C. Pembahasan temuan
3. Analisis Hukum Islam terhadap tradisi “ Nganyareh Kabin”
(tajdidun nikah) yang di anggap dapat memperbaiki ekonomi dalam keluarga di Desa Banjarsari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
Desa Banjarsari merupakan salah satu tempat dimana tumbuh suburnya tradisi nganyareh kabin, akan tetapi Banjarsari bukan satu-satunya tempat yang melestarikan tradisi nganyareh kabin, tradisi ini sebenarnya berkembang di seluruh tanah Indonesia khususnya,
berbagai macam gaya yang berupa warna menjadi motif terjadinya tajdidun nikah, secara garis besar motif tajdidun nikah (tradisi nganyareh kabin) sebagai mana sudah peneliti paparkan di atas.
Dalam prosesi peleksanaan tradisi nganyareh kabin ini tetap berdasarkan tata cara yang ada dalam prosesi perkawinan pertamanya dari sarat dan rukunnya tidak ada yang berubah namun dalam tatacara nya di sesuaikan dengan tradisi setempat atau kebiasaan masyarakat setempat misalnya di daerah Banjarsari sendiri tempat dimana penulis meneliti, masyarakat yang akan melakukan tradisi ini biasanya dia mendatangi para tokoh setempat dengan membawa beberapa saksi dan dilengkapi dengan tumpeng, dimulai dari pembacaan khutbah nikah dan prosesi akad yang di lakukan oleh sang tokoh atau penghulu selaku wali hakim dari pasangan pelaku dengan disaksikan oleh para saksi yang di bawa oleh pelaku jika pelaku tidak membawa maka sang tokoh mencarikan saksi di sekitar rumahnya, setelah selesai kemudian di tutup dengan doa yang dipimpin oleh tokoh atau kiai dan diakhiri dengan acara makan bersama.
Selain itu juga ada melaksankan prosesi nganyareh kabin di rumahnya dengan mendatangkan para tokoh yang ada di desa itu dan sanak family yang ada di sekitar rumah si pelaku, dalam susunan acranya sama seperti biasa diawali dengan khutbah dan di akhiri oleh doa dan acara makan-makan sebagai bentuk sukur si pelaku tradisi nganyareh kabin(tajdiduin nikah).
Tradisi Nganyareh Kabin (Tajdidun Nikah) dilaksanakan oleh masyarakat Desa Banjarsari biasanya ketika dalam rumah tangganya ada perselisihan baik dari segi ekonomi maupun karena alasan yang lain seperti misalnya karna pasangan tersebut sulit mendapatkan keturunan dan lain-lain, namun dalam beberapa observasi yang dilakukan oleh peneliti terjadinya pelaksanaan tradisinganyareh kabin di karenakan faktor ekonomi, dimana pada saat keadaan ekonominya melemah atau tidak setabil secara terus menerus maka mereka aka mengadakan tradisi nganyareh kabin, anggapan para masyarakat Banjarsari beserta tokohnya membenarkan bahwasanya penyebab utama terjadinya tradis ini di karnakan faktor ekonomi, ke adaan ekonomi yang tidak stabil akan mengakibatkan pasangan dalam rumah tangga menjadi mudah marah yang mengakar pada terjadinya percekcokan.
Tradisi nganyareh kabin adalah sebuah permisitas fiqih, diman dalam responya fiqih atau para ulama` tidak melarang adanya tradisi tersebut selama tidak ada unsur-unsur yang bertentangan di dalamnya sebagaimana kaidah asasiah:
َد ْر
ُؤ
ْﻟا
َﻤ
َﻔ
ِﺳﺎ
َو ﺪ
َﺟ
ِﻟﺎ
ُﺐ
ْﻟا
َﻤ
َﺼ
ِﻟﺎ
ﺢ
“Menolak ke rusakan dan menari kemaslahatan”
Jika ditinjau dari moti-motif terjadinya tradisi nganyareh kabin(tajdidun nikah ) dikalangan masyarakat sebegai sebuah alternatif untuk menghindari perpecahan dalam rumah tangga
sekaligus sebuah wadah untuk membangun spirit (semangat) baru dimana harapan masarakat melakukan tradisi nganyareh kabin akan adanya perubahan keadaan yang sebelumnya sering terjadi percekcokan menjadi saling menyayangi atau yang sebelumnya kurang semangat untuk bekerja menjadi termotifasi untuk bekerja.
Statement masyarakat Banjarsari terhadap tradisi nganyareh kabin yang diangaap dapat memperbaiki ekonomi dalam keluarga, peneliti tidak sepaham, karena mengingat firman Allah swt, dalam Qs.saba`24.
Artinya : katakanlah siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah", dan Sesungguhnya Kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.(Qs.saba`24)
Ayat di atas secara tegas menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu di bumki ini yang dapat member rizki kecuali dialah Allah yang maha pemberi rizki.
Dengan demikian jelaslah bahwa menganggap sesuatu dapat memberi manfaat dan dapat member mudhorot itu tidak di perbolehkan bahkan manjadi haram hukumnya karena adanya kesirikan yang sirri yaitu menduakan Allah serta adanya keberpalingan tauhid.
Dalil dalil Al-qur`an tersebut diatas kesemuanya menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat mendatangkan rizki kecuali hanya datang dari Allah semata maka dengan demikian tidaklah benar jika menganggap sesuatu bisa mendatang kan kemanfaatan sebagai mana keterangan dibawah ini.
ﱟﺮُﺿ ِﻊْﻓَدْوَأ ِﺐْﻠَﺟ ِﰲ ِﷲا ِْﲑَﻐِﺑ ِﺐْﻠَﻘْﻟا َﻖﱡﻠَﻌَـﺗ ُﻞِﻄْﺒُـﺗ ﺎَُﳍﺎُﺜْﻣَأَو ُﺔَﻳ ْﻵا ِﻩِﺬَﻬﻗ
ِﷲ ﺎِﺑ ٌكْﺮ ِﺷ َﻚِﻟَذ ﱠنَأَو
.
“Ayat ini dan ayat-ayat yang semisalnya membatilkan ketergantungan hati kepada selain Allah ta’ala dalam meraih kemanfaatan atau menolak kemudaratan, dan bahwasannya hal itu termasuk syirik kepada Allah swt.
Peneliti sepakat dengan istilah spirit untuk membuka lembaran baru artinya adalah melaksanakan tradisi nganyareh kabin( Tajdidun nikah) ini hanya semata-mata untuk membangkitkan semangat yang sudah mulai menurun yang disebabkan adanya percekcokan yang secara pisikologis pertengkaran berpengaruh pada semagat untuk seorang laki-laki untuk bekerja karna larut dalam suasana yang tidak tentram yang disebabkan oleh persengketaan dalam rumah tangganya.
Dalam hal ini peneliti memandang sah hukumnya melakukan tradisi nganyareh kabin (tajdidun nikah) yang sebenarnya adalah sebuah wadah untuk mencari jalan keluar dari sebuah kebuntuan
dalam berumah tangga dan yang demikian ini menurut para ulama` boleh hukumnya melakukan tradisinganyareh kabin (tajdidun nikah ) semata litajammul (memperindah) dari keadaan yang kurang indah menjadi lebih indah dengan mendatangkan suasana yang baru yang didatangkan dari sebuah tradisi, bagi mereka yang melakukannya atau Lil-Ikhtiat (ke hati-hatian) yang merasakan kehawatiran akan adanya pembatalan terhadap aqad yang sakral dalam penikahan pertamanya sehingga sangat dianjurkan untuk melakukannya (tajdidun nikah) namun sebaliknya tajdidun nikah yang dilator belakangi dengan tujuan hanya semata-mata untuk mengharap akan adanya perbaikan dalam ekonominya penyusun tidak sepaham apabila di tinjau dari kacamata aqidah
Akan tetapi apabila di tinjau dari hukum islam praktek tersebut masuk dalam kategori urf yakni adat kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat dan tidak bertentangan dengan syari’at, tidak menghalalkan yang haram dan tidak membatalkan yang wajib, sedangkan ‘urf yang fasid adalah apa yang dikenal dan dilakukan masyarakat akan tetapi bertentangan dengan syari’at atau menghalalkan yang haram dan membatalkan yang wajib, dengan demikian penyusun sepakat jika tradisi “Nganyareh kabin” di desa Banjarsari Kecamatan Bangsalsari kabupaten Jember, yang di anggap dapat memperbaiki ekonomi dalam keluarga masuk dalam lingkupurf shohih yang memenuhi syaraturfshohih.