VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.3 Analisis Keunggulan Kompetitif
Hasil analisis LQ dan multiplier dapat dijadikan salah satu dasar bagi para pengambil kebijakan (policy maker) di Kabupaten Lampung Barat untuk mendorong perekonomian ke arah komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dan berkontribusi besar terhadap perekonomian serta memiliki prospek untuk tumbuh dan berkembang di masa mendatang.
Keunggulan komparatif saja yang dimiliki komoditas kopi tidaklah cukup untuk dijadikan kebijakan prioritas pengembangan tanpa mengetahui apakah komoditas tersebut memiliki keunggulan kompetitif. Keunggulan komparatif kopi hanya didasarkan pada kelimpahan luas areal perkebunan dan produksi yang dihasilkan serta multiplier yang besar. Suatu komoditas dikatakan memiliki keunggulan kompetitif apabila dalam kurun waktu analisis, komoditas tersebut mengalami pergeseran (shift) yang positif (meningkat) untuk luas areal dan produksi yang diperbandingkan dengan wilayah lain.
Pada kajian ini, analisis keunggulan kompetitif digunakan dengan pendakatan Shift-Share. Dengan menggunakan analisis ini akan diketahui faktor penyebab mengapa suatu komoditas kopi dan sektor perkebunan berkembang cepat atau lambat di Kabupaten Lampung Barat dan apa penyebabnya. Analisis ini menggunakan pengisolasian berbagai faktor yang menyebabkan perubahan struktur komoditas kopi dan sektor perkebunan di Kabupaten Lampung Barat dari satu kurun ke kurun waktu berikutnya. Hal ini meliputi penguraian faktor penyebab pertumbuhan komoditas kopi di Kabupaten Lampung Barat dalam kaitannya dengan perekonomian Propinsi Lampung.
Dengan memahami struktur aktifitas komoditas kopi dari hasil analisis Shift-Share dapat juga menjelaskan kemampuan berkompetisi (competitiveness) komoditas kopi di Kabupaten Lampung Barat secara dinamis, terutama dalam hubungannya dengan pertumbuhan wilayah. Analisis Shift-Share merupakan industrial mix analysis yang menganalisis apakah komoditas kopi yang berlokasi di setiap kecamatan Lampung Barat tersebut termasuk kedalam kelompok komoditas yang di level propinsi memang berkembang pesat dan cocok berlokasi di kabupaten tersebut atau tidak.
Hasil analisis Shift Share dengan menggunakan dua titik waktu yaitu tahun 2004 dan 2007 terhadap sektor perekonomian dan komoditas perkebunan di Kabupaten Lampung Barat yang dibandingkan terhadap wilayah induknya, dalam hal ini Propinsi Lampung disajikan pada Tabel 18 dan 19.
Tabel 18. Pertumbuhan Sektor Perekonomian di Kabupaten Lampung Barat Tahun 2004 - 2007
2004 Perubahan Karena Faktor 2007
Er,i,t-n National
Perkebunan 288,645 57,553 -27,719 -3,575 314,904 Pertanian
lainnya 444,702 88,669 222,572 -270,786 485,157
Pertambangan
Restoran 210,989 42,069 -19,383 21,241 254,916
Angkutan dan
Komunikasi 32,303 6,441 -2,838 3,866 39,772
Keuangan 18,192 3,627 -112 14,486 36,193
Jasa 42,492 8,472 -6,595 3,579 47,949
Jumlah 1,123,290 223,972 151,860 (214,110) 1,285,012 Sumber : BPS Kab Lampung Barat dan Propinsi Lampung, 2007 (diolah)
Berdasarkan analisis Shift Share pada tabel 18, terlihat bahwa sektor perkebunan mengalami pertumbuhan positif dari tahun 2004 ke tahun 2007.
Analisis Shift Share juga menunjukkan peningkatan PDRB sektor perekonomian di Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2007 disebabkan oleh tiga faktor yakni National Share, Proportional Share dan Differential Shift. Secara keseluruhan terjadi peningkatan PDRB tiap sektor perekonomian dari tahun 2004 ke tahun 2007, kecuali pada sektor pertambangan.
Pada sektor perkebunan terlihat bahwa peningkatan PDRB terjadi karena
faktor National Share. Artinya bahwa pertumbuhan sektor perkebunan di Kabupaten Lampung Barat tersebut dipengaruhi olah laju pertumbuhan sektor
perekonomian secara keseluruhan di Propinsi Lampung yang sedang meningkat.
Sementara itu dilihat dari faktor proportional share, sektor perkebunan mengalami pertumbuhan negatif. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perkebunan di Propinsi Lampung secara keseluruhan sedang mengalami penurunan
pertumbuhan yang berimbas terhadap perkembangan perkebunan di Kabupaten Lampung Barat. Dengan kata lain bahwa Kabupaten Lampung Barat tetap berspesialisasi di sektor perkebunan yang sebenarnya di Propinsi Lampung secara keseluruhan wilayah Kabupaten/Kota, sektor perkebunan sedang mengalami pertumbuhan yang melambat. Sementara itu, nilai differential shift juga menunjukkan pertumbuhan negatif. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran struktur perekonomian dari sektor pertanian ke sektor non pertanian seperti perdagangan dan jasa.
Tabel 19. Pertumbuhan Komoditas Perkebunan di Kabupaten Lampung Barat Tahun 2007
Jumlah 66,248 1,631 -983 5,299 72,195
Sumber : BPS Kab Lampung Barat dan Propinsi Lampung, 2007 (diolah)
Sementara itu pada Tabel 19 terlihat bahwa masing-masing komoditas perkebunan berdasarkan hasil analisis Shift-Share menunjukkan peningkatan produksi dan ada yang cenderung tetap. Hal ini disebabkan oleh tiga faktor yaitu
; (i) National Share, (ii) Proportional Share, dan (iii) Differential Shift.
Komoditas kopi adalah salah satu komoditas perkebunan yang mengalami peningkatan produksi dari tahun 2004 ke tahun 2007 dari 37.157 ton menjadi 38.419 ton. Peningkatan produksi komoditas kopi ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a) Komponen National Share
Nilai National Share pada komoditas kopi sebesar 915 ton menunjukkan peningkatan produksi kopi tersebut disebabkan karena proporsi perubahnnya sama dengan laju pertambahan produksi Propinsi Lampung selama periode 2004 – 2007. Dengan kata lain pertumbuhan komoditas kopi di Kabupaten Lampung Barat tersebut dipengaruhi olah laju pertumbuhan komoditas kopi Propinsi Lampung.
b) Komponen Proportional Share
Sementara itu nilai Proportional Share menggambarkan Shift Propinsi Netto yang diakibatkan oleh komposisi komoditas kopi di wilayah Kabupaten Lampung Barat. Pada Tabel 18 terlihat bahwa nilai proportional share bernilai negatif. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Lampung Barat berspesialisasi di komoditas kopi yang sebenarnya di level Provinsi Lampung sendiri komoditas kopi sedang tumbuh lambat dibanding komoditas lainnya, terutama dibandingkan dengan kelapa sawit, kakao dan kelapa hibrida.
Namun demikian kondisi ini dapat difahami karena laju perkembangan komoditas kopi rata-rata sedang mengalami penurunan secara nasional, tidak hanya terjadi di Provinsi Lampung saja. Hal ini disebabkan umumnya beberapa wilayah di Indonesia, komoditas kopi sudah semakin sedikit dibudidayakan karena beberapa alasan seperti keterbatasan lahan, rendahnya dayasaing dan juga faktor harga yang cenderung berfluktuatif.
Dengan demikian komoditas kopi hanya mengalami laju pertumbuhan cepat pada daerah-daerah yang berkonsentrasi di sektor perkebunan kopi seperti di Kabupaten Lampung Barat.
c) Komponen Differential Shift
Fakta adanya spesialisasi terhadap komoditas kopi di Kabupaten Lampung Barat ini terlihat dari nilai Differential Shift yang bernilai positif 1.604 ton.
Angka ini menunjukkan pengembangan komoditas kopi di Kabupaten Lampung Barat sudah sesuai karena beberapa faktor seperti dukungan sumberdaya alam dan dukungan regulasi pemerintah daerah setempat.
Sementara potensi sumberdaya lahan sangat besar di Kabupaten Lampung Barat tersebut, sehingga dioptimalkan pemanfaatannya dalam konteks pembangunan perkebunan dan pertanian.
Tabel 20. National Share, Proportional Share dan Differential Shift Sektor Perkebunan dan Komoditas Kopi Kabupaten Lampung Barat Faktor Pertumbuhan Sektor Perkebunan Komoditas Kopi
National Share 57.553 915
Proportional Share -27.719 -1.256
Differential Shift -3.575 1.604
Berdasarkan analisis Shift Share pada tabel 20, Menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan negatif (differential shift) pada sektor perkebunan di Kabupaten Lampung Barat, namun komoditas kopi tetap memiliki pertumbuhan positif. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Lampung Barat memiliki keunggulan kompetitif di komoditas kopi dibandingkan komoditas perkebunan lainnya di Propinsi Lampung.
Nilai differential shift yang positif menunjukkan bahwa laju pertumbuhan komoditas kopi di Kabupaten Lampung Barat disebabkan oleh faktor keunggulan lokasional seperti potensi lahan, kesuburan lahan, kesesuaian iklim, budaya masyarakat yang telah lama membudidayakan kopi dan dukungan regulasi pemerintah daerah Kabupaten Lampung Barat yang direfleksikan oleh nilai Differential Shift yang positif. Dengan demikian komoditas kopi memiliki keunggulan kompetitif meski terjadinya pergeseran struktur perekonomian, sehingga perlu diprioritaskan di masing-masing wilayah/kecamatan di Kabupaten Lampung Barat.
VII. PERUMUSAN STRATEGI KEBIJAKAN
Perumusan Strategi Kebijakan Pengembangan Komoditas Kopi di Kabupaten Lampung Barat terdiri dari dua tahap. Tahap pertama yaitu tahap identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan komoditas kopi. Tahap selanjutnya adalah tahap pemaduan faktor-faktor strategis tersebut untuk menyusun alternatif strategi dengan menyusun matriks SWOT
7.1 Identifikasi Faktor yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan Kopi di Kabupaten Lampung Barat
Identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan komoditas kopi di Kabupaten Lampung Barat didekati dengan cara memetakan faktor-faktor apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.
Faktor-faktor ini akan dijadikan bahan perumusan alternatif strategi melalui analisis SWOT (Strengths – Weaknesess- Opportunities – Threats).
Berdasarkan hasil analisis data-data faktual, diperoleh beberapa faktor strategis dari sisi internal dan eksternal yang sangat berpengaruh terhadap pengembangan komoditas kopi di Kabupaten Lampung Barat. Faktor internal yang berpengaruh adalah faktor kekuatan (strenghts) dan faktor kelemahan (weaknesess). Sementara faktor eksternal yaitu faktor peluang (opportunities) dan faktor tantangan/ancaman (threats).
7.1.1 Identifikasi Faktor Internal
7.1.1.1 Kekuatan
Beberapa faktor internal yang menjadi kekuatan sebagai modal dasar dalam pengembangan komoditas kopi di Kabupaten Lampung Barat antara lain : 1. Ketersediaan luas areal, jumlah produksi, kesesuaian iklim dan lahan
Komoditas kopi memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.
Keunggulan tersebut dapat dilihat dari ketersediaan luas areal perkebunan kopi yang cukup besar di Kabupaten Lampung Barat yaitu seluas 59,316 Ha terutama di wilayah Sekincau (14.038 Ha), Way Tenong (8.640 Ha) dan Belalau (9.340 Ha), Sukau (5.335 Ha ) dan Sumber jaya (7.758 Ha). Sedangkan jumlah
produksi kopi Lampung Barat merupakan penghasil kopi terbesar diantara daerah lain yang ada di Propinsi Lampung dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2003-2007). Pada tahun 2007 produksi kopi Lampung Barat sebesar 56.227 ton.
Secara nasional Provinsi Lampung menduduki peringkat pertama dari segi volume produksi komoditas kopi, dengan jumlah produksi sebesar 145.544 ton pada tahun 2006. Perhitungan lebih lanjut memperlihatkan bahwa pangsa (share) volume produksi tersebut adalah 22.3% dari volume produksi komoditas kopi nasional yaitu sebesar 652.668 ton.
Kemudian faktor iklim yang sangat mendukung. Menurut BPS Kab.
Lampung Barat (2007) menyatakan bahwa akibat pengaruh dari rantai pegunungan Bukit Barisan, maka Lampung Barat memiliki dua Zona Iklim yang sangat mendukung budidaya kopi yaitu :
c) Zona A (Jumlah bulan basah + 9 bulan) terdapat di bagian barat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, termasuk Krui dan Bintuhan
d) Zona BL (Jumlah bulan basah 7 – 9 bulan) terdapat di bagian timur Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Sedangkan curah hujan yang terjadi sepanjang tahun berkisar antara 2.500 – 3.000 milimeter setahun. Dengan curah hujan yang tinggi dan lokasi topografi dataran tinggi menyebabkan kopi sangat cocok dikembangkan di Kabupaten Lampung Barat.
Selain itu dilihat dari sisi kesuburan lahan, komoditas kopi cocok ditanam pada jenis tanah alluvial dan vulkan hasil sedimentasi batuan pegunungan.
Sebagain besar wilayah Lampung Barat merupakan produktivitas wilayah pegunungan. Daerahnya terletak di lereng pegunungan vulkan terutama di sepanjang Bukit Barisan. Bahan pembentuknya berupa bahan vulkan, sedimen, plutonik masam dan batuan metamorf setempat yang ditutupi oleh bahan tufa masam ranau.
2. Produktivitas kopi tinggi ditingkat petani
Dari penjelasan luas areal dan jumlah produksi kopi, pada tahun 2007 di Kabupaten Lampung Barat dapat dihitung rata-rata produktivitas ditingkat petani perkebunan kopi sebesar 947,92 kg/Ha/tahun. Angka produktivitas tersebut termasuk kategori tinggi dari angka rata-rata produktivitas kopi nasional, yaitu sebesar 665,8 kg/Ha/tahun.
3. Komoditas kopi merupakan mata pencaharian sebagian besar masyarakat secara turun-temurun
Tanaman kopi merupakan tanaman yang sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Kabupaten Lampung Barat. Menurut data BPS Kabupaten Lampung Barat tahun 2007 bahwa hampir rata-rata luas wilayah setiap kecamatan 15,9%
dimanfaatkan untuk usaha perkebunan kopi rakyat bahkan di Kecamatan Sekincau dan Way Tenong mencapai sekitar 50%. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa hampir sebagian masyarakat secara turun-temurun bermata pencaharian sebagai petani kopi.
4. Sebagian besar petani kopi sudah tergabung dalam kelompok tani Para petani sangat dianjurkan untuk membentuk kelompok tani, dan selanjutnya kelompok tani diarahkan membentuk gabungan kelompok tani (gapoktan). Pada tahap lanjut, gabungan kelompok tani ini membentuk badan hukum koperasi guna melakukan transaksi bisnis yang lebih luas lagi atau untuk bermitra dengan perusahaan inti dan perusahaan lainnya.
Dari sisi pengusaha agroindustri, untuk mendapatkan pasokan bahan baku dalam jumlah, mutu, dan waktu yang tepat diperlukan adanya kerja sama kemitraan dengan pihak petani, kelompok tani, atau koperasi. Bagi pengusaha kerja sama tersebut diharapkan memberikan jaminan pasokan bahan baku untuk produksi. Pada sisi lain, bagi petani kerja sama akan mendatangkan manfaat manfaat berupa jaminan pemasaran dan harga produk pertanian yang dihasilkannya. Melalui koordinasi vertikal atau kemitraan bisnis ini, diharapkan efisiensi dan daya saing agribisnis perkebunan dapat diwujudkan secara berkelanjutan. Oleh karena itu pembentukan kelompok tani, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), atau koperasi merupakan salah satu upaya yang sangat penting dalam menumbuh kembangkan kegiatan agribisnis.
Di Kabupaten Lampung Barat sekitar 150 kelompok tani telah dibina secara intensif. Dari kelompok tani yang ada, sebanyak 4 kelompok tani sudah bermitra dengan PT Nestle, 26 kelompok tani telah bermitra dengan PT Indocafco, dan 29 kelompok tani telah bermitra dengan PT Indocom Citra Persada.
5. RPJMD Kabupaten Lampung Barat tahun 2007-2012
Sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang – undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah bahwa dasar penyusunan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai penjabaran dari Visi, Misi Kepala Daerah yang penyusunannya mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. RPJMD diperlukan sebagai penjabaran sasaran-sasaran pokok pembangunan yang harus dicapai, arah kebijakan, program-program pembangunan dan kegiatan pokok pembangunan.
Sejalan dengan hal di atas, maka Kabupaten Lampung Barat sebagai daerah otonom, telah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dokumen RPJMD Kabupaten Lampung Barat, RPJMD disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dengan memperhatikan amanat Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang RPJM Nasional Tahun 2005-2009. Dengan adanya keterkaitan dengan perencanaan yang lebih tinggi, akan mempermudah pengembangan pembiayaan bersama dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk program-program yang akan dilakukan. RPJMD ini memuat arah kebijakan, program dan kegiatan yang akan dilaksanakan di Kabupaten Lampung Barat, dimana program-program yang diusulkan diharapkan dapat dibiayai oleh APBD dan sumber – sumber dana yang lain dapat diperoleh misalnya dari APBN dan atau sektor swasta. RPJMD Kabupaten Lampung Barat 2007-2012 merupakan pedoman, landasan, dan refrensi didalam mengembangkan potensi unggulan daerah.
Dengan demikian, komoditas kopi sebagai potensi unggulan daerah pada sub sektor perkebunan saat ini, sudah merupakan suatu keharusan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat untu menetapkan kebijakan tentang pengembangan komoditas kopi. Melalui kebijakan tersebut dihapkan mampu meningkatkan perekonomian petani kopi serta berpengaruh juga dengan perekonomian masyarakat pada sektor-sektor lain yang ada di Kabupaten Lampung Barat.
7.1.1.2 Kelemahan
Beberapa faktor yang menjadi kelemahan dalam pengembangan komodiyas kopi di Kabupaten Lampung Barat antara lain :
1. Rendahnya kualitas kopi Lampung Barat
Rendahnya kualitas kopi di Kabupaten Lampung Barat selama ini disebabkan karena tata cara petani dari mulai panen, penjemuran sampai menjadi kopi biji asalan masih bersifat tradisional atau belum memenuhi standar
kualitas ekspor sebab kualitas kopi Lampung Barat sebagian besar masih berada pada grade VI dan non grade pada tingkat pemasaran, sehingga menyebabkan harga produk kopi biji asalan yang diterima oleh petani rendah.
2. Panjangnya rantai tataniaga antara petani kopi
Rantai tataniaga pada petani kopi di Kabupaten Lampung Barat sangat panjang prosesnya untuk sampai ke pihak eksportir. Dalam menjual kopi biji petani tidak berhubungan langsung dengan eksportir melainkan harus melalui pedagang perantara yaitu :
a) Pedagang perantara (kecil) yang secara langsung turun ke perkebunan kopi untuk membeli kopi dari petani
b) Pedagang perantara (kecil) yang membuka kios atau turun ke pasar-pasar kalangan (tradisonal), dimana pedagang tersebut pindah setiap hari
c) Pedagang perantara (besar), pedagang ini sudah memiliki fasilitas seperti gudang besar, alat angkut, tenaga kerja dll. Pedagang besar tersebut yang langsung menjual hasil kopi biji yang telah dikumpulkannya ke pihak eksportir.
Rantai tataniaga seperti ini dipakai petani karena terdesak oleh kebutuhanbyang mendesak serta adanya tawaran harga yang lebih tinggi di tingkat pembeli. Alasan-alasan lain yang menyebabkan para petani lebih memilih hasil panennya dijual pada pihak pedagang perantara. Antara lain karena : para petani kopi akan lebih mudah mendapatkan uang tunai dari pedagang perantara dengan harga disesuiakan dengan kualitas kopi per kg, petani kopi juga biasanya sebelum musim panen kopi tiba telah meminjam sejumlah uang untuk kebutuhan yang mendesak. Selain itu, petani kopi dengan pedagang perantara memang sudah langganan sejak lama sehingga sulit bagi petani untuk memutuskan hubungan jual beli. Dengan demikian, bagi para petani peranan pedagang perantara sangatlah dibutuhkan kehadirannya. Karena dengan adanya pedagang perantara justru sangat membantu perekonomian mereka para petani kopi, terlebih mereka banyak bermukim di gubuk-gubuk perkebunan kopi yang jauh dari akses masyarakat perkotaan.
3. Teknik budidaya kopi masih bersifat tradisional
Teknik budidaya yang dilakukan para sebagian petani kopi Lampung Barat masih bersifat tradisional, hal ini terjadi karena masih sangat rendahnya pengetahuan petani tentang teknik budidaya yang lebih baik. Salah satu contoh
adalah penggunaan bibit yang kurang berkualitas. Biasanya para petani kopi masih menggunanakan bibit dengan cara mengambil bibit dari kebunnya sendiri yang dianggap baik. Teknik budidaya seperti ini akan mengakibatkan produksi kurang maksimal.
Pada sentra-sentara produksi tertentu sebagian petani sudah menggunakan teknik budidaya modern yaitu dengan cara teknik pembiakan vegetatif. Teknik pembiakan vegetatif yang dikembangkan oleh petani Kabupaten Lampung Barat yaitu dengan cara sambung (grefting), sistem sambung yang diterapkan diperkebunan kopi yaitu dengan cara menyambung tanaman yang sudah tidak produktif (tanaman yang sudah tua) dengan tanaman yang masih unggul, cara ini digunakan untuk meningkatkan jumlah produksi tanaman kopi.
4. Produk yang masih berbentuk kopi biji
Komoditas kopi asal Lampung Barat sampai saat ini masih merupakan produk yang berbentuk kopi biji yang berkualitas asalan, hal ini terlihat dengan rendahnya peringkat kualitas kopi asal Lampung Barat pada standar perdagangan kopi dunia, dimana Kualitas kopi Lampung Barat tersebut hanya memiliki tingkat grade VI dan non grade. Dengan demikian, komoditas kopi asal Lampung Barat perlu meningkatkan kualitasnya dengan cara mengubah teknik budidaya, tata cara pemetikan dan penjemuran
.
5. Infrastruktur penunjang pada sentra-sentra perkebunan kopi belum memadai
Kurangnya ketersediaan infrastruktur terutama akses trnsportasi pada sentra-sentra perkebunan kopi. Kondisi tersebut akan mempengaruhi aktivitas sektor pertanian, khususnya sub sektor perkebunan kopi di Kabupaten Lampung Barat
7.1.2 Identifikasi Faktor Eksternal 7.1.2.1 Peluang
Beberapa faktor eksternal yang menjadi peluang sebagai modal dasar dalam pengembangan komoditas kopi di Lampung Barat antara lain :
1. Adanya Kebijakan Otonomi Daerah
Dengan adanya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan peluang bagi setiap daerah (kabupaten/kota) untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.
Dengan demikian Pemerintah Kabupaten Lampung Barat telah memiliki kewenangan yang cukup luas untuk mengelola, menyusun kebijakan pengembangan komoditas kopi yang merupakan potensi daerah yang harus dikembangkan.
Otonomi Daerah secara perinsip telah memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengembangkan semua potensi yang ada sesuai dengan karakteristik daerahnya masing-masing. Berpijak dari adanya otonomi daerah tersebut, Kabupaten Lampung Barat sebagai salah satu daerah yang memiliki aneka ragam potensi sudah seharusnya mengembangkan potensi unggulannya.
Di dalam pengembangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat bersama-sama DPRD membuat kebijakan yang kongkret (rill) dalam mengembangkan komoditas kopi yang merupakan potensi unggulan pada sub sektor perkebunan.
2. Peluang pemasaran komoditas kopi pada pasar lokal dan internasional Dengan telah terbukanya perdagangan bebas, maka permintaan pasar baik domestik maupun pasar ekspor komoditas kopi Lampung Barat memiliki peluang yang sangat signifikan. Hal ini, disebabkan bahwa komoditas kopi Lampung Barat yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Besarnya permintaan ekspor kopi Lampung dapat dilihat dari terus meningkatnya ekspor kopi Indonesia ke pasar internasional. Pada tahun 2008 stok kopi robusta di berbagai gudang eksportir Lampung mencapai 90 ribu ton yang akan di ekspor ke negara lain, seperti Amerika Serikat, dan sebegian Eropa. Pada tahun yang sama produksi kopi rebusta yang merupakan 85 persen kopi Indonesia, diperkirakan mencapai 450 ribu ton (Sinar Harapan, 2008).
3. Peluang adanya minat pengusaha lokal dan daerah lain untuk berinvestasi pada industri pengolahan kopi
Dengan adanya pihak investor yang akan berinvestasi dibidang industri pengolahan kopi diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi perekonomian masyarakat. Selama ini produk kopiasal Lampung Barat masih sebatas kopi biji dan kopi bubuk (home industry) yang diolah secara tradisional dan di pasarkan di pasar tradisional. Namun, setelah adanya minat investor dibidang industri kopi maka perekonomian masyarakat akan lebih maju serta pendapatan petani jauh lebih meningkat. Peningkatan tersebut, karena adanya pembinaan kepada petani kopi, penyerapan tenaga kerja serta bantuan permodalan kepada para petani untuk perawatan perkebunan kopi.
4. Adanya minat dan kepedulian dari perguruan tinggi untuk melakukan penelitian tentang kopi Lampung Barat
Kehadiran peneliti pada sentra-sentra perkebunan kopi di Kabupaten Lampung Barat merupakan suatu hal yang biasa dihadapi oleh pemerintah daerah, petani kopi, pedagang pengumpul, maupun masyarakat yang tinggal disekitar perkebunan kopi. Para peneliti sangat lazim menjadikan mereka sumber (responden) penelitian si peneliti data dan informasi.
Penelitian-penelitian tersebut di latar belakangi berbagai kepentingan masing-masing, baik individu maupun lembaga-lembaga penelitian. Ada sebagian penelitian dilakukan untuk menyelesai tugas akhir mahasiswa (skripsi, tesis dan desertasi), sedangkan penelitian yang lain juga dilakukan oleh lembaga-lembaga yang memiliki kepentingan berbeda, seperti : lembaga independent, LPM berbagai perguruan tinggi dan lembaga pemerintah.
Komiditas kopi Lampung Barat sudah lama dijadikan objek penelitian bagi
Komiditas kopi Lampung Barat sudah lama dijadikan objek penelitian bagi