• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN

B. Analisis Hasil Penelitian

Kebijakan kredit PT Aneka Gas Industri telah dilakukan sesuai dengan aturan yang diberlakukan oleh Surat Keputusan Direksi. Dan kebijakan dalam pengumpulan piutang PT Aneka Gas Industri Medan dilakukan oleh bagian yang telah mempunyai tugas dalam penagihan piutang.

2. Prosedur Penjualan Kredit

Sebelum melakukan penjualan kredit perusahaan terlebih dahulu mengidentifikasi permintaan penawaran pelanggan. Apakah permintaan tersebut standar atau tidak. Jika tidak standar maka perusahaan akan menganalisa apakah permintaan tersebut dapat disetujui atau tidak. Jika permintaan tersebut disetujui maka perusahaan kembali melihat apakah permintaan tersebut potensial atau tidak. Setelah mengetahui bahwa permintaan tersebut potensial maka perusahaan melakukan penawaran dan negosiasi dengan pelanggan. Setelah dalam negosiasi tersebut terdapat kesepakatan dengan pelanggan maka selanjutnya perusahaan akan melakukan perjanjian dengan menggunakan kontrak atau tidak menggunakan kontrak. Kemudian dengan kesepakatan bersama dengan pelanggan perusahaan akan membuat rencana pengiriman barang dan selanjutnya

melaksanakan pengiriman barang tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Apabila perusahaan tidak menerima komplain dari pelanggan maka perusahaan akan melakukan teknik dokumentasi yaitu dengan pencatatan. Sedangkan apabila ada komplain dari pelanggan maka perusahaan akan mengganti barang yang tidak sesuai dengan pesanan dan menjadwal ulang pengiriman barang penggantinya. Apabila barang pengganti sudah tersedia maka perusahaan akan melaksanakan pengiriman yang selanjutnya disusul dengan pencatatan.

Dalam melaksanakan penjualan kredit perusahaan selalu mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki, resiko, dan keuntungan yang akan diperoleh dari transaksi tersebut. Dalam prosedur penjualan kredit perusahaan berusaha menekan atau mencegah adanya resiko dari penjualan tersebut. Namun dalam prosedur penjualan kredit ini tidak ada perincian tentang siapa yang melakukan pekerjaan atau tugas apa.

3. Penyajian Piutang Dagang Pada Neraca

Piutang yang disajikan dalam neraca pada PT. Aneka Gas Industri sudah tepat yaitu digolongkan dalam aktiva lancar karena piutang itu dapat dikonversi menjadi kas tidak lebih dari satu tahun dan juga tidak lebih dari satu siklus operasi perusahaan. Di dalam neraca, Perusahaan menyajikan penyisihan untuk piutang ragu-ragu karena perusahaan memiliki piutang yang berumur diatas 120 hari. Tetapi untuk tahun 2010 penyisihan piutang ragu-ragu PT Aneka Gas Industri

Medan ini mengalami penurunan dibanding dengan tahun 2009. (Dapat dilihat dari Lampiran Neraca)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang dikemukakan, penulis mencoba mengambil suatu kesimpulan tentang penerapan akuntansi piutang dagang pada PT. Aneka Gas Industri Medan sebagai berikut :

1. Struktur Organisasi yang dimiliki oleh PT. Aneka Gas Industri Medan adalah struktur organisasi garis, dimana tanggung jawab perusahaan dibebankan kepada pemimpin tertinggi dan pendelegasian wewenang mempunyai hirarki dengan arti pimpinan tidak langsung memberikan perintah kepada karyawan, melainkan hanya cukup melalui manajer-manajer perusahaan. Struktur organisasi perusahaan ini dapat dikatakan memadai karena terdapatnya pembagian tugas yang telah digariskan dengan tanggung jawab setiap bagian berdasarkan tugas yang diterimanya. Kelemahan dalam struktur organisasi ini internal auditor perusahaan ini berasal dari kantor pusat. Pengawasan yang dilakukan internal auditor tidak dapat optimal karena dilakukan secara terpusat. Internal auditor tersebut tidak melihat secara langsung keadaan yang sebenarnya di perusahaan dan tidak melakukan pengawasan fisik terhadap harta perusahaan.

2. Dalam pelaksanaan prosedur penjualan kredit yang dilakukan oleh perusahaan menurut penulis sudah cukup baik, karena perusahaan menerapkan langkah-langkah pengaman sebagai syarat mutlak untuk setiap penjualan dengan kredit

antara lain, Seleksi pelanggan (khususnya yang sudah menjadi pelanggan tetap/lama bagi perusahaan), Identitas pelanggan, dan Plafond kredit untuk pelanggan, dimana volume permintaan pembelian dari pelanggan dibatasi sesuai dengan kondisi yang wajar.

3. Pencatatan piutang yang dilakukan berdasarkan faktur penjualan dan dicatat pada buku besar piutang PT Aneka Gas Industri Medan tidak memberikan potongan tunai pada setiap pelanggan yang melakukan pembayaran lebih cepat dari tanggal jatuh tempo.

4. Dalam penyusunan sistem akuntansi dan pengklasifikasian unsur-unsur terhadap piutang tersebut sudah sangat baik, yaitu adanya pemisahaan antara unsur-unsur piutang yang sudah jatuh tempo dengan unsur-unsur piutang yang belum jatuh tempo.

5. PT. Aneka Gas Industri tidak melakukan penyisihan terhadap piutang tak tertagih karena perusahaan tidak memiliki piutang tak tertagih. Sebab semua piutang kepada pelanggan pada akhirnya dapat ditagih.

B. Saran

Sehubungan dengan kesimpulan yang telah dikemukakan, maka penulis akan

memberikan saran-saran sebagai berikut :

1. Disamping internal auditor dari pusat sebaiknya perusahaan juga memiliki internal auditor cabang agar dapat melakukan pengawasan secara langsung di perusahaan.

2. Hendaknya perusahaan dalam pelaksanaan prosedur pemberian penjualan kredit tersebut lebih selektif terhadap para pelanggan yang meminta atau melakukan transaksi penjualan secara kredit. Hal ini dilakukan untuk menghindari agar perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam menagih piutang-piutang dari konsumen tersebut sehingga diakhir periode laba perusahaan akan sesuai dengan yang diharapkan perusahaan.

3. Sebaiknya perusahaan memberikan potongan penjualan dalam jangka waktu tertentu agar dapat merangsang pelanggan dalam melakukan pembayaran piutang dengan segera.

4. Pelaksanaan sistem akuntasi piutang dan pengklasifikasian atas piutang hendaknya dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi, karena dengan sistem akuntasi dan pembedaan atas piutang jatuh tempo dan yang belum jatuh tempo akan mempermudah bagian akuntasi dan bagian-bagian lain untuk menyusun laporan keuangan perusahaan.

5. Dari segi penyajian piutang di neraca, perusahaan hendaknya menyajikan piutang secara wajar karena penyisihan piutang tak tertagih harus terlihat pada kredit neraca atau sebagai pengurang dari perkiraan piutang.

DAFTAR PUSTAKA

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, 2002. Metode Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

Kieso, Donald. E., Jerry J. Weygandth, dan Terry D. Warfield, 2002. Akuntansi Intermediate, Terjemahan Emil Salim, Jilid I, Edisi Kesepuluh, Penerbit Erlangga.

Mulyadi, 2001. Sistem Akuntansi, Edisi Ketiga, PT. Salemba Empat, Jakarta.

Niswonger C. Rollin, Philipe E. Tess, Carl Swarren, 1999. Accounting, Jilid I, Edisi Kesembilan belas, Cetakan Pertama, Terjemahan Alfonsus Sirait, Erlangga, Jakarta.

Ikatan Akuntansi Indonesia, 2007. Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.

James D. Wilson, Jhon B. Campbell, 1996. Tugas Akuntan Manajemen (Controllership), Terjemahan Tjintjin Fenix Tjendra, Edisi Ketiga, Penerbit Erlangga.

Jay M. Smith dan Fred Skousen, 2000. Akuntansi Intermediate, Jilid I, Edisi Revisi, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Baridwan, Zaki, 2000. Sistem Informasi Akuntansi, Edisi Kedua, Cetakan Kelima, BPFE-UGM, Yogyakarta.

Simarmata, Anastasia Betty N, 2004. “Internal Control Atas Piutang Dagang Pada PT. Meroke Tetap Jaya, Universitas Sumatera Utara.

Salman, Suhana, 2010. “Kebijaksanaan Penagihan Piutang Untuk Menekan Piutang Tak Tertagih Pada PT. Banda Ghara Reksa Cabang Medan, Universitas Sumatera Utara.

Hartati, Dian, 2009. “Analisis Pengendalian Intern Piutang Usaha Pada PT. SFI Medan, Universitas Sumatera Utara.

Dokumen terkait