• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODELOGI PENELITIAN

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.5 Analisis Data

3.4.5.2 Analisis Kelayakan Finansial

sebagai berikut :

1) Compounding Factor (CF)

Merupakan suatu bilangan yang lebih besar dari satu yang dipakai untuk

mengalikan dan mengurangi suatu jumlah di waktu yang lalu sehingga diketahui nilainya saat ini, dihitung dalam persen (%).

Secara matematis rumus untuk menghitung CF adalah sebagai berikut CF = (1 + i)n

Keterangan :

i = tingkat suku bunga bank yang berlaku n = waktu

2) Net Present Value (NPV)

Secara matematis rumus untuk menghitung NPV adalah sebagai berikut

i n

n i

Keterangan :

B = benefit (manfaat) sosial kotor usahatani

C = biaya sosial kontrol sehubungan dengan usahatani i = tingkat bunga bank yang berlaku

n = lama kegiatan/waktu Kriteria investasi :

Bila NVP > 0, maka usaha layak untuk dilanjutkan Bila NVP < 0, maka usaha tidak layak untuk dilanjutkan Bila NVP = 0, usaha dalam keadaan break even point 3) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

e a i ni i nyang ernilai p si i

n

i i n yang ernilai nega i

Keterangan :

B = benefit (manfaat) C = cost (biaya)

i = tingkat bunga bank yang berlaku n = waktu

Kriteria investsi :

Bila Net B/C > 1, maka usaha layak untuk dilanjutkan Bila Net B/C < 1, maka usaha tidak layak untuk dilanjutkan Bila Net B/C = 1, usaha dalam keadaan break even poin

4) Internal rate of return (IRR)

Digunakan untuk menunjukkan atau mencari suatu tingkat bunga yang

menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NVP) sama dengan seluruh investasi usaha. Rumus yang digunakan adalah :

Keterangan :

i1 = tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV1 i2 = tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV2

NPV1 = NVP pada tingkat suku bunga (i1) yang bernilai positif NPV2 = NVP pada tingkat suku bunga (i2) yang bernilai negatif

Kriteria investasi :

Bila IRR > tingkat suku bunga, maka usaha layak untuk dilanjutkan Bila IRR < tingkat suku bunga, usaha tidak layak untuk dilanjutkan Bila IRR = tingkat suku bunga, usaha dalam keadaan break even point.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Lahan penelitian milik Kelompok Tani Karya Lestari Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai dengan faktor pembatas tekstur tanah halus, KTK liat dan C-organik (S2rcnr) untuk tanaman ubi kayu.

2. Secara finansial, usaha budidaya tanaman ubi kayu pada lahan Kelompok Tani Karya Lestari Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan menguntungkan dan layak untuk dikembangkan, dengan nilai NPV rata-rata selama 5 tahun tiap hektar sebesar Rp 18.464.689,-. Net B/C rata-rata sebesar 1,53 dan IRR rata-rata sebesar 6,80 % bulan-1 yang nilainya lebih besar dari tingkat suku yang berlaku saat ini yaitu diasumsikan sebesar 1,08 % bulan-1 atau 13 % tahun-1.

Lokasi penelitian memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai dengan faktor pembatas tekstur tanah, KTK liat dan C-organik sehingga tindakan

penanggulangan faktor pembatas yang dapat dilakukan yaitu melalui pemupukan dengan menggunakan bahan organik berupa pupuk organik berupa kompos dan pupuk kandang, serta pemberian mulsa berupa sisa-sisa tanaman.

Dengan mengucap syukur “Alhamdulillah”

Kupersembahkan karya kecilku ini sebagai rasa hormat, bakti, cinta, tanggung jawab, dan terimakasihku

Kepada

Almamaterku tercinta Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi Universitas Lampung

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada Jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Pertanian merupakan salah satu sektor sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan luas lahan dan keragaman agroekosistem, peluang pengembangannya sangat besar dan beragam. Namun, sampai saat ini sektor pertanian belum handal dalam mensejahterakan petani, memenuhi kebutuhan sendiri, menghasilkan devisa, dan menarik investasi (Karama, 2004). Menurut Hilman dkk. (2004), khusus untuk ubikayu, perannya dalam perekonomian nasional terus menurun karena dianggap bukan komoditas prioritas sehingga kurang mendapat dukungan investasi baik dari sisi penelitian dan pengembangan, penyuluhan, pengadaan sarana dan prasarana, serta dalam pengaturan dan

pelayanan. Akibatnya luas areal panen terus berkurang dan produktivitas tidak meningkat secara nyata.

Di Indonesia, ubi kayu merupakan bahan pangan utama ketiga setelah padi dan jagung. Ubi kayu merupakan tanaman yang mudah ditanam, dapat tumbuh di berbagai lingkungan agroklimat tropis, walaupun tentunya tingkat produksinya akan bervariasi menurut tingkat kesuburan dan ketersediaan air tanah.

Tanaman ubi kayu sebagian besar dikembangkan secara vegetatif yakni dengan setek. Jenis bahan tanaman (varietas/klon) ubikayu yang banyak ditanam di Lampung antara lain adalah varietas UJ 3 (Thailand), varietas UJ 5 (Cassesart),

dan klon lokal (BPS Lampung, 2009).

Menurut Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (2008) jumlah luas lahan ubi kayu di Indonesia adalah 1.204.933 hektar dengan produksi 21.756.991 ton atau rata-rata sekitar 18 ton hektar-1. Produksi ubi kayu di Indonesia sebagian besar dihasilkan di Jawa (56.6 %), Provinsi Lampung (20.5 %) dan propinsi lain (22.9 %).

Provinsi Lampung merupakan salah satu daerah penghasil ubi kayu, dengan luas perkebunan mencapai 297.392 ha dan produktivitas 18,011 ton hektar-1 tahun-1 atau sekitar 5.386.062 ton tahun-1. Setiap hektar tanaman ubi kayu varietas unggul mampu menghasilkan 150 ton hektar-1 tahun-1, sementara ubi kayu lokal hanya 20 - 40 ton hektar-1 tahun-1 (BPS Provinsi Lampung, 2009).

Lahan merupakan bagian dari bentang alam (landscape) yang mencakup

pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan bahkan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara

potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan (FAO, 1976). Lahan dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh berbagai aktivitas flora, fauna dan manusia baik di masa lalu maupun saat sekarang.

Evaluasi kesesuaian lahan merupakan penilaian dan pendugaan potensi lahan untuk penggunaan tertentu. Dengan evaluasi lahan tersebut, potensi lahan dapat dinilai dengan tingkat pengelolaan yang dilakukan. Hal ini sangat diperlukan bagi usaha perkebunan. Pelaksanaan evaluasi lahan pada dasarnya mengarah pada rekomendasi penggunaan lahan dengan mempertimbangan semua aspek yang

menjadi pembatas dalam penggunaan lahan yang ditetapkan, agar lahan dapat berproduksi secara optimal dan lestari (Mahi, 2004).

Hasil evaluasi lahan menggambarkan kesesuaian lahan untuk berbagai keperluan dan sekaligus dapat diketahui hambatan dan kebutuhan biaya dalam pemanfaatan sumber daya lahan tersebut, sehingga berapa besar keuntungan dan bahkan kemungkinan kerugian yang didapat, baik secara fisik maupun secara finansial akan di ketahui melalui evaluasi lahan tersebut (Mahi, 2005).

Ubi kayu merupakan salah satu komoditas yang dibudidayakan petani di Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan. Pada kenyataannya petani belum pernah melaksanakan kegiatan evaluasi lahan. Penggunaaan dan pemanfaatan sumberdaya lahan yang optimal sesuai daya dukungnya dapat dilakukan apabila tersedia informasi mengenai kesesuaian lahannya, serta penggunaan lahan baru dapat dikatakan menguntungkan apabila dengan biaya input yang dikeluarkan dapat menghasilkan jumlah produksi atau pendapatan lebih besar dari biaya input yang dikeluarkan. Bedasarkan hal tersebut perlu adanya penilaian kesesuaian lahan secara kualitatif dan kuantitatif pada lahan pertanaman ubi kayu di Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan agar mengetahui apakah lahan layak atau tidak untuk diusahakan.

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengevaluasi kesesuaian lahan kualitatif tanaman ubi kayu (Manihot esculenta

Crantz) pada lahan Kelompok Tani Karya Lestari Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan, berdasarkan kriteria Djaenuddin dkk. (2000).

2. Mengevaluasi kesesuaian lahan kuantitatif dengan menganalisis nilai kelayakan finansial budidaya tanaman Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) pada lahan Kelompok Tani Karya

Lestari Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan.

1.3 Kerangka Pemikiran

Terjadinya alih fungsi lahan dari sektor pertanian ke non pertanian merupakan salah satu penyebab berkurangnya lahan pertanian, sedangkan lahan pertanian yang terus-menerus digunakan akan mengakibatkan kerusakan dan berkurangnya kesuburan tanah sehingga produksi yang dihasilkan lahan tersebut akan terus menerus menurun, karena itu diperlukan teknologi yang tepat untuk

mengoptimalkan penggunaan sumber daya lahan secara berkelanjutan.

Evaluasi Lahan merupakan suatu proses penilaian suatu lahan sehingga sesuai dengan kondisinya pada penggunaan-penggunan tertentu (Djaenuddin dkk., 2000). Evaluasi lahan berguna untuk mengetahui potensi atau kemampuan lahan bagi bagi penggunaan-penggunaan lahan tertentu. Misalnya bagi tanaman pariwisata, dan pemukiman. Apabila potensi lahan ini diketahui secara dini, perencanaan untuk tata guna lahan akan diharapkan akan memberikan dampak berkelanjutan bagi lahan tersebut.

lahan untuk tujuan tertentu. FAO (1976) menjelaskan bahwa dalam evaluasi lahan perlu memperhatikan aspek-aspek seperti ekonomi, sosial serta lingkungan yang berkaitan dengan perencanaan tata guna lahan.

Menurut Mahi (2005), kesesuaian lahan adalah kecocokan macam penggunaan lahan pada tipe lahan tertentu. Penilaian kelas kesesuaian lahan dilakukan

dengan cara mencocokkan antara kualitas lahan dan karakteristik lahan dengan kriteria kelas kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan atau persyaratan tumbuh tanaman atau komoditas lain yang dievaluasi. Dalam hal ini evaluasi lahan dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

Menurut Djaenuddin dkk. (2000), lahan ubi kayu yang termasuk ke dalam kelas S1 yaitu temperatur berkisar 22 – 28 °C, dengan curah hujan rata-rata antara 1.000

– 2.000 mm tahun-1, drainase baik sampai agak terhambat, pH tanah berkisar antara 5,2 - 7,0. KTK liat ≥ 16 cmolc kg-1, kejenuhan basa ≥ 20 %, kandungan C- organik tanah lebih dari 0,8 %, dan kemiringan lereng kurang dari 8 %,

persyaratan tanaman ubi kayu selengkapnya tertera pada Tabel 10 (Lampiran).

Penelitian berlokasi di Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan. Desa Karang rejo memiliki ketinggian 47 - 110 m dpl, topografi datar sampai berombak dengan kemiringan 5 %, kedalaman tanah dalam, pH tanah berkisar 4 – 5,9 dengan tingkat kesuburan tanah dari sedang sampai baik dan drainase dari sedang sampai baik serta curah hujan 2.188,9 mm tahun-1 (Badan Pusat Statisik, 2007).

Lahan penelitian merupakan lahan garapan Kelompok Tani Karya Lestari yang telah berdiri sejak tahun 1999. Tanaman ubi kayu bukanlah satu-satunya

komoditi yang dibudidayakan di kelompok tani ini, tetapi ada komoditas lain yaitu Jagung (Zea mays.). Tanaman ubi kayu yang dibudidayakan Kelompok Tani Karya Lestari adalah ubi kayu varietas UJ 3. Varietas UJ 3 banyak ditanam petani karena berumur pendek tetapi kadar pati yang lebih rendah sehingga

menyebabkan tingginya rafaksi (potongan timbangan) saat penjualan hasil di pabrik (Biro Pusat Statistik, 2007).

Berdasarkan hasil wawancara, bahwa petani di Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan menghasilkan panen ubi kayu sebanyak 15,134 – 24,795 ton hektar-1 dengan pendapatan sebesar Rp. 8.903.960,- hektar-1 sampai Rp. 12.397.500,- hektar-1 dengan biaya produksi Rp. 3.948.000,- hektar-1 musim-1.

Penilaian kesesuaian lahan yang dilakukan menggunakan kriteria biofisik yang disusun oleh Djaenuddin dkk. (2000), sedangkan penilaian secara kuantitatif adalah dengan menganalisis kelayakan finansial budidaya tanaman ubi kayu yang dilakukan dengan menghitung nilai Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio), dan Internal Rate of Return (IRR).

1.4 Hipotesis

Berdasarkan kondisi yang ada di daerah penelitian seperti yang dikemukakan dalam kerangka pemikiran, maka diajukan hipotesis sebagai berikut:

1. Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) pada lahan Kelompok Tani Karya Lestari Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan adalah cukup sesuai dengan faktor pembatas ketersediaan air dan pH H2O (S2wanr).

2. Usaha budidaya tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) pada lahan Kelompok Tani Karya Lestari Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan secara finansial menguntungkan dan layak untuk dikembangkan.

Judul Penelititan : EVALUASI KESESUAIAN LAHAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF TANAMAN UBI KAYU (Manihot esculenta

Crantz.) PADA LAHAN KELOMPOK TANI KARYA LESTARI DESA KARANG REJO KECAMATAN JATI AGUNG

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Dokumen terkait