerja

Beban kerja terjadi akibat adanya bias gender yang disebabkan oleh anggapan atau pandangan di masyarakat bahwa pekerjaan tertentu adalah pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh jenis kelamin tertentu. Di perkebunan anggapan bahwa perempuanlah yang mengerjakan pekerjaan domestik membuat terjadinya beban kerja bagi perempuan khususnya pemetik. Perempuan pemetik dalam hal ini bekerja lebih lama dan lebih berat baik di kebun maupun di rumahtangga. Di dalam pekerjaan produktif mereka sebagai pemetik perempuan harus berdiri dengan memikul beban yang berat dalam jangka waktu yang lama.

Pemetik dalam rumahtangga harus mengerjakan pekerjaan domestik yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Dalam hal ini, walaupun perempuan tersebut adalah pencari nafkah utama dalam rumahtangga dimana suami tidak memiliki pekerjaan, tetap perempuanlah yang diberikan kewajiban untuk melakukan pekerjaan

domestik sedangkan laki-laki tidak diwajibkan secara kultural untuk melakukannya karena dianggap sebagai kepala keluarga. Akibatnya perempuan mengalami beban kerja yang berlapis selain dalam pekerjaan produktif maupun domestik di rumahtangga. e. Marginalisasi

Marginalisasi atau peminggiran dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan akibat berbagai kejadian, namun marginalisasi yang disebabkan oleh perbedaan gender mengakibatkan pemiskinan terhadap jenis kelamin tertentu khususnya perempuan. Di perkebunan, marginalisasi pada perempuan terjadi akibat kebijakan perkebunan yang hanya berpihak pada jenis kelamin tertentu dalam hal ini laki-laki dan meminggirkan perempuan. Kebijakan tersebut terjadi dalam bentuk pembagian kerja di perkebunan yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu penempatan perempuan pada posisi pekerjaan yang dianggap tidak penting di perkebunan dengan upah rendah.

Kebijakan tersebut berdampak pada dibedakannya upah, fasilitas dan hak yang diterima pekerja laki-laki dan pekerja perempuan di perkebunan. Pekerja perempuan diberikan upah lebih rendah dibandingkan dengan pekerja laki-laki. Pekerja perempuan diberikan fasilitas terbatas dibandingkan dengan pekerja laki-laki. Hak pekerja perempuan dibatasi dalam serikat kerja sebab hanya mandor laki-laki saja yang dianggap dapat mewakili aspirasi pekerja. Dalam pemetikan, marginalisasi terjadi baik terhadap pekerja laki-laki dan pekerja perempuan sebab upah yang diberikan kepada pemetik adalah berdasarkan sistem borong.

Kebijakan perkebunan tersebut berdampak pada munculnya pengelompokkan dalam struktur masyarakat perkebunan. Masyarakat perkebunan terbagi kedalam kelompok kelompok di perkebunan yaitu kelompok manajemen dan kelompok buruh. Laki-laki dan perempuan dalam kelompok buruh termarginalkan akibat dibedakannya fasilitas, upah, dan jaminan yang diberikan perkebunan. Namun, proses pemiskinan

terjadi pada perempuan dalam kelompok buruh akibat marginalisasi dalam pembagian kerja di perkebunan yang berdampak pada dibedakannya upah dan fasilitas antara laki-laki dan perempuan, perempuan juga dimarginalkan dari posisi penting di perkebunan maupun pengambilan keputusan dalam serikat kerja di perkebunan.

Akibatnya proses pemiskinan terjadi pada perempuan kelompok buruh selain karena perempuan kelompok buruh dibedakan dalam pembagian kerja yang berdampak pada pembedaan upah dan fasilitas, pekerja perempuan juga dibedakan upah dan fasilitasnya dengan pekerja laki-laki. Pemiskinan pada perempuan tidak berhenti diranah produktif dan domestik sebab proses pemiskinan perempuan di perkebunan berlangsung terus menerus hingga saat ini akibat struktur dan kultur pekebunan yang masih menempatkan perempuan pada posisi kedua setelah laki-laki di dalam pekerjaan maupun diranah domestik.