• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Implementasi Ideal Pendidikan Islam (Tarbiyah, Ta’lim, dan Ta’dib) pada Madrasah Tsanawiyah

B. Paparan Data dan Pembahasan

3. Analisis Implementasi Ideal Pendidikan Islam (Tarbiyah, Ta’lim, dan Ta’dib) pada Madrasah Tsanawiyah

Pendidikan Islam pada dasarnya merupakan upaya untuk membina dan mengembangkan potensi manusia, meliputi potensi jasmaniah dan potensi rohaniah

143

agar tujuan kehadiran manusia sebagai hamba Allah dan khalifah Allah di dunia ini dapat tercapai sebaik mungkin.184

Pendidikan Islam bertujuan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu pendidikan hendaknya meliputi seluruh aspek fitrah peserta didik dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan.185

Dengan demikian sudah semestinya pendidikan Islam di implementasikan dengan bentuk kegiatan-kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas intelektual peserta didik, tetapi juga harus mengedepankan aspek-aspek lainnya seperti spiritual keagamaan, kepribadian, keterampilan dan akhlak mulia peserta didik agar tujuan pendidikan Islam dapat tercapai dengan semestinya.

Berdasarkan hal tersebut bentuk-bentuk implementasi pendidikan Islam tersebut dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut:

a. Implementasi pendidikan Islam yang berorientasi pada peningkatan kualitas intelektual peserta didik.

Maksudnya adalah proses kegiatan belajar mengajar yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan melatih kemampuan intelektual peserta

184Abd. Rahman Getteng, Pendidikan Islam dalam Pembangunan, (Ujung Pandang, Yayasan al-Ahkam, 1997), h. 25.

185Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik, (Yogyakarta: Ijang Grafika, 2004), h. 62.

144

didik dan merangsang keingintahuan serta memotivasi kemampuan peserta didik.

Islam menginginkan pemeluknya cerdas dan pandai. Kecerdasan ditandai dengan kemampuan menyelesaikan sutau masalah secara cepat dan tepat. Sedangkan kepandaian ditandai dengan banyaknya pengetahuan dan informasi yang dimiliki.186 Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna yang diberikan potensi yang luar biasa yaitu akal (intelek) untuk mencari pengetahuan dan informasi. Allah memerintahkan manusia menggunakan akal dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Az-Zumar ayat 9 yang berbunyi:

َي ۡلَه ۡلُق ۗۦِّهِّّبَر َةَمۡحَر ْاوُجۡرَيَو َةَرِّخلۡأٓٱ ُرَذۡحَي اٗمِّئٓاَقَو اٗدِّجاَس ِّلۡيَّلٱ َءٓاَناَء ٌّتِّنََٰق َوُه ۡنَّم َ يِّوَت ۡس أ

ِّبَٰ َب ۡ ل َ أ ۡ لٱ ْ اوُلْو ُ

أ ُر كَذَتَي اَمَّنِّإ َۗنوُمَلۡعَي اَل َنيِّذَّلٱَو َنوُمَلۡعَي َنيِّذَّلٱ َّ

٣

b. Implementasi pendidikan Islam yang berorientasi pada pengembangan bakat dan potensi yang dimiliki peserta didik.

Maksudnya adalah proses pembinaan yang fokus kepada pengembangan bakat dan potensi yang peserta didik miliki, lalu peserta didik dikelompokkan berdasarkan kesamaan bakat dan potensi yang dimilikinya untuk mendapatkan pembinaan atau bimbingan secara khusus terhadap spesifikasi bidang ilmu yang berkaitan dengan bakat dan potensi yang mereka

186Muhammad Nasir Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Kasir Jilid 4,(Jakarta: Gema Insani, 2012), h. 771.

145

miliki. Kemudian diberikan pengenalan atau pembelajaran terhadap ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bakat dan potensi mereka, baik yang bersifat teori maupun praktik.

Tuhan memberikan manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya. Potensi tersebut meliputi potensi jasmani (fisik), rohani (spiritual) dan akal (intelektual). Ketiga potensi ini akan memberikan kemampuan kepada manusia untuk menentukan dan memilih jalan hidupnya sendiri.

Ketiga potensi tersebut saling menunjang dan melengkapi, tetapi dari ketiga kompenen itu, potensi spiritual dan akal memegang peranan penting dalam menentukan kesuksesan seseorang dalam kehidupan, sebab dari kedua potensi itulah manusia akan tahu kemana akan melangkah, apa yang diinginkan, dan apa yang harus dilakukan. Potensi fisik hanya menunjang kedua potensi tersebut agar lebih sempurna.187

c. Implementasi pendidikan Islam yang berorientasi pada pembinaan kepribadian peserta didik.

Maksud dari implementasi pendidikan Islam yang berorientasi pada pembinaan kepribadian peserta didik adalah proses membina kepribadian peserta didik yang berpedoman kepada ajaran Islam yang merujuk kepada contoh yang paling sempurna di antara semua manusia yaitu kepribadian Nabi

187Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an: Terapi Qur’ani dalam Penyembuhan Gangguan Kejiwaan, terj. M. Zaka al-Farisi, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), h. 364.

146

Muhammad SAW. karena Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW.

memiliki uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) bagi umat manusia.

Hal tersebut berdasarkan firman Allah SWT dalam Q.S Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi:

َناَك ۡدَق َّ ل َ َّللٱ َرَكَذَو َرِّخلۡأٓٱ َمۡوَي ۡ

لٱَو َ َّللٱ ْ

اوُجۡرَي َناَك نَمِّ ّ

ل ٞةَن َسَح ٌّةَو ۡس ُ

أ ِّ َّللٱ ِّلوُسَر يِّف ۡمُك َل

اٗريِّثَك ٤٨

d. Implementasi pendidikan Islam yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang baik.

Maksud dari implementasi pendidikan Islam yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang baik adalah proses penanaman nilai akhlak dalam rangka rangka membentuk akhlak baik bagi peserta didik dalam perkembangannya menuju kedewasaan.

Beberapa cara atau metode yang digunakan dalam implementasi penanaman nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang baik yaitu sebagai berikut.

a. Keteladanan

Keteladanan aadalah suatu perbuatan yang patut dicontoh dan ditiru dalam proses pendidikan, peseta didik cenderung menjadikan pendidik nya sebagai figur yang dijadikan contoh baginya. Untuk menciptakan peserta didik yang berakhlak mulia, pendidik tidak cukup hanya memberikan teori saja, karena yang lebih penting bagi peserta didik adalah potret seorang figur yang memberikan keteladanan dalam menerapkan teori tersebut.

147

Oleh karena itu keteladanan dipandang sangat efektif dalam penanaman nilai akhlak karena melalui pemberian contoh keteladanan yang baik kepada peserta didik maka mereka akan berkembang baik secara fisik maupun psikis dan memiliki akhlak yang mulia.

b. Pembiasaan

Pembiasaan adalah mendidik peserta didik dengan cara membiasakan suatu kegiatan tertentu kemudian membiasakan untuk mengulangi kegiatan tertentu tersebut berkali-kali agar menjadi kebiasaan dalam hidupnya.

Proses pembiasaan bermanfaat sebagai perekat antara tindakan akhlak dan diri seseorang. Semakin lama seseorang mengalami tindakan maka tindakan itu semakin rekat dan akhirnya menjadi suatu yang tak terpisahkan dari diri dan kehidupannya.188

Proses pembiasan dalam membentuk akhlak peserta didik sangatlah penting. Jika pembiasaan sudah dilaksanakan dengan baik, tidak menutup kemungkinan akan lahir peserta didik yang berakhlak mulia dan tidak mustahil mereka akan jadi teladan dan panutan bagi peserta didik yang lain.

c. Nasihat

Penanaman nilai-nilai akhlak kepada peserta juga bisa melalui nasihat-nasihat yang di dalamnya mengandung nilai-nilai akhlak mulia yang diberikan

188Nasirudin, Pendidikan Taasawuf, (Semarang: Rasail, 2010), h. 38.

148

kepada peserta didik agar mendapatkan pengertian tentang perbuatan dan perilakunya sehari-hari.

Adapun memberikan pengertian terhadap sesuatu yang patut dan tidak patut diperbuat oleh peserta didik dan nasihat bagi kehidupan peserta didik adalah hal yang sangat penting dilakukan oleh pendidik.

Dengan memberikan nasihat kepada peserta didik dapat membantu mereka menyadari agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

Karena pada dasarnya nasihat diartikan sebagai kata-kata yang mengandung nilai dan motivasi yang dapat menggerakkan hati peserta didik.189

d. Cerita

Cerita memiliki daya tarik yang besar untuk menarik perhatian peserta didik. Hal itu terjadi karena di dalam cerita terdapat kisah-kisah zaman dahhulu, sekarang dan hal-hal yang jarang terjadi. Selain itu cerita juga lebih lama melekat pada ingatan peserta didik.190

Tujuan dari bercerita adalah agar pendidik dapat menanamkan nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam cerita tersebut. Selain itu juga bertujuan agar peserta didik mampu membedakan perbuatan yang baik dan yang buruk sehingga dapat diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

e. Pemberian Hukuman dan Ganjaran

189Gunawan, Pendidikan Karakter, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 36.

190Fuad Asy Syalhub, Guruku Muhammad SAW, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), h. 115.

149

Hukuman adalah suatu tindakan yang diberikan kepada peserta didik secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan kesedihan. Dengan adanya kesedihan tersebut peserta didik menjadi sadar akan perbuatan salahnya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.191

Hukuman diberikan bukan untuk menyakiti peserta didik melainkan untuk memperbaiki tingkah laku peserta didik yang kurang baik menuju ke arah yang lebih baik.

Sedangkan ganjaran adalah pemberian nilaian yang bersifat positif terhadap pencapaian prestasi baik peserta didik. Ganjaran bisa dalam bentuk hadiah atau pembalasan jasa. Pemberian ganjaran bertujuan agar peserta didik merasa senang karena perbuatan dan pekerjaannya mendapatkan penghargaan.192

Ganjaran juga bertujuan sebagai motivasi bagi peserta didik agar selalu membiasakan diri untuk belajar dengan sungguh-sungguh, agar selalu melakukan perbuatan terpuji dan berusaha untuk meningkatkannya. Dalam ajaran Islam metode ganjaran terbukti dengan adanya pahala.

Hal tersebut berdasarkan firman Allah dalam Q.S Al-An’am ayat 160 yang berbunyi:

191Amir Daien Indrakusuman, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), h. 147.

192M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 182.

150

اَل ۡمُهَو اَهَلۡثِّم ا َّ لِّإ َٰٓىَزۡجُي اَلَف ِّةَئِّّيَّسلٱِّب َءٓاَج نَمَو ِۖاَهِّلاَثۡمَأ ُرۡشَع ۥُهَلَف ِّةَنَسَحۡلٱِّب َءٓاَج نَم ُمَل ۡظُي

َنو

٨٢٨

Dengan demikian implementasi pendidikan Islam ideal yang dimaksud penulis disini adalah proses pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan pendidikan Islam yang komprehensif mencakup seluruh aspek, baik aspek personalitas, aspek intelektualitas maupun aspek spritualitas yang dimiliki peserta didik. Dan ketiga aspek tersebut terdapat dalam konsep pendidikan Islam yang telah dirumuskan oleh para pakar Ilmu Pendidikan Islam pada saat Konferensi Pendidikan Islam pertama di University of King Abdul Aziz pada tahun 1977, yaitu konsep tarbiyah, ta’lim dan ta’dib.

Adapun berdasarkan pengamatan dan hasil analisis yang dilakukan penulis, maka dapat penulis simpulkan bahwa dari ke empat MTsN yang ada di Kota Banjarmasin, MTsN 3 Kota Banjarmasin lah yang dapat dikatakan ideal dalam proses implementasi Pendidikan Islam di Madrasah Tsanawiyah, hal tersebut terlihat dari seluruh bentuk kegiatan yang dilaksanakan di madrasah sudah mencukup seluruh aspek yang dimiliki peserta didik baik aspek personalitas, aspek intelektualitas maupun aspek spritualitas dan juga menunjukkan perwujudan dari ketiga konsep Pendidikan Islam yaitu Tarbiyah, Ta’lim dan Ta’dib.