BAB IV ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP SURAT EDARAN KAPOLR
B. Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/06/X/
Media Sosial
Dalam syariat Islam, hakim atau majelis hakim yang akan memutuskan
suatu perkara harus mempertimbangkan dengan akal sehat dan keyakinan serta
perlu adanya musyawarah untuk mencapai nilai-nilai keadilan dengan
semaksimal mungkin baik bagi korban maupun terdakwa. Dan hakim di dalam
memberikan putusan yang berupa hukuman kepada terdakwa harus
71
terlebih dahulu dengan jalan permusyawaratan, agar penjatuhan pidana yang
diberikan oleh hakim dapat mencapai nilai keadilan.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa perbuatan yang terkait dengan
masalah nama baik sangat terkait dengan masalah kehormatan yang mutlak
untuk dijaga dan orang lain tidak boleh mengganggu atau melanggarnya.
Islam melarang untuk menyakiti perasaan pihak lain dan Islam menganjurkan
agar setiap muslim berupaya untuk membuat pihak lain merasa senang.
Sehubungan dengan itu, ada pepatah Arab yang menyatakan bahwa membuat
pihak lain bahagia merupakan ibadah.
Islam sebagai agama yang ra matan lil ālamīn benar-benar
mengharamkan perbuatan menggunjing, mengadu domba, memata-matai,
mengumpat, mencaci maki, memanggil dengan julukan tidak baik, dan
perbuatan-perbuatan sejenis yang menyentuh kehormatan atau kemuliaan
manusia karena berkenaan dengan ujaran kebencian yang dapat menjatuhkan
harkat dan martabat orang lain. Islam pun, menghinakan orang-orang yang
melakukan dosa ini, juga mengancam mereka dengan janji yang pedih pada
hari kiamat, dan memasukkan mereka dalam golongan orang-orang yang
fasik, karena Islam bukanlah agama yang mengajarkan untuk merendahkan
orang lain. Ujaran kebencian sangat erat kaitannya dengan penghinaan dan
pencemaran nama baik serta merupakan pelanggaran yang menyangkut harkat
dan martabat orang lain, yang berupa penghinaan biasa, fitnah/tuduhan
melakukan perbuatan tertentu, berita yang terkait dengan ujaran kebencian
72
menghancurkan reputasi, keluarga, karir dan kehidupan didalam masyarakat
tentunya.
Hukum pencemaran nama baik sangat penting karena dalam hukum
pidana Islam maupun positif mempunyai tujuan yang sama dalam
pembentukan hukum yaitu perlindungan HAM. Hukum Islam dalam
pembentukan hukum mempunyai tujuan utama yaitu untuk kemaslahatan umat
manusia baik didunia maupun akhirat, yang sering dikenal al-Maqasidu
Khamsah (Panca Tujuan: hifz al-Nafs (menjaga jiwa), hifz al-‘Aql (menjaga
akal), hifz al-Din (menjaga agama), hifz al-Mal (menjaga harta) dan hifz al-
Nasl (menjaga keturunan)).
Sehingga sanksi hukum perlu ditegakkan bagi pelaku pencemaran
nama baik karena telah menyinggung hak individu, yang perbuatan yang
dibuat oleh seseorang tersebut mengakibatkan kerugian kepada orang tertentu
bukan orang banyak. Sama halnya dengan hukum positif yang sangat
melindungi hak individu untuk bebas tanpa terganggu oleh orang lain terlebih
dalam hal pencemaran nama baik. Karena salah satu kunci keberhasilan sistem
syariat Islam dalam bidang peradilan adalah tegas dan adilnya sanksi-sanksi
yang dijatuhkan oleh pembuat hukum, baik bagi terdakwa maupun pendakwa
termasuk bagi masyarakat banyak. Perkara yang menyangkut sanksi inilah
yang dikenal dalam hukum Islam dengan nama al-‘Uqubah.
Tentunya kita mengetahui bahwasanya didalam mengambil sebuah
keputusan tentunya hakim juga harus berpedoman pada asas-asas hukum
73
kepastian hukum (sesuai dengan anjuran Alquran dan hadis), serta asas
kemanfaatan (dalam penjatuhan hukuman melihat manfaat dan madharat).
Sehingga akan terjadi keadilan dalam memutuskan sebuah hukum, baik itu
hukuman badan, hukuman yang berkaitan dengan kemerdekaan, hukuman
yang berkaitan dengan harta, maupun hukuman dalam bentuk lain.
Namun dalam Islam terdapat kesamaan dengan hukum positif dalam
hal penanganan sebelum mengarah ke hukuman yakni pemberian tindakan
pencegahan orang lain agar tidak melakukan jarimah dan membuat pelaku
jera sehingga tidak mengulangi, akan tetapi didalam Islam ditambah dengan
sikap pengajaran dan pendidikan sehingga diharapkan dapat memperbaiki pola
hidup pelaku jarimah untuk kedepannya.
Jika kegiatan pencegahan tersebut telah dilakukan namun pelaku tidak
kunjung jera maka hakim dengan menggunakan hukum positif yang sangat
jelas dalam pengaturan batas waktu dapat dihukumnya seseorang dalam
ruangan penjara, hukum positif mengatur batas maksimal dari hukuman
pencemaran nama baik adalah 6 tahun, namun tergantung kepada keputusan
hakim untuk menentukan berapa hukuman yang pantas untuk diberikan
kepada pelaku pencemaran nama baik.
Ini berbeda dengan hukum Pidana Islam yang mengatur bahwasanya
hakim dalam hal ini dapat menjatuhkan hukuman atau sanksi kepada pelaku
yang telah menyinggung hak individu dalam pencemaran nama baik dengan
hukuman yang berkaitan dengan kemerdekaan seseorang artinya seseorang
74
waktu) oleh hakim. Namun dalam hukuman penjara ini ada batas maksimum
yang pasti dan dijadikan pedoman umum untuk hukuman penjara sebagai
takzir.
Hukuman penjara yang telah ditentukan oleh hakim dalam sanksi
takzir banyak macamnya dan bisa disesuaikan dengan kejahatan yang telah
dilanggar seseorang. Dan dalam hal ini ditetapkan berdasarkan keputusan
hakim. Tidak ada pembeda hukuman antara kejahatan politik maupun non
politik dan juga tidak ada perlakuan khusus bagi publik figur. Semua
perbuatan tercela dipandang sebagai kejahatan, penilaian besar kecilnya
kejahatan dikembalikan kepada ketetapan penguasa/hakim. Sebab, dialah
pihak yang berhak menetapkannya. Barangsiapa melecehkan kepribadian atau
darah seseorang maka pelakunya harus dijatuhi sanksi atas perbuatannya,
tanpa memandang keberadaannya sebagai orang terkenal atau tidak.
Kemudian, barangsiapa mencela aturan dan nama baik seseorang tanpa ada
alasan yang benar, dalam kasus semacam ini harus dikenakan sanksi, tanpa
memandang lagi statusnya sebagai politikus atau bukan.
Pemenjaraan merupakan bagian dari sanksi takzir, seperti halnya jilid
dan potong tangan, yang sanksi tersebut harus memberikan rasa sakit yang
sangat kepada pihak yang dipenjara dan juga harus bisa menjadi sanksi yang
bisa berfungsi mencegah, itulah tujuan utama dari pemenjaraan dalam sanksi
75
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis menyelesaikan penulisan dalam bentuk skripsi yang berjudul “Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/06/X/2015 Tentang Penanganan Ujaran Kebencian
(Hate Speech) Di Media Sosial”, maka penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Dalam Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/06/X/2015 Tentang
Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech), bahwasanya
penanganan ujaran kebencian di media sosial terhadap para pelaku
hate speech yang dilakukan oleh pihak kepolisian sebelum ke arah
pemidanaan dilakukan beberapa tindakan terlebih dahulu dengan
menggunakan tindakan preventif dan apabila sudah dilakukan namun
masalah masih belum terselesaikan dan semakin menjadi rumit, maka
dilakukan tindakan represif namun apabila dalam langkah penanganan
awal tidak bisa menanggulangi kejahatan pencemaran nama baik
tersebut maka dilakukan tindakan pemidanaan dengan menjerat pelaku
dengan sumber hukum rujukan yang tercantum didalam Surat Edaran
Kapolri Nomor: SE/06/X/2015 Tentang Penanganan Ujaran Kebencian
(Hate Speech) oleh pihak kepolisian. Seperti contoh kasus pencemaran
76
dilakukan oleh pemilik akun @YPaonganan yang bernama Yulianus
dengan melakukan re-upload foto dengan tulisan yang mengarah kepada pornografi yakni dengan kata “Papa Doyan Lonte” dengan menyertakan hastag #papamintapaha dan #papadoyanlonte, 200 kali
postingan di Twitter selama 12-14 Desember 2015 yang melanggar
UU Pornografi dan UU ITE dengan ancaman hukuman pidana penjara
paling lama 6 (enam) tahun dengan denda 1 miliar.
2. Tinjauan hukum pidana Islam terhadap Surat Edaran Kapolri Nomor:
SE/06/X/2015 tentang penanganan ujaran kebencian (hate speech) di
media social yang dilakukan oleh pihak kepolisian, tentunya dalam hal
ini kepolisian juga sebagai penegak hukum dituntut untuk menjalankan
hukum dengan seadil-adilnya dan dengan berbagai pertimbangan,
sehingga hukuman bagi pelaku tindak pidana pencemaran nama baik
adalah hukuman takzir (hukuman dari semua jenis tindak pidana yang
tidak secara tegas diatur dalam Alquran dan hadis). Hukuman takzir
yang diberikan berupa hukuman penahanan dalam hukuman penjara
terbatas (belum ditentukan batas waktu) oleh hakim, dalam rangka
memberikan pendidikan dan pengarahan kepada kemaslahatan pelaku
agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.
B. Saran
1. Adanya peraturan-peraturan dalam Surat Edaran Kapolri Nomor:
77
dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya menaati peraturan
yang ada. Hal itu dilakukan untuk menjaga kepentingan kehidupan
masyarakat yang rukun. Serta Undang-undang Nomor 11 tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik merupakan salah satu
bentuk hukum yang dihasilkan oleh pakar yang semestinya tidak hanya
dipahami sebatas wacana hukum, akan tetapi perlu dijadikan ketegasan
dalam menegakkan hukum.
2. Masyarakat yang sebagai warga negara serta orang tua bagi anak-
anaknya yang sangat menyukai terhadap media sosial, diharapkan
mampu memberikan cerminan yang baik dan memberikan
pembelajaran moral terhadap penggunaan media sosial yang baik
kepada anaknya, sehingga tidak akan terjadi lagi perbuatan-perbuatan
yang merugikan orang lain seperti pencemaran nama baik dalam ujaran
78
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, Abdul Hamid. Ihyaul Ulumuddin. Ciputat: Lentera Hati, 2003.
Al-Maliki, Abdurrahman. Sistem Sanksi Dalam Islam, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002.
Ali, Zainuddin. Hukum Pidana Islam. Jakarta: Sinar Grafika, 2007.
Ali, Zainuddin. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Sinar Grafika, 2009.
Arifiyadi, Teguh. Gadgetmu Harimaumu (Tips Melek Hukum Eksis Di Medsos).
Tangerang Selatan: Literati, 2015.
Ashshofa, Burhan. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
Audah, Abdul Qadir. Ensiklopedia Hukum Pidana Islam Jilid 1, Bogor: PT.
Kharisma Ilmu, 2007.
Danesi, Marcel. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta: Jalasutra,
2010.
Djazuli, Fiqih Jinayah, Jakarta: Rajawali Grafindo Persada, 1997.
Hanafi, Ahmad. Asas-asas Hukum Pidana Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Irfan, M.Nurul, Hukum Pidana Islam, Jakarta: Amzah, 2016.
Jabbar, Ahmad Kamal Abdul, “Tren Meme Dan Ruang Kebebasan Dalam Fanpage Meme Comic Indonesia”, Skripsi-- UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2016.
Jalaluddin, Imam. Tafsir Jalalain. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010.
Marpaung, Leden. Tindak Pidana Kehormatan. Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1997.
Marzuki, Peter Mahmud. Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2008.
Masfiyah,Lilik. “Sanksi Pidana Pencemaran Nama Baik Oleh Pers Menurut Fiqih
Jinayah Dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers”,
Skripsi-- UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2014.
Mujahidin, Muhammad. “Tinjauan Fiqih Jinayah Terhadap Sanksi Pidana Pencemaran Nama Baik/Penghinaan Via Jejaring Sosial Menurut UU No. 11
79
Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik”. Skripsi--IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2013.
Muslich, Ahmad Wardi. Hukum Pidana Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2005.
Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
1994.
Suhariyanto, Budi. Tindak Pidana Teknologi Informasi (CYBERCRIME).
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014.
Soesilo, R. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-
Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Bogor: Politeia, 1995.
Widi, Restu Kartiko. Asas Metodologi Penelitian: Sebuah Pengenalan dan
Penuntun Langkah Demi Langkah Pelaksanaan Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.
Azra, Ayumardi. “Ujaran Kebencian dan Kebebasan”. Republika. (05 November
2015). 4.
Dariyanto, Erwin. “Tanggapan Yusril Soal Putusan PN Jaksel yang Bebaskan
Ongen @YPaonganan”, dalam
http://m.detik.com/news/berita/3207050/tanggapan-yusril-soal-putusan-pn-
jaksel-yang-bebaskan-ongen-ypaonganan”, diakses pada 21 Juni 2016.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Surabaya: Fajar Mulya,
2012.
Fadil, Iqbal. “Hina Jokowi di Media Sosial, orang-orang ini ditangkap polisi”, dalam http://m.merdeka.com/peristiwa/hina-jokowi-di-media-sosial-orang- orang-ini-ditangkap-polisi.html, diakses pada 24 Mei 2016.
Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Sunan Ampel Surabaya. Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi, Surabaya: UIN Sunan Ampel Surabaya, 2015. Indah, Novianti. “Surat Edaran Kapolri Mengenai Ujaran Kebencian di Media
Sosial”, dalam http://www.noviantiindah.com/2015/11/surat-edaran-kapolri- mengenai-ujaran.html?m=1, diakses pada 01 April 2016.
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/06/X/2015. Jakarta: Kepolisian Negara Republik Indonesia Markas Besar, 2015.
Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, Peran Polri Dalam Menjaga Kebhinekaan Indonesia: Respons Terhadap Kelompok Agama Garis Keras, Seminar, Surabaya: Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya, 31 Maret 2016.
80
Kusni, Andriani SJ. “Hal “Aneh” Di Era Jokowi”. Tribunnews Makassar. (02 November 2015). 2.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Undang-Undang R.I. Tentang Pornografi dan Informasi dan Data Transaksi Elektronik. Yogyakarta: Pustaka Mahardika, 2011.
Ridwan, Muhammad. “Citizen Journalism”. Kompasiana. (04 November 2015). 6. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar