• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kebijakan Pengembangan Pasar Angso Duo Jambi

D. Persepsi Stakeholders terhadap Alternatif Pengembangan Pasar Angso Duo di Kota Jambi

5. BWK JAMSEKO

5.4. Analisis Kebijakan Pengembangan Pasar Angso Duo Jambi

Berdasarkan data diatas diketahui bahwa keberadaan pasar selama ini menimbulkan resiko terhadap lingkungan yang berasal dari limbah padat dan penurunan fungsi sempadan. Besaran resiko tersebut termasuk pada kategori tinggi/besar.

5.4. Analisis Kebijakan Pengembangan Pasar Angso Duo Jambi

Beberapa alternatif lokasi dalam pengembangan Pasar Angso Duo adalah merelokasi pasar ketempat baru dan jauh dari sempadan sungai dan pasar saat ini, merelokasi pasar dilokasi yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi, dan membenahi pasar yang ada. Alternatif lokasi kedua dan ketiga pasar tersebut merupakan lahan hak milik Pemprov. Jambi yang di dalam RTRW Kota Jambi merupakan kawasan lindung sempadan sungai.

5.4.1. Analisis Stakeholders Pengembangan Pasar Angso Duo Jambi

Jika pemilihan alternatif pada lokasi kedua dan ketiga maka peran Pemprov.Jambi tidak bisa diabaikan. Untuk itu perlu dilakukan analisis stakeholders yang terkait dengan rencana pembangunan kembali Pasar Angso Duo. Dinas/instansi dari Pemerintah Provinsi Jambi seperti Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum, Badan Lingkungan Hidup, Assisten II Gubernur (ketua Tim Percepatan Pembangunan Pasar Angso Duo), sedangkan dinas/instansi yang terkait pada level Pemerintah Kota Jambi adalah Bappeda, Dinas Tata Ruang, Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman, Kantor Pengelola Pasar, Badan Lingkungan Hidup. Dari luar pemerintahan lembaga yang terkait adalah Perguruan Tinggi (Pusat Studi DAS Batanghari Universitas Jambi), Lembaga Swadaya Masyarakat (Walhi) serta masyarakat secara umum (ketua adat Jambi). Stakeholders yang terkait dan kepentingan serta pengaruhnya dapat dilihat pada Tabel 22.

52 Tabel 22. Stakeholder yang Terkait Pengembangan Pasar Angso Duo Kota Jambi

No

Kelompok Stakeholder

Pemprov Pemkot Perguruan Tinggi

LSM Masyarakat

1 Bappeda Prov.Jambi V 2 Dinas Pekerjaan Umum V 3 Assisten II Gubernur V 4 Badan Lingkungan Hidup V

5 Bappeda Kota Jambi V

6 Dinas Tata Ruang V

7 Dinas Kebersihan V

8 Badan Lingkungan Hidup V 9 Kantor Pengelola Pasar V 10 PT (PS Studi DAS

Universitas Jambi)

V

11 LSM (Walhi) V

12 Masyarakat (ketua adat) V

Hasil penilaian terhadap tingkat kepentingan stakeholders dalam upaya pembangunan kembali Pasar Angso Duo dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23. Tingkat Kepentingan Stakeholders Pengembangan Pasar Angso Duo

No Stakeholders K1 K2 K3 K4 K5 Total 1 Bapeda Prov 1 1 1 5 5 13 2 BLH Prov 3 1 1 2 1 8 3 PU Prov 1 1 1 4 5 12 4 AsistenII Gub 1 1 1 5 5 13 5 Bapeda Kota 5 5 5 5 4 24 6 BLH Kota 5 5 5 5 4 24 7 Dinas TTR Kota 5 5 5 5 4 24

8 Dinas Kebersihan Kota 3 2 1 3 4 13

9 Kantor Pengelola Pasar 1 5 5 4 5 20

10 LSM (Walhi) 5 5 2 4 5 21

11 PT (PS Studi DAS Universitas Jambi)

5 5 2 4 4 15

12 Masyarakat (ketua adat) 5 5 3 4 5 22

Notasi 1 sampai 5 menyatakan tingkat kepentingan stakeholders terhadap aspek yang terkait pengembangan Pasar Angso Duo. Notasi 5 menyatakan kepentingan stakeholders yang sangat tinggi, notasi 4 termasuk pada kepentingan yang tinggi, notasi 3 menyatakan stakeholders yang cukup tinggi, notasi 2 menyatakan kepentingan yang kurang tinggi, dan notasi 1 menyatakan tingkat kepentingan yang rendah.

Notasi K1 menyatakan tingkat kepentingan stakeholders dalam aspek ekologi, Notasi K2 menyatakan tingkat kepentingan stakeholders dari aspek ekonomi, notasi K3 menyatakan tingkat kepentingan stakeholders dari aspek sosial, notasi K4 menyatakan

53 tingkat kepentingan stakeholders dari aspek politis, notasi K5 menyatakan prioritas tingkat kepentingan stakeholders dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.

Penilaian terhadap pengaruh stakeholders dilakukan dengan mengukur tingkat kemampuan stakeholders dalam mempengaruhi proses dan implementasi dalam pengembangan Pasar Angso Duo mengacu pada model yang dikembangkan oleh Abbas (2005) dan Asikin (2001). Hasil penilaian tingkat pengaruh stakeholders dalam pengembangan Pasar Angso Duo dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24. Tingkat Pengaruh Stakeholders Pengembangan Pasar Angso Duo No Stakeholders K1 K2 K3 K4 K5 Total 1 Bapeda Prov 5 4 1 2 5 17 2 BLH Prov 1 1 1 3 1 7 3 PU Prov 5 3 1 2 5 16 4 AsistenII Gub 5 4 1 2 5 17 5 Bapeda Kota 1 3 5 5 1 15 6 BLH Kota 1 1 1 2 1 6 7 Dinas TTR Kota 1 1 5 4 2 12

8 Dinas Kebersihan Kota 1 1 1 2 1 6

9 KPP 2 1 1 3 1 8

10 LSM 1 1 1 2 1 6

11 PT 1 1 1 2 1 6

12 Masyarakat 1 1 1 5 1 9

Notasi 1 sampai 5 menyatakan tingkat pengaruh stakeholders terhadap rencana pengembangan Pasar Angso Duo Jambi. Notasi 5 menyatakan bahwa stakeholders sangat berpengaruh, notasi 4 menyatakan pengaruh stakeholders tinggi, notasi 3 menyatakan pengaruh stakeholders cukup tinggi, notasi 2 pengaruh stakeholders kurang tinggi, notasi 1 menyatakan pengaruh yang rendah.

Notasi P1 menyatakan berapa besar pengaruh stakeholders dari sisi perencanaan hingga evaluasi pelaksanaan, P2 menyatakan pengaruh stakeholders dalam penyediaan fasilitas pengembangan Pasar Angso Duo, P3 menyatakan tingkat kewenangan stakeholders dalam pengembangan Pasar, P4 menyatakan tingkat dukungan regulasi dalam pengembangan pasar, P5 menyatakan besarnya dukungan anggaran stakeholders dalam pengembangan pasar.

Hasil skoring jawaban stakeholders terhadap kepentingan dan pengaruh dalam pengembangan pasar Angso Duo dianalisis dalam bentuk koordinat yang memudahkan pembacaan masing-masing posisi stakeholders. Berdasarkan hasil analisis diketahui

54 tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholders dalam pengembangan Pasar Angso Duo, yakni kelompok Subject (kuadran I), kelompok Key Players (kuadran II), kelompok Context Setters (kuadran III), kelompok Crowd (kuadran IV). Kelompok Subject adalah masyarakat, KPP Kota Jambi, LSM, BLH Kota, Dinas Tata Ruang dan Dinas KPP Kota. Kelompok Key Player adalah Asisten II Gubernur, Bappeda Kota, Bappeda Provinsi. Kelompok Context Setters (kuadran III) hanya ada Dinas Perencanaan Umum Provinsi, serta kelompok terakhir adalah Crowd (kuadran IV) yaitu BLH Provinsi Jambi dan Perguruan Tinggi. Peta pengaruh dan kepentingan stakeholders pengembangan Pasar Angso Duo dapat dilihat pada Gambar 14 berikut.

Gambar 14. Peta Pengaruh dan Kepentingan Stakeholders Terkait.

Subject merupakan stakeholders yang memiliki kepentingan yang tinggi tetapi pengaruhnya rendah, mereka tidak memiliki kapasitas untuk menentukan perubahan, mereka menjadi berpengaruh jika beraliasi dengan stakeholders lainnya. Key Player merupakan stakeholders yang harus dipersiapkan untuk menjadi aktif, karena mereka mempunyai kepentingan dan pengaruh yang tinggi atas suatu kebijakan tertentu. Contaxt setter adalah stakeholders yang berpengaruh tinggi tetapi memiliki kepentingan yang rendah. Crowd merupakan stakeholders yang mempunyai kepentingan dan pengaruh rendah terhadap kebijakan tersebut. Kepentingan dan

55 pengaruhnya bisa berubah dengan berjalannya waktu dan dampak perubahan yang terjadi.

Jika pengembangan pasar dilakukan, maka penyelesaian masalah kewenangan harus diselesaikan melalui sistem yang diperbolehkan, baik pada perizinan maupun pengganggaran. Dalam pelaksanaannya pemerintah provinsi maupun kota sebaiknya melakukan beberapa pendekatan yang dapat mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak tanpa mengurangi tingkat pengaruhnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Asikin (2001) bahwa dalam pembangungan perlu di berdayakannya bentuk-bentuk partisipasi stakeholders. Derajat partisipasi ini dibedakan menjadi empat tingkat diseminasi informasi adalah aliran informasi satu arah kepada publik, hal ini menyangkut kepentingan publik terhadap pasar, seperti masyarakat, Perguruan Tinggi, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat. Konsultasi merupakan pertukaran informasi dua arah antara koordinator pelaksana dan publik atau sebaliknya, disini lebih menitikberatkan antara kelompok kuadran II maupun kepada kuadran III atau sebaliknya. Kolaborasi merupakan pembagian hak dan kerjasama di dalam penetapan keputusan, pada tahap ini lebih terkait pada stakeholders yang berada di Kuadran II yaitu Bappeda Provinsi, Bappeda Kota, maupun Assisten II Gubernur. Pada tahap kolaborasi stakeholders terkait lebih menitikberatkan pada bentuk kewenangan yang diambil menyangkut pengembangan pasar, baik sistem perizinan maupun pengganggaran, serta bentuk pengaruh tata letak pasar terhadap lingkungan berdasarkan aspek ekologis. Delegasi adalah pemberian kewenangan bagi pengambilan keputusan dan pengelolaan sumberdaya pada stakeholder sesama kuadran II maupun ke kuadran III. Dimana jika sudah tercapai kesepakatan antara stakeholders kunci maka pembangunan dapat dilimpahkan pada pelaksana yaitu Dinas Pekerjaan Umum Provinsi.

Tetapi jika Pasar Angso Duo akan dibangun dilokasi baru dengan status kepemilikan lahan hak milik Pemkot Jambi, maka kepentingan dan pengaruh Pemprov. Jambi dapat diabaikan hal ini sesuai dengan UU No. 32 tahun 2004 tentang pembagian kewenangan pemerintah dan pemerintah daerah yang mengatur tentang kewenangan pemerintahan.

56 5.4.2. Alternatif Kebijakan Pembangunan Kembali Pasar Angso Duo Jambi

Menurut Dwidjowijoto (2007) bahwa isu pokok dalam analisis kebijakan pembangunan adalah alternatif kebijakan yang akan dihasilkan. Untuk mengetahui alternatif yang akan dipilih dalam pengembangan pasar Angso Duo maka dilakukan Analisis Hierarkhi Proses (AHP) pada stakeholders terkait baik pada jajaran Pemprov.Jambi, Pemkot Jambi maupun pihak terkait diluar itu. Hasil analisis terhadap aspek, sasaran dan alternatif pengembangan pasar dapat dilihat pada Tabel 25 berikut. Tabel 25. Aspek Pengembangan Pasar Angso Duo Jambi

No Aspek Bobot Pendapat Pakar Prioritas

1. Ekologi 0,250 2

2. Ekonomi 0,250 2

3. Sosial 0,500 1

5.4.2.1. Level Aspek

Berdasarkan hasil diskusi dengan pihak stakeholders, level fokus diuraikan menjadi beberapa aspek yakni ekologis, ekonomis dan sosial. Hasil analisis pendapat stakeholders menyatakan bahwa ketiga aspek tersebut memperlihatkan posisi kepentingan yang berbeda untuk dipertimbangkan dalam pengembangan Pasar Angso Duo Jambi. Bobot nilai masing-masing aspek yakni 0,500 untuk aspek sosial, untuk aspek ekologi dan ekonomi yakni 0,250. Hal ini menunjukkan stakeholders memiliki konsep membangun dengan kepedulian ekologis dan ekonomi yang sama.

Tingginya aspek sosial dikarenakan secara historis pasar ini merupakan pasar yang tumbuh dan berkembang bersama dengan perkembangan masyarakat Jambi. Ada hubungan emosional yang tinggi antara pasar dengan masyarakat Jambi, dimana pasar ini merupakan penghubung antara masyarakat seberang sungai dengan masyarakat di Kota Jambi. Stakeholders mengganggap bahwa pasar tradisional telah menjadi icon masyarakat Jambi. Oleh karena itu stakeholders pakar memprioritaskan aspek sosial yang harus didahulukan. Keseimbangan bobot antara aspek ekonomi dan ekologi menggambarkan bahwa stakeholders tidak hanya menganut diskursus developmentaslist tetapi juga conservationist dalam merancang pengembangan pasar kedepan.

57 5.4.2.2. Level Sasaran

Sasaran dari ketiga aspek dalam mencapai tujuan pengembangan pasar kedepan adalah 1) menurunnya tingkat pencemaran; 2) meningkatnya fungsi sempadan; 3) meningkatnya pendapatan daerah; 4) meningkatnya nilai tambah pasar; 5) meningkatnya nilai estetika; dan 6) meningkatnya ketertiban umum. Bobot nilai pendapat stakeholders untuk level sasaran dapat dilihat pada Tabel 26 berikut.

Tabel 26. Sasaran dalam Pengembangan Pasar Angso Duo Jambi

No Aspek Sasaran Bobot

Pendapat

Prioritas

1 Ekologi Menurunnya Pencemaran 0,125 3

Meningkatnya Fungsi Sempadan 0,125 3

2 Ekonomi Meningkatnya PAD 0,082 4

Meningkatnya Nilai Tambah Pasar 0,167 2 3 Sosial Meningkatnya Nilai Estetika Pasar 0,167 2

Meningkatnya Nilai Ketertiban Umum

0,333 1

Pendapat stakeholders berdasarkan sasaran aspek ekologi, memperlihatkan bobot nilai yang sama antara menurunnya pencemaran dan meningkatnya fungsi sempadan. Untuk aspek ekonomi, stakeholders lebih memprioritaskan meningkatkan nilai tambah pasar daripada peningkatan PAD. Alternatif untuk meningkatkan nilai tambah pasar dapat dilakukan melalui pengolahan sampah pasar menjadi kompos maupun biogas. Sementara aspek sosial, sasaran untuk meningkatkan ketertiban umum lebih diprioritaskan daripada meningkatkan nilai estetika pasar. Stakeholders berpendapat bahwa tata letak pasar saat ini perlu di pertimbangkan. Letak pasar yang berada pada jalur utama di pusat kota dengan sistem lalu lintas yang terkonsentrasi di sekitar pasar menimbulkan kemacetan lalu lintas. Selain masalah kemacetan lalulintas, Pasar Angso Duo berada dalam kondisi yang kumuh. Kerusakan infrastruktur terjadi hampir pada semua sarana dan prasarana pasar. Sistem drainase yang tidak berjalan, sehingga di musim hujan menjadi genangan.

58 Alternatif kebijakan merupakan hasil akhir dari analisis terhadap level aspek maupun sasaran dalam pengembangan Pasar Angso Duo. Berdasarkan hasil analisis tersebut prioritas alternatif kebijakan pengembangan pasar tersebut disajikan pada Tabel 27.

Tabel 27. Alternatif Kebijakan Pengembangan Pasar Angso Duo Jambi

No Alternatif Kebijakan Bobot

Pendapat

Prioritas 1. Relokasi jauh dari pasar yang ada (lokasi

baru)

0,385 1

2. Relokasi pasar di lokasi yang telah disiapkan (dekat dengan pasar yang ada)

0,340 2

3. Tidak merelokasi tetapi membenahi pasar yang ada

0,275 3

Berdasarkan tabel diatas, prioritas pertama dalam pengembangan Pasar Angso Duo adalah relokasi jauh dengan pengelolaan lingkungan, prioritas kedua adalah relokasi pada lokasi yang telah disiapkan oleh Pemprov.Jambi dan urutan prioritas ketiga tidak merelokasi pasar tetapi membenahi pasar yang ada.

A. Relokasi Jauh dengan Pengelolaan Lingkungan (RJKL)

Prioritas pertama dari ketiga alternatif adalah merelokasi pasar jauh dari lokasi yang telah disediakan maupun dari lokasi pasar saat ini. Merelokasi jauh dari pasar saat ini merupakan salah satu alternatif terbaik yang bisa dipilih oleh Pemerintah Kota Jambi, alternatif ini dapat disesuaikan dengan aspek ekologis, sosial dan ekonomi. Beberapa lokasi yang dapat dijadikan daerah pembangunan kembali pasar ini dengan persyaratan 1) jauh dari sempadan sungai sebagaimana pasar saat ini/ memenuhi persyaratan dalam penggunaan sempadan sungai ataupun danau; 2) memungkinkan adanya lahan untuk pengelolaan lingkungan berupa Instalasi Pengelolaan Limbah cair maupun padat; 3) adanya kesesuaian secara ekonomi maupun sosial. Salah satu lokasi yang dapat dipilih untuk merelokasi ini adalah wilayah kecamatan Jambi Timur dan Selatan. Kecamatan ini menurut RTRW 2010-2030 (Bappeda Kota Jambi, 2010) diproyeksikan menjadi Bagian Wilayah Kota (BWK) perdagangan dan jasa, pemukiman dan industri (Gambar 15). Berdasarkan hasil perhitungan Kimpraswil (2007) dalam Bappeda Kota Jambi (2010) maka pemindahan pasar ke BWK Jambi

59 Timur dan Jambi Selatan sangat memenuhi syarat dimana berdasarkan jumlah penduduk saat ini maka jumlah pasar yang dibutuhkan sebanyak 7 unit.

1.

Gambar 15. Peta Pengembangan Bagian Wilayah Kota Berdasarkan RTRW Kota Jambi 2010-2030

Pengelolaan limbah padat dan cair pada alternatif ini dapat dilakukan di lokasi pasar. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan lahan, sehingga pengaturan penggunaan lahan untuk pengelolaan limbah dapat disediakan. Untuk pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan pengomposan. Pengomposan

Pengomposan merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi gas metan yang terproduksi jika sampah di kelola secara open dumping. Dengan pengomposan maka jumlah gas metan dapat di reduksi sebesar 0,21 -0,29 ton/1,9 ton sampah (Indrasti, 2005). Pengolahan sampah dengan pengomposan ini memerlukan tempat dan tenaga kerja yang sesuai dengan jumlah sampah yang dihasilkan. Melalui pengomposan sampah yang terdiri dari bahan organik akan diubah menjadi zat-zat yang mudah di serap oleh tanaman. Pupuk organik yang dihasilkan merupakan produk yang

60

mempunyai nilai ekologis untuk perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah (Indrasti, 2005). Selain itu Pupuk organik memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Perkembangan permintaan terhadap produk organik yang terus meningkat telah menaikan pasar dan bisnis pupuk organik. Sehingga pengomposan limbah padat menjadi pupuk organik menjadi peluang mengatasi pengangguran di perkotaan.

Pengolahan limbah cair untuk alternatif ini dapat dilakukan dengan pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) communal (Metcalf and Eddy, 2003). Pemkot sebaiknya menyediakan IPAL Terpadu pada daerah yang dipersiapkan menjadi daerah BWK Jambi Timur dan Selatan ini, hal ini dikaitkan dengan rencana Pemkot. Jambi menjadikan daerah tersebut menjadi kawasan perdagangan, jasa, industry dan bisnis (Bappeda Kota Jambi, 2010). Sebagai daerah yang diperuntukkan menjadi kawasan bisnis, maka IPAL Terpadu sudah harus dirancang sejak daerah tersebut belum berkembang.

B. Relokasi Dekat dengan Pengelolaan Lingkungan

Prioritas kedua dari alternatif pengembangan pasar ini adalah merelokasi pasar ditempat yang telah disediakan oleh pihak pemda yakni dekat dengan pasar yang sudah ada, tetapi tetap berada di sempadan sungai. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam alternatif kedua ini adalah resiko keberadaan pasar terhadap penurunan fungsi sempadan. Sementara untuk resiko limbah cair dan padat memungkinkan untuk diantisipasi dengan pembangunan IPAL dan pengolahan sampah pasar.

Alternatif kedua ini kemungkinan besar dipilih oleh Pemerintah Kota Jambi dan Pemerintah Provinsi, hal ini berdasarkan RTRW Kota Jambi tahun 2010-1030, kota dibagi menjadi tiga pusat pelayanan, salah satunya, adalah Pusat Pelayanan Pasar Angso Duo yang akan dikembangkan dalam suatu kompleks terpadu seluas 25 ha. Fungsi khusus yang diemban pusat pelayanan ini menjadi Kawasan Strategis Perdagangan dan Jasa skala kota dan Kawasan Strategis Pusat Bisnis (Lampiran 1). Kawasan ini mencakup seluruh Kecamatan Pasar Jambi dengan luas kawasan 263,53 ha. Hal ini didasarkan pada potensi ekonomi yang cepat tumbuh serta dukungan prasarana yang ada.

61 Jika alternatif ini yang dipilih maka memerlukan upaya minimalisasi resiko terhadap sempadan. Rencana pemerintah kota membangun Pasar Angso Duo di lokasi baru dengan luas 9 ha adalah tidak berbeda dengan lokasi lama yang terdapat pada posisi tinggi muka air yang sama dari air sungai. Menurut Aswandi (2005) pertimbangan komponen lingkungan perlu di perhatikan dengan pendekatan hidrologi yang akan terpengaruh, antara lain 1) meningkatnya tinggi luapan air bila terjadi banjir, karena konsentrasi aliran sudah tertekan oleh penampang sungai yang disebabkan penyempitan aliran, dan sedimen mudah tergelontor ke bahagian hilir; 2) adalah bagian lahan yang paling luar berbatasan dengan sungai tetap dijadikan akses jalan atau tempat parkir, sehingga pengendalian daya rusak luapan banjir masih dapat diminimalisasi, dan tidak dibenarkan bangunan gedung sampai ke batas turap atau batas pengedaman. Dampak yang akan terjadi adalah daya rusak air ke dasar sungai semakin kuat, sehingga daya pengelontoran akan mengikis dasar turap atau dam atau bangunan. Nilai keindahan/estetika lingkungan sungai adalah sangat ditentukan oleh fasilitas jalan, jika akses jalan tidak tersedia di pinggir sungai, fungsi kontrol lingkungan juga tidak dapat dilakukan; 3) lokasi baru dan lama termasuk dataran banjir dari Sungai Batanghari, sehingga masih diperlukan peninggian lahan untuk menghindari genangan tertinggi dari banjir; 4) membangun tanggul pengendali banjir untuk melindungi pasar dari daya rusak air; dan 5) upaya pengendalian kualitas air dari seluruh aktivitas pasar, artinya diperlukan sistem drainase tertutup yang saling tersambung ke sistem kolam sanitasi untuk menghindari pembuangan langsung ke sungai. Kolam sanitasi ini dapat dibangun sebagai storage tank pengumpulan sementara, setelah terkumpul limbah diangkut dan diproses pada IPAL Terpadu. Pemerintah daerah harus menyiapkan IPAL terpadu untuk kebutuhan pertumbuhan industri di Kota Jambi. Hal ini sesuai dengan arah kebijakan daerah yang menjadikan Kota Jambi sebagai daerah perdagangan, jasa dan industri. C. Tanpa Relokasi dengan Pengelolaan Lingkungan

Alternatif ketiga adalah tidak merelokasi pasar kemanapun, merupakan suatu pilihan yang sulit dilakukan dimana pasar yang ada saat ini dengan luas lima hektar tidak memungkinkan untuk menambah unit pengelolaan limbah cair maupun padat, sementara pasar berada dari titik nol (0) dari tepian sempadan. Kesulitan lainnya jika dilakukan pembenahan prasarana dan sarana pasar maka harus memindahkan para

62 pedagang terlebih dahulu, tidak seperti alternatif pertama dan kedua. Kesulitan lainnya adalah posisi pasar saat ini secara langsung menghadap jalan utama, yang menghubungkan beberapa lokasi dan merupakan pusat konsentriasi jalur lalu lintas di Kota Jambi maka pembenahan pasar tidak dapat menghindari kemacetan saat ini maupun kedepan sesuai. Kemacetan ini terlihat pada Peta Proyeksi Kemacetan Kota Jambi sampai tahun 2027 (Lampiran 2). Tetapi jika pemerintah merencanakan pembenahan pasar dengan membongkar terlebih dahulu pasar yang ada, maka alternatif pengolahan limbah dapat diupayakan, terutama untuk limbah cair. Penyediaan storage tank dapat dibangun dibawah tanah, akses untuk pengambilan disediakan agar limbah dapat disedot dan diangkut ke IPAL Terpadu. Sementara untuk limbah padat, penyediaan unit penampungan sementara harus disediakan oleh pihak pemerintah daerah. Limbah padat harus diangkut dan diproses di TPA Talang Gulo. Untuk itu pemerintah daerah harus merevitalisasi TPA Talang Gulo menjadi TPA yang memproses limbah dengan sistem yang disesuaikan dengan jumlah dan jenis sampah yang ditampung. Upaya meminimalkan jumlah sampah melalui 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle) harus dimulai di TPA ini. Pengolahan lingkungan untuk ketiga alternatif dapat diringkas pada Tabel 28 berikut.

Tabel 28. Pengelolaan Lingkungan Pasar

Alternatif Pengembangan

Pasar

Alternatif Pengelolaan Lingkungan Lokasi Limbah Padat Limbah Cair Fungsi

Sempadan 1.Relokasi Jauh Pengomposan

dengan kapasitas disesuaikan sampah pasar

IPAL comunal - Jauh dari

sempadan

2.Relokasi Dekat Unit penampungan sampah sementara, sampah diangkut ke TPA Storage tank sementara, limbah diangkut ke IPAL Terpadu Disesuaikan dengan bangunan hidrologi sungai Sempadan 3. Pembenahan Pasar dengan pembongkaran bangunan yang ada Unit penampungan sampah sementara, sampah diangkut ke TPA Storage tank sementara, limbah diangkut ke IPAL Terpadu Disesuaikan dengan bangunan hidrologi sungai Sempadan

63 VI. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan :

1. Untuk tingkat kenyamanan pasar pedagang merasa bahwa kondisi pasar tidak nyaman (72%). Penyebab ketidaknyamanan tersebut adalah kondisi pasar yang kumuh dan becek sewaktu musim hujan (80%), solusi yang dinginkan adalah perbaikan infrastruktur pasar yang ada (52 %), menghendaki relokasi dekat dengan pasar yang ada (42%) dan relokasi jauh (6%).

2. Berdasarkan analisis resiko lingkungan dampak keberadaan Pasar Angso Duo saat ini 1) limbah padat berupa sampah organik mempunyai peluang yang besar dalam menghasilkan gas metan sebagai gas rumah kaca yang dapat berkontribusi pada pemanasan global; 2) Limbah cair tidak mempengaruhi kualitas air sungai Batanghari; 3) Terdapat gangguan fungsi sempadan sungai karena diwaktu musim hujan pasar tergenang dan banjir.

64 3. Urutan alternatif pengembangan pasar adalah 1) merelokasi jauh dari pasar yang ada; 2).merelokasi dilahan yang disediakan pihak Pemprov.Jambi; dan 3) tetap pada lokasi lama tetapi dilakukan pembenahan. Alternatif kedua dan ketiga memerlukan koordinasi dengan pihak pemprov, karena lahan tersebut merupakan asset Pemprov.Jambi. Pengelolaan limbah dan penanganan fungsi sempadan diperlukan disetiap alternatif. Pengomposan dan penyediaan IPAL dapat dilakukan secara in-situ di alternatif pertama. Unit pengumpulan limbah padat dan penyediaan storage tank untuk limbah cair perlu disediakan untuk alternatif kedua dan ketiga. Pemerintah daerah sebaiknya menyediakan unit pengolahan lanjutan untuk sampah padat maupun cair dengan merevitalisasi TPA Talang Gulo dan IPAL Terpadu untuk limbah cair.

4. Saran :

Dalam pemilihan alternatif pengembangan pasar sebaiknya pihak pemerintah daerah mempertimbangkan setiap dampak yang timbul dan melakukan antisipasi terhadap dampak tersebut. Jika memilih alternatif kedua dan ketiga diharapkan pihak Pemkot dan Pemprov. Jambi melakukan fungsi koordinasi dalam bentuk 1) Kolaborasi yang merupakan pembagian hak dan kerjasama di dalam penetapan keputusan baik sistem perizinan maupun pengganggaran serta tata letak pasar terhadap lingkungan;

Dokumen terkait