• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Metode Analisis

3. Analisis Kimia dan Nilai Biologis

a. Kadar pati resisten (Goni et al. 2006)

Sampel yang telah dicuci sebanyak 50 mg dimasukkan ke dalam tabung sentrifus dan ditambahkan 5 ml buffer KCl-HCl (2 M, pH 1.5). Kemudian, ditambahkan larutan pepsin sebanyak 0,1 ml. Campuran divorteks dan diinkubasi pada suhu 40oC selama 1 jam dalam penangas bergoyang.

Sampel dikeluarkan dari waterbath dan didinginkan pada suhu ruang, lalu ditambahkan buffer Na-fosfat (0,1 M, pH 6.9) sebanyak 4,5 ml dan enzim α-amilase sebanyak 0,5 ml. Campuran divorteks dan diinkubasi dalam penangas bergoyang pada suhu 37oC, selama 16 jam.

21 Sampel disentrifus (15 menit, 3000 g) dan bagian supernatan dibuang. Residu dicuci dengan akuades sebanyak 5 ml dan disentrifus lagi (15 menit, 3000g), kemudian bagian supernatan dibuang. Setelah itu, residu ditambahkan dengan 1,5 ml akuades dan 1,5 ml KOH 4 M. Kemudian, campuran ini didiamkan selama 30 menit pada suhu ruang sambil digoyang secara konstan.

HCl 2 M sebanyak 2,75 ml dan buffer Na-Asetat (0,4 M, pH 4.75) ditambahkan ke dalam sampel. Campuran juga ditambahkan AMG sebanyak 40 μl, kemudian divorteks dan diinkubasi dalam penangas bergoyang dengan suhu 60oC. Setelah 45 menit, sampel disentrifus (15 menit, 3000 g) dan bagian supernatan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Residu dicuci lagi dengan akuades sebanyak 5 ml dan disentrifus kembali. Bagian supernatan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, sementara itu residu di buang.

Sebanyak 1 ml supernatan diencerkan dengan faktor pengenceran 100. Kemudian 1 ml diambil dan ditambahkan larutan fenol 5% sebanyak 1 ml. Campuran divorteks dan ditambah 5 ml H2SO4 pekat. Campuran didiamkan selama 10 menit, lalu campuran divorteks dan didinginkan pada suhu 25oC. Akuades digunakan sebagai blanko. Kurva standar dibuat menggunakan larutan glukosa standar 100 ppm sebagai larutan induk. Larutan kerja yang digunakan sebagai standar adalah 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, 50 ppm, 60 ppm, 70 ppm, 80 ppm, 90 ppm dan 100 ppm. Sampel diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 490 nm (Dubois et al., 1956). Kadar pati resisten diperoleh dengan mengalikan persen glukosa dengan faktor koreksi 0,9. Kadar pati resisten dihitung dengan rumus:

Kadar Pati Resisten = [glukosa] x 100 x 0,9 Berat sampel (g)

b. Kadar serat pangan (Asp et al. 1983)

Sampel kering yang telah diekstrak lemaknya ditimbang sejumlah 1,0 g lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Kedalamnya ditambahkan 25 ml buffer natrium fosfat dan dibuat menjadi suspensi. Kemudian sampel ditambah 100 μl enzim termamyl, ditutup dan diinkubasi pada suhu 100oC selama 15 menit, sambil berkali-kali diaduk, diangkat lalu didinginkan. Setelah itu, sampel ditambah 20 ml air destilata dan pH diatur menjadi 1.5 dengan menambahkan HCl 4 M, kemudian ditambahkan 100 mg pepsin.

Erlenmeyer ditutup dan diinkubasikan pada suhu 40oC dan diagitasi selama 60 menit. Ditambahkan 20 ml air destilata dan pH diatur menjadi 6,8 dengan NaOH. Ditambahkan 100 mg pankreatin, ditutup dan diinkubasikan pada suhu 40oC selama 60 menit sambil diagitasi, selanjutnya pH diatur dengan HCl sampai menjadi 4,5. Disaring melalui kertas saring kering yang telah ditimbang beratnya, lalu dicuci dengan 2 x 10 ml air destilata.

Residu (serat pangan tidak larut) dicuci dengan 2 x 10 ml etanol 95 % dan 2 x 10 ml aseton. Kertas saring dikeringkan pada suhu 105oC sampai berat tetap (± 12 jam) dan ditimbang setelah didinginkan dalam desikator (D1). Setelah itu kertas

22 IDF (% bk): x 100%

SDF (% bk): x 100% TDF: IDF +SDF

saring diabukan dalam tanur 500oC selama paling sedikit 5 jam dan ditimbang setelah didinginkan dalam desikator (I1).

Filtrat (serat pangan larut) ditepatkan volumenya dengan air sampai 100 ml. Ditambah 400 ml etanol 95 % hangat (60oC) dan diendapkan selama 1 jam. Selanjutnya disaring melalui kertas saring kering dan dicuci dengan 3 x 20 ml etanol 78 %, 2 x 10 ml etanol 95 %, dan 2 x 10 ml aseton. Setelah dikeringkan pada suhu 105oC semalam sampai berat konstan, kertas saring didinginkan dalam desikator dan ditimbang (D2) lalu diabukan pada tanur 500oC selama paling sedikit 5 jam dan didinginkan dalam desikator kemudian ditimbang (I2).

Total serat pangan (TDF) diperoleh dengan menjumlahkan nilai serat pangan tidak larut (IDF) dan serat pangan larut (SDF). Blanko untuk serat pangan larut dan serat pangan tidak larut diperoleh dengan cara yang sama, tetapi tanpa sampel. Nilai blanko perlu diperiksa ulang, terutama jika menggunakan enzim dari kemasan yang baru.

Rumus perhitungan nilai IDF dan SDF adalah sebagai berikut:

Keterangan: W : berat sampel (g)

D : berat setelah analisis dan dikeringkan (g) I : berat setelah diabukan (g)

B : berat blanko bebas serat (g)

c. Daya cerna pati in vitro (Anderson et al. 2002)

Sampel setara dengan pati sebanyak 0,5 g disuspensikan dalam akuades 50 ml sehingga diperoleh konsentrasi 1% w/v, kemudian dipanaskan dalam penangas air selama 30 menit untuk mencapai suhu 90oC, kemudian didinginkan. Sebanyak 2 ml larutan sampel dalam tabung reaksi ditambah 3 ml air destilata dan 5 ml larutan buffer Na-fosfat 0,1 M dengan pH 7.0, kemudian diinkubasikan pada penangas air 37oC selama 15 menit. Ke dalam larutan tersebut ditambahkan 5 ml larutan enzim α -amilase dan diinkubasikan pada penangas air 37oC selama 15 menit.

Sebanyak 1 ml sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi, Ke dalam tabung reaksi lain ditempatkan 1 ml campuran reaksi, kemudian ditambahkan 2 ml pereaksi dinitrosalisilat (DNS) lalu dipanaskan dalam penangas air 100oC selama 10 menit. Setelah didinginkan, campuran reaksi diencerkan dengan menambahkan 10 ml air destilata. Warna oranye – merah yang terbentuk dari campuran reaksi diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm. Kadar maltosa dari campuran reaksi dihitung dengan menggunakan kurva standar maltosa murni yang diperoleh dengan cara mereaksikan larutan maltosa standar dengan pereaksi dinitrosalisilat menggunakan prosedur seperti di atas. Blanko dibuat untuk menghitung kadar maltosa awal (bukan hasil hidrolisis enzim).

23 Prosedur pembuatan blanko sama seperti prosedur untuk sampel hanya saja tanpa sampel dan tidak ditambahkan larutan enzim α-amilase. Sebagai gantinya untuk blanko diganti buffer Na-Fosfat 0.05 M pH 7.

Daya cerna pati sampel dihitung sebagai presentase terhadap pati murni (soluble starch). Daya cerna sampel dihitung sebagai persentase terhadap pati murni:

% DC Pati    maltosa pati murnimaltosa sampel maltosa blanko sampelmaltosa blanko pati murni  x  %

d. Analisis proksimat

Analisis proksimat yang dilakukan terdiri atas analisis kadar air, kadar abu, dan kadar lemak (AOAC 2006); kadar protein total (AOAC 1995), kadar karbohidrat (by difference) berdasarkan metode Faridah et al. (2009) dan kadar pati (AOAC 1995). Metode analisis proksimat dapat dilihat pada Lampiran 1.

Dokumen terkait