• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Analisis Kebangkrutan Model Altman Z-score

Altman dikenal sebagai pionir dalam teori kebangkrutan dengan Z-score nya. Z-Z-score suatu persamaan multivariabel yang digunakan oleh Altman dalam rangka memprediksi tingkat kebangkrutan. Altman menggunakan model statistik yang disebut dengan analisis diskriminan, tepatnya adalah Multiple Discriminant Analysis (MDA).

Z-Score asli pertama sekali dirumuskan oleh Altman dengan latar belakang, antara lain:

1. Sampel diambil dari perusahaan manufaktur publik.

2. Perusahaan beralokasi di Amerika.

3. Dirumuskan tahun 1968.

4. Jumlah sampel 66 perusahaan terdiri dari 33 perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan tidak bangkrut.

Formula Z-score Altman adalah sebagai berikut:

Z = 0,717X1 + 0,847X2 + 3,107X3 + 0,420X4 + 0,995X5 X1 = working capital to total assets

X2 = retained earning to total assets

X3 = earning before interest and taxes to total assets X4 = book value of equity to book value of total debt X5 = sales to total assets

Nilai cut off adalahZ < 1,81 perusahaan masuk dalam kategori bangkrut, skor 1,81 - 2,67 perusahaan masuk dalam wilayah abu-abu (grey area atau zone of ignorance) Z > 2.67 perusahaan tidak bangkrut.

1. Working Capital to Total Assets

Modal kerja (workingcapital) adalah seslisih antara aktiva lancar di atas utang lancar atau merupakan sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasional perusahaan. Menurut Jumingan (2005) terdapat dua defenisi modal kerja yang lazim digunakan yakni sebagai berikut:

a. Modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap utang jangka pendek. Kelebihan ini disebut modal kerja bersih. Kelebihan ini merupakan jumlah aktiva lancar yang berasal dari utang jangka panjang dan modal sendiri. Defenisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan kemungkinan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar daripada utang jangka pendek dan menunjukkan tingkat keamanan bagi kreditur jangka pendek serta menjamin kelangsungan usaha di masa mendatang. Modal kerja adalah jumlah dari aktiva lancar. Jumlah ini merupakan modal kerja bruto. Definisi ini bersifat kuantitatif karena menunjukkan jumlah dana yang digunakan untuk maksud-maksud operasi jangka pendek.

b. Aset adalah sumberdaya ekonomi yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang diukur berdasarkan prinsip akuntansi. Menurut FASIB (1980) aset (aktiva) adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa masa lalu. Rasio working capital to total assets menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan modal kerja bersih dengan total aktiva. Modal kerja bersih diperoleh

dengan cara aktiva lancar dikurangi dengan kewajiban lancar. Rasio ini menggambarkan tingkat likuiditas perusahaan, modal kerja bersih yang negatif kemungkinan besar akan menghadapi masalah dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak tersedianya aktiva lancar yang cukup untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak tersedianya aktiva lancar yang cukup untuk untuk menutupi kewajiban tersebut. Sebaliknya, perusahaan dengan modal kerja bersih yang bernilai positif jarang sekali menghadapi kesulitan dalam melunasi kewajibannya.

Dengan demikian working capital to total assets dapat diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk dapat memenuhi kewajiban jangka pendek dari perusahaan pada saat jatuh tempo.

Endri (dalam Daulay, 2013) menyebutkan bahwa working capital adalah selisih lebih antara aktiva lancar atas kewajiban lancar suatu perusahaan, sedangkan asset adalah sumberdaya yang dimiliki perusahaan. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan modal kerja bersih dari keseluruhan total aktiva yang dimilikinya.

(Sawir, 2003) mengatakan bahwa rasio modal kerja terhadap total aset adalah untuk mengukur likuiditas dengan membandingkan aktiva likuid bersih dengan total aktiva. Aktiva likuid bersih atau modal kerja didefenisikan sebagai total aktiva lancar dikurangi total kewajiban lancar.

Umumnya, bila perusahaan mengalami kesulitan keuangan, modal kerja akan turun lebih cepat daripada total aktiva menyebabkan rasio ini turun.

Rumusnya adalah sebagai berikut:

2. Retained Earning to Total Assets

Retained earning (laba ditahan) adalah laba perusahaan yang telah dikurangi dengan pajak yang oleh RUPS atau rapat anggota diputuskan untuk tidak dibagikan. Menurut (Jumingan, 2005). Laba yang adalah adalah bagian laba yang ditanamkan kembali dalam perusahaan. Laba yang diperoleh tidak semuanya dibagikan kepada para pemilik (pemegang saham) sebagian dividen tetapi sebagian akan ditahan dan ditanamkan kembali dalam perusahaan untuk menghasilkan laba ditahan dari total aktiva perusahaan.

Dengan kata lain, laba ditahan menunjukkan berapa banyak pendapatan perusahaan yang tidak dibayarkan dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham. Menurut Nugroho (2012) rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba ditahan dari total aktiva perusahaan. Yakni berapa banyak pendapatan perusahaan yang tidak dibayarkan dalam bentuk deviden kepada para pemegang saham. Laba ditahan menunjukkan klaim terhadap aktiva, bukan aktiva per ekuitas pemegang saham. Laba ditahan terjadi karena pemegang saham biasa mengizinkan perusahaan untuk menginvestasikan kembali laba yang tidak didistribusikan sebagai deviden. Dengan demikian, laba ditahan yang dilaporkan dalam neraca bukan merupakan kas dan tidak tersedia untuk pembayaran deviden atau yang lain. Rasio ini adalah rasio yang mengukur kemampuan laba kumulatif dari perusahaan. Pada beberapa tingkat, rasio ini juga mencerminkan umur perusahaan,karen semakin muda perusahaan

semakin sedikit waktu yang dimilikinya untuk membangun laba kumulatif.

Rumusnya adalah sebagai berikut:

3. Earning Before Interest and Taxes to Total Assets

Earning before interest and tax adalah selisih antara pendapatan dikurangi biaya pada perusahaan yang belum dikurangi dengan bunga dan pajak.

Aset adalah sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan, sumberdaya ini berbentuk fisik (aset berwujud) ataupun yang tidak berbentuk fisik (aset tidak berwujud) yang memiliki nilai ekonomis. Aset adalah jasa yang akan datang dalam bentuk uang atau jasa mendatang yang dapat ditukarkan menjadi uang (kecuali jasa yang timbul dari kontrak yang belum dijalankan kedua pihak secara sebanding) yang di dalamnya terkandung kepentingan yang bermanfaat yang dijamin menurut hukum atau keadilan bagi orang atau kelompok tersebut. Earning before interest and taxes to total assets mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan. Semakin kecil tingkat profitabilitas berarti semakin tidak efisien dan efektif perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva di dalam menghasilkan laba usaha begitu juga sebaliknya.

Darwis (2009) ukuran produktivitas dari aktiva perusahaan yang benar-benar terlepas dari pajak atau faktor leverage. Keadaan bangkrut terjadi saat total kewajiban melebihi penilaian wajar terhadap terhadap aktiva perusahaan yang ditentukan oleh kemampuan aktiva dalam menghasilkan laba. Dengan rumus sebagai berikut:

4. Book Value of Equity to Book Value of Total Debt

Nilai buku ekuitas (book value of equity) adalah nilai modal yang dimiliki oleh perusahaan yang telah tercantum di dalam laporan keuangan perusahaan. Menurut Ikhsan (2005) modal atau ekuitas adalah hak pemegang saham atas suatu aktiva yang tersisa dalam perusahaan.

Kekayaan perusahaan dalam neraca dicatat sebagai aktiva. Pada perusahaan berbentuk perseroan terbatas, ekuitas terdiri atas modal disetor dan laba ditahan. Menurut Ikhsan (2005) utang adalah pengorbanan manfaat ekonomi di masa yang akan datang sebagai akibat transaksi atau kejadian di masa lalu. Darwis (2009) menyebutkan bahwa rasio ini adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage dari suatu perusahaan. Utang yang terlalu besar akan berbahaya bagi kelangsungan perusahaan, terutama apabila terdapat Bungan yang harus dibayar.

Nugroho (2012) mengatakan bahwa rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dari utang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.

Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan atau dilikuidasi. Menurut Sawir (2013) rasio ini adalah kebalikan dari rasio utang permodal sendiri yang lebih terkenal. Nilai modal sendiri yang dimaksud adalah nilai pasar per lembar sahamnya. Umumnya perusahaan

yang gagal mengakumulasi lebih banyak utangnya dibanding modal sendiri akan mengalami kondisi keuangan yang kurang sehat. Rumusnya adalah sebagai berikut:

5. Sales to Total Assets

Penjualan (sales) adalah suatu kegiatan di dalam perusahaan yang terdiri dari penjualan barang atau jasa baik secara tunai maupun kredit. Menurut Reeve (2011) penjualan adalah total jumlah yang dibebankan pada pelanggan atas barang yang terjual, baik penjualan kas maupun kredit baik retur dan potongan penjualan, maupun diskon penjualan dikurangkan dari penjualan untuk menghasilkan penjualan bersih. Sedangkan Ikhsan (2005) mengatakan bahwa penjualan (sales) adalah hasil penjualan barang atau jasa yang menjadi objek usaha pokok/utama dalam perusahaan. Penjualan dapat dibedakan menjadi dua:

a. Penjualan bruto yaitu semua hasil penjualan sebelum dikurangi dengan berbagai potongan atau pengurangan-pengurangan lainnya.

b. Penjualan bersih yaitu penjualan bersih yang sudah diperhitungkan (dikurangi) dengan berbagai potongan dan pengurangan-pengurangan lainnya.

Sales to total asset ratio merupakan rasio keuangan standar yang sering dilakukan untuk menggambarkan kemampuan dari aset perusahaan dalam memciptakan penjualan. Dari rasio ini dapat diketahui kapasitas manajemen dalam mengella aset yang dimiliki dalam menghadapi kompetisi yang ada.

Semakin besar nilai rasio sales to total assets menggambarkan efektifitas

manajemen dalam mengelola aset yang berarti menurunkan profitabilitas default perusahaan. Endri (dalam Daulay, 2013) rasio ini menunjukkan apakah perusahaan menghasilkan volume bisnis yang cukup dibandingkan investasi dalam total aktivanya. Rasio ini mencerminkan efisiensi manajemen dalam menggunakan keseluruhan aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan dan mendapatkan laba. Sedangkan Darwis (2009) menyatakan bahwa rasio penjualan terhadap total harta adalah rasio yang disebut juga assets turnover dan biasanya digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi suatu bisnis dalam memanfaatkan aset yang dimiliki. Rasio perputaran modal adalah standar rasio keuangan yang menggambarkan kemampuan peningkatan penjualan dari aktiva perusahaan dan merupakan suatu ukuran kemampuan manajemen dalam menghadapi kondisi yang kompetitif, dengan rumus sebagai berikut:

Dokumen terkait