• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis kesenjangan (Gap) dibuat dalam dua skenario. Skenario 1 merupakan skenario saat kondisi sesuai daya dukung dan skenario 2 saat kondisi tidak sesuai daya dukung (kurang dari daya dukung). Dua skenario yang ditentukan dilihat pengaruh dari ekonomi, sosial dan ekologi Nilai dari pembobotan peringkat yang dilakukan stakeholder terhadap prioritas pengelolaan secara ekonomi, sosial dan ekologi kemudian dimasukkan dalam masing-masing skenario. Masing-masing skenario dilakukan perhitungan yaitu perkalian antara bobot dengan skor yang diperoleh (Tabel 28).

Tabel 28 Prioritas pengelolaan yang merupakan perkalian skor (dengan prioritas pengelolaan) Kriteria Skenario 1 2 Ekonomi 40 (0,40 x 100) 16 (0,40 x 39) Sosial 5 (0,05 x 100) 3 (0,05 x 65) Ekologi 55 (0,55 x 100) 5 (0,55 x 100 )

Hasil analisis gap menunjukkan bahwa prioritas pengelolaan pada skenario 1 yang memiliki nilai lebih tinggi. Skenario 1 merupakan skenario dimana semua kondisi sesuai dengan daya dukung. Atribut ekonomi terdiri atas pendapatan kawasan dan kunjungan wisatawan. Atribut ekonomi memiliki skor rata-rata 100 pada skenario 1 dan skor rata-rata 30 pada skenario 2. Atribut sosial terdiri atas mata pencaharian masyarakat lokal dan akses lokal. Atribut sosial memiliki skor rata-rata 100 pada skenario 1 dan skor rata-rata 65 pada skenario 2. Atribut ekologi terdiri atas kualitas air, kejernihan air dan kondisi pantai berpasir. Skor rata-rata dari atribut sosial pada skenario 1 dan 2 yaitu 100. Hasil total rata-rata skor dari skenario 1 dan 2 menunjukkan bahwa pengelolaan wisata di kawasan pesisir Kecamatan Pringkuku masih perlu dioptimalkan. Pengelolaan mengutamakan faktor ekologi sebagai faktor utama yang menjadi daya tarik wisata. Pengoptimalan pengelolaan tersebut dengan mengembangkan akses lokal (jalan), pencaharian masyarakat lokal, pendapatan kawasan dan kunjungan wisatawan. Pengembangan yang dilakukan harus disesuaikan dengan daya dukung supaya pengelolaannya dapat berkelanjutan. Pada kawasan wisata Srau, terdapat selisih nilai ekonomi aktual dan nilai ekonomi sesuai daya dukung. Pada kedua nilai ekonomi tersebut terdapat selisih yang cukup jauh (Gambar 50).

Gambar 50 Selisih nilai ekonomi di kawasan Srau dan Watukarung

Selisih tersebut sekitar Rp 646.604.509.800/ha/tahun. Hal tersebut menunjukkan adanya potensi ekonomi cukup besar yang belum dimanfaatkan.

Meskipun demikian, pemanfaatan potensi tidak boleh melebihi dari daya dukung ekologisnya. Apabila melebihi dari daya dukung kawasan, akan terjadi ketidaknyamanan dan dapat mengakibatkan kerusakan dari kawasan tersebut. Adanya kerusakan dan ketidaknyamanan dapat menurunkan nilai ekonomi kawasan.

Kawasan wisata Srau sudah lebih banyak dimanfaatkan dibandingkan kawasan Watukarung karena sudah dikelola oleh pemerintah daerah (Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga). Sistem tiket sudah diberlakukan berdasarkan peraturan daerah. Namun, kawasan Srau masih perlu dioptimalkan lagi pengelolaannya. Pengoptimalan tersebut dapat dilakukan dengan perbaikan fasilitas seperti tempat duduk, toilet, dan kios makanan yang ada sehingga membuat wisatawan lebih nyaman. Wisatawan banyak yang tertarik berkunjung ke Srau, mereka merasa cukup nyaman berada di kawasan tersebut sehingga untuk dapat meningkat nilai ekonominya, perlu dilakukan pelayanan dan pengelolaan yang lebih baik. Salah satu yang menjadi daya tarik di kawasan ini adalah panoramanya yang indah, pantai yang aman digunakan untuk beraktivitas dan saat surut wisatawan dapat menikmati hamparan daerah intertidal yang cukup luas.

Kawasan wisata Watukarung juga memiliki selisih antara nilai ekonomi aktual dan nilai ekonomi sesuai daya dukung. Selisih nilai ekonomi kawasan Watukarung sangat jauh (Gambar 49) menunjukkan bahwa nilai ekonomi yang belum dioptimalkan masih sangat besar. Selisih tersebut sekitar Rp 1.198.869.531.900/ha/tahun, nilai selisihnya lebih tinggi dibandingkan kawasan Srau. Selisih yang jauh tersebut dikarenakan masih banyak area yang belum dimanfaatkan (Gambar 51). Selain itu pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat desa setempat (Desa Watukarung) masih belum optimal. Pengelolaan baru sebatas menjaga kawasan, belum ada perbaikan maupun penambahan fasilitas yang diperlukan oleh wisatawan seperti tempat duduk, gardu pandang, kios makanan maupun toilet. Tidak seperti Srau yang sudah disediakan kios makanan oleh pihak pengelola, kawasan Watukarung belum memiliki kios makanan. Masyarakat yang menjual makanan untuk wisatawan menggunakan peralatan dari mereka sendiri dengan memanfaatkan meja yang mereka punya untuk menjajakan makanan. Hal tersebut menyebabkan kawasan terlihat tidak

teratur. Ketidak teraturan tersebut dapat menyebabkan ketidaknyamanan wisatawan yang nantinya dapat menurunkan nilai ekonomi kawasan tersebut.

Kawasan Watukarung yang memiliki nilai ekonomi sistem tiket yang diberlakukan oleh pengelola (Desa Watukarung) nominalnya masih bersifat sukarela. Hasil dari pungutan tiket tersebut digunakan untuk dana kebersihan kawasan. Hasil dari penjualan tiket belum cukup untuk pembangunan fasilitas yang dibutuhkan wisatawan. Kawasan Watukarung masih dikelola secara swadaya karena adanya perbedaan persepsi antara Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pacitan dan Dinas Kelautan dan Perikanan. Desa Watukarung merupakan desa binaan nelayan sehingga seluruh pengelolaan kawasan diserahkan kepada Dinas Kelautan dan Perkanan. Pengelolaan yang dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan hanya dilakukan khusus di daerah TPI dan yang terkait perikanan tangkap saja. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi jika antara instansi dan stakeholder terkait lebih mengedepankan pengelolaan yang terpadu, untuk memanfaatkan potensi Desa Watukarung baik perikanan maupun wisata.

Kawasan Srau memiliki total area pantai berpasir seluas 2,1886 ha dari total enam pantai berpasir. Luas area pantai berpasir yang dimanfaatkan sebesar 1,4374 ha (4 pantai berpasir) sedangkan luas area yang belum termanfaatkan sebesar 0,7512 ha (Gambar 51). Area yang belum dimanfaatkan seharusnya dapat dioptimalkan untuk mendapatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi sesuai dengan daya dukung sehingga gap yang terjadi tidak terlalu jauh.

Sebagaimana kawasan Srau, Watukarung pun memiliki area pantai berpasir yang belum dimanfaatkan. Area yang belum dimanfaatkan tersebut sebesar 3,2262 ha, lebih besar daripada luas area yang sudah dimanfaatkan yaitu 3,1368 ha (Gambar 52). Pengoptimalan masih perlu dilakukan supaya hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi. Namun daya dukung tetap perlu diperhatikan. Dalam pengoptimalan pemanfaatan kawasan, perlu memperhatikan kebersihan dan meminimumkan terjadinya kerusakan. Hal ini perlu diperhatikan karena apabila terjadi kerusakan maka wisatawan semakin lama akan semakin berkurang sehingga mempengaruhi nilai ekonomi.

Gambar 52 Pemanfaatan area di Kawasan Watukarung (Data primer diolah 2012) Pemanfaatan kawasan wisata Srau selayaknya dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar mengingat keterbatasan sumberdaya manusia yang dimiliki oleh dinas/instansi terkait. Pelibatan masyarakat sekitar memang sudah dilakukan, namun masih belum banyak yang terlibat. Masyarakat yang terlibat mengatakan sudah memperoleh manfaat dari keterlibatan mereka yaitu berjualan di kios makanan maupun menjaga loket. Selain itu ada juga yang terlibat dalam hal menjaga kebersihan kawasan baik area pantai, toilet maupun tempat ibadah. Masyarakat yang telah memiliki pengetahuan dan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam akan sangat membantu dalam melakukan pengelolaan kawasan wisata di suatu daerah.

Hal ini dilakukan karena selama ini masyarakat sekitarlah yang telah melakukan pengelolaan. Desa setempat dapat membuat Peraturan Desa mengenai

pengelolaan kawasan untuk wisata. Dengan dilakukannya hal tersebut diharapkan pemasukan yang diperoleh dapat digunakan untuk memperbaiki dan menambah fasilitas (tempat duduk, kios makanan dan toilet) yang dibutuhkan wisatawan selain untuk menjaga kebersihan kawasan.

5.7 Analisis Kepuasan Wisatawan