• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

F. Analisis Hasil

Analisis dilakukan dengan membandingkan kadar formaldehida dari kedua jenis sampel yang berbeda dengan menggunakan Paired Samples T-test dengan taraf kepercayaan 95%.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Optimasi Metode Penetapan Kadar Formaldehida Secara

Spektrofotometri Visibel

1. Penetapan operating time

Operating time (OT) adalah jangka waktu yang dibutuhkan oleh suatu

larutan untuk memberikan suatu serapan (absorbansi) yang stabil. Penentuan OT merupakan langkah awal yang harus ditempuh untuk penetapan kadar secara spektrofotometri visibel. Absorbansi yang stabil menunjukkan bahwa reaksi pembentukan warna antara formaldehida dengan pereaksi kromotropat sempurna sehingga absorbansi yang dibaca pada panjang gelombang absorbansi maksimal adalah absorbansi semua formaldehida yang bereaksi dengan pereaksi kromotropat. Menurut Fagnani et al (2002), panjang gelombang absorbansi maksimal untuk reaksi antara formaldehida dengan pereaksi kromotropat adalah pada panjang gelombang 478 nm. Hasil pengukuran sebagai berikut :

Kurva Absorbansi vs Waktu

0.39 0.48 0 3 Waktu (menit) A bs or bans i 0

Gambar 9. Kurva hubungan antara absorbansi dan waktu

Hasil pengukuran OT menunjukkan bahwa absorbansi stabil sejak awal pembacaan (menit ke-0) sampai menit terakhir (menit ke-30). Hal ini berarti pengukuran dari formaldehida yang direaksikan dengan pereaksi kromotropat dapat dilakukan pada rentang waktu tersebut.

2. Penetapan panjang gelombang absorbansi maksimal (λmaks)

Panjang gelombang absorbansi maksimal adalah panjang gelombang dari suatu larutan yang mempunyai absorbansi maksimal. Dalam penelitian ini, panjang gelombang diukur mulai dari 400 nm sampai 600 nm. Panjang gelombang 400 nm sampai 600 nm merupakan panjang gelombang pada daerah visibel dan merupakan daerah absorbansi reaksi antara formaldehida dengan pereaksi kromotropat yang menghasilkan warna visibel. Apabila diukur pada panjang gelombang di bawah 400 nm maka akan memberikan absorbansi pada daerah Ultra Violet (UV) dan senyawa hasil reaksi tidak teridentifikasi.

Kurva Absorbansi vs Panjang Gelombang

0.16 0.36 0.56 0.76 0.96 400 500 600 panjang gelombang (nm) A bs or bans i 6,66 μg/ml 7,77 μg/ml 8,88 μg/ml

Gambar 10. Spektrogram panjang gelombang absorbansi maksimal

Dari spektrogram tiga kali pengukuran dengan spektrofotometer visibel menggunakan tiga seri konsentrasi larutan baku formaldehida yaitu konsentrasi

6,66; 7,77; dan 8,88 μg/ml diperoleh dua panjang gelombang absorbansi maksimal pada masing-masing konsentrasi yaitu :

a. Konsentrasi 6,66 μg/ml : 478 dan 573 nm b. Konsentrasi 7,77 μg/ml : 480 dan 574 nm c. Konsentrasi 8,88 μg/ml : 480 dan 573 nm

Panjang gelombang absorbansi maksimal yang dipakai adalah panjang gelombang yang pertama karena formaldehida hasil isolasi pada sampel yang bereaksi dengan pereaksi kromotropat hanya menghasilkan satu panjang gelombang absorbansi maksimal. Panjang gelombang absorbansi maksimal tiga seri konsentrasi larutan baku formaldehida adalah 478; 480; dan 480 nm. Dengan menentukan titik tengah panjang gelombang yang dihasilkan, dapat disimpulkan bahwa maksimal absorbansinya diperoleh pada panjang gelombang 479 nm. Panjang gelombang 479 nm merupakan panjang gelombang absorbansi maksimal formaldehida yang bereaksi dengan pereaksi kromotropat. Besarnya panjang gelombang ini tidak jauh berbeda dari yang tertulis dalam laporan penelitian yang dilakukan oleh Fagnani et al (2002) dengan judul Development of spectrophotometric method for

the analysis of paraformaldehyde in commercial and industrial disinfectants yaitu

478 nm dengan beda antara kedua panjang gelombang tersebut yaitu 1 nm. Menurut Farmakope Indonesia IV, syarat panjang gelombang hasil pengukuran dapat digunakan apabila besar perbedaannya dengan yang tertulis dalam literatur yaitu ≤ 2 nm. Dengan demikian panjang gelombang absorbansi maksimal 479 nm dapat digunakan untuk pengukuran absorbansi seri larutan baku formaldehida maupun sampel yang akan dianalisis.

3. Penetapan kurva baku

Dalam pembuatan kurva baku diperlukan satu seri larutan baku formaldehida dengan konsentrasi 5,55; 6,66; 7,77; 8,88; dan 9,99 μg/ml. Seri larutan baku formaldehida yang direaksikan dengan pereaksi kromotropat selanjutnya diukur absorbansinya pada panjang gelombang absorbansi maksimal, kemudian dibuat kurva hubungan antara konsentrasi dan absorbansi. Hasil pengukuran absorbansi larutan baku formaldehida dengan pereaksi kromotropat yang pengukurannya dilakukan pada panjang gelombang 479 nm adalah sebagai berikut:

Tabel I. Data pengukuran absorbansi kurva baku

Replikasi I Replikasi II Replikasi III

Baku Konsentrasi

(μg/ml) Absorbansi Konsentrasi (μg/ml) Absorbansi Konsentrasi (μg/ml) Absorbansi

1 5,55 0,323 5,55 0,322 5,55 0,332 2 6,66 0,380 6,66 0,376 6,66 0,399 3 7,77 0,455 7,77 0,437 7,77 0,433 4 8,88 0,496 8,88 0,492 8,88 0,473 5 9,99 0,550 9,99 0,536 9,99 0,530 I. y = 0,05136 x + 0,0418 ; r = 0,996 ; SE = 0,0698 II. y = 0,04901 x + 0,0518 ; r = 0,999 ; SE = 0,0412 III. y = 0,04234 x + 0,1044 ; r = 0,994 ; SE = 0,0876

Kurva Absorbansi vs Konsentrasi 0.3 0.4 0.5 0.6 5.55 6.66 7.77 8.88 9.99 Konsentrasi (μg/ml) A bs or b ans i

Gambar 11. Kurva hubungan antara absorbansi dan konsentrasi

Dari kurva hubungan antara absorbansi dan konsentrasi ini, dapat dilihat korelasi yang baik antara keduanya dengan garisnya yang linier dimana semakin bertambahnya konsentrasi akan menyebabkan absorbansinya juga meningkat sehingga persamaan garis yang didapat bisa digunakan untuk menghitung kadar formaldehida selanjutnya. Dalam penelitian ini, persamaan garis yang digunakan untuk menghitung kadar formaldehida yaitu y = 0,04901 x + 0,0518, karena nilai koefisien korelasinya (r) dan nilai Standar Error (SE) dari persamaan ini lebih baik dari dua persamaan yang lain. Nilai SE yang diperoleh menunjukkan bahwa sensitivitas dari metode yang digunakan cukup baik, karena nilai SE yang dihasilkan relatif kecil.

4. Validitas metode

Suatu metode penetapan kadar yang baik harus memenuhi berbagai kriteria, di antaranya yaitu nilai perolehan kembali (recovery), kesalahan sistemik, dan kesalahan acak. Ketiga hal ini sering disebut sebagai validitas metode yang menunjukkan apakah metode tersebut sudah optimal untuk digunakan menetapkan

kadar suatu zat dalam sampel. Persyaratan yang diharuskan bagi suatu metode analisis adalah jika metode tersebut dapat memberikan nilai recovery yang tinggi (90-107%), kesalahan sistemik kurang dari 7% dan kesalahan acak kurang dari

5%. Recovery menggambarkan akurasi dari suatu metode yang artinya metode

tersebut dapat menghasilkan nilai rata-rata yang sangat dekat dengan nilai sesungguhnya dan recovery ini merupakan tolok ukur efisiensi analisis. Kesalahan sistemik merupakan tolok ukur inakurasi penetapan kadar sedangkan kesalahan acak yang diukur dengan CV (coefficient variacy) merupakan tolok ukur inpresisi suatu analisis yang berarti dalam suatu seri pengukuran atau penetapan kadar dapat diperoleh hasil yang satu sama lain hampir sama. Dari hasil pengukuran, menunjukkan bahwa metode spektrofotometri visibel valid untuk digunakan dalam menetapkan kadar formaldehida, karena sudah memenuhi persyaratan di atas. Data pengukurannya adalah sebagai berikut:

Tabel II. Data perhitungan recovery dan kesalahan sistemik No. Kadar teoritis

(μg/ml) Kadar terukur (μg/ml) Recovery (%) sistemik (%) Kesalahan

1 5,55 5,87 105,71 5,71

2 6,66 7,02 105,45 5,45

3 7,77 7,82 100,63 0,63

4 8,88 8,53 96,09 3,91

5 9,99 9,83 98,35 1,65

Tabel III. Data perhitungan kesalahan acak Simpangan baku (SD) Harga rata-rata (X) Kesalahan acak (%) (CV) 0,17 5,87 2,90 0,06 7,02 0,77 0,05 7,82 0,69 0,07 8,53 0,86 0,07 9,83 0,73

Dokumen terkait