• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS HISTORIS DAN GENERALISASI

B. Analisis Generalisasi

72

belum begitu kuat dari gagasan jahiliyah yang selama ini telah meresap dalam benak dan jiwa mereka.6

B.Analisis generalisasi

Ada banyak hadis dan al-Qur’an yang membicarakan tentang

permasalahan seni musik. Oleh karena itu, nash tersebut harus dikaji secara menyeluruh dan tidak boleh dikaji secara parsial. Karena jika dimaknai secara parsial, akan menghasilkan hukum yang saling berlawanan. Padahal syariat Islam tidak mungkin berselisih antar dalil yang satu dengan dalil yang lainnya.7

Memperhatikan nash-nash di atas, baik yang mengharamkan seni musik maupun yang menghalalkan seni musik, menyebabkan seorang tiba kepada sebuah kesimpulan bahwa ada kontroversial antara nash-nash yang membolehkan dengan nash-nash yang mengharamkan seni musik. Oleh karna itu kita perlu kembali kepada suatu kaidah ushul fiqh yang sudah masyhur dikalangan ulama, seperti apa yang dikatakan oleh imam syafi’i dalam kasus ini.8

Imama Syafi’i berpendapat, tidak dapat dibenarkan ada dua hadis shohih saling kontroversial yang salah satunya tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh hadis lainnya, bukan karena kekhususan keumuman lafadnya, karena tidak jelas maksudnya (mujmal), atau adanya penjelasan dalam nash lain. Tetapi sifat kontroversial itu hanya boleh terjadi dalam hal penasakhan

6

Shihab, Wawasan al-Qur’an, 390-391

7

Musahadi, Evolusi Konsep Sunnah, 157.

8

Ibid.; lihat juga, Imam Asy-Syaukani, Irsya>d al- Fuhul ila Tahqiq al Haq min Ilm al-Usu>l,

73

(penghapusan hukum yang lama ke yang baru), walaupun seorang mujtahid tidak menemukan nasakh tersebut.9

Imam al-Khat}t}habi juga mengemukakan hal serupa katanya:

Apabila ada dua hadis dari segi dzahir lafadznya berbeda, dapat diperkuat oleh slah satu diantara keduanya setelah ditentukan nilainya masing-masing hadis tersebut. Setelah itu, maka tidak boleh ditolak sama sekali atau dianggap antara keduanya saling bertentangan. Tetapi kedunya dipakai dan ditempatkan pada

posisinya masing-masing. Begitulah sikap ulama terhadap banyak hadis.10

Berdasarkan keterangan diatas maka sikap yang paling tepat, adalah mengambil kedua hadis tersebut yang kelihatannya saling bertentangan daripada menolak salah satu diantaranya. Bahkan sesungguhnya antara kedua hadis tersebut dapat dikatak tidak berlawanan satu dengan lainnya sebab setiap hadis telah disampaikan pada suatu peristiwa atau tempat-tempat yang saling berbeda, walaupun objek pembahasannya sama.

Salah satu isyarat pada matan hadis tersebut menunjukkan isyarat

pengharaman. Di antaranya dari sisi kata “menghalalkan”. Padahal sebenarnay hal itu dicela oleh Rasulallah, yang menyatakan bahwa “mereka menganggap halal”

sesuatu yang jelas-jelas keharamannya.

Penyandingan alat musik dengan zina, khamr, dan sutera, adalah isyarat adanya status hukum yang sejajar, yaitu sebagaimana diketahui adalah haram. Kalimat hadis yang isinya larangan, celaan pengingkaran, atau ada ancaman adzab, maka telah disepakati oleh para ulama bahwa hadis itu hukum asalnya larangan atau diharamkan, kecuali ada dalil yang membolehkan pada hal-hal tertentu. Sebaliknya jika kalimatnya perintah, anjuran, teladan, tidak mengingkari,

9

Musahadi, Evolusi Konsep Sunnah, 157.;Lihat juga ImamSyafi’i> al-Risalah, (Beirut: Dar al-Fikr

t.t), 352

74

atau kabar pahala, maka ini mengisyaratkan bahwa sesuatu yang demikian itu hukum wajib atau dihalalkan kecuali ada dalil yang melarang untuk hal-hal tertentu.

Dalam kaidah fiqh sudah disepakati bahwa mencegah mafsadat didahulukan daripada mendapatkan maslahat. Setiap dalil yang mengisyaratkan larangan pasti ada mafsadatnya, misalnya adalah adanya ancaman dosa dan juga yang lainnya. Oleh karena itu, jika dilihat dari hadis tersebut akan didapati adanya pengharaman yang lebih kuat daripada isyarat penghalalan.

Namun demikian hadis ini tidak dapat dipakai sebagai dalil untuk mengharamkan nyanyian dan penggunaan alat-alat musik secara mutlak. Di dalam hadis ini meskipun terdapat qarinah (tanda penunjukan) bahwa mereka telah berani menghalalkan perzinaan, memakai sutera, menenggak Khamr, dan memainkan alat-alat musik. Akan tetapi hukum musik tidak bisa serta merta disamakan dengan hukum perzinaan dan meminum khamr yang sudah jelas keharamannya. Pemakaian sutera dan memainkan alat-alat musik telah diatur oleh ulama

Mengenai sutera, ulama telah menghalalkannya bagi kaum wanita, tetapi haram bagi kaum lelaki kecuali ada alasan yang membolehkannya. Misalnya, bila seorang menderita penyakit kulit (semisal eksim), maka ia mendapat rukhsah

(keringanan) dan ia boleh memakainya. Semua keterangan tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud pemakai sutera dalam hadis tersebut adalah orang-orang yang menghalalkan pemakaian sutera bagi kaum lelaki secara mutlak tanpa kecuali. Begitu pula tentang penggunaan alat-alat musik, ulama telah

75

membolehkannya dalam pesta pernikahan atau pada hari raya dan hari-hari gembira lainnya.

Hadis yang melarang musik berkaitan dengan memainkan musik secara umum. Sedangkan hadis yang membolehkannya bersifat khusus, yakni terbatas pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu. Misalnya, hari raya, pesta pernikahan, dan sebagainya. Kekhususan tersebut ditunjukkan oleh sabda Rasulullah SAW dalam hadis-hadis yang membolehkan musik dan nyanyian, antara lain sikap beliau kepada Abu Bakar yang ketika itu menegur dua wanita yang sedang bernyanyi di rumah Rasulullah SAW.:

Biarkanlah mereka (melanjutkan nyanyiannya), wahai Abu Bakar sebab hari ini

adalah hari raya11

Begitu pula halnya dengan sabda Rasulallah SAW kepada seorang wanita yang telah bernazar untuk memukul rebana dihadapan beliau sambil bernyanyi, Rasulullah SAW berkata kepada wanita itu: “Jika engkau sudah menetapkan nazarmu, maka lakukan lah (sesuai dengan nazar itu)”

Kedua hadis di atas mengkhususkan umumnya nash-nash yang mengharamkan nyanyian serta membatasinya, yakni membolehkannya dalam kondisi dan keadaan tertentu. Kekhususan ini menunjukkan posisi hukumnya, yaitu makruh melakukan nyanyian apabila dilakukan secara terus-menerus. Syaratnya adalah tidak bercampur dengan kemunkaran. Jika telah bercampur maka hukumya haram.

11

76

Untuk menemukan makna setiap hadis tidak cukup mengkaji satu hadis saja tanpa didukung hadis-hadis yang lain yang setema dengan hadis yang dikaji. Dalam hadis-hadis musik dan nyanyian ini, terdapat setema yang menyatakan keharaman untuk menjual belikan penyanyi, mengambil keuntungan dan merima upah dari hasil menyanyi.

Dengan adanya hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa keharaman dalam seni musik bukan karena memainkan alat musik maupun menyanyi melainkan dengan adanya jual beli penyanyi, mengambil keuntungan dan

mengambil upah dari hasil menyanyi. Oleh karena itu, lafadh “mereka

menghalalkan zina, meminum khamr, dan memainkan alat musik” adalah lafadh

yang berbentuk umum yang tidak dapat dipakai sebelum adanya hadis yang mengkhususkannya.

Selain hadis yang setema, al-Qur’an juga dibutuhkan untuk mencari

makna hadis-hadis diatas. Di dalam al-Qur’an ditemukan beberapa ayat yang membicarakan tentang seni musik. Diantaranya adalah surah al-Luqman ayat; 6 dan 19, surah al-Isra’ ayat; 64, surah an-Najm ayat; 59-61.

Dalam isi kandungan ayat-ayat tersebut, menurut sebagian pakar tafsir berbicara tentang nyanyian, sementara menurut sebagian yang lain ayat tersebut tidak membicarakan demikian. Mereka saling memegang argumentasinya masing-masing dalam membela keyakinanya. Apapun alasan yang mereka kemukakan, penyusun melihat adanya kebenaran dalam kedua pendapat tersebut, asal ditempatkan pada waktu dan peristiwa yang tepat.

77

Para pakar tafsir yang mengambil pengertian bahwa ayat tersebut adalah nyanyian, berargumen bahwa nyanyian adalah sesuatu yang dapat melalaikan dan merupakan perbuatan sia-sia. Sementara yang menyatakan bahwa ayat itu bukan ayat yang berisi nyanyian, berargumen bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara ayat tersebut dengan nyayian. Oleh karena itu, nyanyian bisa termasuk sesuatu yang diharamkan jika telah melalaikan hamba dari tuhan. Namun bisa jadi sebaliknya, nyanyian akan menjadi sesuatu yang menghalalkan jika menambah keimanan dan memberikan semangat dalam mengabdi kepada Tuhan.

Orang-orang yang sengaja menyibukkan diri dengan maksud tidak mendirikan sholat walaupun apa yang dilakukannya dengan membaca al-Qur’an,

membaca buku-buku hadis, mencari bahan untuk pengajian, atau menyibukkan diri dengan nyanyian atau serupa dengannya, maka orang tersebut adalah fasiq dan telah berbuat maksiat. Adapun yang tidak meninggalkan sesuatu dari apa yang telah diwajibkan walaupun ia sibuk dengan apa yang telah diuraikan di atas, maka orang tersebut adalah muhsin.

Selain pertimbangan kaidah-kaidah ulum al-hadi>s, maka perlu juga melihat realitas historis masyarakat Arab waktu itu. Dilihat dari aspek sejarah kebudayaan Arab yang sudah dikenal sebagai bangsa yang mahir bersyair, bernyanyi dan berpidato maka tidak heran ketika Islam datang mereka masih melestarikan kebudayaannya. Bernyanyi dan bermain musik saat itu tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki saja, tetapi juga kaum wanita yang memainkan

78

musik di rumah seperti duff (tamborin) qussaba dan muzma (alat musik sejenis seruling)12

Keahlian orang-orang Arab dalam bernyanyi dan membuat syair semakin meningkat setelah hadirnya agama Islam ditengah-tengah mereka. Hal ini karena al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam dengan bahasanya

yang maha indah telah menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan bakat seni mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak menekan perkembangan seni musik, bahkan memberikan inspirasi bagi kemajuan seni musik dengan hadirnya

al-Qur’an.

Di samping itu, hijrahnya Rasulullah dari mekkah ke Yatsrib disambut dengan shalawat Badar oleh para kaum Anshar. Padahal shalawat Badar itu dilakukan dengan cara melantunkan, yakni dengan cara menyanyikannya. Hal ini cukup memberikan bukti bahwa musik atau pun yang sejenisnya pada masa Nabi tidak dilarang, melainkan hanya dibatasi.

12

79 BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

Dari paparan skripsi yang telah dikemukakan empat bab sebelumnya, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Makna hadis yang terkandung dalam hadis-hadis tersebut adalah al-maa>zif alat-alat musik dan permainan, contohnya; al-‘ud (sejenis kecapi), tanbu>r (gitar atau rebab), dikatakan pula duf dan a>zif artinya al-mughanni> (penyanyi) dan al-la>’ibu biha> (yang memainkannya), atau nama bagi setiap alat musik yang dimainkan seperti seruling rebab atau gitar, terompet, simbal atau kecrekan. Sedangkan al-qaynah berarti penyanyi yang dulunya budak, muzma>r yang berarti seruling atau terompet, al-ku>bah} yang berarti gendang, ada pendapat lain yang mengatakan al-ku>bah adalah permainan dadu atau semua jenis musik yang bersenar, seperti; harpa, biola, gitar dari seluruh alat musik yang ada begitu pula nyanyian. 2. Dalam konteks kekinian, hadis ini direlevansikan pada umat Islam sekarang

yang mendengarkan atau memainkan musik dengan harus memperhatikan faktor-faktor berikut: Pertama, lirik lagu yang dilantunkan. Kedua, alat musik yan digunakan. Ketiga, cara penampilan. Keempat, akibat yang ditimbulkan. Kelima, aspek tasyabuh atau keserupaan dengan orang kafir.

80

B.Saran-saran

Penyusun mengakui, bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Keterbatasan penyusun dalam mengkaji data menyebabkan mudahnya mendapati kekurangan dalam skripsi ini. Besar harapan penyusun kepada pengkaji Ma’a>nil Hadi>s terhadap kajian ini, untuk memberi kritik demi penyempurnaan kajian.

DAFTAR PUSTAKA

Abadi Mujid al-Di>n Muh}ammad Ibn Ya’qub al-Fairuz. al-Qamu>s al-Muh}it Juz II Beirut: Da>r al-Fikr, tt.

Al-Albani Muhammad Nasiruddin. Assilsilah As-shahihah, Riyadh: Maktabah

Ma’arif t.t.

. Iman wa Muallimah wa Sunnanah Wastikmala Wadarajatuhu, t.k.: Maktabah Ma’arif, 2000.

. Shahih wa Dhoif Abi Dawu>d, (Iskandaria:

Markaz Nurul Islam Liabhasil Qur’an wa Sunnah, t.t) 244.

Al-Asqalani Fathul Bari Hafiz} Ahmad Ali bin Hajar. Fathul Bari’ bi Syarah

Shahih al-Bukhori, Juz 10, t.k: Da>r al-Fikr, t.t.

Al-Baghdadi Abdurahman. Seni Dalam Pandangan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1991.

Al-Bukha>ri> Al-Ima>m wa Abu> al Hasan al-Sindi. Shahi>h Bukha>ri> biha>siyat al-Ima>m al-Sindi, Juz 14 Be>irut: Da>r al-Kutub al- Ilmiyah, 2008.

.Shahi>h Bukha>ri> biha>siyat al-Ima>m al-Sindi, Juz 2 Be>irut: Da>r al-Kutub al- Ilmiyah, 2008.

Bungin Burhan. Metode Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metode kea rah Ragam Varian Kontemporer Jakarta: RajaGrafindo, 2007.

Bustamin dan M. Isa H. A. Salam, Metodologi Kritik Hadis Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.

Dawu>d Abu>.Sunan Abu> Dawu>d, Juz III t.k.: Muassah Ar-Risalah, t.t.

>. Sunan Abu> Dawu>d, Juz IV t.k.: al-Maktabah Ma’arif,

2000.

Farmer Henry George. Musik Religious Islam, dalam Abdul Jabbar, Seni Dalam Peradaban Islam, Bandugng: Penerbit Pustaka, 1988.

Al-Ghazali> Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad. Ihya’ ‘Ulum al- Din, Jilid VI t.k. Dar al-Fikr 1991.

Al-Hamidi Muhammad bin Futuh. al-Jami’ baina al-Shahihain al-Bukha>ri wa Muslim, Juz I, (Beirut: Libanon, 2002.

Hajar Al-Araqi, Ibn. Majma’ Az-Zawaid Wamanba’ul Fawaid, t.k.: Maktabah

Ma’arif, t.t.

HAM Musahadi. Evolusi konsep Sunnah: Implikasinya Pada Perkembangan Hukum Islam Semarang: Aneka Ilmu, 2000.

HanbalAh}mad Ibn. MusnadAh}mad Ibn Hanbal, t.k.: al-Muassah Ar-Risalah, t.t. Hibban, Muhammad bin. Shahih Ibn Hibban, Juz 15 Beirut: Muassasah

Ar-Risalah, 1993.

Ibnu Qayyim, al-Ighasa>h, (Maktabah Ibnu Taymiyah wa Ibnu Jauzy, al-Masa>hah al-Mata>hah,tt).

Al-Khat}t}abi. al-Ma’a>limJilid V Beirut: Dar al-Fikr tt.

Katsi>r Ibn. Tafsir Ibn Katsir, 261; Lihat juga, At-Thabari, Tafsir at-Thabari, Juz V Bairut: Dar al-Fikr tt.

Majah Ibnu. Sunan Ibnu Majah, t.k.: Maktabah Syamilah tt.

Muhammad Majd al-Din al-Mubarak Ibn. al-Jazari Ibn al-Asi>r al-Nihaya>h fial-G}hari>b al-Hadi>ts wa al-Atsar Juz 1, Beirut Da>r al-Fikr tt.

. Hadis wal Atsar, Juz II. Beirut Da>r al-Fikr tt.

Munawwir A. Warson. Kmaus Arab – Indonesia al-Munawwir, Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.

Mustamir. 5 Metode Penyembuhan Dari Langit Yogyakarta: Lingkungan, 2008. Al-Nabhani. Muqaddimah al-Dustu>r, t.k.: t.p. 1963.

Prier Karl Edmund. Sejarah Musik, Jilid 1 Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 1991.

Qardha>wi Yu>suf. Halal dan Haram dalam Islam Surabaya: PT Bina Ilmu Offest, 2003.

. Bagaimana Memahami Hadis Nabi Muhammad SAW, trj. Muhammad al-Baqir Bandung: Karisma, 1999.

. Malamih al-Mujtama’ al-Muslim, terj. Abdus Salam, Nurhadi, Solo: PT. Adicitra Intermedia 2015.

Qayyim Ibn. al-Igha>sah, (Maktabah Ibnu Taymiyah wa Ibnu Jauzy, al-Masa>hah al-Mata>hah,tt.

Al-Manawi Muhammad Abdur Rauf. Faid al-Qadir Syarah al-Jami’ as-Shagir,

Jilid IV Beirut: Da>r al-Fikr, 1972.

al-Qaswini Muhammad bin Yazid Abu Abdullah. Sunan Ibnu Majah, Juz 1 Beirut: Dar al-Fikr, t.t.

Al-Qurtubi. Tafsir al-Qurtubi, Juz XVII Beirut: Dar al-Fikr t.t. . Kasy al-Qina, t.k.: Muassasah al-Qudsiyah. tt.

Rachmawati Fitria. “Hadis Tentang Musik dan Nyanyian Dalam Kitab Shahih Al-Bukhori Nomor Indeks 987” Skripsi, Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel, 2013.

Al-Shidieqi TM. Hasbiy. Sejarah Ilmu Hadis, Jakarta: Bulan Bintang, 1993.

Sumarsam. Gamelan Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Suryadi. Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi; Perspektif Muhammad al-Ghazali dan Yusuf al-Qardhawi, Yogyakarta: Teras, 2008.

Suseno Darmo Budi. Lantunan Shalawat Dan Nasyid Unuk Melejitkan IQ-EQ-SQ Yogyakarta: Media Insani, 2005.

Syakir Ahmad. taq’lid atas kitab al-Musnad,t.k. Muassasah Ar-Risalah t.t.

Al-Syaukani Ima>m. Nail al-Authar, jilid VIII Beirut: Da>r al-Fikr, tt.

. Irsya>d al- Fuhul ila Tahqiq al Haq min Ilm al-Usu>l, Beirut: Dar al-Fikr t.t.

Al-Thahh>an Mahmu>d. Tafsir Musthalah Hadis Surabaya, al-Hidayah, tt.

Al-Tirmidzi. Muhammad bin Isa Abu Isa al-Sulami. al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Tirmidzi, Beirut: Dar Ibya’ al-Turats al-Arabi, t.t.

. Sunan at-Tirmizi}, Juz IV t.k.: t.p t.t.

Wensink, A.J. Mu’jam al-Mufahras Li AlFa>z} al-Hadis al-Nabawi,VII Laiden: Maktabah Brill, 1987.

Al-Z{ahabi. Syiar al-A’lam al-Nubula’, Maktabah al-Syamilat, tt.

Zuhri Muhamammad. Telaah Matan Hadis; Sebuah Tawaran Metodologis, Yogyakarta: LESFI, 2003.

http://mahir-al-hujjah.blogspot.com/2008/07/seni-muzik-suatu-kajian-dari-perspektif.html. (Jum’at, 10 Desember 2015, 06:32 WIB)

Indonesia “KBBI”, http://bahasa. Kemdiknas.go.id/kbbi/indeks.php, (Jum’at, 10

Desember 2015, 05:47 WIB)

Muhammad Yunus, Kamus Indonesia – Arab, 154

Kusuma juanda “Tentang Musik” lihat, http//: www.pesantrenvirtual.com, diakses selasa 01 Desember 2015.

(indonesia) “KBBI”, http://bahasa.kandiknas.go.id/kbbi/index.php (Senin, 23 Nopember 2015, 11:20 WIB)

Buletin Sidogiri, Musik dan Nyanyian Dalam Islam, edisi 107 Dzul Hijjah 1436. Ardiansyah Denny. “Energi Mabuk Musik Masa kini” dalam Lampung Post,

Minggu 30 November 2008.

Jauhari, “Keindahan Islam Terhadap Kreasi Seni Musik dan Nyanyian,” diakses

11 januari 2016.

Dokumen terkait