• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian …

3. Analisis Jalur

Teknis analisis jalur adalah suatu teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang trjadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel tergantung tidak hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung. Asumsi analisis jalur mengikuti asumsi regresi linear yaitu (Ghodang, 2020: 17-19): a. Model regresi harus layak, kelayakan ini diketahui jika angka

signifikansi pada ANOVA sebesar < 0,05.

b. Prediktor yang digunakan sebagai variabel bebas harus layak, kelayakan ini diketahui jika angka standar error of estimate <

standar deviation.

c. Koefisisen regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan uji t. Koefisien regresi signifikan jika thitung > ttabel.

28

d. Tidak boleh terjadi multikolonearitas, artinya tidak boleh terjadi korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah antara variabel bebas.

e. Tidak terjadi autokorelasi. Terjadi autokorelasi jika Dubin dan Waston sebesar < 1 dan > 3.

Suatu kelengkapan yang terdapat dalam analisis ini adalah bahwa posisi seorang peneliti dapat menetapkan apakah data tersebut konsisten dengan skema penjelasan atau tidak. Jika data tidak konsisten dengan explanatory model, maka keraguan akan mewarnai teori yang digunakan dalam penelitian itu. Namun demikian, kekonsistenan data dengan explanatory model bukanlah suatu bukti kuat terhadap suatu teori ini, mungkin data yang digunakan konsisten dengan model-model kausal yang digunakan. Adapun manfaat dari path analisys adalah sebagai berikut:

a) Penjelasan (explanation) terhadap fenomena yang dipelajari atau masalah yang diteliti.

b) Prediksi nilai variabel terikat (Y) berdasarkan nilai variabel bebas (X).

c) Faktor determinan yaitu penentuan variabel bebas X yang mana berpengaruh dominan terhadap variabel terikat Y, juga dapat digunakan untuk menelusuri mekanisme (jalur-jalur) pengaruh variabel bebas x terhadap variabel terikat Y.

d) Pengujian model, menggunakan theory trimming, baik untuk uji reabilitas konsep yang sudah ada ataupun uji pengembangan konsep baru.

Berdasarkan pada penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa, keunggulan path analisys adalah adaya suatu usaha untuk melakukan dekomposisi terhadap korelasi antara variabel eksogen dan endogen, dimana hal ini akan meningkatkan interpretasi terhadap pola-pola hubungan atau pengaruh dari satu variabel terhadap variabel lain (Sudaryono, 2011: 392).

74

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah Tbk

1. Sejarah Berdirinya PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah Tbk

BTPN Syariah lahir dari perpaaduan dua kekuatan yaitu, PT Bank Sahabat Purba Danarta dan Unit Usaha Syariah BTPN. Bank Sahabat Purba Danarta yang berdiri pada Maret 1991 di Semarang, merupakan bank umum non devisa yang 70 % sahamnya diakuisisi oleh PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN), berdasarkan persetujuan pemegang saham yang di gelar melalui RUPSLB pada 20 Januari 2014. Bank Sahabat kemudian dikonversi menjadi BTPN Syariah, efektif pada 14 Juli 2014, berdasarkan Surat Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tertanggal 22 Mei 2014.

Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar, maksud dan tujuan kegiatan BTPN Syariah adalah menyelenggarakan usaha perbankan berdasarkan prinsip syariah, dan BTPN Syariah telah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan kegiatan usaha menjadi Bank Umum Syariah berdasarkan Salinan Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nomor Kep-49/D-03/2014 tertanggal 22 Mei 2014. Selanjutnya PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) telah mendapatkan izin untuk melakukan pemisahan (spin off) UUS BTPN ke BTPN Syariah, berdasarkan surat dari OJK Nomor S-17/PB.1/2014 tanggal 23 Juni 2014.

Pemisahan (spin off) UUS BTPN dilakukan dengan cara peralihan hak dan kewajiban kepada BTPN Syariah berdasarkan Akta Pemisahan Nomor 8 tanggal 04 Juli 2014 yang dibuat oleh Notaris Hadijah, S.H. Pengumuman rencana pengalihan hak dan kewajiban UUS BTPN, kepada karyawan, nasabah dan pihak ketiga telah diumumkan disurat

kabar nasional pada tanggal 3 Juli 2014. Bank menetapkan tanggal 14 Juli 2014 sebagai tanggal cut off untuk laporan posisi keuangan (neraca) dan telah mulai beroperasi sejak tanggal tersebut. BTPN Syariah telah melaporkan tanggal efektif pelaksanaan kegiatan usaha kepada OJK melalui Surat Nomor S.031/DIR/LG/VII/2014 tanggal 17 Juli 2014. (www.btpnsyariah.com)

b. Kepemilikan

1) PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk sebesar 70 %. 2) PT Tripura Persada Rahmat sebesar 30 %.

c. Kode Saham BTPS d. Jaringan usaha

Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah Tbk memiliki 25 cabang dan 41 kantor fungsional operasional di seluruh Indonesia. (www.btpnsyariah.com)

2. Visi dan Misi PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah Tbk

Menurut direktur utama bank BTPN syariah dengan tujuan untuk memberikan makna lebih dalam hidup serta meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia secara signifikan, maka kami percaya bahwa BTPN akan tumbuh menjadi bank mass market terbaik di Indonesia. Berikut visi dan misi bank BTPN Syariah (www.btpnsyariah.com):

a. Visi

Menjadi Bank Syariah terbaik, untuk keuangan inklusif, mengubah hidup berjuta rakyat Indonesia.

b. Misi

Kerjasama kita ciptakan kesempatan tumbuh dan hidup yang lebih berarti.

3. Struktur Organisasi Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah Tbk

Gambar 4.1. Struktur Organisasi BTPN Syariah

4. Produk-Produk Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah Tbk

BTPN syariah sebagai bank baru terus berupaya menyediakan produk-produk unggulan yang mengedepankan pemenuhan kebutuhan nasabah untuk memiliki kehidupan lebih baik.

Fokus pada pemberdayaan nasabah pra sejahtera produktif, BTPN syariah memiliki 2 (dua) produk utama yaitu produk pendanaan dan produk pembiayaan. Kedua produk ini semata-mata ditujukan untuk memberdayakan pra-sejahtera produktif. (www.btpnsyariah.com)

a. Pendanaan

Produk pendanaan memberikan kesempatan kepada nasabah untuk menumbuhkan jutaan rakyat Indonesia. Nasabah tidak hanya mendapatkan kenyamanan bertransaksi perbankan dan imbal hasil yang optimal, namun memiliki kesempatan membantu keluarga pra/cukup sejahtera di seluruh Indonesia untuk memperoleh hidup yang lebih baik.

Produk pendanaan ini juga terdiri dari beberapa produk unggulan lainnya, yaitu (www.btpnsyariah.com):

1) Tabungan Citra iB

Tabungan Citra Ib adalah tabungan dengan setoran awal yang ringan, melalui perjanjian bagi hasil (akad mudharabah

mutlaqah) nasabah mendapat kemudahan untuk bertransaksi di

seluruh cabang BTPN Syariah dan bebas biaya administrasi bulanan.

Manfaat dari tabungan citra Ib ini adalah fleksibel, karena bentuk tabungan jadi nasabah bisa melakukan penarikan kapan saja, selain itu setoran awal yang ringan dan juga leluasa melakukan tarik tunai tanpa batas dicabang bank serta transaksi online antar bank.

Tabugan citra Ib juga mempunyai resiko dalm konsep imbal hasil, yaitu nasabah berpotensi mendapatkan tingkat imbal hasil yang lebih rndah atau lebih tinggi dari ekspetasi tergantung pada kinerja bank.

2) Taseto Premium iB

Tabungan Taseto premium Ib adalah tabungan yang sistemnya dikelola semi deposito, nasabah yang membuka tabungan taseto akan difasilitasi kartu ATM untuk kemudahan layanan transaksi. Manfaat tabungan taseto premium ib diantaranya fleksibel, karena bentuk tabungan jadi nasabah bisa melakukan penarikan kapan saja, bebas biaya administrasi

bulanan, bebas tarik tunai tanpa batas dan transaksi online antar cabang BTPN Syariah dan kantor syariah.

3) Deposito Berjangka iB

Penempatan deposito dilakukan berdasarkan perjanjian bagi hasil (akad mudharabah mutlaqah) antara bank (mudharib) dengan nasabah sebagai pemilik dana (shahibul maal) dengan jangka waktu yang bervariasi mulai dari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, dan 24 bulan.

Deposito ib mempunyai manfaat diantaranya, imbal hasil yang optimal, mendapat layanan personal ekslusif dari banker dibang tertentu dan juga aman.

4) Taseto Mapan iB

Taseto Mapan ib merupakan produk simpanan berjangka. Sarana menabung untuk mewujudkan rencana, yang memberikan imbal hasil kompetitif dengan berbagai pilihan setoran bulanan dan jangka waktu, berdasarkan perjanjian bagi hasil (akad mudharabah mutlaqah).

5) Giro iB

Giro ib di BTPN Syariah menggunakan akad Wadiah Yad

al Dhamanah, tidak ada imbal hasil tetapi dapat diberikan

bonus, bonus dimaksud tidak diperjanjikan dan berdasarkan kebijaksanaan bank.

b. Pembiayaan

Produk BTPN Syaraiah dalam hal pembiayaan adalah produk Paket Masa Depan (PMD). Pembiayaan ini ditujukan khusus kepada perempuan pra/ cukup sejahtera, dilakukan berdasarkan perjanjian jual beli (akad wakalah wal murabahah). Paket masa depan memiliki fokus pada pembangunan karakter dan kebiasaan-kebiasaan baik nasabah, yaitu berani berusaha, disiplin, kerja keras, dan saling bantu.

Produk PMD terdiri dari beberapa manfaat yang ditawarkan kepada nasabah yang terdiri dari: pembiayaan, tabungan dan manfaat asuransi. PMD memiliki fasilitas pembiayaan senilai Rp. 1 juta- 50 juta yang dibayarkan melalui cicilan setiap dua minggu dalam jangka waktu 1 (satu) tahun atau 1,5 tahun. (www.btpnsyariah.com)

B. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini peneliti memaparkan data yang peneliti dapatkan (data terlampir) kemudian diolah dengan menggunakan SPSS 22 hasilnya sebagai berikut:

Tabel 4.1

Komposisi Rata-rata nilai rasio ROA, CAR, NPF, FDR, BOPO pada PT BTPN Syariah 2015-2019

Tahun/ Triwulan

Persentase Rasio Keuangan

CAR FDR BOPO NPF ROA

% % % % % 2015 I 31.56 93.73 89.72 0.51 3.21 II 20.57 94.69 88.72 0.28 4.09 III 21.29 94.18 86.83 0.28 4.88 IV 19.93 92.75 85.32 0.17 5.24 2016 I 22.03 96.38 81.14 0.17 6.98 II 21.47 91.91 79.17 0.13 7.57 III 23.82 97.47 77.10 0.13 8.40 IV 23.80 96.54 74.14 0.20 8.98 2017 I 23.88 90.82 71.98 0.20 9.97 II 24.76 96.82 71.23 0.01 10.38 III 27.26 93.31 70.26 0.01 10.74 IV 28.91 92.47 68.81 0.05 11.19 2018 I 27.74 93.21 63.82 0.02 12.49 II 36.90 97.89 62.90 0.01 12.54 III 39.69 96.03 62.61 0.03 12.39 IV 40.92 95.60 62.36 0.02 12.37 2019 I 39.34 96.03 61.27 0.17 12.68 II 39.40 96.17 60.40 0.14 12.73 III 41.11 98.68 59.62 0.00 13.05 IV 44.60 95.30 58.10 0.26 13.60 Sumber: www.ojk.go.id

Maka berdasarkan data diatas, data akan dianalisis dengan menggunakan program SPSS 22, dengan memasukan data persentase yang didapatkan, yaitu sebagai berikut:

1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah model regresi yang berdistribusi normal.

Uji normalitas data dapat dilakukan dengan cara melihat gambar Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual dimana jika penyebaran titik mengikuti dan mendekati garis diagonalnya maka dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas. Sebaliknya, data dikatakan tidak berdistribusi normal, jika data menyebar jauh dari arah garis atau tidak mengikuti diagonal.

Gambar 4.2

Normal P-Plot of Regression Standardized

Tampak pada gambar normal P-Plot bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis tersebut. Maka regresi memenuhi asumsi normalitas karena model penelitian ini berdistribusi normal. Pengujian normalitas juga dapat dilihat melalui uji Kolmogorof Smirnov.Untuk lolos asumsi normalitas dengan uji Kolmogorof Smirnov nilai signifikansi harus diatas 0,05. berikut ini uji Kolmogorof Smirnov:

Tabel 4.2

Hasil Uji Kolmogorov Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 20

Normal Parametersa,b Mean ,0000000

Std. Deviation ,18892647

Most Extreme Differences Absolute ,140

Positive ,060

Negative -,140

Test Statistic ,140

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Sumber:Hasil olahan data SPSS 22, 2020

Berdasarkan uji normalitas Kolmogorof Smirnov test pada tabel diatas menunjukan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) 0.200 hal ini menunjukan bahwa nilai signifikasi lebih besar dari nilai tingkat kepercayaan α = 0,05 oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data residual model regresi dalam penelitian ini terdistribusi normal.

b. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini ini timbul karena residual (kesalahan penganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) karena “gangguan” pada individu/kelompok yang sama pada periode berikutnya. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.

Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, diantaranya yaitu Uji Run Test.Run test digunakan untuk melihat apakah data residual terjadi secara random atau tidak (sistematis). Apabla nilai signifikannya lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis nol ditolak, sehinigga dapat disimpulkan bahwa residual tidak random atau terjadi autokorelasi antar residual. Berikut ini tabel hasil ouput yang tersedia pada tabel 4.3 sebagai berikut: Tabel 4.3 Uji Autokorelasi Runs Test Unstandardized Residual Test Valuea ,01454

Cases < Test Value 10

Cases >= Test Value 10

Total Cases 20

Number of Runs 13

Z ,689

Asymp. Sig. (2-tailed) ,491

a. Median

Berdasarkan tabel 4.3 hasil uji autokorelasi dengan statistic

non-parametrikRunt Test menunjukan nilai Asymp. Sig. (2-tailed)

sebesar 0,491. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 (0,491 > 0,05). Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala autokorelasi dalam model regresi.

c. Uji Multikolonearitas

Uji multikolonearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik yaitu model regresi yang tidak memiliki korelasi antar sesama variabel bebas. Multikolonearitas dapat dilihat dari nilai tolerance dan variance

inflation faktor (VIF). Suatu model regresi yang menunjukan

adanya multikolonearitas jika: nilai tolerance >0,10 atau nilai VIF < 10. Hasil output yang tersedia pada tabel 4.4 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4

Hasil Multikolonearitas

Sumber:Hasil olahan data SPSS 22, 2020

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficient s T Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleran ce VIF 1 (Consta nt) 37,705 2,496 15,109 ,000 CAR -,054 ,014 -,136 -3,846 ,002 ,172 5,802 FDR -,018 ,027 -,012 -,687 ,502 ,729 1,373 BOPO -,342 ,013 -1,081 -25,664 ,000 ,122 8,215 NPF -1,058 ,663 -,041 -1,595 ,132 ,321 3,111

Berdasarkan tabel 4.4 hasil uji multikolinearitas dapat disimpulkan bahwa:

1) Nilai Tolerance untuk variabel CAR sebesar 0,172 ≥ 0,10 dan nilai VIF sebesar 5,802 ≤ 10, sehingga variabel CAR dinyatakan tidak terjadi gejala multinolinieritas.

2) Nilai Tolerance untuk variabel FDR sebesar 0,729 ≥ 0,10 dan nilai VIF sebesar 1,373 ≤ 10, sehingga variabel FDR dinyatakan tidak terjadi gejala multikolinieritas.

3) Nilai Tolerance untuk variabel BOPO sebesar 0,122 ≥ 0,10 dan nilai VIF sebesar 8,215 ≤ 10, sehingga variabel BOPO dinyatakan tidak terjadi gejala multikolinieritas.

4) Nilai Toleranceuntuk variabel NPF sebesar 0,321 ≥ 0,10 dan nilai VIF sebesar 3,111 ≤ 10, sehingga variabel NPF dinyatakan tidak terjadi gejala multikolinieritas.

d. Uji Heteroskedasitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam penelitian ini uji heteroskedastisitas menggunakan metode gjejser dengan cara meregresi nilai absolute residual terhadap variabel dependen atau

undstandarlized residual sesuai variabel dependen. Sedangkan

untuk pengambilan keputusannya adalah jika nilai signifikansi lebih besar dari nilai α (0,05) maka data tidak mengandung heteroskedastisitas, jika nilai signifikansi kurang dari nilai α (0,05) maka terdapat gejala heteroskedastisitas.

Uji dalam penelitian ini menggunakan uji scattterplot. Suatu model dinyatakan tidak terjadi masalah heteroskedastisitas apabila titik-titik menyebar dengan pola tidak jelas di atas atau dibawah angka nol pada suatu sumbu Y.

Gambar 4.3

Scatterplot

Sumber:Hasil olahan data SPSS 22, 2020

Pada gambar grafik scatter plot menunjukan bahwa titik-titik menyebar dan tidak membentuk pola tertentu dan titik tersebut berada diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y. Maka dapat disimpulkan penelitian ini tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. 2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis yang peneliti gunakan meliputi Uji Koefisien Determinasi (R2), Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t), Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F).

1) Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinas (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crossection) relative rendah karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan, sedangkan untuk data runtun waktu (time series) biasa mempunyai nilai koefisien determinasi yang tinggi.

Tabel 4.6 Koefisien Determinasi Model Summaryb Mod el R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,998a ,997 ,996 ,21263 2,166

a. Predictors: (Constant), NPF, CAR, FDR, BOPO b. Dependent Variable: ROA

Berdasarkan tabel di atas terlihat hasil Adjusted R Square sebesar 0,996 atau 99,6 %. Hal ini berarti bahwa 99,6% Return On Asset dapat dijelaskan oleh variabel independen Capital Adequaty Ratio(CAR),

Financial To Deposit Ratio(FDR) Beban Operasional Pendapatan

Operasional (BOPO) dan Non Performing Financing. Dan sisinya sebesar 0,4% (100% - 99,6%) dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar model regresi.

2) Uji t

Uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Hasil uji t dapat dilihat dari nilai Prob. t hitung (di tunjukan pada prob) lebih kecil dari tingkat kesalahan alpha 0,05 yang telah ditentukan maka dapat dikatakan bahwa variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat, sedangkan apabila nilai prob. t hitung lebih besar dan tingkat kesalahan 0,05 maka dapat dikatakan bahwa variabel bebas tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya. Dasar pengambilan keputusan:

1) Thitung > Ttabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima 2) Thitung < Ttabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak

Berdasarkan signifikansi: 1) Ho: nilai signifikan t > 0,05

Jika nilai signifikan > 0,05 maka Ho diterima dan H1 ditolak berarti bahwa variabel independen secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

2) H1: nilai signifikan t < tingkat 0,05

Jika nilai signifikan < 0,05 maka Ho ditolak danH1 di terima berarti bahwa variabel independen secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Priyatno, 2014:163).

Tabel 4.7 Uji t Variabel ROA

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant ) 37,705 2,496 15,109 ,000 CAR -,054 ,014 -,136 -3,846 ,002 FDR -,018 ,027 -,012 -,687 ,502 BOPO -,342 ,013 -1,081 -25,664 ,000 NPF -1,058 ,663 -,041 -1,595 ,132

a. Dependent Variable: ROA

Sumber: Hasil Olahan Data SPSS 22, 2020

Ttabel dapat dilihat pada tabel statistik pada signifikansi (a/2; n-k-1) (0,05/2 ; 20-3-1) (0,05/2) = -2,120 dengan derajat kebebasan df = n-k-1, menurut Priyatno (2012:158) dimana nilai n = jumlah data dan k = jumlah variabel independen, maka df = 20-3-1 = 16, jadi hasil yang diperoleh untuk t tabel sebesar -2,120. Sehingga dapat hasil pengujian sebagai berikut:

1) Hipotesis 1

Dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho1 :CAR tidak mempunyai pengaruh terhadap ROA pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019.

Ha1 :CAR mempunyai pengaruh terhadap ROA pada Bank Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019.

Nilaithitung>ttabel (-3,846<-2,120) dan signifikansi < 0,05 (0,002< 0,05) maka Ho1ditolak dan Ha1 diterima, jadi dapat disimpulkan bahwa CAR secara parsial berpengaruh positif

signifikan terhadap ROA pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional syariah periode 2015-2019.

2) Hipotesis 2

Dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho1 :FDR tidak mempunyai pengaruh terhadap ROA pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019. Ha1 :FDR mempunyai pengaruh terhadap ROA pada Bank

Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019. Nilai thitung< ttabel (-0,687<-2,120) dan signifikansi > 0,05 (0,502>0,05) maka Ho1diterima dan Ha1 ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa FDR secara parsial berpengaruh negatif

tidak signifikan terhadap ROA pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional syariah periode 2015-2019.

3) Hipotesis 3

Dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho1 :BOPO tidak mempunyai pengaruh terhadap ROA pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019. Ha1 :BOPO mempunyai pengaruh terhadap ROA pada Bank

Nilai thitung< ttabel (-25,664 >-2,120) dan signifikansi < 0,05 (0,000 < 0,05) maka Ho1ditolak dan Ha1 diterima, jadi dapat disimpulkan bahwa BOPOsecara parsial berpengaruh

positifsignifikan terhadap ROA pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional syariah periode 2015-2019.

4) Hipotesis 4

Dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho1 :NPF tidak mempunyai pengaruh terhadap ROA pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019. Ha1 :NPF mempunyai pengaruh terhadap ROA pada Bank

Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019. Nilai thitung< ttabel (-1,595 <-2,120) dan signifikansi < 0,05 (0,132 > 0,05) maka Ho1diterima dan Ha1 ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa NPF secara parsial berpengaruh negatif

tidak signifikan terhadap ROA pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional syariah periode 2015-2019.

Tabel 4.8

Uji t (Uji Signifikan Parsial) Variabel NPF Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -,294 ,938 -,313 ,758 CAR ,014 ,004 ,930 3,720 ,002 FDR -,012 ,010 -,201 -1,268 ,223 BOPO ,016 ,003 1,310 5,448 ,000 a. Dependent Variable: NPF

Sumber: Hasil Olahan Data SPPS 22, 2020

Ttabel dapat dilihat pada tabel statistik pada signifikansi (a/2; n-k-1) (0,05/2 ; 20-3-1) = -2,120 dengan derajat kebebasan df = n-k-1, menurut Priyatno (2012:158) dimana nilai n = jumlah data dan k = jumlah variabel independen, maka df = 2031 = 16, jadi hasil yangdiperoleh untuk t tabel sebesar

-2,120.Berdasarkan hasil pengolahan uji statistik diatas dapat disimpulkan bahwa:

1) Hipotesis 1

Dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho1 :CAR tidak mempunyai pengaruh terhadap NPF pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019.

Ha1 :CAR mempunyai pengaruh terhadap NPF pada Bank Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019.

Nilai thitung> ttabel (3,720 >-2,120) dan signifikansi < 0,05 (0,002 < 0,05) maka Ho1ditolak dan Ha1 diterima, jadi dapat disimpulkan bahwa CAR secara parsial

berpengaruh positif signifikan terhadap ROA pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional syariah periode 2015-2019.

2) Hipotesis 2

Dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho1 :FDR tidak mempunyai pengaruh terhadap NPF pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019.

Ha1 :FDR mempunyai pengaruh terhadap NPF pada Bank Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019.

Nilai thitung< ttabel (-1,268 <-2,120) dan signifikansi > 0,05 (0,222 > 0,05) maka Ho1diterima dan Ha1 ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa FDRsecara parsial

berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap NPF pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional syariah periode 2015-2019.

3) Hipotesis 3

Dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho1 :BOPO tidak mempunyai pengaruh terhadap NPF pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019.

Ha1 :BOPO mempunyai pengaruh terhadap NPF pada Bank Bank Tabungan Pensiunan Nasional Periode 2015-2019.

Nilai thitung > ttabel (5,448 >-2,120) dan signifikansi < 0,05 (0,000 < 0,05) maka Ho1ditolak dan Ha1 diterima, jadi dapat disimpulkan bahwa BOPO secara parsial

berpengaruh positif signifikan terhadap NPF pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional syariah periode 2015-2019.

3) Uji F

Pengujian statisti F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen yang diketahui dengan uji ANOVA atau uji F. Menurut Ghozali bila nilai Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak dan Ha diterima.

Tabel 4.9

Hasil Uji F (Uji Signifikan Simultan)

ANOVAa Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 208,714 4 52,178 1154,099 ,000b Residual ,678 15 ,045 Total 209,392 19

a. Dependent Variable: ROA

b. Predictors: (Constant), NPF, CAR, FDR, BOPO Sumber: Hasil Olahan Data SPSS 22, 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat nilai fhitung sebesar 1154,009 dengan signifikansi sebesar 0,000. Nilai ftabel pada tabel

statistik dengan α = 0,05 dengan df 1 (jumlah variabel-1) atau 3-1 = 2 dan df 2 (n-k-1) atau 20-3-1 = 16 (n adalah jumlah data dan k adalah jumlah variabel independen). Nilai ftabel sebesar 3,63.

Fhitung > Ftabel (1154,009 > 3,63) dan signifikansi < 0,05 (0,000 < 0,05), maka Ho3 ditolak Ha3 diterima artinya bahwa variabel independen secara simultan (keseluruhan) berpengaruh terhadap variabel dependen. Jadi dapat disimpulkan CAR, FDR, BOPO, dan,

Dokumen terkait