Rumah tangga Ternak Sapi Sebagai Enterprise
Pengelolaan usaha ternak yang dijalankan oleh rumah tangga memperlihatkan adanya kapasitas bagi sebuah rumah tangga untuk memperoleh informasi mengenai ternak serta memperoleh peluang dalam menjalankan dan mengembangkan ternak yang dimiliki, terlebih memperoleh kesempatan untuk melakukan inovasi dan mempergunakan teknologi yang ada sebagai usaha untuk memperoleh pendapatan bahkan meningkatkan keuntungan bagi rumah tangga (Hartono, 2011: ).
Rumah tangga ternak memiliki kaitan sebagai enterprise, Enterprise sendiri merupakan sebuah pola (sistem) dari manusia untuk menghasilkan sebuah produk atau jasa dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dengan menitiberatkan pada peralatan, kebijakan, material, data dan prosedur (Sajiatmoko, 2015). Bagi rumah tangga yang bekerja sebagai pelaku usaha ternak sapi juga menerapkan pandangan bahwa usaha ternak sapi yang sedang mereka jalankan harus memberi keuntungan secara finansial berupa pendapatan untuk rumah tangga guna memenuhi kebutuhan hidup dan keuntungan secara non-finansial yang dirasakan oleh rumah tangga peternak serta berperan dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga peternak. Disamping itu, oleh pemerintah semakin berkembangnya usaha
35
ternak diharapkan dapat menunjukkan perannya dalam menopang sektor industrialisasi agar dapat semakin meningkat lagi (Renstra Dinas Peternakan Provinsi Jambi, 2006). Bagi rumah tangga peternak didaerah penelitian, semakin besar dan berkembang usaha ternaknya maka status sosial di masyarakat juga ikut meningkat. Masyarakat sekitar akan memandang rumah tangga tersebut menjadi rumah tangga sukses yang dapat menjalakan usahanya dengan baik dan masyarakat akan memberikan penghargaan secara verbal11 pada rumah tangga peternak tersebut.
Dalam menjalankan usaha ternak sapinya, perlu adanya sistem yang diberlakukan dalam kegiatan produksi ternak dengan tujuan menghasilkan produk yang berdaya jual. Prosedur pemeliharaan diperketat untuk menghasilkan sapi yang produktif mulai dari pemberian pakan yang berkualitas tinggi, pemberian pakan yang teratur, pemberian vitamin yang tepat guna menghindari sapi terkenana sakit penyakit. Banyak hambatan dalam pemeliharaan ternak namun setiap prosedur dalam pengelolaan ternak merupakan proses produksi dalam usaha yang harus di cari jalan keluarnya sehingga dapat menjadi salah satu kunci ternak dapat berdaya jual. Semakin berkembangnya produksi ternak dengan bantuan segala sarana dan prasarana yang ada akan menumbuhkan kondisi peternakan yang maju, efisien dan kuat sehingga mengkolaborasikan pola dan struktur produksi dengan permintaan pasar serta menunjukkan kemampuan produksi dengan peningkatan kesempatan kerja, pendapatan, perbaikan lingkungan, pertumbuhan ekonomil dan kesejahteraan hidup seseorang (Dinas Peternakan Jawa Tengah, 2001)
Usaha ternak sapi yang terkoordir akan memberikan keuntungan yang optimal bagi peternak, semakin besar keuntungan memperlihatkan betapa baiknya manajemen pengelolaan ternak (Sutrisno, 2000). Rumah tangga peternak sapi yang melakukan manajemen pengelolaan ternak dari mulai bibit hingga dewasa dan siap jual, akan menghasilkan pendapatan dari usaha ternak yang berkontribusi sebagai pendapatan bersih bagi rumah tangga yang dihitung dari besarnya pendapatan dari usaha ternak dikurangi dengan total biaya produksi dari pemeliharaan (pengelolaan) ternak yang telah dikeluarkan dalam kurun waktu tertentu (Anonimous, 2010).
11 Penghargaan tersebut dapat berupa apresiasi, sanjungan dan rasa menghargai dari masyarakat kepada rumah tangga peternak.
36
Tidak hanya dapat memberikan keuntungan pada peternak, pihak-pihak lain yang turut ambil bagian dalam dunia ternak sapi ikut merasakan keuntungan seperti para blanthik atau makelar sapi juga mendapatkan keuntungan, tidak jarang mereka membeli sapi siap jual dari peternak dengan harga relatif miring kemudian menjual lagi kepada orang lain dengan harga lebih mahal. Begitu pula dengan kreditur, bagi peternak yang memerlukan modal dan harus meminjam modal dari kreditur ketika usaha ternaknya berjalan dengan sesuai harapan dan memperoleh keuntungan maksimal maka pihak kreditur menjadi salah satu pihak yang diuntungkan karena proses pengembalian dana pinjaman akan lancar dan mendapatkan bunga sesuai dengan kesepakatan.
Hambatan Membangun Enterprise Dalam Rumah Tangga
Usaha ternak sapi dikelola, dijalankan serta dikembangkan oleh anggota rumah tangga dan tenaga kerja bantuan yang menjadi penopang pendapatan bagi rumah tangga peternak (rumah tangga) guna meningkatkan kesejahteraan rumah tangga dan memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga. Dalam pengelolaan dan proses pengembangan ternak sebagai usaha yang dikelola oleh rumah tangga terdapat faktor yang berkaitan dengan usaha yang dijalankan anggota rumah tangga, yaitu faktor pendidikan yang mumpuni sebagai dasar untuk
managing dan pengelolaan ternak serta pemasaran hasil produksi, pengelolan penggunaan
input, teknik pemasaran, kredit, kebijakan yang berkaitan dengan usaha ternak, segala bentuk perencanaan untuk mengembangkan usaha ternak, penyuluhan dari pihak terkait akan ternak serta penelitian yang berkaitan dengan ternak (Pambudy, 1999).
Rumah tangga ternak sapi secara teknis memiliki kapasitas dan kemampuan untuk dapat mengelola atau memelihara ternak dengan baik serta dapat mengembangkan usaha dan pemeliharaan ternak dengan maksimal sesuai yang diharapkan rumah tangga ternak. Kenyataannya dalam aktivitas produksi dan pengelolaan ternak, peternak banyak diperhadapkan dengan hambatan-hambatan baik dari internal maupun eksternal, hambatan internal maksudnya adalah hambatan yang berasal dari sistem pengelolaan baik tenaga kerja, modal ataupun kesehatan sedangkan eksternal meliputi harga beli maupun harga jual di pasar yang fluktuatif dan sulitnya mendapatakan pakan untuk ternak akibat musim kemarau. Hambatan-hambatan yang dirasakan oleh rumah tangga ternak tersebut dapat saja menjadi semakin komplek apabila berkaitan dengan pengalokasian sumber daya yang dimiliki, seperti buruh, tenaga kerja dan modal, keuangan (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, 2011).
37
Tenaga kerja yang bekerja untuk membantu anggota rumah tangga peternak umumnya adalah buruh lepas yang dibayar per minggu bahkan per hari sesuai kebutuhan yang diperlukan dalam pemeliharaan serta dilihat dari jumlah sapi sehingga bagi buruh tersebut sebagai tenaga kerja peternakan hanyalah sambilan maka ketika mereka sedang mengerjakan pekerjaan mereka ketika hendak dimintai tolong terkadang tidak bisa. Pengaturan dan pengalokasian modal sangat penting karena ketika salah dalam melakukan pengaturan maka justru akan menimbulkan hambatan dalam usaha ternak.
Hambatan – hambatan lainnya yang dihadapi rumah tangga dalam mengembangkan dan mengelola usaha ternak sapi juga datang dari sistem pemeliharaan ternak yang masih tradisional dengan cara penanganan ternak yang sederhana, faktor ketersediaan bibit yang berkualitas di pasaran yang rendah, dari segi ekonomi seperti penurunan daya beli konsumen dan tidak stabilnya harga jual dan beli sapi dipasaran, selanjutnya dari sisi kebijakan dari pemerintah belum ada program mengenai usaha ternak sapi yang tepat sasaran, tepat guna, berkesinambungan dan berdaya saing tinggi serta faktor sumber daya manusia yang bekerja dalam peternakan itu sendiri. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi pendapatan pengelolaan dan berkembangnya usaha ternak sapi yang dijalankan oleh rumah tangga (Rosyadi, 2009). Peran Anggota Rumah Tangga Dalam Usaha Rumah tangga
Usaha ternak sapi yang dijalankan oleh rumah tangga ternak merupakan bagian penting sebagai usaha untuk memperoleh pendapatan guna memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga rumah tangga peternak. Pengelolaan usaha ternak sapi juga dibutuhkan adanya pekerja yang produktif, produktivitas itu dilihat dari aspek pendidikan dan keterampilan serta keahlian untuk meningkatkan mutu dan daya jual ternak (Oktaviani, 2008). Diperlukan berbagai aspek dari anggota rumah tangga untuk dapat menjalankan usaha tersebut. Tenaga, waktu dan pikiran merupakan hal inti yang harus disediakan oleh anggota rumah tangga rumah tangga peternak guna mengembangkan usaha ternak sapinya. Tenaga kerja dalam usaha ternak rumah tangga dapat berasal dari anggota rumah tangga yaitu Ayah, Ibu dan Anak (Mubyarto, 1998). Oleh sebab itu anggota rumah tangga memiliki peran yang mewajibkan mereka untuk dapat ikut serta dalam pemeliharan ternak sehingga hasil sapi ternak yang hendak dijual sesuai dengan harapan mereka.
Peran Anggota rumah tangga peternak dalam kontribusinya dalam mengelola usaha ternak sapi harus dilakukan dengan mengalokasikan waktunya untuk memelihara sapi seperti
38
untuk menentukan bibit yang akan dibeli (mencari bibit) di pasar atau pada para pedagang penjual bibit, mengatur perputaran uang mulai pemasukan hingga pengeluaran serta bertugas menjual dan melakukan dealing harga jual sapi dan menentukan pakan dan harganya. Semua pekerjaan tersebut diperlukan perhitungan dan perencanaan yang matang agar tidak mendatangkan kesalahan yang justru membebani anggota rumah tangga serta dari kegiatan pemeliharaan yang dilakukan anggota rumah tangga dapat diketahui seberapa nilai ekonomi dan waktu yang digunakan untuk pemeliharaan ternak (Darmawi, 2012). Sehingga rumah tangga hanya bertindak sebagai peternak pasif dalam proses pemeliharaan karena segala hal yang berhubungan langsung dengan sapi dilakukan oleh buruh (pemberian pakan dan pembersihan kandang) sedangkan rumah tangga peternak hanya melakukan pengecekan atau pengawasan, memutuskan suatu tindakan yang kaitannya dengan hal yang harus dilakukan buruh dan mengatur cara untuk membuat usaha ternak sapi menghasilkan untung. Umumnya hal ini dilakukan oleh rumah tangga yang memiliki jumlah sapi banyak (peternak besar) yang memiliki sapi lebih dari 30 ekor, disamping itu rumah tangga tersebut identik dengan rumah tangga kaya.
Bagi rumah tangga peternak yang memiliki jumlah sapi ternak sedikit (tidak lebih dari 30 ekor) rumah tangga peternak memiliki andil yang lebih besar dalam pengelolaan sapinya. Rumah tangga peternak sapi akan bertindak secara aktif dalam pemeliharaan mulai dari mencari rumput, memberi makan, membeli bibit hingga menjual hasil ternak walau rumah tangga pemilik ternak tetap memperkerjakan buruh untuk membantu memelihara sapi-sapinya, namun peran buruh tersebut hanya sekedar membantu rumah tangga peternak. Rumah tangga tersebut totalitas dalam mengelola ternak, dimulai dari ayah dan anak laki-laki yang mencari rumput, memberi pakan, membersihkan kotoran hingga anak perempuan dan istri turut membantu proses pemeliharaan secara langsung dengan sapi ternak, kuantitas buruh yang bekerjapun hanya sedikit. Dilihat dari pekerjaan yang dilakukan rumah tangga peternak dan jumlah sapi ternak dapat digolongkan sebagai peternak sederhana karena biaya pengeluaran benar-benar diminimalisir dengan semua anggota rumah tangga turut bekerja. Pemaanfaatan den pemaksimalan anggota rumah tangga yang berperan dalam usaha ternak sapi ini dapat mengurangi biaya produksi yang salah satunya berkaitan dengan tenaga kerja yang merupakan salah satu hambatan umum yang dihadapi peternak sehingga dengan pengoptimalan anggota rumah tangga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga dan memangkas pengeluaran (Iskandar dan Permana, 2012)
39
Pada dasarnya jumlah pengeluaran bagi sebuah rumah tangga peternak berkaitan dengan jumlah anggota rumah tangga karena dari situ dapat dihitung berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkan seperti konsumsi, biaya sekolah, biaya kebutuhan sehari-hari dan sebagainya. Semakin benyak jumlah anggota rumah tangga maka semakin banyak pula biaya yang harus dikeluarkan (Hartono, 2011). Bilamana seberapa banyak anggota rumah tangga rumah tangga peternak tersebut dimanfaatkan secara maksimal baik tenaga, waktu dan pikiran untuk menggerakkan usaha ternak maka hasil yang didapat bisa maksimal karena dapat memangkas pengeluaran dari sektor tenaga kerja dalam pengelolaan ternak. Baik anggota rumah tangga yang bekerja dalam usaha ternak rumah tangga berperan penuh12 maupun sekedar sebagai subsidi13 yang jika dilakukan tetap saja dapat memangkas pengeluaran dalam usaha ternak. Walaupun nominalnya kecil namun jika dilakukan secara penuh dapat juga membantu pengawasan ternak, karena pengawasan yang dilakukan oleh pemilik usaha akan lebih baik daripada jika dipercaya kepada orang lain yang notaben nya adalah mengawasi hanya karena bekerja untuk mendapat upah.
Tanpa adanya anggota rumah tangga rumah tangga yang berperan dalam usaha ternak dan hanya mengandalkan kepercayaan untuk menjalankan usaha kepada orang lain, hasil yang diperoleh cenderung berbeda karena bagi pemilik ternak sendiri akan lebih detail dan berupaya membuat sapi ternak tersebut menghasilkan keuntungan maksimal, berbeda dengan jika dipercayakan kepada orang lain apalagi orang yang bukan dari silsilah rumah tangga maka akan kurang maksimal karena mereka menganggap hanya menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab dan sapi tersebut bukan milik mereka sendiri sehingga tidak maksimal. Produktivitas anggota rumah tangga maupun tenaga kerja pun semakin bertambah usia maka akan menurun namun berbeda dengan yang berusia muda yang berkemampuan fisik kuat serta berintelegensi tinggi sehingga beberapa hal tersebut menjadi salah satu alasan usaha ternak sapi dijadikan usaha rumah tangga turun temurun (dari orang tua kepada anak) karena dipandang anak akan lebih kompeten dalam mengelola usaha dibanding orang tua yang sudah tua dan anak pun telah memiliki pengalaman ketika bekerja bersama-sama dengan orang tuanya (Suriantoro, 1991).
12 Penuh yang dimaksud adalah Anggota keluarga yang bekerja secara full timer / karena merupakan pekerjaan pokok.
13 Subsidi adalah anggota keluarga yang bekerja hanya membantu karena sudah memiliki pekerjaan pokok lain.
40 Aktivitas Produksi dan Sektor Informal
Aktivitas produksi adalah segala kegiatan yang mengubah barang baku menjadi barang jadi (Anggadini, 2011). Dalam usaha ternak sapi, yaitu mengubah sapi yang awalnya masih anakan sapi menjadi sapi yang siap jual bahkan berdaya jual tinggi. Sedangkan sektor informal adalah segala aktivitas ataupun kegiatan yang tujuan utamanya untuk memperoleh pendapatan yang aktor ekonominya (rumah tangga) tidak diatur oleh pemerintah (tidak ada campur tangan negara) (Portes dan Castell, 1995).
Rumah tangga yang merupakan salah satu jenis usaha produksi sektor informal karena memperlihatkan suatu bentuk usaha ekonomi dan didalamnya terdapat para pekerja yang bertujuan secara komersial untuk mendapatkan pendapatan dan keuntungan dan memiliki sifat yang tidak formal. Usaha informal inipun tergolong usaha kecil karena masuk kedalam golongan UMKM yang menawarkan dan menjual hasil produksinya dari ternak sapi serta melibatkan uang dan sistem transaksi pasar (Jual - Beli) (Suharto, 2002).
Rumah tangga tersebut termasuk dalam sektor informal karena menjalankan sistem kewirausahaan yang bertujuan mendorong adanya pertumbuhan ekonomi baik rumah tangga maupun wilayah tertentu. Rumah tangga peternak terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang berada dalam lingkup rumah tangga. Dilihat dari sisi usaha ternak, anggota rumah tangga tersebut memiliki aktivitas produksi yang dibuktikan setiap harinya melalui kegiatan atau tindakan yang ada hubungannya dengan usaha ternak sapi, seperti : memberi pakan sapi, memberi minum sapi, membeli pakan sapi, mengecek kondisi sapi dan lain sebagainya yang berkaitan dengan sapi ternak sampai dengan tahap mempersiapkan sapi untuk dijual. Tindakan - tindakan tersebut termasuk dalam upaya menjalankan aktivitas produksi yang hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari usahanya yang tergolong kecil dan dijalankan oleh anggota rumah tangga tentunya dengan menggunakan cara produksi yang sederhana ini, umumnya orang yang terlibat didalamnya memiliki pendidikan dan keahlian atau keterampilan yang terbatas sehingga mereka harus berusaha bekerja salah satunya dengan cara mereka sendiri (Djojohadikusumo, 1994). Anggota rumah tangga rumah tangga peternak yang bekerja dan berkecimpung dalam usaha ternak sapi ini merupakan sumberdaya yang tergolong berpotensional (Hartono, 2011).
Dilihat dari sisi lainnya, dalam aktivitas usaha ternak sapi yang dijalankan oleh anggota rumah tangga yang menjadikan usaha tersebut sebagai pekerjaan atau sarana
41
pemenuh kebutuhan hidup rumah tangga, anggota rumah tangga yang bekerja dan terlibat didalam usaha tersebut ataupun para butuh yang bekerja pada usaha ternak memperlihatkan dengan jelas adanya ketidakmampuan sektor formal untuk membuka kesempatan kerja bagi individu yang tidak memiliki batasan usia kerja maupun pendidikan. Akibat tidak mampunya sektor formal membuka kesempatan bagi para angkatan kerja, membuat individu atau para angkatan kerja tersebut mencari berbagai cara agar tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup, salah satu caranya adalah membuka lapangan pekerjaan sendiri yang melibatkan aktivitas produksi salah satunya usaha ternak sapi yang masuk dalam usaha sektor informal (Haris, 2011).
Inkubator Bisnis
Inkubator Bisnis merupakan sebuah wadah penyedia fasilitas dan pelayanan dengan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan dari segi kewirausahaan melalui sarana dan prasarana yang dimiliki menurut basic usaha yang dikerjakannya (Susilo, 2014)14. Rumah tangga peternak sebagai wirausaha harus mampu untuk menjadi inkubator bisnis, melalui sarana dan prasarana yang dimiliki, dituntut untuk untuk membangun usaha yang semakin berkembang dan meningkat dari segi keuntungan. Salah satu nya dengan memanfaatkan sumberdaya dan setiap sarana serta prasarana dalam produksi yang ada.
Kandang merupakan salah satu unit fisik berupa bangunan yang dipergunakan oleh peternak untuk menjalankan dan mengelola usaha ternak sapi, kandang tersebut dijadikan fasilitas dan sarana untuk mengembangkan dan memperkuat kewirausahaan bagi rumah tangga peternak (The New Business Incubator, 1994). Di dalam kandang, peternak yang terdiri dari anggota rumah tangga dibantu dengan tenaga kerja melakukan aktivitas produksi dan usahanya dalam memelihara sapi ternak. Anggota rumah tangga seperti Ayah, Ibu dan anak mengaplikasikan setiap keahliaannya yang didapat melalui kebiasaan dan pengalaman tanpa adanya pelatihan sebelumnya untuk mengelola ternak, dimulai dari pembelian bibit, membeli dan menentukan campuran pakan ternak yang terbaik, mengatur perputaran keuangan (modal) hingga menghasilkan ternak yang berdaya jual serta kemudian mendapatkan pedapatan dari hasil penjualan ternak atau produk ternak tersebut. Dengan pembagian tugas yang dilakukan oleh masing-masing anggota rumah tangga , langkah-langkah dalam aktivitas produksi tersebut dikerjakan dengan mengandalkan sarana dan
14
42
fasilitas serta cara yang sederhana terlebih keahliaan yang didapat umumnya dari kebiasaan sehari-hari selama didalam kandang tanpa mengikuti pelatihan namun dari keahlian yang dimiliki rumah tangga ternak tersebut dapat menghasilkan pendapatan yang dapat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bahkan dengan hanya mengandalkan keahlian yang dimiliki dapat menghasilkan inovasi di dalam usaha ternak yang menjadikan usaha tersebut menjadi usaha rumah tangga yang semakin profitable memiliki pengelolaan usaha dan keuangan yang tepat sehingga menjadi usaha yang sustainable15 hingga memiliki efek positif bagi masyarakat terlebih dapat membuka lapangan pekerjaan (
http://www.i-tech.or.id/index.php/suarainkubator/69-inkubator-bisnis-dan-kewirausahaan-teknologi).
Buruh atau tenaga kerja adalah salah satu aspek penting yang turut bekerja dan membantu berkembangnya usaha ternak sapi dalam rumah tangga produksi (Mastuti dan Hidayat, 2011). Dengan bekerja dan membantu usaha ternak tersebut, para buruh haruslah dapat memanfaatkan segala sarana dan prasarana yang ada, dan bagi usaha ternak dapatlah mengasilkan pendapatan dan keuntungan. walaupun mereka bekerja tanpa ada pelatihan sebelumnya, dengan bekerja di ternak tersebut para buruh tersebut dapat menerapkan keahliannya dalam memelihara sapi ternak. Keahlian tersebut bukanlah ditunjukan dengan sebuah keahlian yang hebat namun bagaimana buruh tersebut dapat membuat sapi-sapi yang dipelihara menjadi semakin produktif dan berpotensi untuk menghasilkan keuntungan bukan kerugian karena sakit atau lainnya. Seperti contoh sederhananya, melalui pengalamananya sehari-hari berhadapan dengan sapi, buruh akan peka dengan sapi yang hendak sakit sehingga dapat ditanggulangi dengan memberikan pakan yang lain atau obat-obatan untuk mengantisipasi terjangkit penyakit dan sakit lebih parah.
Dari memanfaatkan sarana dan prasarana serta kesehariannya berhubungan dengan ternak sapi tanpa diperlukannya pelatihan sebelumnya dalam memelihara ternak, menjadikan sebuah inkubator bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan. Baik bagi pihak-pihak yang berada dalam lingkup peternakan maupun pihak-pihak yang berkecimpung dalam usaha sapi, yang tujuan utamanya ialah untuk memperoleh pendapatan dan keuntungan. Serta melalui inkubator bisnis dapat menemukan dan memperbaiki sistem kewirausahaan atau managing
15
Sustainable adalah kemampuan untuk mempertahankan sumberdaya dengan mengatur penggunaan, perkembangan dan perlindungan terhadap sumber daya alam dan fisik tanpa menyebabkan kerusakan pada ekologi yang ada ( http://exploresuka-suka.blogspot.co.id/2012/10/sustainable-ecohousing-vertical-building.html?m=1).
43
yang dimiliki pihak-pihak yang berada didalamnya untuk belajar mengembangkan dan mendapatkan keuntungan.
Usaha Ternak Sapi Penggerak Roda Perekonomian Regional
Usaha Ternak sapi yang dijalankan rumah tangga merupakan salah satu usaha sektor informal yang memiliki dampak mendorong terciptanya roda perekonomian yang bertumbuh dan kuat bagi daerah tersebut. Daerah adalah bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang meliputi adanya usaha-usaha yang dapat memutar roda perekonomian guna menumbuhkan dan meningkatkan perekonomian regional. Bahkan melalui bertumbuhnya ekonomi dalam lingkup regional dapat mendorong pembangunan ekonomi secara nasional, sedangkan pembangunan ekonomi nasional ialah dampak dari tumbuhnya struktur ekonomi regional dan nasional. Pembangunan yang secara riil dikerjakan oleh salah satu sektor tertentu maka umumnya akan membut sektor tersebut meningkat dalam kurun waktu tertentu (Soepono, 1993), dalam konteks ini adalah sektor perekonomian regional yang didalamnya meliputi usaha ternak sapi.
Pemerintah dan masyarakat luaspun turut diuntungakan terbukti dengan roda perekonomian yang meningkat sehingga membawa dampak positif pada perputaran ekonomi pada masyarakat pada daerah tersebut dan pertumbahan perekonomian di wilayah tersebut menjadi produktif (Siregar, 2012). Salah satu aspek dari usaha ternak sapi yang dapat memberi dampak positif bagi perekonomian regional yaitu adanya kesempatan pekerjaan bagi masyarakat sehingga dari usaha tersebut dapat menyerap tenaga kerja khususnya dipedesaan terlebih mengingat banyak nya angkatan kerja yang menganggur (Kasryno, 2000; Taryoto dan Sunarsih, 1994). Mengingat ternak sapi yang merupakan subsektor dari sektor pertanian masih menjadi salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja cukup besar karena