HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Analisis Infeksi Batang
Dalam kondisi menghadapi infeksi oleh jamur, pohon penghasil gaharu akan memberi respon untuk mempertahankan dan memulihkan dirinya. Daya tahan pohon akan menentukan pemenang antara pohon dengan penyakit yang disebabkan mikro-organisme tersebut. Dalam hal pembentukan gaharu tentunya diharapkan penyakitlah yang akan menang, sehingga dihasilkan produk gaharu yang diinginkan. Senyawa kimia yang dimiliki pohon merupakan salah satu upaya pertahanan pohon terhadap mikroorganisme
penyebab penyakit. Gaharu sendiri telah diidentifikasi sebagai sesquiterpenoid, senyawa pertahanan tipe fitoaleksin. Kerentanan pohon dalam menghadapi infeksi jamur akan berkaitan dengan
gaharu yang terbentuk, dapat direfleksikan masing-masing oleh
besar infeksi dan komponen kimianya.
Pada Gambar 8 terlihat panjang infeksi yang terjadi pada batang pohon A. microcarpa pada umur inokulasi 2 bulan dan 6 bulan. Pada umur inokulasi 2 bulan isolat Fusarium spp. asal Gorontalo memperlihatkan nilai infeksi yang paling besar, yaitu 4,13 cm diikuti oleh isolat campuran, Padang, Kalbar, dan yang terendah adalah infeksi yang terbentuk oleh isolat asal Jambi. Dari hasil analisis sidik ragam, terlihat bahwa asal isolat berpengaruh nyata terhadap panjang infeksi yang terjadi pada batang A. microcarpa. Hasil uji lanjut Duncan memastikan bahwa pada dua bulan sejak inokulasi, isolat asal Gorontalo menyebabkan infeksi yang paling besar pada batang pohon penghasil gaharu, diikuti oleh isolat campuran (Tabel 4).
Berbeda dengan kondisi pada umur 2 bulan, pada umur inokulasi 6 bulan, isolat campuran menyebabkan infeksi yang lebih tinggi dibandingkan isolat yang lain (Gambar 8). Pada saat ini, secara statistik asal isolat tidak lagi memberikan pengaruh nyata terhadap infeksi yang terbentuk pada batang A. microcarpa. Namun sama halnya dengan kondisi pada umur inokulasi 2 bulan, dari Gambar 8 terlihat bahwa infeksi tertinggi masih disebabkan oleh isolat asal Gorontalo dan campuran.
Tabel 4. Uji lanjut Duncan untuk infeksi 2 bulan umur inokulasi Asal isolat (Isolate origin) Rataan (Mean value) Jambi 1,857a
Kalimantan Barat 2,223a
Padang 2,297a
Campuran 3,193a Gorontalo 4,133a
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nya-ta pada 0,05
Gambar 8. Panjang infeksi batang A. microcarpa
Gambar 9 menunjukkan perubahan panjang infeksi yang terjadi sejak dua bulan inokulasi hingga bulan keenam. Meskipun masih merupakan isolat yang menyebabkan infeksi terbesar, tetapi infeksi bulan keenam oleh isolat asal Gorontalo terlihat tidak mengalami perkembangan, sedangkan infeksi oleh keempat asal isolat yang lain menunjukkan peningkatan yang beragam. Namun begitu, secara statistik untuk bulan keenam inokulasi, asal daerah isolat tidak memberikan pengaruh nyata pada laju infeksi yang terjadi
(nilai signifikansi 0,186 pada 5%).
Perkembangan infeksi yang terjadi hingga 6 bulan setelah inokulasi menunjukkan asal daerah isolat tidak lagi memberikan pengaruh yang nyata, meskipun yang terbesar masih disebabkan oleh isolat campuran dan isolat asal Gorontalo. Hal ini diduga ada kaitannya dengan pertahanan masing-masing pohon contoh. Meskipun tetap menyebabkan infeksi yang besar, kekonsistenan perkembangan infeksi sebaiknya diteliti lebih lanjut dengan mengikuti perkembangan laju infeksi oleh isolat asal Gorontalo ini hingga kurun waktu tertentu.
Dari perkembangan infeksi pada pohon A. microcarpa ini dapat dikatakan bahwa isolat asal Gorontalo menyebabkan infeksi yang terbesar, yang berarti isolat ini menghasilkan kuantitas gaharu yang paling besar. Meskipun isolat campuran menunjukkan panjang infeksi yang lebih tinggi saat 6 bulan setelah inokulasi, namun ada kemungkinan hal ini masih merupakan pengaruh dari isolat asal Gorontalo tersebut.
KESIMPULAN
1. Secara morfologi isolat Fusarium spp. didominasi warna putih, namun terdapat warna koloni merah muda, kuning, dan ungu. Hampir semua isolat memiliki aerial miselium. Secara histologi isolat Fusarium spp. memiliki karakter makrokonidia bersepta 3-4 dan makrokonidia didominasi oleh bentuk elips.
2. Uji perbedaan kecepatan tumbuh menunjukkan bahwa isolat Ga- 9, Ga-11, dan Ga-17 merupakan isolat yang memiliki kecepatan tumbuh tinggi apabila dibandingkan dengan isolat Fusarium yang lain.
3. Hasil inokulasi Fusarium spp. pada batang Aquilaria microcarpa dapat dianalisis kuantitas dan kualitasnya melalui pendekatan besaran infeksi dan komponen kimia yang dapat dianggap
masing-masing sebagai refleksi kuantitas dan kualitas gaharu
yang terbentuk.
4. Isolat Fusarium spp. asal Gorontalo menyebabkan infeksi yang paling besar, jadi sebaiknya isolat ini digunakan untuk inokulasi
pada A. microcarpa jika diinginkan hasil gaharu dalam jumlah besar.
DAFTAR PUSTAKA
Adelina, N. 2004. Seed Leaflet : Aquilaria malaccensis Lamk. Forest and Landscape Denmark. www.SL.kvl.dk. [2 Februari 2007]. Barden, A., A.A. Nooranie, M. Teresia, and S. Michael (2000). Heart of
The Matter Agarwood Use and Trade and CITES Implementation for Aquilaria malaccensis, TRAFFIC Network. pp. 2.
Booth, C. (1971). The Genus Cylondrocarpon. (England : Commonwealth Mycological Institute). pp. 120-127.
Cowan, M. 1999. Plant Products as Antimicrobial Agents. Clinical microbiology Review.12 (4) : 564-582.
Forestry Commission GIFNFC. 2007. Chemicals from Trees. http: // treechemicals. csl. gov.uk/review/extraction.cfm. [14 Juli 2007]. Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Badan
Litbang Kehutanan. Jakarta. pp. 267-269.
Hills, W. E. 1987. Heartwood and Tree Exudates. Berlin : Springer- Verlag. Hua SST. 2001. Inhibitory Effect of Acetosyringone on
Two Aflatoxin Biosynthetic Genes. Applied Microbiology 32 : 278-281.
Irawati. 2004. Karakterisasi Mikoriza Rhizocstonia dari Perakaran Tanaman Vanili Sehat. Tesis. Magelang. pp. 6-7.
Isnaini, Y. 2004. Induksi Produksi Gubal Gaharu Melalui Inokulasi Cendawan dan Aplikasi Faktor Biotik. Disertasi). Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Luciasih, A., D. Wahyuno, dan E. Santoso. 2006. Keanekaragaman Jenis Jamur yang Potensial dalam Pembentukan Gaharu dari Batang Aquilaria spp. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam III(5):555-564. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Rowell, Rm. 1984. The Chemistry of Solid Wood. Washington : American Chemical Society.
Soehartono, T., A. Mardiastuti. 2002. CITES and Implementation in Indonesia. Nagao Natural Environment Foundation. Jakarta. Sumadiwangsa, E. S. dan Harbagung. 2000. Laju Pertumbuhan
Tegakan Gaharu (Aquilaria malaccensis) di Riau yang Ditanam dengan Intensitas Budidaya Tinggi dan Manual. Info Hasil Hutan 6 (1) : 1-16. Pusat Penelitian Hasil Hutan. Bogor.
Surata, I K., I M. Widnyana. 2001. Teknik Budidaya Gaharu. Aisuli 14. Balai Penelitian Kehutanan Kupang.
Trupti, C., P. Bhutada, K. Nandakumar, R. Somani, P. Miniyar, Y. Mundhada, S. Gore, K. Kain. 2007. Analgesik and Anti-
Imflamatoryactivity of Heartwood of Aquilaria agallocha in Laboratory Animal. Pharmacology-online 1 : 288-298.
Verpoorte, R.; R van der Heijden, J. Memelink. 2000. General Strategies. In Verpoorte, R. and Alfermann, A. W. (Editors). Metabolic Engineering of Plant Secondary Metabolism. Kluwer Academic Publisher. Dordrecht, Boston, London. p : 31-50. Verpoorte, R. 2000. Plant Secondary Metabolism. In : Verpoorte, R.
and Alfermann, A. W. (Editors). Metabolic Engineering of Plant Secondary Metabolism. Kluwer Academic Publisher. Dordrecht, Boston, London. p : 1-30.
Vidhyasekaran, P. 2000. Physiology of Disease Resistant in Plant. CRC Press Inc. Boca Raton, Florida.