• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

D. Analisis Kelayakan Pemberian Pembiayaan Murabahah

Setelah berkas pengajuan dicatat dalam daftar survey, account officer akan melakukan proses analisis kelayakan pembiayaan , agar

tidak terjadi kesalahan pemberian pembiayaan yang dapat merugikan BMT L-Risma.

49 Wawancara dengan Devi account officer BMT L-Risma , pada tanggal 23 februari 2017

Proses tersebut dimulai dengan memeriksa legalitas berkas pengajuan. Pada formulir permohonan pembiayaan harus ditandatangani oleh suami-istri atau orang tua sehingga tidak dibenarkan pengajuan pembiayaan murabahah tanpa diketahui oleh suami/istri atau orang tua.

Jika legalitas berkas telah memenuhi syarat, langkah selanjutnya adalah survey lapangan terhadap calon anggota dan keadaan usahanya.

Kegiatan survey BMT L-Risma antara lain:50 1. Charakter (karakter)

Karakter didalam pembiayaan murabahah sangat penting karena dala pembiayaan ini sangat dibutuhkan karakter yang bik terutama dalam hal kejujuran. Karakter tersebut diketahui oleh accunt officer dari survey/wawancara dengan cara wawancara langsung kepada calon anggota dan wawancara dengan tetangga sekitar calon anggota.

Apakah sudah ada pinjaman di pihak lain atau belum, mengenai sifat pinjam meminjam dengan orang lain. Karakter juga diketahui dengan cara mengecek ke BMT lain dan bank-bank sekitar.

Kendala dalam melakukan survey melalui karakter adalah ketidakjujuran anggota saat diwawancarai oleh eccount officer. Di BMT L-Risma, karakter adalah analisis yang diutamakan saat survey.

50 Wawancara dengan Devi account officer BMT L-Risma , pada tanggal 23 februari 2017

44

2. Collateral (jaminan)

Jaminan yang digunakan adalah BPKB dan sertifikat tanah- bangunan. Apabila BPKB, melihat nomor mesin (cocok atau tidak dengan BPKB) dan fisik kendaraan.biasanya untuk 1 kendaraan dihargai maksimal sebesar Rp 5.000.000,-. Sedangkan pembiayaan yang dapat direalisasikan oleh BMT L-Risma adalah maksimal Rp 3.000.000,-.

Sedangkan pada sertifikat tanah-bangunan, dilihat nomor sertifikat, hak kepemilikan yang jelas dan juga letak tanah/ bangunan tersebut. Apabila dalan 1 petak tanah tersebut ditempati oleh beberapa orang, maka beberapa orang tersebut harus menyetujui permohonan pembiayaan tersebut. Sehingga pihak BMT L-Risma melakukan survey ke semua.

Kendala dalam menganalisis jaminan adalah ketidak jujuran anggota, yaitu atas nama orang lain, dan atas namanya sendiri tetapi pembiayaan digunakan oleh kerabat atau orang lain.

Satu jaminan (pinjaman) untuk satu kelompok.

3. Capacity(kemampuan)

Penilaia kemampuan dilakukan dengan melihat kondisi usaha calon anggota. Diantaranya dengan menanyai berapa jumlah penghasilan rata-rata per harinya. Melihat apakah beban yang ditanggung lebih besar dari pada penghasilannya.

4. Capital (modal)

Penilaian modal dilakukan dengan mengamati dan mewawancarai kepada calon anggota terhadap modal yang digunakan untuk modal usaha saat ini.

5. Condition (keadaan)

Penilaian keadaa oleh pihak BMT dilakukan dengan cara melihat perkembangan usaha yang dilakukan oleh calon anggota.

Dari penjelasan Peran penilaian prinsip 5C dalam pemberian pembiayaan murabahah di BMT L-Risma diatas diketahui bahwa BMT sudah melakukan survey dengan baik. Meskipun pelaksanaan survey dilakukan secara sederhana, akan tetapi pihak BMT sudah mengacu pada prinsip 5C dalam analisis kelayakan pemberian pembiayaan. Tetapi pihak BMT kurang mendapat pelatihan atau pengetahuan dari BMT tentang bagaimana cara melakukan survey sebelum pembiayaan dicairkan kepada calon anggota. Sehingga pihak BMT masih kurang mengetahui materi tentang kehati-hatian dalam melakukan survey yaitu dengan prinsip 5C.

Tabel 4.2

Perkembangan analisis 5C terhadap kemacetan dalam pembiayaan murabahah51

Tahun 2012 2013 2014 2015

Kemacetan 5% 5% 4% 2%

Sumber : BMT L-Risma Cabang Metro

51 Wawancara dengan Devi account officer BMT L-Risma , pada tanggal 23 februari 2017

46

Jika seluruh rangkaian analisis kelayakan pemberian pembiayaan selesai dilaksanakan dan akad pembiayaan murabahah telah disepakati oleh kedua belah pihak baik BMT maupun calon anggota maka realisasi pembiayaan dapat segera dicairkan. Anggota dapat menggunakan barang tersebut semaksimal mungkin sesuai dengan kebutuhannya.

Namun tugas BMT tidak berhenti sampai disini, pihak BMT perlu melakukan pengawasan terhadap anggota pembiayaan tersebut.

Proses pengawasan yang dilakukan oleh pihak BMT L-Risma adalah melihat pembayaran angsuran pembiayaan oleh anggota, dan mengamati kegiatan usahanya ketika pihak BMT melakukan pengambilan angsuran.52

Setiap pekerjaan memiliki kesulitan-kesulitannya masing-masing, termasuk dalam menganalisis kelayakan pemberian pembiayaan di BMT. Walaupun masih dalam lingkup mikro dan sederhana, sering kali ditemui berbagai kendala dalam proses analisis kelayakan pemberian pembiayaan khususnya untuk menganbil suatu keputusan bahwa pembiayaan tersebut diterima atau tidak untuk dicairkan. Keberadaan BMT juga sangat dekat dengan masyarakat sehingga hubungan yang terjalin antara BMT dan anggotanya lebih erat dibandingkan pada lembaga keuangan lainnya.

52 Wawancara dengan Devi account officer BMT L-Risma , pada tanggal 23 februari 2017

Berikut ini adalah kendala-kendala yang dihadapi dalam proses analisis kelayakan pemberian pembiayaan murabahah di BMT L-Risma:53

a) Faktor internal

1) Kurangnya profesionalisme

2) Kurangnya marketing dalam memahami karakter si calon anggota

3) Kurangnya pengawasan pegawai BMT terhadap usaha anggota dan kurangnya prinsip kehati-hatian

4) Sisi kemanusiaan dan keperdulian (tidak tegas) saat menagih b) Faktor eksternal

1) Ketidak jujuran anggota 2) Penurunan kondisi keuangan 3) Kebangkrutan suatu usaha

4) Mengalami musibah, sakit dan sebagainya 5) Kesengajaan untuk tidak membayar

Dari kendala yang dihadapi dalam proses analisis kelayakan pemberian pembiayaan diatas dapat disimpulkan bahwa pembiyaan bermasalah dapat terjadi baik itu disebabkan oleh lembaga BMT sendiri yang salah dalam mensurvey (faktor internal) maupun anggota yang tidak memiliki kemampuan dan karakter yang baik dalam mengangsur pembiayaan (faktor eksternal).

53 Wawancara dengan Devi account officer BMT L-Risma , pada tanggal 23 februari 2017

48

Untuk mendapatkan data penelitian, peneliti juga mewawancarai dua anggota BMT L-Risma secara acak yang menggunakan pembiayaan murabahah yaitu:

Tabel 4.3

Daftar beberapa anggota pembiayaan murabahah54 No Nama Anggota Pengajuan 1 Ibu Husna Rp.5.000.000,- 2 Bapak Sungkono Rp.10.000.000,-

Sumber : BMT L-Risma Cabang Metro

Hasil wawancara peneliti dengan ibu husna dan bapak sungkono selaku anggota di BMT L-Risma Cabang Metro, Dalam proses pembiayaannya anggota datang ke BMT L-Risma untuk mengajukan permohonan pembiayaan. Kemudian anggota harus mengisi formulir permohonan pembiayaan yang diajukan oleh occount officer yang bersangkutan. Setelah itu anggota mengisi formulir tersebut berisi tentang data pribadi dan data pendukung lainnya.

Data pendukung harus berhubungan dengan kedudukan legalitas anggota misalnya kartu identitas pribadi yang meliputi Kartu Tanda Penduduk (KTP), Nomor Pokok Wajip Pajak (NPWP), Kartu Keluarga (KK), Slip Gaji dan lain-lain. Jika pembiayaan murabahah tersebut datang dari perusahaan maka anggota wajib menyertakan data-data tentang perusahaan, data legalitas usaha, dan data pendukung misalnya laporan

54Wawancara dengan Istiqomah Funding Officer BMT L-Risma , pada tanggal 24 februari 2017

keuangan, surat izin yang diperlukan seperti SIUP,TDP. Setelah data diserahkan kepada account officer. Selanjutnya anggota menunggu survey yang akan dilakukan pihak BMT, survey yang dilakukan pihak BMT diantaranya melihat usaha yang dilakukan anggota, melihat kondisi perkembangan usaha, melihat jaminan yang ditangguhkan, setelah survey dilakukan barulah anggota menunggu pemberitahuan dari pihak BMT bahwasannya pembiayaan yang diajukan dapat diterima dan dicairkan atau justru sebaliknya pembiayaan ditolak atau tidak dapat dicairkan. 55

Hasil wawancara diatas dengan sebagian anggota menjelaskan bahwa dalam mengajukan pembiayaan murabahah pihak BMT L-Risma pelakukan analisis atau survey langsung terhadap anggota, hal tersebut dilakukan guna meminimalisir terjadinya pembiayaan bermasalah. Dan dalam proses survey atau analisis terhadap anggota ada hal-hal yang secara sengaja tidak diketahui oleh anggota seperti halnya penilaian karakter, karna saat melakukan survey pihak BMT dapat menilai karakter anggota pada saat proses wawancara langsung kepada anggota atau wawancara dengan tetangga sekitar mengenai kepribadian anggota. Karakter ini adalah proses analisis yang diutamakan saat pihak BMT melakukan Survey. Dan mengenai prosedur yang dilakukan saat pengajuan pembiayaan dinilai tidak mempersulit anggota dalam mendapatkan pembiayaan. Selain itu pelaksanaan survey dilakukan dengan baik.56

55 Wawancara dengan Ibu Husna, Bapak Sungkono, selaku anggota pembiayaan murabahah, pada tanggal 2 maret 2017

56 Wawancara dengan Istiqomah Funding Officer BMT L-Risma , pada tanggal 24 februari 2017

50

Melalui kegiatan survey yang dilakukan pihak BMT untuk mengetahui kelayakan pemberian pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh BMT L-Risma lebih menekan pada 2 aspek analisis yaitu charakter (karakter) calon anggota dan collateral (jaminan) tetapi 3

aspek analisis yang lain masih diperhatikan olek pihak BMT saat mensurvey. Meskipun dilaksanakan secara sederhana, tetapi pelaksanaanya tetap mengacu pada prinsip 5C. BMT L-Risma perlahan telah mampu mengurangi pembiayaan bermasalah meskipun kurang maksimal. Masih adanya pembiayaan bermasalah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor internal (kurang efektifitas saat survey) dan faktor internal (ketidakjujuran calon anggota).

Sehingga dapat diketahui bahwa BMT L-Risma sudah melakukan penerapan prinsip 5C dalam melakukan analisis kelayakan pemberian pembiayaan murabahah terhadap calon anggota pada saat melakukan survey. Meskipun masih ada pembiayaan bermasalah tapi BMT L-Risma telah menerapkan pelaksanaan survey sesuai dengan teori yang dijelaskan. Meskipun telah sesuai, BMT L-Risma perlu melakukan pelatihan tentang prinsip kehati-hatian dengan menggunakan prinsip 5C kepada pihak BMT agar proses survey dapat dilakukan dengan lebih optimal.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah dikemukakan dari bab sebelumnya, peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Proses seleksi pngajuan pembiayaan pada umumnya terdiri dari tahap persiapan, tahap penilaian, tahap-tahap keputusan pembiayaan.

Pelaksanaan dan administrasi pembiayaan, dan supervisi pembiayaan atau pembinaan terhadap anggota. Secara umum BMT L-Risma Cabang Metro melaksanakan proses tersebut.

BMT L-Risma Cabang Metro juga mengunakan prinsip 5C dalam menilai kelayakan pemberian pembiayaan murabahah, hal ini digunakan untuk menentukan pembiayaan yang diajukan anggota layak atau tidak untuk diberikan. BMT L-Risma lebih menekan pada 2 aspek analisis yaitu charakter (karakter) calon anggota dan collateral (jaminan) tetapi 3 aspek

analisis yang lain masih diperhatikan olek marketing saat mensurvey.

Meskipun dilaksanakan secara sederhana, tetapi pelaksanaanya tetap mengacu pada prinsip 5C. BMT L-Risma perlahan telah mampu mengurangi pembiayaan bermasalah meskipun kurang maksimal. Masih adanya pembiayaan bermasalah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor internal (kurang efektifitas saat survey) dan faktor internal (ketidakjujuran calon anggota). Sedangkan, poin capacity, capital dan

52

condition mendapat porsi penilaian yang lebih sedikit daripada kedua poin

tersebut. Karena BMT L-Risma Cabang Metro tidak membedakan proses pengajuan pembiayaan baik itu pembiayaan mudharabah, musyarakah , murabahah dan lain-lain. Maka tidak terdapat perbedaan dalam penerapan

prinsip 5C untuk produk murabahah atau produk lainya.

B. SARAN

Saran yang dapat peneliti kemukakan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi BMT L-Risma Cabang Metro

Sebagai tempat penelitian ini dilaksanakan, peneliti memberi saran sebagai berikut:

a. Bagi tempat penelitian agar lebih memperhatikan anggotanya lagi dan menjelaskan prosedur yang sesuai dalam standar operasional prosedur yang dimiliki. Hal ini agar pengetahuan yang dimiliki anggota lebih luas terkait dengan pengajuan pembiayaan disebuah lembaga keuangan.

b. Penerapan prinsip 5C sudah cukup baik, akan tetapi penilaian terhadap kondisi ekonomi anggota dan perekonomian disekitar anggota hendaknya diberikan porsi yang lebih lagi. Mengingat kondisi perekonomian yang selalu flutuatif.

2. Bagi peneliti selanjutnya

a. Peneliti agar melakukan observasi ke lapangan agar mendapatkan data yang lebih realistis dan tidak ragu untuk menanyakan segala informasi yang dibutuhkan kepada narasumber.

b. Peneliti hendaknya memilih narasumber yang benar-benar mengetahui pokok bahasan dan berpengalaman.

c. Diharapkan melanjudkan penelitian ini dengan fokus dan lebih mendalam dari judul ini agar lebih mengembangkan pembelajaran kita.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi.

Al’Asqolani, Ibnu Hajar, Terjemahan Bulughul Maram, Jakarta: PT Fathan Prima Media, 2014.

Ali, Zainudin Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.

Bungin, Burhan, Metodologi Penelitian Sosial, Surabaya: Airlangga University Press, 2001.

Hugo F. Reading, Kamus Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: Raja Wali Press,tt.

Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004.

Ismail, Perbankan Syariah, Jakarta:kencana, 2011.

Janwari, Yadi, Lembaga-lembaga Perekonomian Umat Sebuah Pengenalan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.

Kasmir, Analisis Laporan Keuangan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012.

Kasmir, Kewirausahaan, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2014.

Moh Kasiram, Metode Penelitian Kualitatif- Kuantitatif, Yogyakarta: UIN Maliki Pres, 2010.

Muhammad, Sistem Dan Prosedur Operasional Bank Islam, yogjakarta:UII Press, 2000.

Mulhadi, Prinsip Kehati-hatian (Pruden Banking Principles) dalam Kerangka UU Perbankan di Indonesia. Universitas sumatra utara:diktat tidak diterbitkan,2005.

Pedoman Penilaian Skripsi Karya Ilmiah Edisi Revisi, Metro: STAIN Jurai Siwo Metro, 2011.

QS. Al-Baqarah [2]: 275.

Rachmadi Usman. Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Umum, 2001.

Racmad Firdaun dan Maya Ariyanti, Managemen Pengkreditan Bank Umum.Bandung: Alfabeta, 2011.

Refan, Erdi, penerapan prinsip 5C terhadap pengambilan keputusan kredit pada PT. BPR Nguter Surakarta. Surakarta: Tugas Akhir tidak diterbitkan, 2010.

Soemitro, Andri, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah, Jakarta: Kencana, 2009.

Suhrawardi, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2004.

Syafi’i Antonio, Muhammad, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta:

Gema Insani, 2011.

Umar, Husain, Metode Penelitian Untuk Sripsi Dan Tesis Bisnis, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan Udang-undang.

Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan.

Vaizhal Rivai dan Andri Permata Veithzal, Islamic Finansial Management:

Teori, Konsep dan Aplikasi: Panduan Praktek untuk Lembaga Keuangan, Nasabah, Praktisi, Dan Mahasiswa. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.

W. Gulo, Metodologi Penelitian, Jakarta: Grasindo, 2002.

ALAT PENGUMPULAN DATA (APD) ANALISIS KELAYAKAN PEMBERIAN PEMBIAYAAN MURABAHAH

BAGI ANGGOTA BMT L-RISMA CABANG METRO (Studi Kasus BMT L-Risma Mulyo Jati)

A. METODE WAWANCARA

a. Wawancara Kepada Manajer Bmt L-Risma Cabang Metro 1. Apa saja jenis produk pembiayaan yang ada di BMT L-Risma

Cabang Metro?

2. Apa tujuan pemberian pembiayaan terhadap anggota BMT L-Risma Cabang Metro?

3. Apakah setiap permohonan pembiayaan murabahah yang diajukan anggota ke BMT L-Risma Cabang Metro akan diterima semua?

4. Siapa yang memberikan kebijakan mengenai proses pemberian pembiayaan murabahah kepada anggota?

5. Siapa yang melakukan analisis permohonan pembiayaan murabahah kepada anggota?

6. Siapa yang memberikan keputusan paling akhir terhadap permohonan pembiayaan murabahah terhadap anggota?

7. Apakah ada pembiayaan bermasalah di BMT L-Risma Cabang Metro? apabila ada, apa saja faktor penyebab pembiayaan bermasalah?

b. Wawancara Kepada Account officer (AO) BMT L-Risma Cabang Metro

1. Apa saja syarat pengajuan pembiayaan bagi para anggota yang ingin melakukan pembiayaan?

2. Apa pengertian dari analisis pembiayaan murabahah?

3. Mengapa permohonan perlu dianalisis?

4. Analisis apa yang digunakan BMT L-Risma Cabang Metro dalam menilai layak tidaknya suatu pembiayaan diberikan?

5. Apabila tahap analisis tidak dilaksanakan resiko apa saja yang akan di hadapi oleh BMT L-Risma Cabang Metro?

6. Apa saja hambatan-hambatan yang dialami oleh BMT L-Risma Cabang Metro ketika melakukan analisis kelayakan pembiayaan murabahah?

c. Anggota BMT L-Risma Cabang Metro

1. Mengapa ibu/bapak memilih BMT L-Risma Cabang Metro dalam mengajukan pembiayaan?

2. Bagaimana perlakuan BMT L-Risma Cabang Metro ketika masa awal Ibu/Bapak menjadi anggota?

3. Bagaimana proses Ibu/Bapak mengajukan pembiayaan di BMT L-Risma Cabang Metro?

4. Bagaimana BMT L-Risma Cabang Metro dalam menentukan layak atau tidak pengajuan pembiayaan Ibu/Bapak untuk didanai?

5. Berapa jumlah pembiayaan yang pernah Ibu/Bapak ajukan?

OUTLINE

ANALISIS KELAYAKAN PEMBERIAN PEMBIAYAAN MURABAHAH

BAGI ANGGOTA BMT L-RISMA CABANG METRO (Studi Kasus Bmt L-Risma Mulyo Jati)

HALAMAN JUDUL 7. Rukun dan Syarat Murabahah 8. Tahap-tahap Pembiayaan

Murabahah

D. Analisis kelayakan pembiayaan murabahah 1. Pengertian analisis pembiayaan

2. Pengertian analisis kelayakan

3. Prinsip-prinsip pemberian pembiayaan murabahah BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Sifat Penelitian B. Sumber Data

C. Metode Pengumpulan Data D. Metode Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum BMT L-Risma Mulyo Jati B. Pembiayaan murabahah BMT L-Risma Mulyo Jati

C. Pelaksanaan penilaian prinsip 5C dalam pemberian pembiayaan murabahah BMT L-Risma Mulyo Jati

D. Analisis Kelayakan Pemberian Pembiayaan Murabahah BMT L-Risma Mulyo Jati

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

53

55

57

59

RIWAYAT HIDUP

Sun Fatayati dilahirkan di Atar Bawang pada 28 Agustus 1992, anak pertama dari pasangan Bapak Satino dan Sumarni.

Pendidikan di SD Negeri 03 Sri Basuki Seputih Banyak dan selesai pada tahun 2005, kemudian melanjutkan di SMP Negeri 02 Way Seputih , dan selesai pada tahun 2008. Sedangkan Pendidikan Menengah Atas di SMA Muhamadiyah 1 Seputih Banyak, dan selesai pada tahun 2011, kemudian melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro.

Jurusan Syariah dimulai pada Semester I TA. 2011/2012.

Dokumen terkait