• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM DAN PERATURAN BUPATI

B. Analisis Hukum Islam dan Perbup No 22 Tahun 2017 terhadap

1. Analisis hukum Islam terhadap pembayaran retribusi

66

keganjalan yang terjadi pada kegiatan bongkar muat barang daganagan di pasar Sepanjang sebagai masalah utama yang akan dikaji.

B. Analisis Hukum Islam dan Perbup No 22 Tahun 2017 terhadap

pembayaran retribusi pelayanan pasar atas sewa fasilitas pasar di pasar Sepanjang Taman Sidoarjo

1. Analisis hukum Islam terhadap pembayaran retribusi pelayanan pasar atas sewa fasilitas pasar di pasar Sepanjang Taman

Dalam akad Ijarah pihak-pihak yang bersangkutan didalamnya ada berbagai macam, dalam hukum Islam orang yang menyewa disebut dengan ‚musta’jir‛, orang yang menyewakan disebut dengan ‚mu’jir‛, sedangkan benda yang disewakan disebut dengan ‚ma’jur‛ dan uang sewa atau imbalan atas pemakaian manfaat barang tersebut disebut dengan ‚ujrah‛. Akad Ijarah sendiri dibagi menjadi dua jenis, yang pertama adalah menyewa (mengupah) orang untuk pekerjaan tertentu50. Yang kedua yaitu ijarah yang berlangsung atas manfaat yang berasal dari benda tertentu atau dari benda yang disebutkan ciri-cirinya. Dikatakan dalam bentuk ijᾱrah karena para sales barang yang telah memanfaatkan fasilitas pasar berupa pelataran/halaman pasar melakukan kegiatan ekonomi yaitu bongkar muat barang yang dalam pelaksanaannya dapat dikatakan menyewa tempat untuk kegiatan tersebut yang dalam Islam disebut akad ijarah.

50 Shaleh al-Fauzan, Fiqih sehari-hari, ter Abdul hayyie al-Kartani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), 482

67

Seperti perjanjian lainnya sewa menyewa merupakan perjanjian yang bersifat konsensual, yang artinya perjanjian ini mempunyai kekuatan hukum ketika saat sewa menyewa berlangsung. Apabila akad sudah berlangsung maka pihak yang menyewakan berkewajiban untuk menyerahkan barang kepada pihak penyewa, dan kemudian setelah manfaat barang diterima maka pihak penyewa wajib memberikan uang untuk barang yang disewa (Ujrah).

Al ijᾱrah ialah suatu akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian51. Ketika akad sewa menyewa telah berlangsung, penyewa sudah berhak mengambil manfaat. Dan orang yang menyewakan berhak pula mengambil upah, karena akad ini adalah mu’awadhad (penggantian)52 dalam penerapannya pemungutan retribusi pelayanan pasar dipungut ketika manfaat fasilitas pasar telah diterima oleh orang lain. Dalam hal ini pemungutan retribusi pelayanan pasar adalah halal karena sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Az-Zukhruf ayat 32.

ُّدلٌا ِةَوَ يَْلٌْا ِفِ ْمَُُ تَشيِعَّم مَُُ نْ يَ ب اَنْمََْق ُنَْنَ َكِّبَر َتَْحَْر َنوُمِْْقَ ي ْمُىَأ اَيْ ن ۚ اًيِرْخًُْضْعَ بمُُُضْعَ بَذِخَّتَيَّلٍتَخَرَدٍضْعَ بَ قْوَفْمَُُضْعَ باَنْعَ فَرَو ۚ َنوُعَمَْيَاََّمَُرْ يَخَكِّبَرُ تَْحَْرَو

Artinya: ‚Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan

51Chairuman Pasaribu, Suwardi Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, (Jakarta:Widya cahaya, 2011),

68

rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (Q.S Az-Zukhruf:32)53

Dalam penerapannya pemungutan retribusi pelayanan pasar hampir memenuhi rukun dan syarat ijarah yakni mu’jir dan musta’jir adalah orang yang melakukan akad sewa menyewa atau upah mengupah. mu’jir adalah orang yang menerima upah dan menyewakan, musta’jir adalah orang yang memberi upah untuk melakukan sesuatu dan yang menyewa sesuatu54. Dalam penerapan di pemungutan retribusi pelayanan pasar mu’jir adalah sub unit pasar Taman sedangkan musta’jir adalah para pembongkar muat barang dagangan di pasar Taman.

Kemudian, sighat ijab kabul adalah lafaz sewa dan yang berhubungan dengannya, serta lafaz (ungkapan) apa saja yang dapat menunjukkan hal tersebut, namun pada praktiknya sighat ijab kabul tidak terjadi karena halaman pasar yang dimanfaatkan oleh pembongkar muat barang dagangan tidak seharusnya digunakan oleh mereka digunakan bongkar muat barang. Dalam hal ini shighat harusnya dilakukan antara sub unit pasar Taman dan pembongkar muat barang pasar Taman terjadi ketika pembongkar muat barang tengah melakukan kegiatan bongkar muat barang di halaman pasar yang termasuk fasilitas pasar yang harusnya dipungut retribusi pelayanan pasar sesuai peraturan yang berlaku.

53Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan tafsirnya jilid 9, (Jakarta: Widya cahaya, 2011),104. 54 Sohari Sahrani dan Ruf’ah Abdullah, Fikih Muamalah, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), 170.

69

Untuk ujrah (upah) adalah imbalan balas jasa atas sesuatu yang telah diambil manfaatnya. Pembayaran upah merpakan suatu kewajiban yang harus diutamakan oleh orang yang menyewa atau mengupah seseorang untuk diambil manfaatnya. Pada penerapannya sub unit pasar Taman tidak memungut retribusi pelayanan untuk kegiatan bongkar muat barang yang telah memanfaatkan fasilitas pasar berupa halaman pasar.

Sedangkan untuk manfaat dari hasil penggunaan aset dalam ijᾱrah obyek kontrak yang harus dijamin, karena ia rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti dari sewa dan bukan aset itu sendiri. Dalam penerapannya sub unit pasar Taman memberikan manfaat yaitu pemanfaatan fasilitas pasar berupa halaman pasar untuk digunakan sebagai tempat bongkar muat barang.

Dalam praktik pelaksanaan pemungutan retribusi pelayanan pasar dilakukan pada jam 10.00 WIB pagi sampai selesai pada para pedagang yang menyewa stand di pasar Sepanjang saja, namun tidak terjadi penarikan retribusi pada kegiatan bongkar muat barang dagangan yang ada di halaman pasar Sepanjang Taman. Hal ini tidak sesuai dengan Peraturan Bupati Nomor 22 Tahun 2017 yang mana didalamnya telah diatur bahwa kegiatan bongkar muat barang berhak dipungut retribusi denan tarif yang telah ditentukan, karena telah memanfaatkan fasilitas pasar berupa halaman pasar.

70

Dalam akad ijᾱrah (sewa-menyewa) keadaan manfaat sewa yang dilakukan itu diketahui, karena manfaat sewa tersebut adalah objek yang diakad, maka disyaratkan harus mengetahuinya sebagaimana jual beli. Dalam hal ini manfaat jasa sudah diketahui ketika pihak bongkar muat barang melaksanakan kegiatannya membongkar muat barang dagangan di halaman pasar Taman yang memanfaatkan fasilitas pasar untuk melakukan kegiatannya yang sekaligus mendapatkan pelayanan kebersihan.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa ijᾱrah merupakan akad pengganti maka pengganti yang dalam arti sebenarnya yaitu alat tukar haruslah jelas dalam pelaksanaannya, sehingga ia harus diketahui sebagaimana harga barang dalam jual beli. Dalam penerapannya pemungutan retribusi pelayanan pasar status upah sudah jelas karena nominal upah telah tercantum pada Perbup Nomor 22 Tahun 2017 berupa tarif untuk masing-masing kendaraan yang melakukan bongkar muat didalam lingkungan pasar.

Status manfaat sewa merupakan suatu manfaat yang mubah, maka tidak sah ijarah atas transaksi sewa untuk tempat prostitusi, penjualan barang haram seperti minuman keras , dan narkoba. Dalam hal ini sudah cukup jelas bahwa manfaat dari pemungutan retribusi pelayanan pasar adalah mubah.

Kondisi manfaat sewa bisa diambil secara penuh, sehingga tidak sah ijarah atas sesuatu yang manfaatnya tidak bisa diambil. Dalam

71

penerapannya manfaat dari pemungutan retribusi pelayanan pasar bisa diambil secara penuh namun tidak ada timbal balik berupa ujrah (upah) kepada pihak sub unit pasar Taman.

Setelah observasi dilakukan kejanggalan terlihat pada kegiatan bongkar muat barang yang tidak dianggarkan dana retribusi setiap melakukan bongkar muat, mereka bebas melakukan bongkar muat tanpa dikenakan retribusi oleh pasar Sepanjang Taman, bahkan tidak ada petugas khusus yang ditugaskan untu sekedar mengawasi dan memungut dana retribusi pelayanan pasar atas pemanfaatan fasilitas

Dokumen terkait