Berdasarkan hasil analisis kerapatan spesies (Ki) terlihat bahwa nilai kerapatan spesies dari setiap kecamatan di masing-masing stasiun diperoleh berkisar antara 6.67 – 206.67. Pada Kecamatan Pangkajene di stasiun 1 dan 2 diperoleh nilai kerapatan spesies yang berkisar antara 13.33 – 53.33. Di stasiun 1 kerapatan spesies tertinggi yaitu Avicennia marina dengan nilai 53.33 dan kerapatan spesies terendah yaitu Sonneratia alba 13.33. Pada stasiun 2 kerapatan spesies tertinggi yaitu Rhizophora mucronata dengan nilai kerapatan sebesar 40, sedangkan nilai kerapatan spesies terendah yaitu
Avicennia alba dan Avicennia marina dengan nilai 13.33.
Jenis Avicennia marina adalah mangrove yang memiliki kerapatan yang lebih tinggi dibanding jenis lain di stasiun 1. Hal ini disebabkan karena substrat dilokasi tersebut merupakan jenis substrat lumpur berpasir sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan Avicennia marina dan jumlah individu pancang yang ditemukan juga lebih banyak karena memang jumlah pohon lebih banyak dibanding jenis mangrove lainnya, sehinnga memungkinkan tingkat pancang lebih banyak. Di stasiun 2 jenis Rhizophora mucronata
adalah jenis mangrove yang memiliki kerapatan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena jenis substrat yang ada di stasiun ini adalah jenis substrat lumpur, dimana sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan jenis mangrove Rhizophora mucronata. Selain itu jenis mangrove Rhizophora mucronata di lokasi ini merupakan mangrove hasil rehabilitasi sehingga perbedaan laju pertumbuhan memungkinkan kepadatan lebih tinggi.
Perbedaan kerapatan masing-masing jenis mangrove di setiap stasiun pengamatan disebabkan oleh laju pertumbuhan yang berbeda tiap lokasi (Bengen, 2002).
Kerapatan spesies di Kecamatan Bungoro menunjukkan bahwa di stasiun 1 terdiri dari jenis Avicennia alba 13.33, Avicennia marina 40,
Rhizophora mucronata 60, dan Rhizophora apiculata 93.3. Sedangkan stasiun 2 terdiri dari jenis Rhizophora mucronata 180, Rhizophora stylosa 6.67, dan
Sonneratia alba 20. Kerapatan spesies tertinggi di Stasiun 1 yaitu jenis
Rhizophora apiculata dengan nilai kerapatan 93.33 dan di stasiun 2 kerapatan spesies tertinggi yaitu Rhizophora mucronata 180. Tingginya kerapatan pancang jenis mangrove Rhizophora apiculata di lokasi ini karena hasil rehabilitasi. Kerapatan spesies dapat dilihat pada Gambar 23.
Gambar 23. Kerapatan spesies yang diperoleh di setiap kecamatan. Kepadatan pada tingkat pohon yang tinggi di lokasi ini didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata. Menurut masyarakat disekitar lokasi mengatakan bahwa jenis mangrove Rhizophora mucronata merupakan jenis yang pertama kali dikembangkan sehingga ukuran batangnya juga jauh lebih besar dibanding jenis mangrove Rhizophora apiculata serta jenis substrat yang sesuai yaitu substrat berlumpur. Menurut Abdulhadi dan Suhardjono (1994) menyatakan bahwa R. mucronata tumbuh pada tanah berlumpur halus dan tergenang pada saat pasang normal, lebih toleran terhadap substrat yang lebih
53.33 26.67 13.33 26.67 13.33 13.33 40.00 20.00 13.33 40.00 60.00 93.33 180.00 6.67 20.00 206.67 13.33 13.33 206.67 6.67 13.33 6.67 113.33 6.67 6.67 66.67 20.00 6.67 53.33 40.00 20.00 106.67 13.33 0.00 50.00 100.00 150.00 200.00 250.00 Avicennia marina Rhizophora mucronata Sonneratia alba Sonneratia ovata Avicennia alba Avicennia marina Rhizophora mucronata Sonneratia alba Avicennia alba Avicennia marina Rhizophora mucronata Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sonneratia alba Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sonneratia alba Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sonneratia alba Avicennia alba Avicennia marina Rhizophora mucronata Avicennia alba Avicennia marina Avicennia marina Avicennia alba Avicennia marina Avicennia marina Avicennia alba Avicennia marina Avicennia lanata I II I II I II I II I II I II Pa n g k aj en e B u n g o ro La b ak k an g M a'r an g S eg er i M an d al le
keras dan pasir. Menurut Ng dan Sivasothi (2001) menyatakan Rhizophora sp lebih menyukai substrat berlumpur lembut.
Selain itu, kemampuan perkembangbiakan mangrove jenis R. mucronata sangat tinggi. Jenis mangrove Rhizophora apiculata ditanam disela-sela mangrove Rhizophora mucronata sehingga pada saat pengukuran jenis mangrove R. Apiculata lebih banyak berada pada tingkat pancang karena lingkar batang masih di bawah 15 cm. Tingkat pancang tertinggi di stasiun 2 yaitu jenis Rhizophora mucronata karena jenis ini juga merupakan hasil rehabilitasi atau hasil penanam yang dilakukan secara berkala yaitu 2 kali dalam setahun, sehingga tingkat lingkar batang juga berbeda-beda. Mangrove
Rhizophora mucronata yang masuk dalam kategori tingkat pancang karena jenis ini ditanam disela-sela jenis mangrove yang sama. Stasiun 2 memiliki nilai kepadatan tingkat pohon dan pancang yang tinggi. Jenis mangrove yang tumbuh disekitar lokasi pengamatan sebagian besar hasil rehabilitasi. Sebagian besar mangrove yang alami sudah jarang dijumpai karena pembukaan lahan tambak dan pemukiman. Kondisi perairan pada lokasi juga telah mengalami pencemaran akibat beroperasinya pabrik semen dilokasi tersebut. Tingkat gangguan dan faktor-faktor yang menyebabkan penurunan fungsi dan degradasi hutan tergolong sangat tinggi, mengingat ekosistem mangrove berada di wilayah pengembangan daratan maupun lautan (Onrizal
et al., 2005).
Nilai kerapatan spesies di Kecamatan Labakkang di stasiun 1 yaitu
Rhizophora mucronata 206.67, Rhizophora stylosa 13.33, Sonneratia alba
13.33 dan di stasiun 2 yaitu Rhizophora mucronata 206.67, Rhizophora stylosa 6.67, Sonneratia alba 13.33. Kerapatan spesies tertinggi di stasiun 1 dan 2 yaitu Rhizophora mucronata dengan nilai kerapatan spesies 206.67. Kerapatan jenis mangrove Rhizophora mucronata merupakan yang tertinggi karena jenis mangrove ini adalah jenis mangrove yang dominan dan merupakan hasil rehabilitasi dari masyarakat setempat. Kerapatan yang terendah yaitu Rhizophora stylosa dan Sonneratia alba. Penanaman yang dilakukan oleh masyarakat sangat padat sehingga persaingan laju pertumbuhan sangat tinggi. Hal ini menyebabkan tingkat lingkar batang juga berbeda-beda. Kondisi perairan disekitar lokasi juga telah mengalami peningkatan suhu sehingga anakan mangrove sangat sulit untuk tumbuh akibat
blooming lumut yang menutupi batang dan daun sehingga lama kelaman anakan mangrove mati. Menurunnya kualitas lingkungan diakibatkan menipisnya ekosistem mangrove di kawasan tersebut (Mulyadi et al., 2010). Hal ini dapat dikarenakan perkembangan perumahan dan pemukiman di wilayah tersebut sangat pesat. Kerusakan ekosistem mangrove bukan hanya akibat pembukaan lahan untuk tambak dan pemukiman tetapi juga dipengaruhi oleh pembukaan lahan tambang di hulu dan pesisir (Sari dan Rosalina, 2014).
Hasil pengamatan di Kecamatan Ma’rang menunjukkan bahwa nilai kerapatan spesies di stasiun 1 yaitu Avicennia alba 6.67, Avicennia marina
113.33, dan Rhizophora mucronata 6.67. Pada stasiun 2 yaitu Avicennia alba
6.67, Avicennia marina 66.67. Kerapatan spesies tertinggi di stasiun 1 yaitu jenis Avicennia marina dengan nilai kerapatan spesies 113.33 dan di stasiun 2 kerapatan spesies tertinggi yaitu Avicennia marina dengan nilai kerapatan
66.67. Sedangkan di Kecamatan Segeri kerapatan spesies di stasiun 1 yaitu
Avicennia marina 20 dan di stasiun 2 yaitu Avicennia alba 6.67, Avicennia marina 53.33. Kerapatan tingkat pancang spesies tertinggi pada stasiun 1 dan 2 yaitu Avicennia marina dengan nilai kerapatan spesies antara 20 – 53.33. Tingginya kerapatan tingkat pancang jenis mangrove Avicennia marina karena jumlah jenis yang diperoleh lebih banyak dibanding dengan jenis mangrove lain. Tingginya nilai kerapatan yang diperoleh pada suatu lokasi mengindikasikan bahwa banyak individu jenis di daerah tersebut (Petra et al.,
2012). Tingginya kerapatan tingkat pancang jenis mangrove Avicennia marina disebabkan jenis substrat yang ada dilokasi ini adalah jenis substrat lumpur berpasir dan memiliki indukan atau tingkat pohon yang lebih banyak sehingga memungkinkan memiliki anakan atau tingkat pancang yang jauh lebih banyak. Keberadaan jenis mangrove Avicennia marina di lokasi ini masih sangat alami belum ada campur tangan manusia, walaupun dibeberapa titik sudah ada penanaman mangrove jenis Rhizophora spp.
Kerapatan spesies di Kecamatan Mandalle berkisar antara 13.33 – 106.67. Nilai kerapatan spesies yang diperoleh di stasiun 1 yaitu Avicennia marina 40 dan di stasiun 2 yaitu Avicennia alba 20, Avicennia marina 106.67, dan Avicennia lanata 13.33. Kerapatan spesies tertinggi pada stasiun 1 dan 2 yaitu Avicennia marina dengan nilai kerapatan antara 40 – 106.67. Tingginya kerapatan jenis mangrove Avicennia marina di dua stasiun ini disebabkan jumlah jenis yang diperoleh jauh lebih banyak dan jenis substrat yang mendukung yaitu lumpur berpasir sehingga jenis lain sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, walupun sebagian kecil masih dijumpai jenis yang lain tapi tidak sebanyak jenis Avicennia marina, seperti Avicennia lanata, Avicennia alba. Mangrove dapat tumbuh dan berkembang dengan baik apabilah berada pada substrat yang sesuai (Petra et al., 2012). Salah satu faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan adalah kondisi lingkungan sekitar. Kondisi perairan dilokasi ini juga masih sangat baik karena jauh dari aktifitas pabrik dan perkotaan.
b. Kerapatan Relatif Spesies (KRi)
Berdasarkan hasil analisis kerapatan relatif spesies (KRi) terlihat bahwa persentase kerapatan relatif spesies dari setiap kecamatan di masing- masing stasiun diperoleh persentase berkisar antara 2.94% - 100%. Pada Kecamatan Pangkajene di stasiun 1 dan 2 diperoleh nilai persentase kerapatan relatif spesies yang berkisar antara 11.11% - 46.15%. Di stasiun 1 persentase tertinggi yaitu Avicennia marina dengan nilai 44.44% dan persentase terendah yaitu Sonneratia alba 11.11%. Di stasiun 2 persentase tertinggi yaitu
Rhizophora mucronata dengan nilai persentase sebesar 46.15%, sedangkan persentase terendah yaitu Sonneratia alba dan Avicennia marina dengan nilai persentase 15.38%.
Di Kecamatan Pangkajene di stasiun 1 tingkat pancang jenis mangrove
Avicennia marina adalah jenis mangrove yang memiliki persentase kerapatan relatif yang lebih tinggi dibanding jenis lain. Hal ini disebabkan karena substrat dilokasi tersebut merupakan jenis substrat lumpur berpasir sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan Avicennia marina. Di stasiun 2 jenis
kerapatan relatif yang tinggi dibanding dengan jenis yang lain. Hal ini disebabkan jenis substrat yang ada di stasiun ini adalah jenis substrat lumpur, dimana sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan jenis mangrove
Rhizophora mucronata. Kondisi substrat merupakan indikator yang menentukan keragaman dan kepadatan suatu jenis mangrove (Muharam, 2014). Jenis mangrove Rhizophora mucronata merupakan hasil penanaman oleh masyarakat sehingga tingkat pertumbuhan juga berbeda-beda, sehingga mempengaruhi lingkar batang tanaman. Perbedaan kerapatan mangrove disebabkan karena letak stasiun dan kondisi pantai di daerah pengamatan, pengaruh gelombang dan angin serta memiliki topografi pantai (Akbar et al., 2015). Kerapatan relatif spesies yang diperoleh di setiap kecamatan dapat dilihat pada Gambar 24.
Gambar 24. Kerapatan relatif spesies yang diperoleh di setiap kecamatan. Pengamatan di Kecamatan Bungoro menunjukkan bahwa persentase kerapatan relatif spesies di stasiun 1 yaitu Avicennia alba 6.45%, Avicennia marina 19.35%, Rhizophora mucronata 29.03%, dan Rhizophora apiculata
45.16%. Pada stasiun 2 yaitu Rhizophora mucronata 87.10%, Rhizophora stylosa 3.23%, dan Sonneratia alba 9.68%. Di stasiun 1 terlihat persentase tertinggi yaitu Rhizophora apiculata dengan nilai persentase 45.16% dan di stasiun 2 persentase kerapatan relatif spesies tertinggi yaitu Rhizophora mucronata 87.10%. Tingginya persentase kerapatan relatif jenis mangrove
Rhizophora apiculata di stasiun 1 karena sudah ada campur tangan 44.44 22.22 11.11 22.22 15.38 15.38 46.15 23.08 6.45 19.35 29.03 45.16 87.10 3.23 9.68 88.57 5.71 5.71 91.18 2.94 5.88 5.26 89.47 5.26 9.09 90.91 100.00 11.11 88.89 100.00 14.29 76.19 9.52 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 Avicennia marina Rhizophora mucronata Sonneratia alba Sonneratia ovata Avicennia alba Avicennia marina Rhizophora mucronata Sonneratia alba Avicennia alba Avicennia marina Rhizophora mucronata Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sonneratia alba Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sonneratia alba Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sonneratia alba Avicennia alba Avicennia marina Rhizophora mucronata Avicennia alba Avicennia marina Avicennia marina Avicennia alba Avicennia marina Avicennia marina Avicennia alba Avicennia marina Avicennia lanata I II I II I II I II I II I II P an g k aj en e B u n g o ro La b ak k an g M a'r an g S eg er i M an d al le
masyarakat berupa penanam mangrove dua kali dalam setahun. Sebelumnya mangrove yang dominan ditanam adalah Rhizophora mucronata, sehingga lingkar batang lebih besar yang sudah dikategorikan sebagai tingkat pohon. Selain itu kondisi substrat juga salah satu faktor penentu kepadatan suatu jenis mangrove. Kerapatan mangrove sangat tergantung pada kondisi lingkungannya seperti salinitas, pasang surut dan faktor struktur sedimen (Juwita et al., 2015). Dalam kurun lima tahun terakhir banyak jenis R. apiculata yang ditanam disela-sela mangrove R. mucronata, walupun jenis mangrove R. mucronata adalah jenis mangrove yang masih banyak dan dominan ditanam diseluruh lokasi di Pangkep. Jenis substrat yang berlumpur merupakan salah satu indikator tingginya persentase kerapatan jenis mangrove
Rhizophora mucronata dilokasi ini. Sebagian besar mangrove yang alami sudah jarang dijumpai karena pembukaan lahan tambak dan pemukiman. Kondisi ekosistem mangrove dapat dilihat pada Lampiran 5.
Persentase kerapatan relatif spesies di Kecamatan Labakkang stasiun 1 yaitu Rhizophora mucronata 88.57%, Rhizophora stylosa 5.71%, Sonneratia alba 5.71% dan di stasiun 2 yaitu Rhizophora mucronata 91.18%, Rhizophora stylosa 2.94%, Sonneratia alba 5.88%. Persentase tertinggi di stasiun 1 dan 2 yaitu Rhizophora mucronata dengan nilai persentase antara 88.57% - 91.18%. Persentase kerapatan relatif jenis mangrove Rhizophora mucronata pada tingkat pancang merupakan persentase yang tertinggi karena jenis mangrove ini adalah jenis mangrove yang dominan dan merupakan hasil rehabilitasi dari masyarakat setempat. Jenis substrat di lokasi ini yaitu substrat berlumpur yang dapat juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan Rhizophora mucronata. Rendanya jenis mangrove lain seperti Rhizophora stylosa dan
Sonneratia alban mungkin disebabkan pengalih fungsian lahan mangrove berupa tambak dan kepentingan lainnya. Serangkaian aktivitas manusia di kawasan hutan mangrove menyebabkan kawasan ini mengalami kerusakan, hal tersebut berpengaruh terhadap fungsi ekologis dan biologis serta fungsi hutan mangrove (Azizah et al., 2013).
Di Kecamatan Ma’rang terlihat bahwa persentase kerapatan relatif spesies di stasiun 1 yaitu Avicennia alba 5.26%, Avicennia marina 89.47%, dan Rhizophora mucronata 5.26%. Di stasiun 2 yaitu Avicennia alba 9.09%,
Avicennia marina 90.91%. Di stasiun 1 dan stasiun 2 persentase tertinggi yaitu
Avicennia marina dengan persentase kerapatan relatif spesies antara 89.47% - 90.91%. Di Kecamatan Segeri persentase kerapatan relatif spesies di stasiun 1 yaitu Avicennia marina 100% dan di stasiun 2 yaitu Avicennia alba 11.11%,
Avicennia marina 88.89%. Persentase tertinggi di stasiun 1 dan 2 yaitu
Avicennia marina dengan persentase kerapatan relatif spesies antara 88.89% - 100%. Pada Kecamatan Mandalle persentase kerapatan relatif spesies berkisar antara 9.52% - 100%. Persentase kerapatan relatif spesies di stasiun 1 yaitu
Avicennia marina 100% dan di stasiun 2 yaitu Avicennia alba 14.29%,
Avicennia marina 76.19%, dan Avicennia lanata 9.52%. Persentase tertinggi pada stasiun 1 dan 2 yaitu Avicennia marina dengan nilai persentase antara 76.19% -100% dan kerapatan relatif spesies terendah yaitu Avicennia lanata
9.52%.
Hidayatullah dan Pujiono (2014) menyatakan berkurangnya spesies mangrove yang berada pada suatu kawasan karena besarnya pengaruh
pencemaran dan aktivitas manusia seperti pembukaan lahan pertambakan. Rendahnya keanekaragaman menandakan ekosistem mengalami tekanan atau kondisinya mengalami penurunan. Tingginya persentase kerapatan relatif jenis mangrove Avicennia marina pada tingkat pancang di tiga kecamatan tersebut disebabkan karena jenis substrat yang ada dilokasi tersebut yaitu substrat lumpur berpasir sehingga jenis lain sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, walupun sebagian kecil masih dijumpai jenis yang lain tapi tidak sebanyak jenis Avicennia marina yang memiliki jumlah tegakan yang lebih banyak. Berkurangnya jenis mangrove yang ada di lokasi ini baik pohon, pancang, dan semai karena faktor aktifitas yang terus-menerus mengganggu keberadaan mangrove. Pembangunan wilayah pesisir saat ini menghadapi permasalahan dasar, yaitu: alih fungsi lahan mangrove menjadi area tambak, permukiman, area industri. Selain itu, perencanaan wilayah pesisir yang belum didasari oleh informasi tentang tingkat kondisi ekosistem wilayah pesisir yang akurat. Tentu saja kondisi ini akan mempersulit upaya pencegahan kerusakan ekosistem mangrove (Hidayah, 2011).
c. Frekuensi Spesies (Ki)
Sebagian besar mangrove yang sekarang ada di Kabupaten Pangkajene sebagian besar ditanam oleh masyarakat dan pemerintah setempat, hanya beberapa titik lokasi penelitian yang merupakan ekosistem mangrove alami yang mendapat sedikit campur tangan masyarakat setempat. Menurut salah seorang penduduk lokal (Amzah) yang juga sebagai ketua kelompok yang ada di Kecamatan Pangkajene kerusakan mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Pangkep banyak disebabkan karena pembukaan lahan untuk area tambak menambah kerusakan yang ada dan hal ini sudah berlangsung lama. Ditambahkan Maiti dan Chowdhury (2013) bahwa pembukaan tambak untuk budidaya perairan, eksploitasi yang berlebihan dan peningkatan beban pencemaran merupakan salah satu kegiatan yang memberikan kontribusi paling besar dalam perusakan ekosistem mangrove, hal ini akan memacu adanya degradasi habitat dan keanekaragaman hayati di kawasan mangrove.
Berdasarkan hasil analisis frekuensi spesies (Fi) terlihat bahwa nilai frekuensi spesies dari setiap kecamatan di masing-masing stasiun diperoleh frekuensi spesies berkisar antara 0.33 - 1. Di Kecamatan Pangkajene di stasiun 1 dan 2 diperoleh nilai frekuensi spesies yang berkisar antara 0.33 - 1. Pada stasiun 1 frekuensi spesies tertinggi yaitu Avicennia marina dengan nilai 1 dan frekuensi spesies terendah yaitu Sonneratia alba 0.33. Pada stasiun 2 frekuensi spesies tertinggi yaitu Avicennia marina, Rhizophora mucronata dan
Sonneratia alba dengan nilai frekuensi spesies sebesar 0.67, sedangkan frekuensi spesies terendah yaitu Avicennia alba dengan nilai 0.33. Tingginya nilai frekuensi spesies Avicennia marina pada stasiun 1 disebabkan karena dari tiga ulangan pengukuran semuanya terdapat jenis Avicennia marina
dengan jumlah pancang delapan batang.
Di stasiun 2 jenis mangrove Avicennia marina, Rhizophora mucronata
dan Sonneratia alba pada tingkat pancang merupakan yang tertinggi karena dari tiga ulangan yang diberlakukan hanya satu ulangan yang tidak ditemukan jenis tersebut. Di lokasi ini perbedaan zona pertumbuhan mangrove tidak terlihat karena tekanan dari lingkungan sekitar baik dari pencemaran dan
pengalih fungsian lahan. Perubahan fisik di dalam hutan mangrove seperti pengeringan, pembangunan kanal-kanal air dan pemakaian pupuk dalam pengelolaan tambak, menyebabkan perubahan habitat mangrove (Setyawan et al., 2005). Perubahan pemanfaatan lahan hutan mangrove sebagian besar untuk perkebunan, dan sebagian lahan hutan mangrove dimanfaatkan untuk lahan tambak (Ritohardoyo, 2010). Menurut Arifin (2003) ekosistem mangrove telah mengalami ketidaknormalan pertumbuhan akibat terganggunya beberapa penunjang kawasan tersebut. ketidaknormalan tersebut ditunjukkan pada tingkat pertumbuhan kerapatan vegetasi atau terjadinya pencampuran zona atau terjadinya pengurangan jumlah zona.
Di Kecamatan Bungoro terlihat bahwa nilai frekuensi spesies di stasiun 1 yaitu Avicennia alba 0.33, Avicennia marina 1, Rhizophora mucronata 0.67, dan Rhizophora apiculata 1. Di stasiun 2 yaitu Rhizophora mucronata 1, Rhizophora stylosa 0.33, dan Sonneratia alba 0.67. Di stasiun 1 terlihat frekuensi spesies tertinggi yaitu Avicennia marina dan Rhizophora apiculata dengan nilai 1 dan di stasiun 2 frekuensi spesies tertinggi yaitu
Rhizophora mucronata dengan nilai 1. Faktor yang mempengaruhi tingginya nilai frekuensi spesies di lokasi tersebut karena faktor kemunculan jenis mangrove Rhizophora mucronata pada enam ulangan di dua stasiun. Frekuensi jenis menggambarkan kesempatan ataupun kemungkinan dan peluang dapat tumbuh dan ditemukannya suatu spesies dalam suatu area lokasi yang menjadi areal pengamatan. Sebaran jenis mangrove dapat mempengaruhi ketebalan dan frekuensi kemunculan jenis mangrove pada suatu pengamatan (Setyawan et al., 2005). Salah satu faktor lainnya adalah substrat pada lokasi yang bertekstur lumpur sehingga memungkinkan sebaran dan pertumbuhannya merata, walau kemerataan pertumbuhan karena bantuan manusia.
Di Kecamatan Labakkang nilai frekuensi spesies di stasiun 1 yaitu
Rhizophora mucronata 1, Rhizophora stylosa 0.33, Sonneratia alba 0.67 dan di stasiun 2 yaitu Rhizophora mucronata 1, Rhizophora stylosa 0.33,
Sonneratia alba 0.33. Frekuensi spesies tertinggi di stasiun 1 dan 2 yaitu
Rhizophora mucronata dengan nilai frekuensi spesies antara 1. Nilai frekuensi spesies terendah yaitu Rhizophora stylosa 0.33, dan Sonneratia alba 0.33. Tingginya nilai frekuensi spesies jenis mangrove Rhizophora mucronata pada stasiun 1 dan 2 disebabkan karena jenis ini memiliki sebaran tegakan yang lebih banyak dibanding jenis yang lain sehingga memungkinkan untuk muncul pada tiga ulangan pengukuran yang dilakukan. Menurut Muharam (2014)
Rhizophora dapat tumbuh pada substrat yang beragam di daerah pasang surut seperti lumpur, lumpur pasir, pasir dan batu berlumpur.
Lokasi pengamatan di Kecamatan Ma’rang menunjukkan bahwa nilai frekuensi spesies di stasiun 1 yaitu Avicennia alba 0.33, Avicennia marina 1, dan Rhizophora mucronata 0.33. Di stasiun 2 yaitu Avicennia alba 0.33,
Avicennia marina 1. Di stasiun 1 dan 2 frekuensi spesies tertinggi yaitu
Avicennia marina dengan frekuensi spesies 1. Tingginya nilai frekuensi
Avicennia marina pada Kecamatan Ma’rang karena sebaran Avicennia marina
tingkat pohon merata sehingga memungkinkan Avicennia marina tingkat pancang untuk muncul pada tiga plot pengukuran. Di Kecamatan Segeri frekuensi spesies di stasiun 1 yaitu Avicennia marina 0.67 dan di stasiun 2
yaitu Avicennia alba 0.33, Avicennia marina 0.67. Frekuensi spesies tertinggi pada stasiun 1 dan 2 yaitu Avicennia marina dengan nilai frekuensi spesies 0.67. Di Kecamatan Segeri jenis mangrove yang memiliki nilai frekuensi spesies yang tertinggi adalah jenis mangrove Avicennia marina. Hal ini disebabkan jenis substrat yang ada di kecamatan tersebut adalah jenis substrat lumpur berpasir. Hal inilah yang menyebabkan tingginya frekuensi kemunculan pada tiap plot pengukuran. Frekuensi spesies yang diperoleh di setiap kecamatan dapat dilihat pada Gambar 25.
Gambar 25. Frekuensi spesies yang diperoleh di setiap kecamatan. Di Kecamatan Mandalle frekuensi spesies berkisar antara 0.33 - 1. Nilai frekuensi spesies di stasiun 1 yaitu Avicennia marina 0.67 dan di stasiun 2 yaitu Avicennia alba 0.67, Avicennia marina 1, dan Avicennia lanata 0.33. Frekuensi spesies tertinggi pada stasiun 1 dan 2 yaitu Avicennia marina
dengan nilai frekuensi spesies antara 0.67 - 1 dan frekuensi spesies terendah yaitu Avicennia lanata 0.33. Di Kecamatan Mandalle jenis mangrove yang diperoleh hanya tiga jenis yaitu Avicennia alba, Avicennia marina, dan
Avicennia lanata. Jenis mangrove yang memiliki nilai frekuensi spesies yang tertinggi adalah jenis mangrove Avicennia marina. Sedikitnya jenis mangrove yang menempati suatu kawasan pesisir disebabkan mangrove sudah mengalami kerusakan terutama akibat penebangan habis untuk konversi lahan pertambakan. Hal ini diperparah lagi dengan masuknya perusahaan- perusahaan atau masyarakat yang mengkonversi hutan mangrove menjadi
1.00 0.67 0.33 0.67 0.33 0.67 0.67 0.67 0.33 1.00 0.67 1.00 1.00 0.33 0.67 1.00 0.33 0.67 1.00 0.33 0.33 0.33 1.00 0.33 0.33 1.00 0.67 0.33 0.67 0.67 0.67 1.00 0.33 0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 Avicennia marina Rhizophora mucronata Sonneratia alba Sonneratia ovata Avicennia alba Avicennia marina Rhizophora mucronata Sonneratia alba Avicennia alba Avicennia marina Rhizophora mucronata Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sonneratia alba Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sonneratia alba Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sonneratia alba Avicennia alba Avicennia marina Rhizophora mucronata Avicennia alba Avicennia marina Avicennia marina Avicennia alba