Kabupaten Pacitan dipengaruhi oleh iklim tropika basah yang memiliki dua musim yaitu musim hujan (Bulan Oktober-April) dan musim kemarau (Bulan
April-Oktober). Hal ini tidak jauh berbeda dengan daerah lain di Pulau Jawa. Begitu pula dengan Kecamatan Pringkuku, namun pada tahun 2011 musim hujan baru dimulai pada bulan November (Tabel 15).
Tabel 15 Curah hujan dan hari hujan di Kecamatan Pringkuku Tahun 2011
Bulan Curah hujan (mm) Hari hujan (hari)
Rata-rata Rata-rata Januari 349 23 Februari 481 20 Maret 314 26 April 255 17 Mei 186 10 Juni 3 2 Juli 5 2 Agustus 0 0 September 0 0 Oktober 33 1 November 213 15 Desember 503 25
Sumber: Dinas Pengairan Kabupaten Pacitan (diolah), 2011
Rata-rata curah hujan bulanan berkisar 3-503 mm. Curah hujan maksimum mencapai 503 mm terjadi pada Bulan Desember dan curah hujan minimum (3 mm) terjadi pada Bulan Juni. Musim hujan di Kecamatan Pringkuku dimulai pada bulan November dengan curah hujan kurang dari 250 mm sampai dengan bulan Mei dengan curah hujan sebesar 186 mm.
4.2.2 Suhu udara
Suhu udara merupakan keadaan panas atau dinginnya suatu udara. Suhu udara berfluktuasi selama 24 jam. Fluktuasi tersebut terkait dengan proses pertukaran energi yang berlangsung di atmosfer. Suhu udara harian maksimum terjadi pada tengah hari dimana terjadi intensitas cahaya maksimum pada saat berkas cahaya jatuh tegak lurus (Lakitan 1994). Suhu udara dapat menggambarkan kondisi kering ataupun basah dari suatu wilayah. Suhu udara saat ini semakin tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya perubahan iklim (global warming). Suhu udara di kabupaten Pacitan masih berada pada kisaran 24-26 oC. Suhu udara rata–rata di Kabupaten Pacitan berkisar 24,3-26,9 oC dengan suhu rata-rata tahunan sebesar 26,0oC. Suhu rata-rata harian di daerah tropis relatif konstan sepanjang tahun. Suhu maksimum
terjadi pada bulan November-Desember yaitu sebesar 26,9 oC, sedangkan suhu paling minimum terjadi pada bulan Agustus yaitu 24,3oC (Tabel 16).
Tabel 16 Suhu udara Kabupaten Pacitan Tahun 2011
Bulan Suhu rata-rata (oC)
Januari 26,7 Februari 26,5 Maret 26,4 April 26,5 Mei 26,4 Juni 24,7 Juli 24,6 Agustus 24,3 September 25,3 Oktober 26,5 Nopember 26,9 Desember 26,9
Sumber: Pangkalan TNI AU Iswahyudi Detasemen Pacitan (2011)
4.2.3 Angin
Angin dapat mempengaruhi pembentukan gelombang, arus air, perpindahan pasir dan pembentukan gumuk pasir. Perubahan musim dapat mempengaruhi perubahan arah dan kecepatan angin. Pada saat musim kemarau angin dengan kecepatan tinggi bertiup dari timur sampai tenggara, sementara itu ketika mendekati musim hujan, angin menjadi lebih lemah dan bertiup dari barat daya sampai barat laut. Kecepatan angin relatif tinggi pada siang hari seiring dengan dengan besarnya perbedaan suhu daratan dan lautan (Sofyan 1999 in Arifin et al. 2002). Kecepatan dan arah angin di Kabupaten Pacitan tahun 2011 disajikan pada Tabel 17.
Tabel 17 Kecepatan dan arah angin di Kabupaten Pacitan Tahun 2011
Bulan Kecepatan rata-rata (Knot) Arah (o)
Januari 6,3 231 Februari 6,4 224 Maret 6,8 241 April 5,7 189 Mei 5,6 172 Juni 6,5 152 Juli 7,5 158 Agustus 8,5 162 September 8,9 163 Oktober 8,8 181 Nopember 7,9 183 Desember 6,4 199
Distribusi arah dan kecepatan angin dalam setahun tergantung pada musim. Pada Bulan Juli sampai dengan Oktober, angin bertiup lebih kencang daripada Bulan Desember hingga Juni. Kecepatan angin maksimum terjadi pada Bulan September yang mencapai 8,9 knot dengan arah dominan dari tenggara (163°). Pada Bulan Mei, kecepatan angin menjadi sangat rendah (5,6 knot) dengan arah 172°.
4.2.4 Pasang surut
Pasang surut (pasut) memberikan pengaruh terhadap kawasan pesisir. Pasang surut merupakan naik dan turunnya permukaan laut secara periodik pada suatu interval waktu tertentu (Nybakken 1992). Pasang surut memiliki beberapa tipe, yaitu tipe tunggal, ganda dan campuran. Tipe pasang surut tunggal, terjadi jika dalam sehari perairan mengalami satu kali pasang dan surut. Apabila dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut, maka disebut tipe pasang surut ganda. Tipe pasang surut campuran merupakan peralihan antara tipe tunggal dan ganda. Tipe pasang surut di kawasan pesisir Kabupaten Pacitan termasuk dalam tipe campuran dominan ganda (Gambar 9).
Gambar 9 Pasang surut yang terjadi di Pesisir Kabupaten Pacitan.
Sumber: Balai Penelitian dan Observasi Laut (2011)
Tipe pasang surut campuran dominan ganda yaitu tipe pasang surut dimana dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut. Tipe pasang surut ini diketahui setelah dilakukan penghitungan terhadap gerakan pasang surut terhadap suatu muka air. Pengamatan gerakan pasut dilakukan di Pantai Teleng Ria Kabupaten Pacitan. Hasil pengamatan tersebut diketahui tipe pasang surut perairan Kabupaten Pacitan.
4.2.5 Arus dan gelombang
Arus permukaan (hingga kedalaman 150-200 meter) sangat dipengaruhi faktor angin. Arah arus dominan di kawasan pesisir Kecamatan Pringkuku umumnya adalah timur laut-barat daya dengan kecepatan rata-rata 0,25 m/dtk. Tinggi gelombangnya sekitar 2,5 m dengan periode 7,5 detik dan arah dominan dari Tenggara ke Barat Laut. DJPT (2005) mengemukakan bahwa karakteristik gelombang di Kabupaten Pacitan memiliki tinggi gelombang datang (H0) 4,8 meter dan periode gelombang (T) 10,8 detik dengan arah datang dominan dari Tenggara dan Selatan.
4.2.6 Batimetri
Peta batimetri umumnya menampilkan relief dasar dengan garis-garis kontur yang biasa disebut kontur kedalaman atau isobath dan dapat memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi permukaan. Kontur dasar laut Pantai Selatan Jawa sangat berbeda jika dibandingkan dengan Pantai Utara Jawa. Kabupaten Pacitan yang wilayahnya merupakan bagian dari Laut Selatan Jawa memiliki kedalaman perairan yang bervariasi. Perairan di dalam Teluk Pacitan memiliki kedalaman yang relatif dangkal, sedangkan perairan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia memiliki kontur kedalaman yang ekstrim (Gambar 10).
Perubahan profil kedalaman sangat cepat seiring dengan bertambahnya jarak dari pantai. Hal ini menjadi salah satu penyebab tingginya gelombang di pesisir Selatan Jawa ketika musim barat sehingga menyebabkan nelayan tidak dapat melakukan operasi penangkapan.