• Tidak ada hasil yang ditemukan

caesaria dan Malaria

B. Analisis Kebijakan

B. Analisis Kebijakan

Adanya standar prosedur pelayanan yang mengarah pada clinical pathway akan memberikan gambaran biaya yang lebih mencerminkan standar biaya yang dibutuhkan dan dapat meminimalisir variasi tindakan dan biaya. Adanya standar prosedur pelayanan berbasis clinical pathway juga memudahkan untuk melakukan analisis selisih biaya. Metode penentuan klaim INA‐CBG’s yang menghasilkan selisih yang tidak konsisten terhadap unit cost berpotensi menimbulkan permasalahan karena tidak mencerminkan suatu metode yang dapat diterima secara logis.

Pengumpulan dana (revenue collection) untuk JKN bersumber pada iuran yang terbagi menjadi kelas PBI, Kelompok Non‐PBI eks PT Askes Indonesia dan PT Jamsostek dibayar oleh Pemberi Kerja, dan Kelompok Non‐PBI Mandiri (Pekerja Bukan Penerima Upah) yang membayar sukarela dan dibayar oleh perusahaan bagi pekerja di perusahaan. Sebagian besar jenis peserta JKN di daerah studi merupakan peserta PBI dengan bantuan iuran tahun 2014 mencapai Rp 12,4 miliar (Ngada) dan Rp 34,5 miliar (Sumba Timur). Mekanisme pooling menunjukkan bahwa hanya ada BPJS Kesehatan yang menampung sumber dana iuran JKN untuk melakukan pelayanan kesehatan ke masyarakat. Dengan demikian mekanisme purchasing disalurkan oleh BPJS Kesehatan dilakukan melalui mekanisme kapitasi dan non kapitasi untuk FKTP dan mekanisme klaim INA‐CBGs untuk FKTL (rumah sakit).

kelompok peserta JKN yang lebih memanfaatkan dana JKN dan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Besaran klaim INA‐CBG’s yang dibayarkan oleh BPJS Kesehaan ke Rumah Sakit dapat digunakan untuk mengestimasi potensi dana sisa dari total iuran peserta JKN di daerah studi dan pembayaran klaim INA CBGs dan dana kapitasi dan non kapitasi yang telah dibayarkan oleh BPJS Kesehatan.

C. Rekomendasi

1. Penggunaan clinical pathway yang logis akan memberikan gambaran unit

cost yang lebih akurat dan dapat diperbandingkan diantara rumah sakit

yang mempunyai kondisi serupa.

2. Metode penentuan besaran Klaim INA‐CBG’s perlu dikaji ulang sehingga dapat memberikan hasil yang konsisten dalam pembandingan dengan

unit cost.

3. Tingginya pemanfaatan klaim INA‐CBG’s oleh peserta non PBI daripada PBI memperlihatkan adanya ketidakmerataan terhadap akses pelayanan kesehatan, sehingga pemerintah diharapkan dapatmengalokasikan lebih banyak anggaran kesehatan dari APBN bagi daerah‐daerah terutama bagi daerah dengan anggaran kesehatan rendah (dibuktikan dengan kapasitas fiskal rendah) untuk meningkatkan jumlah fasilitas kesehatan.

4. Mendorong BPJS Kesehatan untuk merealisasikan dana kompensasi di daerah yang terbatas fasilitas dan ketersediaan dokter spesialis, agar terjadi pemenuhan pelayanan kesehatan ke masyarakat. Diperlukan sosialisasi kepada pemerintah daerah dan provider kesehatan tentang pemanfaatan dana kompensasi, karena dana ini merupakan hak peserta JKN yang harus dikelola sebaik‐baiknya untuk kepentingan peserta JKN. 5. Kompartemenisasi di BPJS Kesehatan yang berbasis sumber pendapatan

dan pengeluaran antar kelompok peserta JKN di BPJS Kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan mencegah subsidi APBN yang salah sasaran. Minimal ada 3 kelompok di BPJS Kesehatan yang sekarang sudah ada yaitu PBI dan Jamkesda, Pekerja penerima Upah (eks PT Askes Indonesia dan PT Jamsostek), dan Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU).

Referensi 

Asyuri. A. (2010), Analisis Utilisasi dan Biaya Pelayanan Rawat Inap Peserta Program Kesehatan Pensiunan (Prokespen) PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional, Jakarta.

Carter, William, K. (2012), Cost Accounting; 14thedition, Thomson, Singapore. Cashin. C, O’Dougherty. S. at. all. (2005), Case‐Based Hospital Payment Systems:

A Step‐By‐Step Guide For Design And Implementation In Low And Middle Income Countries, USAID.

Doorslaer. E.V, Flores. G, O’Donnell. O. At all. (2011), Financial Protection of Patients through Compensation of Providers: The Impacts of Health Equity Funds in Cambodia, Erasmus University Rotterdam, the University of Amsterdam and VU University Amsterdam.

Gottret. P, Schieber. G. (2006), Health Financing Revisited, World Bank, Washington DC.

Hansen. D.R, Mowen. M. M, (2007), Managerial Accounting; 8th edition, Thompson, Singapore. Masyttoh. (2005), Miller. (2007), Pemerintah Republik Indonesia, (2014), Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 046/MENKES/SK/II/2014 Tentang Tim Monitoring dan Evaluasi Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional Tahun 2014. Pemerintah Republik Indonesia, (2014), Peraturan Badan Penyelenggara

Jaminan Sosial Kesehatan Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan.

Pemerintah Republik Indonesia, (2014), Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Sistem

Indonesian Case Base Groups (INA‐CBGs)

Pemerintah Republik Indonesia, (2014), Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional

Pemerintah Republik Indonesia, (2014), Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2014 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan

Pemerintah Republik Indonesia, (2014), Surat Edaran Nomor HK/MENKES/31/I/2014 Tentang Pelaksanaan Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan

Sachs. J.D. (2012), Achieving Universal Health Coverage in Low‐Income Settings, www.thelancet.com Vol 380: 944–47, September 8, 2012, Earth Institute, Columbia University.

Trisnantoro. L, Hendrartini. Y, Susilowati. T. At. all, (2014), Monitoring dan Evaluasi Awal Pelaksanaan JKN di Indonesia Tahun 2014; Studi Kasus di 12 Provinsi, UGM‐JKKI, Yogyakarta.

Pemerintah Republik Indonesia, (2004), Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Pemerintah Republik Indonesia. (2007), Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia, (2011), Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Pemerintah Republik Indonesia, (2011), Undang‐Undang Nomor 21 tahun 2011

Tentang Otoritas Jasa Keuangan. Jakarta

Qingyue. M. (2005), Review of Health Care Provider Payment Reforms in China, World Bank China Rural Health Study.

WHO. (2007),Everybody Business: Strengthening Health Systems To Improve Health Outcomes: WHO’s Framework for Action, WHO, Geneva, Switzerland.

WHO. (2008), Health Financing Policy; a Guide for Decision Makers,WHO‐ Europe.

Lampiran 

Lampiran 1. Lembar Permohonan Menjadi Responden Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Dengan hormat, Saya yang bertandatangan di bawah ini : Nama : DR. Anastasia Susty Ambariani, M.Si., Akt, CA Status : Konsultan PKMK FK UGM

Bersama tim PKMK FK UGM dan Universitas Nusa Cendana bermaksud melaksanakan penelitian untuk mengkaji besaran unit cost, penyerapan klaim INA‐CBG’s, dan pemanfaatan dana sisa dalam monitoring penyelenggaraan program JKN di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mendukung pengembangan kebijakan di level pusat dan daerah terkait penentuan unit cost di rumah sakit, kecukupan dan pengelolaan klaim INA‐CBG’s, dan pemanfaatan dana sisa, sehingga Peneliti mengajak Bapak/ Ibu/ Saudara untuk ikut serta dalam penelitian. Penelitian membutuhkan sekitar 2‐3 informan dari setiap instansi yang menjadi subjek penelitian, dengan jangka waktu keikutsertaan masing‐masing subjek penelitian sekitar 30‐45 menit.

Dokumen terkait