BAB IV ANALISIS TERHADAP PERTIMBANGAN HAKIM
B. Analisis Hukum Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan
Perkara yang diselesaikan melalui putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.261/K/AG/2009 ini merupakan perkara yang berkaitan dengan peranan wali dalam suatu keabsahan pernikahan. Adapun masalah yang dipersengketakan antara Penggugat dan para Tergugat adalah Tergugat I telah menikah tanpa sepengetahuan Penggugat sebagai orang tua kandung Tergugat I. Dalam perkara ini, pernikahan tersebut telah dilangsungkan dengan wali hakim yang tidak sah, dikarenakan masih adanya wali nasab yang paling berhak untuk menikahkan perempuan tersebut dan Penggugat tidak pernah menyatakan adhal. Sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 23 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan bahwa wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau
ghaibatauadhalatau enggan.
Berkaitan atas perkara ini bahwa tidak ada bukti otentik putusan dari Pengadilan Agama tentang wali adhal, padahal pembuktian merupakan tahap yang
menentukan dalam proses perkara, karena dari hasil pembuktian dapat diketahui benar atau tidaknya suatu gugatan atau bantahan.
Menurut Supomo bahwa pembuktian mempunyai arti luas dan arti terbatas. Dalam arti luas, pembuktian berarti memperkuat kesimpulan hakim dengan syarat- syarat bukti yang sah, sedangkan dalam arti terbatas pembuktian iu hanya diperlukan apabila yang dikemukakan oleh penggugat itu dibantah oleh tergugat.193
Adapun dalam Hukum Islam terdapat banyak ayat Al- Quran sebagai landasan berpijak tentang pembuktian. Di antaranya terdapat dalam QS Al-Baqarah ayat 282, QS Ali-Imran ayat 81,QS An-Nisa’ ayat 6, QS Al-Maidah ayat 106, QS Yusuf ayat 26, QS Ar-Rahman ayat 2 dan QS An-Nur ayat 4 dan ayat 6.194
Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat berbagai alat bukti yang dapat diajukan ke dalam persidangan di Pengadilan Agama berdasarkan hukum Islam yaitu:195
1. Ikrar(pengakuan) 2. Syahadah(saksi) 3. Yamin(sumpah) 4. Riddah(murtad)
5. Maktubah(bukti tertulis)
6. Tabayyun(pemeriksaan koneksitas) 7. Alat bukti untuk bidang pidana
Namun yang dijelaskan disini hanya alat bukti dari nomor 1 sampai dengan nomor 6 saja, sedangkan alat bukti nomor 7 tidak dijelaskan dalam kaitan dengan
193Sulaikin Lubis,Wismar ‘Ain Marzuki dan Gemala Dewi,Op.Cit,hal.140 194Ibid,hal.138
sistem peradilan agama di Indonesia yang hanya mencakup Hukum Acara Perdata saja.
Ad.1. Ikrar (pengakuan) yaitu suatu pernyataan dari penggugat atau tergugat atau pihak-pihak lainnya mengenai ada atau tidaknya sesuatu. Ikrar adalah pernyataan seseorang tentang dirinya sendiri yang bersifat sepihak dan tidak memerlukan persetujuan pihak lain. Ikrar atau pengakuan dapat diberikan di muka hakim di persidangan atau di luar persidangan.196
Ad.2. Syahadah (saksi) ialah orang yang memberikan keterangan di muka sidang, dengan memenuhi syarat-syarat tertentu, tentang suatu peristiwa atau keadaan yang ia lihat, dengar dan ia alami sendiri, sebagai bukti terjadinya peristiwa atau keadaan tertentu.197
Para saksi yang boleh diajukan dalam siding pengadilan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:198
a. Muslim b. Sehat akal
c. Baligh
d. Tidakfasik
Ad.3. Yamin(sumpah) ialah suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu memberi janji atau keterangan dengan mengingat sifat Maha Kuasa Tuhan dan percaya bahwa siapa yang member keterangan atau janji yang tidak benar akan dihukum oleh-Nya.199
196
Sulaikin Lubis,Wismar ‘Ain Marzuki dan Gemala Dewi,Op.Cit, hal.139
197Ibid
198Ibid, hal.140 199Ibid, hal.141
Menurut Hadist Rasulullah SAW, pihak yang menuntut hak dibebankan untuk membuktikan, sedangkan pembuktian pengingkaran (negatif) dari pihak yang dituntut adalah dengan sumpah. Sehingga pada dasarnya, sumpah adalah hak dari pihak yang digugat/dituntut.200
Ad. 4. Riddah adalah pernyataan dari seseorang bahwa ia telah keluar dari agama Islam (murtad). Tata cara pernyataan Riddah ini hampir sama dengan ikrar, namun pelaksanaannya lebih bersifat formal di hadapan pemuka agama Islam.201
Riddah hanya dipakai untuk pembuktian pada perkara gugatan cerai, apabila alasan-alasan hukum sebagai bukti gugatan istri tidak terbukti. Karena tidak terbukti tersebut, maka si istri berikrar keluar dari agama Islam (murtad) agar pernikahannya dapat putus.
Ad.5.Maktubah(Bukti-Bukti Tertulis)
Bukti-bukti tertulis ini terdiri dari dua hal yaitu:202 a.Akta
Akta diperlukan sebagai alat bukti misalnya dalam hal membuktikan kompetensi absolute suatu perkara yang dapat diputus oleh hakim pengadilan agama. Jenis-jenis akta yang digunakan antara lain yaitu akta nikah dan akta kelahiran dalam pemeliharaan anak dan akta ikrar wakaf dalam perkara harta wakaf.
b.Surat Keterangan
surat keterangan digunakan untuk pembuktian kompetensi relatif bagi pengadilan agama yang memutus perkara tersebut. Surat keterangan yang dimaksud misalnya adalah surat keterangan domisili pihak-pihak yang bersengketa.
200Sulaikin Lubis,Wismar ‘Ain Marzuki dan Gemala Dewi,Op.Cit, hal.141 201Ibid,hal.142
Ad.6. Tabayyun adalah upaya perolehan kejelasan yang dilakukan oleh pemeriksaan majelis pengadilan yang lain dari pada majelis pengadilan yang sedang memeriksa. Adapun contoh kasus yang memerlukan pembuktian Tabayyun ini misalnya kasus Kewarisan.203
Dalam kasus ini Tergugat I dan Tergugat II tidak menunjukkan bukti tertulis berupa putusan dari Pengadilan Agama yang berwenang tentang waliadhalkemudian pengakuan dari Penggugat bahwasanya Penggugat tidak pernah menyatakan enggan untuk menikahkan Tergugat I. Meskipun demikian hakim tetap berkewajiban untuk mendamaikan para pihak yang bersengketa.
Asas kewajiban mendamaikan ini diatur dalam Pasal 65 dan 82 UU No.7 Tahun 1989. Menurut ajaran Islam, apabila ada perselisihan atau sengketa sebaiknya melalui pendekatan“ishlah”(QS.49:10).204Sebelum diperiksa hakim wajib berusaha mendamaikan kedua belah pihak terlebih dahulu. Apabila hal ini belum dilakukan oleh hakim bisa berakibat bahwa putusan yang dijatuhkan batal demi hukum205
Peranan hakim dalam mendamaikan para pihak yang berperkara terbatas pada anjuran, nasihat, penjelasan serta memberi bantuan dalam perumusan sepanjang diminta oleh kedua belah pihak. Apabila hakim telah mengupayakan perdamaian kepada kedua pihak yang berperkara, namun salah satu pihak tetap pada pendirian
203
Sulaikin Lubis,Wismar ‘Ain Marzuki dan Gemala Dewi,Op.Cit, hal.143
204Ibid, hal.69
205Jaenal Aripin,Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di Indonesia, Kencana
untuk melanjutkan perkara maka barulah hakim memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara.
Berdasarkan gugatan yang diajukan oleh Penggugat, maka Pengadilan Agama Selayar mengambil putusan yaitu putusan No.44/Pdt.G/2008/PA.Sly tertanggal 27 Agustus 2008, pertama mengabulkan gugatan Penggugat. Putusan kedua
membatalkan perkawinan Tergugat I (LW) dan Tergugat II (SJ) yang dilangsungkan pada hari Kamis tanggal 29 November 2007 dan terdaftar pada Kantor Urusan Agama Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka dengan akta nikah Nomor 10/10/1/2008 tanggal 7 Januari 2008. Putusanketiga, menyatakan Akte Nikah Nomor 10/10/1/2008 tanggal 7 Januari 2008 yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka tidak mempunyai kekuatan hukum dan kekuatan pembuktian.
Adapun yang menjadi pertimbangan hukum hakim Pengadilan Agama atas perkara tersebut:
Pertama, bukti yang terdapat dipersidangan bahwa tidak ada alasan pembenar bagi wali hakim untuk menikahkan Tergugat I dan Tergugat II, sebab wali nasab
yang paling berhak masih hidup, diketahui tempat tinggalnya, mudah dihubungi, memudahkan untuk dihadirkan dan tidak pernah menyatakanadhal (enggan). Dalam Pasal 23 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam dinyatakan : “Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nasab apabila tidak ada atau tidak mungkin menghadirinya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau ghaib atau adhal atau enggan.” Berpindahnya kewalian kepada wali hakim atausultanapabila seluruh wali tidak ada
atau wali qarib dalam keengganan untuk menikahkan yang didasarkan atas Hadistt Rasulullah SAW yang artinya:
“Bila wali itu tidak mau menikahkan, maka sultan menjadi wali bagi perempuan yang tidak lagi mempunyai wali. “206
Apabila wali nasab yang paling berhakadhal(enggan) maka harus dibuktikan dengan putusan Pengadilan Agama yang berwenang. Kompilasi Hukum Islam Pasal 23 ayat (2) menyebutkan: “Dalam hal wali adhal atau enggan maka wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah setelah ada putusan Pengadilan tentang wali tersebut.”
Kedua, membatalkan pernikahan Tergugat I dengan Tergugat II karena dilangsungkan dengan wali hakim yang tidak sah, sebab melanggar ketentuan Pasal 14 Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi: “untuk melangsungkan perkawinan harus ada a.calon istri, b. calon suami, c. wali nikah, d.dua orang saksi, e. ijab dan kabul. Oleh karena pernikahan tersebut belum memenuhi salah satu rukun tersebut yaitu wali nikah, maka pernikahan yang dilangsungkan oleh wali hakim tersebut tidak sah.
Ketiga, oleh karena pernikahan tersebut dilangsungkan oleh wali hakim yang tidak sah, sehingga berakibat hukum bahwa Akta Nikah yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Propinsi Sulawesi Tenggara tidak memiliki kekuatan hukum dan kekuatan pembuktian.
Setelah putusan dijatuhkan oleh Pengadilan Agama maka para Tergugat mengajukan banding atas putusan tersebut, dan Pengadilan Tinggi Agama Makassar telah mengambil putusan membatalkan putusan Pengadilan Agama Selayar.
206
Adapun yang menjadi pertimbangan bagi hakim Pengadilan Tinggi Agama Makassar dalam memutuskan perkara tersebut :
Bahwa hakim Pengadilan Agama tidak pernah mengupayakan perdamaian kepada kedua belah pihak. Sehingga Pengadilan Agama telah menyalahi salah satu asas yang terdapat dalam Pasal 154 ayat (1) R.Bg jo.Pasal 38 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo.Pasal 39 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu azas wajib mendamaikan. Asas kewajiban hakim untuk mendamaikan pihak-pihak yang berperkara, sangat sejalan dengan tuntutan dan tuntunan moral Islam. Menurut ajaran Islam setiap perselisihan dan persengketaan sebaiknya diselesaikan dengan Ishlah. Sebab bagaimanapun adilnya suatu putusan yang diputuskan oleh hakim, namun akan tetap lebih baik dan lebih adil adalah hasil perdamaian. Hukum Islam lebih mementingkan penyelesaian perselisihan dengan perdamaian. Sebelum perkara diperiksa, maka hakim wajib mendamaikan pihak- pihak yang berperkara terlebih dahulu. Apabila hal ini tidak dilaksanakan bisa berakibat bahwa putusan yang dijatuhkan batal demi hukum.
Setelah putusan Pengadilan Tinggi Agama Makassar diputuskan, maka Penggugat mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. Dalam perkara ini Mahkamah Agung menjatuhkan putusannya pertama, mengabulkan gugatan Penggugat. Putusankeduamembatalkan putusan Pengadilan Tinggi Agama Makassar yang telah membatalkan putusan Pengadilan Agama Selayar.
Adapun yang menjadi pertimbangan dari Mahkamah Agung dalam memutuskan perkara tersebut:
Pertama, Penggugat adalah ayah kandung dari Tergugat I yang merupakan wali
nasab yang paling berhak untuk menikahkan Tergugat I, sehingga tidak ada alasan pembenaran untuk menikahkan dengan wali hakim. Pernikahan yang dilangsungkan dengan wali hakim dapat dilaksanakan apabila wali nasab tidak ada atau tidak diketahui tempat tinggalnya (ghaib) atau enggan (adhal), sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 23 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam. Wali hakim pada dasarnya adalah berfungsi sebagai pengganti, dan bukanlah sebagai wakil dari wali
nasab. Ada sebab-sebab tertentu yang membuat terjadinya perpindahan dari wali
nasabkepada wali hakim, yang dalam hal ini dibenarkan dalam undang-undang. Beberapa hal yang menyebabkan perpindahan dari wali nasab kepada wali hakim yaitu:207
1. Tidak mempunyai wali sama sekali;
2. Walinya hilang, tidak ketahuan kemana perginya,mafqud;
3. Wali itu sendiri calon suami, sedangkan wali lain yang setingkatnya tidak ada;
4. Wali berada di tempat sejauhmusafatul qashri;
5. Wali sulit dijumpai, tidak boleh dijumpai, di dalam tahanan atau penjara; 6. Walinya enggan atau menolak untuk menikahkan calon istri(adhal);
7. Walinya sedang melaksanakan ibadah haji, yaitu sedang ihram untuk umrah atau ihram untuk haji.
Pada dasarnya yang menjadi wali itu adalah wali nasab yangqarib .Demikian pula wali hakim menjadi wali nikah apabila keseluruhan wali nasab sudah tidak ada, ataupun dalam keadaan enggan (adhal) menikahkan tanpa alasan yang dapat dibenarkan
Kedua, Penggugat tidak pernah menyatakan enggan untuk menikahkan Tergugat I, serta Tergugat I dan Tergugat II tidak dapat menunjukkan bukti bahwa Penggugat adhal . Dalam hal wali enggan (adhal), wali hakim baru dapat menjadi wali nikah setelah ada putusan Pengadilan Agama yang berwenang tentang wali
adhal seperti yang dinyatakan dalam Pasal 23 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam.
Putusan mempunyai kekuatan pembuktian sehingga putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap dapat dilaksanakan eksekusi.208Putusan hakim dalam kasus ini adalah putusanconstitutiveyaitu putusan yang meniadakan suatu keadaan hukum dan menimbulkan suatu keadaan hukum yang baru. Dalam hal ini Mahkamah Agung membatalkan pernikahan para Tergugat yang terdaftar pada Kantor Urusan Agama, Kecamatan Samataru, Kabupaten Kolaka dimana pernikahan tersebut dilaksanakan. Dalil dalam hukum Islam dimaksudkan untuk mendudukkan kebenaran pada kebenaran materil. Dalam pernikahan antara Tergugat I dan Tergugat II, maka perlu dilihat terlebih dahulu ada atau tidaknya pernikahan antara para Tergugat dengan meneliti pemenuhan syarat-syarat sah dan rukun dari pernikahan tersebut, dan sehubungan dengan pembatalan pernikahan para Tergugat, maka Mahkamah Agung menyatakan bahwa akta nikah yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Samataru tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum dan kekuatan pembuktian.
208Abdullah Tri Wahyudi,Peradilan Agama di Indonesia, Pustaka Pelajar,Yogyakarta, 2004,
Menurut Haspan Pulungan, bahwa dalam fiqihIslam sebelum diberlakukannya Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974, bahwa untuk membuktikan bahwa waliadhaltidak perlu dibuktikan dengan adanya penetapan Pengadilan Agama, tetapi cukup dengan adanya surat pernyataan dari wali bahwasanya wali adhal ataupun adanya saksi minimal dua orang yang telah disumpah oleh hakim.209
Ketiga, Pengadilan Tinggi Agama Makassar kurang cermat, tidak teliti, dan tidak melihat keseluruhan konteks putusan pada putusan Pengadilan Tingkat Pertama, karena hakim Pengadilan Agama Selayar telah mengupayakan perdamaian kepada para pihak yang berperkara namun tidak berhasil. Pengadilan Tingkat Banding telah keliru dalam menerapkan hukum dan kurangnya pertimbangan, seperti yang tercantum dalam Pasal 62 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana yang telah diubah dengan undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 yang menyatakan : “Segala penetapan dan putusan Pengadilan, selain harus memuat alasan-alasan dan dasar-dasarnya juga harus memuat pasal-pasal tertentu dari peraturan-peraturan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.” Seharusnya Pengadilan Tingkat Banding memeriksa kembali secara keseluruhan dengan melakukan klarifikasi atau untuk menambah kesempurnaan pembuktian pemeriksaan, maka sebelum menjatuhkan putusan akhir harus menjatuhkan putusan sela dengan amar memerintahkan Pengadilan Tingkat Pertama untuk melakukan pemeriksaan tambahan, dan berita acara pemeriksaan
209Hasil wawancara dengan, Haspan Pulungan Hakim Pengadilan Agama Kelas IA Medan,
selanjutnya jika Pengadilan Agama diangggap salah dalam menerapkan hukum acara. Sehingga sesuai dengan yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia tanggal 13 Juli 1976 No.588/K/SIP/1975 maka Mahkamah Agung harus membatalkan keputusan Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri yang kurang tepat dan tidak terperinci.