BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN
6.3. Analisis Kematangan Proses Bisnis Tiap
Pada subbab analisis implementasi area BPOMM, akan dibahas hasil penilaian tingkat kematangan proses bisnis pada setiap area penilaian Business Process Orientation Maturity Model yang dilihat dari rata-rata akhir yang didapatkan pada tiap area. Berdasarkan hasil akhir yang diperoleh pada pengolahan data kematangan proses bisnis tiap area, area tertinggi merupakan
Proses Budaya Organisasi dengan nilai rata-rata akhir 4.7 dan area terendah merupakan Orientasi Pasar dengan nilai rata-rata akhir 2.94. Hasil penilaian dapat diketahui pada Lampiran C dengan justifikasi berikut:
6.3.1. Pandangan Strategis
Berdasarkan hasil penilaian wawancara, pada kategori pandangan strategis memiliki hasil penilaian dengan rata-rata
4.42. Hasil tersebut didapatkan dari melakukan rata-rata perolehan nilai area Pandangan Strategis pada 10 UMKM, seperti yang tercantum pada Tabel 1.19.
Tabel 1.19 Pandangan Strategis 10 UMKM Nama UMKM Rata-rata UD. Jaya Bahagia 5.6 UD. Tri Sport 4
Nama UMKM Rata-rata Le Tojours 4.6 UD. Noerma 4.8 Finest Garment 3.6 Hurtle Apparel 3.8 Laris Manis 5 Canvas Garment 4 Konveksi Kediri 4.4 Bob Merchandise 4.4 Rata-rata 4.42
Hasil ini diperoleh dari tingkat keterlibatan manajemen puncak terhadap usaha peningkatan proses yang rata-rata tinggi pada seluruh UMKM. Selain itu, karena UMKM sangat bergantung pada pelanggan untuk memastikan roda bisnisnya berjalan, maka rencana peningkatan UMKM diarahkan oleh pelanggan dan strategi operasi yang diterapkan. Keterlibatan pemilik UMKM juga dipengaruhi dengan jumlah sumber daya yang dimiliki. UMKM dengan sumber daya yang besar cenderung telah terstruktur sehingga keterlibatan pemilik terhadap pengambilan keputusan strategis tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan UMKM yang memiliki sumber daya yang sedikit.
6.3.2. Definisi dan Dokumentasi Proses
Berdasarkan hasil penilaian wawancara pada area Definisi dan Dokumentasi Proses, didapatkan rata-rata 3.38. Hasil tersebut didapatkan dari melakukan rata-rata perolehan nilai area Dokumentasi dan Dokumentasi Proses pada 10 UMKM, seperti yang tercantum pada Tabel 1.20.
Tabel 1.20 Definisi dan Dokumentasi Proses 10 UMKM Nama UMKM Rata-rata
UD. Jaya Bahagia 4.83 UD. Tri Sport 2.66 Le Tojours 3.16 UD. Noerma 3.16 Finest Garment 3.83 Hurtle Apparel 3.16 Laris Manis 3.5 Canvas Garment 3.66 Konveksi Kediri 3 Bob Merchandise 2.8 Rata-rata 3.38
Hal ini disebabkan kurangnya pendefinisian dan pendokumentasian proses pada UMKM, serta struktur yang sederhana memungkinkan UMKM untuk menjalankan proses bisnisnya tanpa harus mendefinisikan dan mendokumentasikan secara formal seluruh proses yang ada. Pendefinisian dan pendokumentasian ini dianggap sebagai kebutuhan sekunder yang tidak terlalu diprioritaskan karena keterbatasan sumber daya dan pengetahuan pemilik maupun karyawan UMKM. 6.3.3. Proses Pengukuran dan Pengelolaan
Berdasarkan hasil penilaian wawancara pada area Proses Pengukuran dan Pengelolaan, hasil penilaian memiliki rata-rata
3.14. Hasil tersebut didapatkan dari melakukan rata-rata perolehan nilai area Proses Pengukuran dan Pengelolaan pada 10 UMKM, seperti yang tercantum pada Tabel 1.21.
Tabel 1.21 Proses Pengukuran dan Pengelolaan 10 UMKM Nama UMKM Rata-rata
UD. Jaya Bahagia 5.28 UD. Tri Sport 2.85 Le Tojours 3.14 UD. Noerma 3 Finest Garment 3 Hurtle Apparel 2.71 Laris Manis 3.14 Canvas Garment 2.85 Konveksi Kediri 2.57 Bob Merchandise 2.85 Rata-rata 3.14
Nilai tersebut didapatkan dari beberapa faktor, antara lain UMKM menganggap adanya pengukuran maupun indikator kinerja bukan merupakan prioritas dalam proses bisnis UMKM. Keseluruhan proses produksi berjalan sesuai dengan pengalaman, sehingga pemilik UMKM menganggap tidak perlu melakukan pengukuran secara khusus. Proses bisnis UMKM juga jarang mengalami perubahan karena aktivitasnya tidak variatif, dan jikapun ada tidak akan melewati proses perubahan secara formal.
6.3.4. Struktur Proses Organisasi
Berdasarkan hasil penilaian wawancara pada area Struktur Proses Organisasi, hasil penilaian memiliki rata-rata 3.6. Hasil tersebut didapatkan dari melakukan rata-rata perolehan nilai area Struktur Proses Organisasi pada 10 UMKM, seperti yang tercantum pada Tabel 1.22.
Tabel 1.22 Struktur Proses Organisasi 10 UMKM Nama UMKM Rata-rata UD. Jaya Bahagia 4.42 UD. Tri Sport 3.14 Le Tojours 3.71 UD. Noerma 3 Finest Garment 3.85 Hurtle Apparel 3.85 Laris Manis 4.14 Canvas Garment 3.14 Konveksi Kediri 3.42 Bob Merchandise 3.28 Rata-rata 3.6
Nilai tersebut didasari dengan struktur organisasi UMKM yang sederhana dan sudah terpetakan dengan jelas ranah kerjanya, sehingga mendukung kelancaran pelaksanaan proses antar unit. Selain itu, karena mayoritas UMKM tidak memiliki manajer fungsional atau pemilik proses, sehingga penanggungjawab proses langsung dipegang oleh pemilik.
6.3.5. Manajemen Manusia
Berdasarkan hasil penilaian wawancara pada area Manajemen Manusia, hasil penilaian memiliki rata-rata 4.02. Hasil tersebut didapatkan dari melakukan rata-rata perolehan nilai area Manajemen Manusia pada 10 UMKM, seperti yang tercantum pada Tabel 1.23.
Tabel 1.23 Manajemen Manusia 10 UMKM Nama UMKM Rata-rata UD. Jaya Bahagia 4 UD. Tri Sport 3.4
Nama UMKM Rata-rata Le Tojours 4 UD. Noerma 4.6 Finest Garment 4.2 Hurtle Apparel 3.2 Laris Manis 3.2 Canvas Garment 4.6 Konveksi Kediri 4.8 Bob Merchandise 4.2 Rata-rata 4.02
Hasil ini dipengaruhi oleh tingkat tanggungjawab karyawan yang tinggi yang dilatarbelakangi faktor kekeluargaan yang kental pada UMKM dan jenis pekerjaan yang diterapkan pada mayoritas UMKM, yaitu karyawan borongan. Karyawan borongan mendapatkan gajinya sesuai dengan pekerjaan, sehingga hal tersebut berpengaruh pada capaian pekerjaan untuk karyawan. Poin yang bervariasi pada area ini adalah adanya pelatihan terkait metode dan teknik peningkatan proses bisnis yang berbeda-beda pada tiap UMKM. Ada UMKM yang memang tidak melakukan pelatihan khusus untuk meningkatkan proses bisnis. Di sisi lain, ada pemilik UMKM yang menerapkan cara unik untuk merekrut karyawan, yaitu melatih skill teknis dari 0 dengan memberi insentif.
6.3.6. Proses Budaya Organisasi
Berdasarkan hasil penilaian wawancara pada area Proses Budaya Organisasi, hasil penilaian memiliki rata-rata 4.7. Hasil tersebut didapatkan dari melakukan rata-rata perolehan nilai area Manajemen Manusia pada 10 UMKM, seperti yang tercantum pada Tabel 1.24.
Tabel 1.24 Proses Budaya Organisasi 10 UMKM Nama UMKM Rata-rata UD. Jaya Bahagia 4.83 UD. Tri Sport 4.5 Le Tojours 5.16 UD. Noerma 4.33 Finest Garment 4.16 Hurtle Apparel 5 Laris Manis 5.16 Canvas Garment 5.16 Konveksi Kediri 4.5 Bob Merchandise 4.16 Rata-rata 4.7
Nilai tersebut dilatarbelakangi dari pemahaman karyawan akan keterkaitan dan keselarasan proses bisnis yang tinggi dan rasa kekeluargaan yang membuat karyawan tidak merasa segan saling berkonsultasi satu sama lain jika dibutuhkan. Akan tetapi, terdapat hasil yang bervariasi terhadap terjadinya ketegangan yang terjadi saat karyawan antar unit berkumpul, tetapi hal ini dianggap sebagai hal yang biasa oleh pemilik. Poin dengan nilai yang bervariasi lainnya adalah frekuensi pertemuan antar kepala unit/karyawan untuk membahas masalah terkait proses bisnis. Ada UMKM yang menganggap adanya pertemuan/diskusi hanya membuang waktu karena mayoritas penjahit tidak memiliki pengetahuan yang cukup terkait penyelesaian permasalahan yang terjadi dan hanya berorientasi pada pekerjaan, namun ada UMKM yang memang rutin mengadakan pertemuan antar kepala unit maupun dengan karyawan untuk mengevaluasi pekerjaan ataupun kondisi mesin.
6.3.7. Orientasi Pasar
Berdasarkan hasil penilaian wawancara pada area Orientasi Pasar, hasil penilaian memiliki rata-rata 2.94 yang tergolong rendah. Hasil tersebut didapatkan dari melakukan rata-rata perolehan nilai area Orientasi Pasar pada 10 UMKM, seperti yang tercantum pada Tabel 1.25.
Tabel 1.25 Orientasi Pasar 10 UMKM Nama UMKM Rata-rata UD. Jaya Bahagia 3 UD. Tri Sport 3.42 Le Tojours 3 UD. Noerma 3.71 Finest Garment 2.85 Hurtle Apparel 2.42 Laris Manis 3.28 Canvas Garment 2.42 Konveksi Kediri 2.14 Bob Merchandise 3.14 Rata-rata 2.94
Hasil tersebut dilatarbelakangi dari rendahnya respon mayoritas UMKM terhadap kompetitor, karena mereka menganggap kompetitor bukanlah prioritas utama yang harus dipertimbangkan dalam menjalani proses sehari-hari. Selain itu, UMKM juga menganggap pengukuran kepuasan pelanggan tidak perlu dilakukan secara sistematis karena bagi mereka, hal tersebut dapat dilakukan hanya dengan melihat perilaku pelanggan, jika pelanggan tidak komplain dan memesan lagi (repeat order), maka pelanggan tersebut dikategorikan puas. Poin dengan nilai yang bervariasi juga berasal dari pemahaman karyawan akan karakteristik produk yang paling bernilai bagi pelanggan. Ada satu UMKM dengan karyawan yang memang tidak mengerti kualitas produk seperti apa yang menjual, namun
ada UMKM yang memiliki karyawan yang memahami tren pasar sehingga dapat memberikan masukan-masukan untuk perusahaan.
6.3.8. Pandangan Pemasok
Berdasarkan hasil penilaian wawancara pada area Pandangan Pemasok, hasil penilaian memiliki rata-rata 3.67. Hasil tersebut didapatkan dari melakukan rata-rata perolehan nilai area Pandangan Pemasok pada 10 UMKM, seperti yang tercantum pada Tabel 1.26.
Tabel 1.26 Pandangan Pemasok 10 UMKM Nama UMKM Rata-rata UD. Jaya Bahagia 5.33 UD. Tri Sport 3.33 Le Tojours 3.67 UD. Noerma 4 Finest Garment 2 Hurtle Apparel 4 Laris Manis 4 Canvas Garment 3.67 Konveksi Kediri 3 Bob Merchandise 3.67 Rata-rata 3.67
Nilai tersebut didapatkan karena mayoritas UMKM memiliki hubungan jangka panjang dengan pemasok kunci mereka. Akan tetapi poin yang bervariasi pada area ini adalah tingkat kerjasama UMKM dengan pemasok untuk meningkatkan proses. Ada UMKM yang memang telah meneken kontrak dengan pemasok sehingga mendapatkan kemudahan-kemudahan jika dibandingkan dengan UMKM lainnya, namun ada juga yang hanya melakukan aktivitas jual-beli dengan pemasok.
6.4.Keterkaitan Kematangan Proses Bisnis dengan