4. ANALISIS KASUS
4.1 Studi Kasus dengan Objek Berupa Spesimen Hidup
4.1.2 Analisis Kasus Ditinjau dari Penanganan
Berdasarkan Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, satwa digolongkan menjadi satwa dilindungi dan satwa tidak dilindungi.134 Penggolongan tersebut sangat berguna bagi penyelamatan satwa dari kepunahan sehingga keberadaan satwa tersebut akan tetap terjaga sampai masa yang akan datang.
Pembuat undang-undang telah menetapkan kriteria tertentu terhadap penggolongan satwa yang dilindungi. Kriteria dari satwa yang dilindungi berdasarkan Pasal 5 ayat (1) PP No. 7 Tahun 1999135, sebagai berikut:
(a) Mempunyai populasi yang kecil;
(b) Adanya penurunan yang tajam pada jumlah individu di alam;
(c) Daerah penyebaran yang terbatas (endemik).
Berdasarkan ketentuan tersebut setiap jenis satwa yang memenuhi kriteria tersebut
134Indonesia (b), Ps. 20 ayat (1).
135Indonesia (e), Peraturan Pemerintah tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, PP No. 7 Tahun 1999, LN No.14 Tahun 1999, TLN No.3803, Ps. 5 ayat (1).
wajib dilakukan upaya pengawetan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (2) PP No. 7 Tahun 1999.136
Konsiderans PP No. 8 Tahun 1999 menyatakan bahwa:
tumbuhan dan satwa liar merupakan bagian dari sumber daya alam hayati yang dapat dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dan pemanfaatannya dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung, dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar.
Oleh karena itu, pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar sangat terbatas pada bidang tertentu. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilaksanakan dalam bentuk:
(a) Pengkajian, penelitian dan pengembangan;
(b) Penangkaran;
(c) Perburuan;
(d) Perdagangan;
(e) Peragaan;
(f) Pertukaran;
(g) Budidaya tanaman obat-obatan; dan (h) Pemeliharaan untuk kesenangan.137
Berdasarkan PP No. 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru, perburuan dilakukan harus dengan izin buru yang diberikan oleh Menteri Kehutanan. Satwa yang dapat diperdagangkan adalah jenis satwa liar yang tidak dilindungi.138
Apabila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam PP No. 7 Tahun 1999 dan PP No. 8 Tahun 1999, sanksi pidananya mengacu pada ketentuan pidana yang diatur dalam Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Oleh karena itu, Muhammad Opu dan Zaenal didakwa dengan ketentuan Pasal 21 ayat (2) huruf a jo. Pasal 40 ayat (2) jo. PP No. 7 Tahun 1999 karena telah mengangkut dengan maksud memperjualbelikan penyu hijau yang
136Pengawetan adalah upaya untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya baik di dalam maupun di luar habitatnya tidak punah.
137Indonesia (f), Peraturan Pemerintah tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, PP No. 8 Tahun 1999, LN No. 15 Tahun 1999, TLN No. 3804, Ps. 3.
138Ibid, Ps. 18.
dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Selain itu, dalam kasus ini juga ditemukan motif jual beli penyu berupa kegunaan penyu untuk kegiatan adat atau keagamaan.
Penyu dilindungi secara nasional, regional, maupun internasional. Penyu di Indonesia dilindungi Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo. PP No. 7 Tahun 1999. Peluang pemanfaatannya hanyalah sebagaimana yang diatur dalam PP No. 8 Tahun 1999. Selain peraturan perundang-undangan tersebut, ternyata penyu juga dilindungi oleh Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dimana dalam penjelasan Pasal 7 dinyatakan bahwa reptilia (penyu) termasuk jenis ikan yang dilindungi. Secara regional, Indonesia bersama-sama dengan negara-negara ASEAN lainnya telah menandatangani kesepakatan bersama mengenai Konservasi dan Perlindungan Penyu pada tahun 1997. Selain itu, pada tahun 2001 juga terjadi penandatanganan MoU di bawah Konvensi Konservasi Spesies Migratori Satwa Liar yang kemudian dikenal dengan Memorandum of Understanding (MoU) Penyu Laut Kawasan Samudera Hindia dan Asia Tenggara (MoU Penyu Laut IOSEA). Secara internasional, Indonesia termasuk negara yang telah menandatangani CITES yang diratifikasi melalui Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978 tentang CITES.
Menurut CITES, seluruh penyu termasuk Appendiks I yang berarti satwa tersebut dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan kecuali untuk kepentingan penelitian dan usaha pembudidayaan, karena kondisinya terancam punah. Seluruh penyu di dunia juga terdaftar dalam Red Data Book yang diterbitkan IUCN (International Union on Conservation Nature Resource). Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara yang telah meratifikasi Biodiversity Convention melalui Undang-Undang No. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati harus memberikan perlindungan terhadap satwa-satwa yang berada di dalam Red Data Book.
Penegakan hukum terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Muhamad Opu dan Zaenal tetap berpedoman pada KUHAP dan peraturan pelaksananya,
kecuali ditentukan khusus.139 Oleh karena itu, tata cara penegakan hukumnya cenderung sama dengan tata cara penegakan hukum biasa. Mulai dari surat perintah tugas yang diberikan oleh pejabat berwenang sampai pada upaya hukumnya. Namun demikian, dalam pembahasan kali ini penulis akan fokus kepada penanganan satwa liar dilindungi sebagai benda sitaan.
Penyitaan dalam kasus ini sesuai dengan ketentuan penyitaan dalam hal tertangkap tangan, karena kapal tertangkap ketika dalam perjalanan menuju tempat di mana akan terjadi jual beli satwa liar dilindungi yang dalam kasus ini berupa penyu hijau. Hal ini juga terlihat dari perolehan penetapan dari Ketua Pengadilan Negeri Tarakan tanggal 10 Oktober 2006 mengenai persetujuan kepada penyidik yang telah melakukan penyitaan.
Pada saat kapal diperiksa oleh tim patroli, muatan kapal langsung teridentifikasi bahwa terdapat satwa liar dilindungi yaitu penyu hijau (Chelonia Mydas). Oleh karena itu, penyitaan dilakukan sehari setelah kapal tertangkap tangan oleh tim patroli meskipun belum mendapatkan izin penyitaan dari Pengadilan Negeri Tarakan. Penyu-penyu tersebut (baca: benda sitaan) dirampas untuk negara.140 Selanjutnya penyu-penyu tersebut diserahkan ke BKSDA NTB yang mempunyai kolam penampungan untuk dilepasliarkan segera, karena tumbuhan dan satwa liar dilindungi harus dipertahankan agar tetap berada di habitatnya.
Fakta dalam praktek, seringkali penegak hukum butuh waktu yang cukup lama untuk mengidentifikasi barang bukti satwa. Hal ini disebabkan masih kurangnya kapasitas para penegak hukum baik tentang peredaran dan perdagangan hidupan liar, peraturan perundang-undangannya maupun kemampuan untuk melakukan identifikasi jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi dan yang dilarang untuk diedarkan dan diperdagangkan. Apabila
139Departemen Kehutanan (b), Instruksi Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam tentang Penertiban dan Penegakan Hukum Terhadap Penguasaan dan atau Perdagangan Orangutan dan Satwa Liar yang Dilindungi Undang-Undang Beserta Habitatnya, Instruksi Dirjen PHKA No. 762 Tahun 2001.
140Indonesia (b), Op. Cit., Penjelasan Ps. 24:
“Yang dimaksud dengan dirampas untuk negara adalah bahwa di samping dirampas sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam KUHAP, juga memberikan kewenangan kepada pejabat yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menguasai dan menyelamatkan tumbuhan dan satwa sebelum proses pengadilan dilaksanakan.”
kondisinya tetap seperti ini, dikhawatirkan satwa-satwa yang harusnya dilindungi tersebut akan terlantar sehingga memperbesar kemungkinan matinya satwa.
Selain itu, harus jelas siapa yang akan menangani satwa liar dilindungi yang menjadi barang bukti. Penitipan dan pemeliharaan satwa harus dengan kondisi yang baik sehingga tidak memperbesar resiko kematian satwa. Namun, sarana dan prasarana yang ada masih mengalami keterbatasan. Keterbatasan tersebut berupa kualitas/keterampilan SDM yang tidak merata, fasilitas penampungan yang tidak memadai untuk ditinggali satwa, dan pendanaan sebagai roda penggerak jalannya pusat penampungan satwa sementara.
Untuk mencapai tempat penampungan sementara, satwa perlu dievakuasi dengan tata cara yang telah ditentukan. Mengacu pada ketentuan dalam Instruksi Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No. 762 Tahun 2001 Tentang Penertiban dan Penegakan Hukum Terhadap Penguasaan dan atau Perdagangan Orangutan dan Satwa Liar yang Dilindungi Undang-Undang Beserta Habitatnya, kegiatan evakuasi satwa yang dilindungi dapat dilakukan dari tempat-tempat kejadian perkara (TKP) seperti rumah-rumah (pekarangan) penduduk/masyarakat, pasar-pasar (misalnya pasar burung), kandang transit, kebun binatang, atau tempat-tempat khusus lainnya untuk diangkut ke pusat kegiatan reintroduksi satwa. Untuk melakukan evakuasi tersebut perlu dipersiapkan :
1) Kandang-kandang transport (angkut);
2) Tenaga pengawal/pengawas/ pembawa satwa;
3) Tenaga medis atau teknisi;
4) Surat-surat keterangan dari yang berwenang (misalnya: surat izin angkut satwa yang dilindungi, surat kesehatan/karantina hewan, surat keterangan status satwa);
5) Bahan makanan satwa, dan obat-obatan (jika diperlukan);
6) Perlengkapan lainnya yang relevan.
Untuk pelaksanaan kegiatan evakuasi dilakukan sebagai berikut:
a) Evakuasi satwa yang dilindungi terlebih dahulu dilakukan serah terima dari petugas penyerah (Wakil Direktorat Jenderal PHPA/Kepala BKSDA/Unit KSDA/Taman Nasional alau PPNS) kepada pembawa/pengangkut, dan dibuat berita acaranya.
b) Evakuasi satwa yang dilindungi lainnya, dilakukan dengan memperhatikan kondisi satwa yang dilindungi tersebut.
c) Dalam memperlakukan satwa, digunakan cara-cara yang nyaman bagi satwa dimaksud sehingga tidak mengalami gangguan fisik (luka) dan kejiwaan (stress).
d) Bagi satwa yang memerlukan pembiusan supaya dijaga agar satwa tetap sehat. Untuk maksud tersebut agar digunakan teknik pembiusan yang baik dan benar, sesuai dengan tata cara yang lazim dalam ilmu kedokteran hewan.
e) Evakuasi satwa harus dilakukan dengan menggunakan kandang-kandang transport (angkut) yang kuat dan baik, yang ukurannya disesuaikan dengan satwa yang dievakuasi, sehingga kandang tidak mudah rusak dan aman (tidak menimbulkan luka, dan sebagainya) bagi satwa yang dievakuasi.
f) Setelah satwa sampai ditempat tujuan (pusat introduksi), dilakukan serah terima dari pembawa kepada pejabat unit kerja pusat introduksi) dan dibuat berita acaranya.
g) Selanjutnya penanganan satwa yang dilindungi menjadi tanggung jawab pusat introduksi satwa yang dimaksud.
Namun demikian, dalam berkas perkara tidak ditemukan berkas yang menyatakan bahwa kegiatan evakuasi terjadi sesuai dengan instruksi tersebut.
Berkas perkara hanya memuat berita acara penyerahan barang bukti untuk dikembalikan ke habitatnya dan untuk dititipkan sementara. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah kegiatan evakuasi penyu-penyu tersebut (baca: barang bukti) sudah sesuai dengan petunjuk pelaksanaan yang ada, karena tidak ada keterangannya dalam berkas perkara.
Pelepasliaran dilakukan tanggal 29 September 2006 di Perairan Gili Nangu sampai dengan Gili Sudak dalam kondisi aman dan lancar. Pelepasliaran ini memang sudah semestinya dilakukan sesegera mungkin mengingat penyu-penyu tersebut sudah berada di luar habitatnya cukup lama dan untuk menghindari adanya kematian satwa. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menyatakan bahwa tumbuhan dan satwa liar dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas untuk negara dikembalikan ke habitatnya.
Namun demikian, tidak semua penyu yang disita dikembalikan ke habitatnya. Ada 3 (tiga) ekor penyu yang disisihkan guna kepentingan pembuktian. Meskipun penyu-penyu tersebut dititipkan sementara ke BKSDA NTB yang memiliki fasilitas kolam penampungan, tetapi menurut penulis akan
lebih baik jika semua penyu hijau tersebut dikembalikan ke habitatnya.
Berdasarkan foto yang terdapat dalam berkas perkara, terlihat bahwa keadaan kolam penampungan yang ada di BKSDA NTB tidak cukup layak menjadi
”rumah” sementara ketiga penyu tersebut, karena kolam tersebut tidak cukup luas untuk ruang gerak penyu. Keterbatasan fasilitas itulah yang membuat penulis berpendapat bahwa jauh lebih baik dikembalikan ke habitatnya.
Sebagai pengganti barang bukti dapat berupa foto-foto. Untuk kepentingan pembuktian dalam kasus ini pun telah dilakukan pemotretan barang bukti. Jadi, menurut penulis tidak perlu lagi dilakukan penyisihan sebagian penyu untuk contoh barang bukti jika sudah dilakukan pemotretan barang bukti. Semakin lama penyu-penyu tersebut di luar habitatnya makin besar pula resiko kematiannya.
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis berkesimpulan bahwa penanganan benda sitaan negara berupa satwa liar dilindungi dalam keadaan hidup dalam kasus ini telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku meskipun terdapat ketidakjelasan akan evakuasi satwa. Apakah kegiatan evakuasi dilakukan sesuai dengan Instruksi Dirjen PHKA atau justru ”asal” dievakuasi saja. Penulis juga berpendapat penyisihan 3 (tiga) penyu dalam rangka pembuktian merupakan tindakan yang tidak tepat. Ketidaksetujuan tersebut dikarenakan penyu-penyu yang disisihkan akan dititipkan di kolam penampungan milik BKSDA NTB yang sebenarnya tidak cukup layak untuk dijadikan rumah sementara penyu-penyu tersebut, sehingga timbul kekhawatiran semakin lama satwa liar dilindungi berada di luar habitatnya semakin besar pula resiko kematiannya. Sarana yang tidak memadai itu menjadi salah satu keterbatasan dalam penanganan satwa liar dilindungi sebagai hasil sitaan.
4.2 Studi Kasus dengan Objek Berupa Spesimen Mati