• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Kimia Tanah

Data hasil analisis kimia tanah di laboratorium dari sampel tanah komposit dibawah tegakan kembang semangkok pada 2 kedalaman yaitu kedalaman 0-5cm dan 5-20 cm dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Analisis Kimia Tanah

No Sumber Tanah Analisis Kimia Tanah

pH C-org N total P Tersedia KTK 1 Kembang Semangkok 0-5 4,1sm 2,34s 0,17r 2,49sr 11,88s 2 Kembang Semangkok 5-20 4,4sm 1,7r 0,24s 2,37sr 27,17t Sumber: Staf Pusat Penelitian Tanah Bogor (1983) dan BPP-Medan (1982) (Lampiran 3) Ket. sm = sangat masam sr = sangat rendah

s = sedang t = tinggi r = rendah

pH tanah

Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) didalam tanah. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa keadaan pH tanah pada kedalaman 0-5 cm adalah sebesar 4,1 dan pada kedalaman 5-20 cm adalah sebesar 4,4. Kedua nilai pH tersebut menunjukkan bahwa tanah tergolong dalam keadaan sangat masam. Meskipun memiliki kriteria sama, pada pengukuran pH tersebut diketahui bahwa nilai pH tanah pada kedalaman 0-5 cm lebih rendah dari kedalaman 5-20 cm. Hal ini terjadi karena tanah top soil umumnya mengalami pencucian dan pengurangan pH lebih cepat.

Kondisi tanah sangat masam umumnya dipengaruhi oleh tingkat curah hujan yang tinggi. Lokasi penelitian memiliki curah hujan tinggi pertahun sehingga mempengaruhi keadaan pH tanah akibat terjadinya proses pencucian H+ di dalam tanah. Kondisi pH tanah juga akan mempengaruhi ketersediaan hara di dalam tanah. Kondisi pH tanah juga akan mempengaruhi ketersediaan hara di dalam tanah. Hal ini sesuai dengan penelitian Kotu et al. (2015) yang menyatakan bahwa curah hujan yang tinggi akan mempengaruhi pH tanah karena pada curah hujan tinggi terjadi pencucian terhadap ion-ion basa yang menyebabkan tingginya kandungan asam dan pernyataan Widodo (2006) yang menyatakan bahwa tinggi

rendahnya pH tanah akan mempengaruhi ketersediaaan tanah dan tingkat kesuburan tanah.

Keadaan tanah sangat masam umumnya mengakibatkan mikroba yang berkembang adalah sedikit namun ada beberapa mikroba tertentu terutama fungi yang toleran terhadap keadaan tanah sangat masam. Bakteri memiliki kemampuan yang baik untuk berkembang pada pH netral. Hal ini sesuai dengan pernyataan Elsas et al. (2007) yang menyatakan bahwa distribusi dan aktivitas mikroba secara umum sangat sedikit dipengaruhi oleh pH. Banyak jenis mikroorganisme yang dapat bertoleransi dengan lingkungan jauh dari kondisi optimum mereka. Untuk bakteri, proses nitrifikasi masih juga dapat terjadi pada pH<5.

C-Organik

Berdasarkan hasil analisis di laboratorium menunjukkan bahwa kandungan C Organik tanah dibawah tegakan kembang semangkok pada kedalaman 0-5 cm adalah sebesar 2,34 %, yaitu masuk dalam kategori sedang sedangkan C-Organik pada kedalaman 5-20 cm adalah sebesar 1,7%, yaitu ada kategori rendah. Hal ini juga menunjukkan bahwa C-Organik tanah pada kedalaman 0-5 cm lebih tinggi dari 5-20 cm.

C-Organik menandakan kandungan bahan organik yang terdapat di dalam tanah. Bahan organik dipengaruhi oleh jumlah dan jenis vegetasi di daerah perakaran. Jumlah serasah pada kandungan lapisan atas umumnya lebih banyak sehingga kandungan bahan organik lapisan atas lebih tinggi dibandingkan lapisan dibawahnya sehingga mengalami dekomposisi paling cepat. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Mclaren dan Kameron (1996) yang menyatakan bahwa tingkat karbon organik tanah dipengaruhi oleh faktor iklim, tanah dan vegetasi termasuk serasah dan akar-akar mati yang masuk ke dalam tanah melalui proses perombakan serta proses respirasi tanah

Proses C-organik juga dipengaruhi oleh curah hujan. Curah hujan tinggi berpengaruh terhadap jumlah kandugan bahan organik dalam tanah. Akibat terjadinya proses pencucian, maka bahan organic terkikis dan mengurangi jumlah kandungan C-organik. Penelitian Nuridah dan Jubaedah (2007) menyebutkan bahwa curah hujan tinggi menyebabkan pH yang bersifat semakin asam, C-organik tanah dan ketersediaan hara yang rendah.

Kandungan bahan organik mengindikasikan tingkat kesuburan tanah.

Berdasarkan hasil analisis kimia tanah pada penelitian ini maka dapat diketahui bahwa kandungan C-organik tanah berkategori rendah-sedang. Berdasarkan kriteria habitat kembang semangkok pada literatur IUCN (1998), diketahui bahwa kembang semangkok umumnya tumbuh baik pada hutan primer. Hutan primer merupakan hutan yang masih belum atau jarang dijamah oleh manusia sehingga belum terganggu keseimbangannya.

Hasil penelitian Yamada et al. (2000) terhadap tapak tumbuh kembang semangkok di Borneo, Indonesia menyebutkan bahwa tanaman kembang semangkok umunya berasosiasi dengan baik di hutan Dipterocarpaceae. Kriteria tersebut menunjukkan bahwa kemaksimalan pertumbuhan tegakan kembang semangkok dipengaruhi oleh habitat. Pada hasil penelitian, pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tegakan kembang semangkok berasosiasi dengan tanaman pakis dan ciri hutan di lokasi merupakan ciri sekunder. Hal ini menjadi faktor yang menunjukkan bahwa kategori tanah kurang subur untuk pertumbuhan kembang semangkok.

N Total

Berdasarkan hasil analisis di laboratorium menunjukkan bahwa kandungan N Total tanah dibawah tegakan kembang semangkok pada kedalaman 0-5 cm adalah sebesar 0,17% yaitu tergolong kategori rendah sedangkan N Total pada kedalaman 5-20 cm adalah sebesar 0,24%, yaitu ada kategori sedang. Pada kondisi pH tanah rendah, kandungan N total juga akan semakin sedikit. Hal ini dapat dilihat pada hasil pengukuran pH tanah dan total N tanah yang berbanding lurus. Widodo (2006) menyatakan bahwa tinggi rendahnya pH tanah akan mempengaruhi ketersediaan unsur hara, salah satunya adalah kandungan Nitrogen.

Kandungan N Total pada kedalaman 0-5 cm menandakan bahwa kandungan N Total masih rendah untuk memenuhi pertumbuhan tegakan sedangkan pada kedalaman 5-20 cm merupakan ketegori sedang yang berarti cukup untuk memenuhi pertumbuhan. Perbedaan kategori ini disebabkan karena terjadinya proses pencucian hara pada lapisan atas tanah sehingga mempemgaruhi ketersediaan N total. Hal ini sesuai dengan pernyataan Winarso (2005) yang

menyatakan bahwa kandungan nitrogen pada lapisan atas lebih mudah untuk kehilangan nitrogen karena aktivitas panen, tercuci atau denitrifikasi.

P Tersedia

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kandungan P tersedia tanah pada tanah di bawah tegakan kembang semangkok untuk kedalaman 0-5 cm adalah sebesar 2,49 ppm dan untuk kedalaman 5-20 cm adalah sebesar 2,37 ppm.

Kedua nilai P tersedia tersebut menunjukkan tanah memiliki P tersedia dengan kategori sangat rendah. Hal ini berbanding lurus dengan keadaan pH tanah pada keadaan sangat masam. Munawar (2011) menyatakan bahwa pada tanah masam (pH rendah), P larut akan bereaksi dengan Fe dan Al dan oksida-oksida hidrus lainnya membentuk senyawa-senyawa Al-P dan Fe-P yang relatif kurang larut sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Kondisi P tersedia yang sangat rendah akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman akibat adanya persaingan akan penyerapan P. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangana tegakan karena P merupakan unsur hara esensial. Kandungan P Tersedia yang cukup rendah juga akan berpengaruh terhadap kemampuan tanaman kembang semangkok untuk beradaptasi dengan lingkungan serta berbagai cekaman.

Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Hasil analisis laboratorim menunjukkan bahwa kapasitas tukar kation (KTK) pada tanah di bawah tegakan kembang semangkok untuk kedalaman 0-5 cm adalah sebesar 11,88 me/100 g sehingga termasuk dalam kategori sedang dan untuk kedalaman 5-20 cm adalah sebesar 27,17 me/100 g termasuk kedalam kategori tinggi. Hal ini disebabkan karena tanah mempunyai pH yang rendah dan hal akan berpengaruh terhadap KTK tanah. Pada pH yang cenderung masam nilai KTK akan semakin tinggi. Dijelaskan oleh Hakim et al. (1986) bahwa besarnya KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah tersebut yaitu pH tanah, tekstur atau jumlah liat, jenis mineral liat dan bahan organik. Penelitian Sudaryono (2009) menunjukkan bahwa pada tanah-tanah masam nilai KTK tergolong kriteria sedang. KTK tanah menggambarkan kation-kation tanah seperti Ca, Mg, Na dan K dapat ditukar dan diserap oleh perakaran tanaman.

Hasil analisis juga menunjukkan bahwa KTK tanah yang berkriteria sedang sampai tinggi ini dipengaruhi oleh kandungan bahan organik dalam tanah.

Gugus fungsional pada bahan organik yang dapat dipertukarkan akan mempengaruhi kapasitas tukar kation. Dalam hal ini, bahan organik yang bersifat rendah dan KTK tinggi menunjukkan bahwa kation asam mendominasi dalam tanah sehingga kandungan tanah kurang subur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hakim et al. (1986) bahwa KTK tanah sangat dipengaruhi oleh fraksi liat dan kandungan bahan organik tanah. Bahan organik memiliki gugus fungsional yang dapat menyumbangkan muatan negatif dari bahan pada tanah. Muatan negatif dari bahan organik tersebut mampu mempertukarkan kation dalam tanah sehingga mampu meningkatkan kapasitas tukar kation tanah.

Basuki (2009) menyatakan pada umumnya kesuburan tanah lebih berhubungan dengan sifat kimia tanah karena secara langsung dapat diketahui tingkat kandungan unsur hara dan status unsur hara tersebut di dalam tanah.

Kesuburan tanah merupakan gambaran tentang status ketersediaan unsur hara dalam tanah secara berimbang untuk memenuhi kebutuhan tanaman, dengan memperhatikan kemungkinan adanya senyawa-senyawa yang bersifat racun.

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa hasil analisis kimia tanah terhadap masing-masing parameter cenderung rendah sampai sedang. Pada kondisi lingkungan dengan kandungan hara yang sedikit membuat jenis vegetasi tertentu terhambat pertumbuhannya. Gunawan et al. (2011) menyatakan bahwa secara umum, pada ekosistem atau tipe vegetasi hutan yang telah mengalami gangguan ataupun hutan miskin jenis terjadi penurunan keanekaragaman jenis vegetasi. Keadaan hutan dengan miskin hara akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan. Pada kembang semangkok, kondisi miskin hara mempengaruhi pertumbuhan yang stabil sehingga mengalami penurunan tingkat kemampuan pertumbuhan.

Dokumen terkait