BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.2 Analisis Kandungan Daun Suji
Kandungan senyawa-senyawa organik dan anorganik yang terdapat pada daun suji yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Tabel IV.1. Untuk menunjang analisis senyawa-senyawa organik dalam daun suji yang mungkin ikut terekstrak dilakukan beberapa uji senyawa organik secara kualitatif. Hasil analisis disajikan pada Tabel IV.2, tanda positif (+) menunjukkan keberadaan senyawa organik sedangkan tanda negatif (-) menunjukkan tidak adanya senyawa organik tersebut dalam daun suji.
Tabel IV.1 Analisis Kandungan Daun Suji
Analisis Kadar (%)
Kadar Susut Pengeringan 28,3780 ( basis basah) 39,6219 (basis kering)
Kadar Air 30,50
Kadar Klorofil 4,6809
Kadar Sari Larut Air 11,0500
Kadar Sari Larut Etanol 16,8800
Kadar Abu Total 7,8400
Kadar Abu Tidak Larut Asam 1,3150
Kadar Abu Larut Air 4,4550
Tabel IV.2 Keberadaan Senyawa Organik dalam Daun Suji SENYAWA ORGANIK KEBERADAAN DALAM DAUN SUJI
Saponin (umum) +
IV.3 Penentuan Kecepatan Pengadukan yang Sesuai
Penentuan kecepatan pengadukan optimum dilakukan untuk mengetahui kecepatan pengadukan yang akan digunakan pada penelitian utama, yaitu kecepatan pengadukan yang menghasilkan suspensi yang seragam, tidak ada fenomena vorteks dan deadzone. Optimasi dilakukan menggunakan design expert serti disajikan pada TAbel IV.4.
Tabel IV.4 Hasil Optimasi Kecepatan Pengadukan
IV.4 Ekstraksi Klorofil Daun Suji
Pengambilan klorofil dari daun suji melalui proses ekstraksi batch dengan metode pengontakan secara dispersi. Pada dasarnya, ekstraksi padat cair tergolong sebagai pemisahan difusional di mana pemisahan di sini akan memanfaatkan perbedaan laju difusi suatu senyawa dalam medium, difusi berlangsung antar fasa menuju kesetimbangan. Pemisahan difusional ini digunakan terutama dalam pemisahan campuran homogen yang tidak mampu terpisahkan hanya dengan pemanfaatan gaya mekanik. Pemisahan difusional ekstraksi padat cair akan melibatkan satu atau bahkan beberapa komponen yang berasal dari suatu padatan atau cairan menggunakan bantuan pelarut dan gaya dorong berupa perbedaan kelarutan dan perbedaan konsentrasi pada kedua fasa.
Variabel penelitian yang ingin diamati yaitu temperatur ekstraksi, rasio massa umpan terhadap pelarut, dan jenis pelarut. Ekstrak yang diperoleh pada variasi jenis pelarut disajikan pada Gambar IV.2.
(a) (b) (c) Gambar IV.2 Perbandingan Warna Ekstrak berdasar Jenis Pelarut
(a) Aseton 80 % (b) Etanol 95 % (c) Air
Warna ekstrak yang diperoleh dengan pelarut aseton 80 % berwarna hijau kebiruan sedangkan untuk pelarut etanol 95 % dan air terlihat warna hijau ekstrak yang dihasilkan lebih cenderung hijau kekuningan (bahkan warna cokelat ikut berperan dalam warna larutan ekstrak dengan pelarut air). Dari ketiga warna larutan ekstrak tersebut secara visual sudah dapat menunjukkan aseton 80 % lebih selektif dalam mengekstrak senyawa klorofil a, sedangkan etanol 95 % dan air dapat mengekstrak senyawa klorofil b dan senyawa polar lainnya. Terbentuknya busa pada larutan ekstrak etanol 95 % dan air pun menunjukkan larutan ekstrak mengandung pula senyawa polar lain yaitu saponin. Baik pada larutan ekstrak dengan pelarut aseton 80 % dan etanol 95 % tidak terjadi browning. Hal ini dapat disebabkan karena kemampuannya untuk mengendapkan protein dan menghambat kerja enzim sehingga dapat terhindar proses hidrolisis dan oksidasi.
Proses pemisahan solute dari pelarut kemudian dilakukan dengan evaporasi vakum Hasil pemekatan dengan evaporator vakum kemudian dilanjutkan dengan pengeringan dalam oven pada suhu 35oC selama 1 minggu agar kadar air yang diperoleh mendekati 0 %. Pengeringan yang dilakukan tidak menghasilkan butiran serbuk padat klorofil melainkan klorofil yang tampak dalam bentuk pasta sebagaimana tersaji pada Gambar IV.3.
(a) (b) Gambar IV.3 Ekstrak yang Diperoleh (a) Hasil Pemekatan (b) Hasil Pengeringan
IV.4.1 Yield Klorofil Daun Suji
Yield menunjukkan persentase jumlah klorofil yang diperoleh dibandingkan terhadap kandungan klorofil di dalam bahan baku yang secara tidak langsung menunjukkan efektivitas ekstraksi. Yield klorofil yang diperoleh pada ekstraksi menggunakan pelarut aseton 80% sebesar 48,28-92,98%, dapat dilihat pada Tabel IV.5.
Tabel IV.5 Yield Klorofil Daun Suji Pelarut T(oC) F:S Yield (%) Aseton 80 % 41,7 1:10,2 53,8421 Aseton 80 % 38,0 1:15,0 85,3904 Aseton 80 % 38,0 1:15,0 81,8988 Aseton 80 % 28,3 1:17,9 69,2476 Aseton 80 % 38,0 1:15,0 81,9753 Aseton 80 % 28,3 1:12,1 59,8504 Aseton 80 % 50,0 1:15,0 74,6792 Aseton 80 % 41,7 1:19,8 80,1668 Aseton 80 % 36,2 1:17,1 88,5907 Aseton 80 % 36,2 1:17,1 92,9796 Etanol 95 % 36,2 1:17,1 73,5611 Etanol 95 % 36,2 1:17,1 76,3333 Air 36,2 1:17,1 48,2819 Air 36,2 1:17,1 48,4470
Berikut dijelaskan pengaruh variabel ekstraksi terhadap yield klorofil yang didapatkan:
1. Pengaruh Temperatur
Semakin tinggi temperatur, yield semakin besar karena peningkatan temperatur akan meningkatkan kelarutan solute dan difusivitas sehingga klorofil yang diperoleh juga meningkat. Hal ini berkaitan erat dengan kecenderungan partikel-partikel solute yang bergerak secara acak (Gerak Brown) semakin cepat dengan naiknya temperatur. [Fessenden, 1986] Selain itu, temperatur tinggi dapat menurunkan viskositas pelarut dan solute (klorofil) sehingga memudahkan pelarut berdifusi ke dalam matriks padatan dan solute berdifusi ke luar permukaan matriks padatan. [Mc Cabe dan Warren L, 2005]
Pada penelitian ini, yield pada suhu 38 oC bila dibandingkan dengan temperatur lain seperti 28,3, 41,7, dan 50oC menghasilkan yield relatif lebih besar (dapat dilihat pada Gambar IV.4). Hal ini membuktikan kinerja senyawa penstabil yang ditambahkan bersamaan dengan umpan cukup menjaga warna hijau yang dihasilkan sehingga pada temperatur 38 oC warna hijau cukup stabil. Namun penambahan senyawa penstabil tidak cukup berfungsi untuk mencegah degradasi klorofil pada temperatur lebih besar sama dengan 41,7oC.
YIELD KLOROFIL
(%)
TEMPERATUR (oC)
Gambar IV.4 Kecenderungan Yield Klorofil pada Berbagai Temperatur
2. Pengaruh Rasio Massa Umpan terhadap Pelarut (F:S)
Makin kecil F:S (massa umpan yang digunakan semakin kecil) menyebabkan driving force-nya besar karena semakin banyak molekul pelarut yang dapat
kontak dengan molekul solute sehingga solute yang terekstrak juga meningkat, selain itu derajat kejenuhan pelarut terhadap solute menjadi lebih tinggi yang akhirnya akan meningkatkan yield. Kecenderungan hasil penelitian dapat dilihat pada Gambar IV.5.
YIELD KLOROFIL
(%)
Rasio Massa Umpan terhadap Pelarut
Gambar IV5 Kecenderungan Yield Klorofil pada Berbagai Rasio Massa Umpan Terhadap Pelarut
Pada Gambar IV.5 terlihat dengan jelas yield klorofil cenderung mencapai nilai maksimal pada rentang tengah variabel rasio massa umpan terhadap pelarut. Pada rasio yang besar (level rendah dan menunjukkan massa umpan yang besar) yield klorofil cenderung rendah karena driving force berjalannya proses ekstraksi rendah serta kejenuhan pelarut lebih cepat tercapai, sedangkan pada rasio masssa terhadap umpan yang kecil (level tinggi dengan massa umpan yang kecil) terlihat pula penurunan yield klorofil yang mana dimungkinkan karena kandungan solute dalam matriks padatan yang terlampau kecil walau driving force besar namun waktu ekstraksi yang dibatasi hingga 6 jam kemungkinan belum cukup untuk menjenuhkan seluruh pelarut, sehingga solute yang terkandung (yang sebenarnya sangat sedikit karena massa umpan yang diekstraksi kecil) belum sepenuhnya terekstrak.
IV.4.2 Kadar Klorofil
Kadar klorofil secara tidak langsung menunjukkan kadar pengotor (senyawa organik lain selain klorofil) yang terbawa dalam ekstrak yang diperoleh.
Pengotor ini tidak diinginkan dalam klorofil hasil isolasi karena dapat mempengaruhi kualitas klorofil, sehingga diharapkan kadar klorofil yang bernilai besar. Hasilnya disajikan pada Tabel IV.6.
Tabel IV.6. Kadar Klorofil Ekstrak Daun Suji Pelarut T(oC) F:S Kadar Klorofil (%)
Berikut dijelaskan pengaruh variabel ekstraksi terhadap yield klorofil yang didapatkan:
1. Pengaruh Temperatur
Secara teoritis, temperatur yang tinggi dapat menyebabkan :
a) Dinding sel pecah dan pori-pori padatan yang mengembang lebih mudah memungkinkan komponen yang terkandung di dalam daun suji (termasuk pengotor) lebih mudah berdifusi keluar dan terdistribusi pada permukaan matriks padatan. Kelarutan komponen pengotor dalam akan semakin besar seiring semakin tinggi temperatur, kemungkinan komponen-komponen pengotor ikut terekstrak semakin besar, yang menyebabkan kadar klorofil menurun. Namun temperatur ekstraksi yang diteliti, tidak terlampau tinggi sehingga kadar klorofil tidak benar-benar turun seiring peningkatan temperatur.
b) Dapat menurunkan viskositas komponen (termasuk pengotor) yang berwujud cairan sehingga dengan mudah keluar menuju permukaan matriks padatan. Semakin tinggi temperatur, maka viskositas pelarut dan solute (berlaku untuk solute yang berfasa cair) semakin kecil. Semakin
kecil viskositas, maka shear stress akan semakin kecil, shear rate akan semakin besar sehingga molekul fluida semakin mudah bergerak dan laju difusi eksternal akan meningkat. [Mc Cabe dan Warren L, 2005]
c) Dapat mengoptimalkan pemecahan koloidal sehingga pengotor akan terlepas dari ikatan minyak dan mengendap. Denaturasi protein karena tertariknya mantel air yang melingkupi molekul protein akibat pemanasan sehingga susunan ruang atau rantai polipeptida protein berubah dan kemudian timbullah gumpalan. [Fessenden, 1986]
d) Meningkatkan energi kinetik molekul padat terutama senyawa organik bermolekul besar seperti pati sehingga semakin mudah dan cepat untuk berdifusi. [Fessenden, 1986]
Hasil penelitian yang menunjukkan kecenderungan kadar klorofil pada berbagai temperatur dapat ditunjukkan secara grafis pada Gambar IV.6.
Kadar klorofil cenderung mencapai nilai maksimal pada level rendah variabel temperatur ekstraksi. Pada temperatur kamar (level rendah) kadar klorofil cenderung tinggi karena pada temperatur rendah tidak banyak senyawa organik lain (pengotor) yang ikut terekstrak, seiring peningkatan temperatur terlihat penurunan kadar klorofil yang mana dimungkinkan karena semakin banyak senyawa organik lain (pengotor) yang ikut terekstrak dan kemungkinan terdegradasinya klorofil secara termal.
KADAR KLOROFIL
(%)
TEMPERATUR (oC)
Gambar IV.6 Kecenderungan Kadar Klorofil pada Berbagai Temperatur
2. Pengaruh Rasio massa umpan terhadap pelarut (F:S)
Pada penelitian ini massa pelarut diset tetap sehingga massa umpan yang berubah. F:S besar (massa pelarut banyak dan massa umpan sedikit) dengan molekul pelarut banyak memungkinkan kontak antara pelarut dan pengotor menjadi meningkat. Umpan yang digunakan sedikit akan menyebabkan driving force antara komponen tertentu (termasuk pengotor) di fasa padat dan fasa cair akan meningkat. Namun untuk melihat respon kadar klorofil terhadap variabel penelitian rasio massa umpan terhadap pelarut ternyata kadar klorofil tidak terlalu dipengaruhi oleh perbedaan rasio massa umpan terhadap pelarut tersebut. Hal ini diduga disebabkan oleh rentang variasi rasio massa umpan terhadap pelarut yang tidak terlalu lebar dan berada dalam rentang rasio massa umpan terhadap pelarut untuk menghasilkan respon kadar klorofil yang optimum serta pengaruh variabel temperatur lebih dominan kadar klorofil dibanding dengan variabel rasio massa umpan terhadap pelarut (F:S). Hasil penelitian yang menunjukkan kecenderungan kadar klorofil pada berbagai rasio massa umpan terhadap pelarut dapat ditunjukkan secara grafis pada Gambar IV.7
TEMPERATUR (oC) KADAR
KLOROFIL (%)
Rasio Massa Umpan terhadap Pelarut
Gambar IV.7 Kecenderungan Kadar Klorofil pada Berbagai Rasio Massa Umpan Terhadap Pelarut
Kadar klorofil kurang menunjukkan suatu kecenderungan respon terhadap variasi variabel rasio massa umpan terhadap pelarut. Tinggi rendahnya kadar klorofil yang ditunjukkan terlihat hanya akan berubah signifikan terhadap perubahan temperatur ekstraksinya. Kontur yang tampak pada Gambar IV.8 menunjukkan kondisi optimum dengan kadar klorofil maksimum dapat dicapai pada temperatur 26 - 35oC dan pada berbagai rasio massa umpan terhadap pelarut. Pada rasio massa umpan terhadap pelarut sebesar 1:15 memang terlihat kontur optimum memudar hal ini bukan berarti pada terdapat kecenderungan hanya pada rasio 1:15 kadar menurun, melainkan dikarenakan run utama yang dilakukan pada rasio 1:15, temperaturnya cukup tinggi yaitu 38 oC dan 50 oC, sehingga menurunkan kadar klorofil yang diperoleh akibat kemungkinan degradasi termal klorofil.
Gambar IV.8 Kondisi Optimum berdasar Respon Kadar Klorofil
IV.4.3 Optimasi Kondisi Ekstraksi
Dari respon yield dan kadar klorofil tersebut terdapat 2 kondisi optimum yang berbeda, namun karena diharapkan ekstraksi dapat berlangsung dengan baik, dari segi jumlah (yield) maupun kualitas (kadar) klorofil yang diperoleh dilakukan optimasi secara simultan baik pada respon yield dan kadar klorofil. Pada Tabel
IV.7 ditunjukkan bagaimana optimasi yang dilakukan memperoleh suatu solusi akan kondisi optimum ekstraksi yang baik digunakan dalam memperoleh klorofil baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif yaitu pada temperatur ekstraksi 36,2oC dan pada rasio massa umpan terhadap pelarut sebesar 1:17,1.
Tabel IV.7 Kondisi Optimum berdasar Respon Yield dan Kadar Klorofil Secara Simultan
Untuk memvalidasi hasil optimasi yang diperoleh dari Design Expert dilakukan run tambahan, hasilnya disajikan pada Tabel IV.8. Berdasarkan analisis ANOVA dengan rancangan faktorial tunggal, hasil penelitian tersebut membuktikan variasi pelarut akan berpengaruh signifikan pada yield, kadar, dan nilai kLa. Pelarut aseton 80% terbukti merupakan pelarut terbaik untuk ekstraksi klorofil daun suji, bila dibandingkan dengan etanol 95 % dan air dan optimasi yang diperoleh dari design expert cukup memberikan keakuratan prediksi.
Tabel IV.8 Hasil Ekstraksi Klorofil Pada Kondisi Optimum Pelarut T
(oC)
F:S Yield
(%)
Kadar Klorofil (%)
kLa (menit-1) Aseton
80%
36,2 1:17,1 88,5907 60,8144 0,017 Aseton
80% 36,2 1:17,1 92,9796 59,2506 0,017 Etanol 95% 36,2 1:17,1 73,5611 56,0080 0,012 Etanol 95% 36,2 1:17,1 76,3333 55,8127 0,012 Air 36,2 1:17,1 48,2819 28,7443 0,015 Air 36,2 1:17,1 48,4470 28,5257 0,015
IV.4.4 Koefisien Perpindahan Massa Volumetrik
Koefisien perpindahan massa volumetrik, kLa merupakan salah satu parameter dalam proses difusi massa klorofil dari fasa padatan menuju fasa cair.
Koefisien perpindahan massa volumetrik merupakan konstanta laju difusi yang berkaitan dengan laju perpindahan massa (fluks massa), luas permukaan perpindahan massa, dan gradien konsentrasi sebagai driving force. Laju perpindahan massa berbanding lurus dengan driving force yaitu perbedaan konsentrasi dan berbanding terbalik dengan tahanan yang setara dengan 1/kLa.
[Samun, 2008] Nilai kLa yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel IV.9.
Tabel 4.9 kLa Ekstraksi Klorofil Daun Suji Pelarut T(oC) F:S kLa (menit-1) Aseton 80 % 41,7 1:10,2 0,014 Aseton 80 % 38,0 1:15,0 0,018 Aseton 80 % 38,0 1:15,0 0,018 Aseton 80 % 28,3 1:17,9 0,015 Aseton 80 % 38,0 1:15,0 0,017 Aseton 80 % 28,3 1:12,1 0,013 Aseton 80 % 50,0 1:15,0 0,033 Aseton 80 % 41,7 1:19,8 0,018
Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, masing-masing variabel penelitian tersebut akan memberikan pengaruh terhadap kLa seperti penjelasan di bawah ini :
1. Temperatur
Temperatur yang tinggi akan meningkatkan kelarutan solute di dalam pelarut, menurunkan viskositas solute dan pelarut, serta memperbesar pori-pori matriks padatan. Perpindahan massa yang terjadi akan semakin mudah karena pelarut semakin mudah untuk melarutkan solute, sehingga meningkatkan laju difusi eksternal. Penurunan viskositas dan porositas yang besar yang terjadi seiring kenaikan temperatur dapat mempermudah untuk solute berdifusi ke permukaan padatan atau pelarut berdifusi ke dalam matriks padatan yang akhirnya akan kontak. Hal-hal di atas menyebabkan
driving force-nya besar. Driving force yang besar akan meningkatkan laju difusi dan nilai kLa dapat dilihat pada persamaan IV.1. [Mc Cabe dan Warren L, 2005]
(IV.1)
Dari persamaan IV.1 dapat dilihat temperatur berbanding lurus dengan difusivitas dan berbanding terbalik dengan viskositas pelarut sehingga temperatur tinggi menyebabkan viskositas solute dan pelarut rendah.
Difusivitas tinggi dapat meningkatkan laju ekstraksi sehingga solute yang terekstrak lebih cepat. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa semakin besar temperatur, nilai kLa akan semakin besar terlihat pada perbandingan Run T =
38,0 oC dan F:S = 1:15,0 dibandingkan dengan Run T = 50,0oC dan F:S = 1:15,0.
2. Rasio massa umpan terhadap pelarut (F:S)
Perpindahan solute ke pelarut akan menyebabkan terjadi driving force, di mana adanya beda konsentrasi solute di fasa cair (ekstrak) dengan konsentrasi solute di permukaan matriks padatan dan beda kelarutan solute-solute penyusun umpan di dalam pelarut yang digunakan. Makin kecil F:S (massa umpan yang digunakan semakin kecil) menyebabkan driving force-nya besar.
Driving force yang besar menyebabkan laju difusi dan kLa meningkat.
Kecenderungan di mana semakin sedikit umpan maka dihasilkan kLa yang lebih besar telah sesuai dengan teori dapat dilihat pada saat T=28,3 oC dan F:S =12,1 dibandingkan dengan F:S =17,9 serta pada T = 41,7 oC dan F:S =10,2 dibandingkan dengan F:S =19,8.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ekstraksi zat warna hijau daun suji ini adalah:
1. Pemisahan non destruktif ekstraksi padat cair terbukti berhasil memisahkan klorofil yang terkandung dalam daun suji.
2. Senyawa-senyawa organik lain yang terkandung dalam daun suji adalah saponin steoroid, minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, dan tanin.
3. Peningkatan temperatur menyebabkan yield dan kadar klorofil menurun namun nilai kLa meningkat. Peningkatan massa umpan menyebabkan yield klorofil dan nilai kLa menurun.
4. Variasi jenis pelarut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap yield klorofil, kadar klorofil, dan nilai kLa. Interaksi variabel temperatur ekstraksi dan rasio massa umpan terhadap pelarut tidak berpengaruh signifikan terhadap respon yield dan kadar klorofil.
5. Senyawa organik yang diduga ikut terekstrak di antaranya adalah saponin steoroid, minyak atsiri, karotenoid, alkaloid kolkisina, polifenol, flavonoid, tanin, dan pati fruktan.
6. Hasil penelitian ini memberikan yield klorofil daun suji dengan ukuran -10+50 mesh sebesar 48,2819 – 92,9796 %; kadar klorofil sebesar 28,525– 60,8144 %;
dan nilai kLa 0,012-0,033 menit-1.
7. Kondisi optimum ekstraksi klorofil diperoleh saat temperatur ekstraksi 36,2oC, F:S = 1:17,1 dengan pelarut aseton 80% dengan yield klorofil sebesar 90,7852 %, kadar klorofil sebesar 60,0325 % dan nilai kLa sebesar 0,017 menit-1.
V.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada p e n e l i t i a n ekstraksi zat warna hijau daun suji ini adalah:
1. perlu optimasi untuk memperoleh kadar klorofil yang besar, mengingat hasil kadar klorofil yang diperoleh kurang menunjukkan suatu kontur optimasi (menunjukkan titik puncak);
2. isolasi klorofil menggunakan teknik pemisahan sentrifugasi dan kristalisasi perlu dikaji lebih lanjut untuk memperoleh kualitas klorofil yang lebih tinggi;
3. isolasi klorofil menggunakan teknik pemisahan precipitating agent (contohnya eter minyak bumi) perlu dikaji lebih lanjut untuk memperoleh kualitas klorofil yang lebih tinggi; serta
4. untuk respon kadar klorofil, variasi rasio umpan terhadap pelarut perlu dikaji lebih lanjut untuk rentang variasi yang cukup lebar untuk melihat pengaruh variabel tersebut terhadap kadar klorofil.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, “Tanaman Suji”, http://id.wikipedia.org/wiki/Suji , di-download pada 24 Desember 2010 pukul 08.20 WIB
Anonim, “Daun Suji”, http://www.roasehat.com/Tanaman-Obat/Tanaman-Obat-C-D/Daun-Suji.html, di-download pada 24 Desember 2010 pukul 08.25 WIB Anonim, http://dutahortikultura.com/tanaman_hias.php?halaman=3, di-download
pada 3 Januari 2011 pukul 14.20 WIB.
Anonim, http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/12608/2/F05kws.pdf , di-download pada 3 Januari 2011 pukul 14.30 WIB.
Anonim, http://clearinghouse.bplhdjabar.go.id/ ,di-download pada 3 Januari 2011 pukul 14.32 WIB.
Anonim, http://www.herbal-obatalami.com/daun-suji.html ,di-download pada 3 Januari 2011 pukul 14.32 WIB
Anonim,’Klorofil”,http://www.lintasberita.com/Entertainment/Sains/Uji_Klorofil _Dari_Daun_Suji_ Sebagai_ Pewarna_Pakaian_Dasar_Teori, di-download pada 1 Januari 2011 pukul 08.35 WIB.
Anonim,http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologi-proses /pelaksanaan-proses-ekstraksi/, di-download pada 3 Januari 2011 pukul 14.15 WIB
Anonim,http://www.scribd.com/doc/16766786/Pembuatan-Simplisia-dan-Ekstrak-Bahan-Alam, di-download pada 5 Januari 2011 pukul 16.25WIB
Badan Pusat Statistik, http://regional.bps.go.id/~jabar , di-download pada 15 Februari 2011 pukul 09.40 WIB di Jalan Pahlawan Bandung
G. Mackinney, (1939), Criteria for Purity of Chlorophyll Preparations, Division of Fruit Products, pp. 91-108.
Geankoplis, Christie J.,(1993), Transport Process and Unit Operations, 3rd ed.
PrenticeHall, New Jersey
Harborne.J.B, (1996), Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganilisis Tumbuhan. Terbitan Kedua. ITB, Bandung ,hlm. 69-109, 127-158, 234-236, 259-269.
Hiscox, J.D and G. F. Israelstam, (1979), A Method for the Extraction of Chlorophyll from Leaf Tissue without Maceration, didownload pada http://rparticle.webp.cisti.nrc.ca/rparticle/AbstractTemplateServlet?calyLa ng=eng& journal=cjb&volume=57&year=1979&issue=12&msno=b79-163, Can. J. Bot. 57(12), pp. 1332–1334.
Iriyama,K. Nagao Ogura, and Atusi Takamiya, (1974), A Simple Method for Extraction and Partial Purification of Chlorophyll from Plant Materia Using Dioxane, didownload pada http://jb.oxfordjournals.org/content/76/
4/901.short, Journal of Biochemistry Volume 76, pp. 901-904.
Istichomah, K., (2004), Pengaruh lama penyimpanan daun terhadap komposisi dan kandungan klorofil daun suji (Pleomele angustifolia N. E. Brown), Skripsi, FSM-UKSW, Salatiga.
Kirk, R.E and Donald F.Othmer,(1952), Encyclopedia of Chemical Technology, Volume 1 The Interscience Encyclopedia, Inc., New York, pp. 503-504.
Kirk, R.E and Donald F.Othmer,(1963), Encyclopedia of Chemical Technology, Volume 3 The Interscience Encyclopedia, Inc., New York, pp.871-881
Kirk, R.E and Donald F.Othmer,(1982), Encyclopedia of Chemical Technology, Volume 11 The Interscience Encyclopedia, Inc., New York, pp. 411-423.
Kirk, R.E and Donald F.Othmer,(1993), Encyclopedia of Chemical Technology, Volume 12 The Interscience Encyclopedia, Inc., New York, pp. 917-921.
Kirk, R.E and Donald F.Othmer,(1996), Encyclopedia of Chemical Technology, Volume 14 The Interscience Encyclopedia, Inc., New York, pp.802-805 , 809-810.
Lemmens, R.H.M.J. dan N.Bunyapraphatsara, (2003), “Plant Resources of South-East Asia Medical and Poisonous Plants”, Leiden: Bachuys Publishers.
Limantara, L., P. Rahayu, (2008), Pigmen alami berbasis sumber daya lokal (dalam kualitas dan ketahanan pangan), Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Agroindustri Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Mendukung Ketahanan Nasional, ISBN 978-979-1366-28-1, 37-49.
Madalena, Heriyanto, Hastuti, S. and Limantara , L., (2007), The Effect of Heating Time to the Content of Pigments and Vitamin AA in Cassava (Manihot esculenta Crantz) and Ceara-rubber (Manihot glaziovii Muell.Arg) Leaves, Indo. J. Chem., 7, pp.105-110.
Mc Cabe, W.L., (2005), Unit Operations of Chemical Engineering, 5th ed. Mc Graw-Hill, New York.
Minguez-Mosquera, M.I. and Garrido-Fernandez, J., (1989), Chlorophyll and Carotenoid Presence in Olive Fruit (Olea europaea), American Chemical Society., 37.
Minguez-Mosquera, M.I., Garrido-Fernandez, J. and Gandul-Rojas, B., (1990), J.
Agric. Food Chem., 38, pp. 1662-1666.
Nadjeeb, http://nadjeeb.wordpress.com/2009/10/31/saponin/, di-download pada 1 Januari 2011 pukul 08.55 WIB
Nurlaela, E., Faiz Sutanto, dkk., (2008), Uji Aktivitas Antioksidan dan Senyawa Klorofil Daun Katuk (Saoropus androgynous), didownload http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/13656/3/F07ysa1.pdf , Institut Pertanian Bogor.
Oktaviani, L. (1987), Perubahan – perubahan yang Terjadi pada Ekstrak Warna Hijau Daun Suji, Skripsi, Fakultas Teknologi Pertanian.
Parman, S. and Harnina, S., (2008), Pertumbuhan, Kandungan Klorofil dan Serat Kasar pada Defoliasi Pertama Alfalfa (Medicago sativa L) Akivat Pemupukan Mikrorisa, Buletin Anatomi dan Fisiologi., 16, pp. 2-6.
Rianti. E., (2007), Pengaruh Jenis Pelarut Terhadap Rendemen Zat Warna Alami Dari Daun Suji (Pleomele Angustifolia (ROXB.) N.E.Br), Skripsi, Institut Teknologi Bandung.
Rozak, A.M. and Hartanto, U., (2008), Ekstraksi Klorofil dari Daun Pepaya dengan Solvent 1-Butanol, Skripsi, Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Dipenogoro.
Salisbury, F. dan Cleon W Ross., (1995), .Fisiologi Tumbuhan, Jilid Kedua. ITB, Bandung, hlm.143-154.
Skoog, West Holler.,(2002), Fundamental of Analytical Chemistry, 8th ed .Thomas Brooks Cole, New York.
Treybal, R.E.,(1980), Mass Transfer Operations, 3rd Edition, McGraw-Hill Companies, Inc, New York, pp. 35-36.
Yafrida, Sesrita, L., Yuniartis, and Efdi, L., (2007), Kestabilan Pewarna Makanan Alami yang Berasal dari Daun Suji, Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Unand.