Berdasarkan analisis keuangan yang telah dilakukan penulis pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk selama tiga tahun berturut-turut yaitu tahun 2008, 2009, dan 2010 diketahui bahwa:
1. Likuiditas
Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajibannya tepat pada waktunya. Perusahaan yang likuid berarti memiliki komponen aset lancar yang lebih besar daripada kewajiban lancarnya sehingga dapat segera memenuhi kewajiban pada waktunya. Sebaliknya perusahaan yang illikuid berarti kewajiban lancar yang dimiliki perusahaan lebih besar dari aset lancarnya.
Dalam tiga tahun terakhir, rasio likuiditas PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengalami peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang melaksanakan perbaikan dalam kondisi keuangannya. Namun jika dilihat komposisi antara aset lancar dan kewajiban lancarnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk adalah perusahaan yang illikuid. Hal ini disebabkan karena kewajiban lancar yang dimiliki perusahaan melebihi aset lancarnya.
Rasio likuiditas yang mengalami peningkatan disebabkan oleh adanya penurunan pada kewajiban lancar setiap tahunnya. Aset lancar perusahaan juga mengalami penurunan namun tidaklah sebesar penurunan pada
kewajiban lancarnya. Pada tahun 2009 kewajiban lancar mengalami penurunan sebesar 10,41% atau senilai Rp 737.476.733.560,-. Aset lancar pada tahun 2009 juga mengalami penurunan yaitu sebesar 8.95% atau senilai Rp 729.422.370.391,-. Pada tahun 2010 kewajiban lancar walaupun aset lancar pun mengalami penurunan. Kewajiban lancar pada tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 17,43% atau senilai Rp 1.106.402.073.869,- sedangkan aset lancar hanya mengalami penurunan sebesar 7,49% atau senilai Rp 315.506.615.295,-.
Penurunan kewajiban lancar pada tahun 2009 dan 2010 disebabkan karena adanya penurunan pada hutang usaha pihak ketiga dan pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun. Penurunan hutang usaha kepada pihak ketiga adalah hutang usaha yang dimiliki perusahaan kepada pemasok jasa penerbangan dan jasa non penerbangan. Pada tahun 2009 hutang usaha pihak ketiga mengalami penurunan sebesar 39,11% atau sebesar Rp 782.413.847.516,- sehingga hutang usaha pihak ketiga pada tahun 2009 menjadi Rp 1.218.182.894.813,- dibandingkan pada tahun 2008 sebesar Rp 2.000.596.742.329,-. Pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun pada tahun 2009 adalah sebesar Rp 1.285.737.277.610,- yaitu mengalami penurunan sebesar 10,48% atau sebesar Rp 150.594.681.037,-. Pada tahun 2010 hutang usaha mengalami penurunan sebesar 8,35% atau sebesar Rp 101.764.672.799,-. Sedangkan pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun mengalami penurunan yang cukup besar yakni sebesar 77,96% atau sebesar Rp 1.002.383.125.369,- sehingga pinjaman
jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun menjadi Rp 283.354.152.241,-.
Penurunan aset lancar pada tahun 2009 dan 2010 berhubungan dengan arus kas perusahaan. Penurunan aset lancar ini diakibatkan adanya penurunan pada kas dan setara kas setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena arus kas keluar yang digunakan perusahaan lebih besar dari arus kas masuk yang diperoleh perusahaan yang berasal dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Pada tahun 2009 kas dan setara kas mengalami penurunan sebesar 33,8% atau sebesar Rp 879.297.480.986,- sehingga kas dan setara kas pada tahun 2009 mencapai Rp 1.722.491.504.933,-. Pada aktivitas operasi, perusahaan memperoleh kas bersih sebesar Rp 1.379.679.241.859,-. Pada aktivitas investasi perusahaan menggunakan kas bersih sebesar Rp 1.599.951.734.836,- dan kas yang bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan sebesar Rp 601.712.783.918,-. Sehingga perusahaan membutuhkan tambahan dana yang berasal dari kas dan setara kas sebesar Rp 821.985.276.895,- yang menyebabkan penurunan pada kas dan setara kas akhir tahun 2009. Pada tahun 2010 kas dan setara kas mengalami penurunan sebesar 31,65% atau sebesar Rp 545.108.271.162,-. Pada aktivitas operasi perusahaan memperoleh kas bersih sebesar Rp 1.602.135.109.198,-. Pada aktivitas investasi dan pendanaan, perusahaan menggunakan kas bersih masing-masing sebesar Rp 945.514.087.803,- dan Rp 1.137.893.716.605,-. Sehingga perusahaan menggunakan dana tambahan yang berasal dari kas dan setara kas sebesar Rp 481.272.695.211,- yang menyebabkan penurunan pada kas dan setara kas akhir tahun 2010.
2. Solvabilitas
Solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi seluruh kewajibannya baik kewajiban lancar (jangka pendek) dan kewajiban tidak lancar. Perusahaan solvabel adalah perusahaan yang mempunyai aset atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutangnya, sebaliknya apabila jumlah aset atau kekayaan lebih kecil daripada jumlah hutangnya berarti perusahaan berada dalam keadaan insolvabel.
Dalam mengukur solvabilitas PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk penulis menggunakan beberapa rasio manajemen utang (leverage) antara lain rasio hutang dan rasio hutang jangka panjang terhadap ekuitas. Selama tiga tahun terakhir rasio manajemen utang perusahaan terus mengalami penurunan. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan sedang mengontrol kegiatan pendanaannya melalui hutang, yang terlihat dengan adanya penurunan pada total hutang serta hutang jangka panjang perusahaan berturut-turut selama tahun 2008 hingga 2010.
Penurunan pada rasio hutang terjadi karena adanya penurunan pada total kewajiban yang dimiliki perusahaan. Total kewajiban pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 16,61% atau sebesar Rp 2.306.450.921.842,- sehingga total kewajiban pada tahun 2009 adalah sebesar Rp 11.581.399.660.619,-. Pada tahun 2010 total kewajiban pun mengalami penurunan sebesar 11,96% atau sebesar Rp 1.384.837.748.409,- sehingga total kewajiban pada tahun 2010 adalah sebesar Rp 10.196.561.912.210,-.
Penurunan pada rasio hutang jangka panjang terhadap ekuitas terjadi karena adanya penurunan pada kewajiban tidak lancar (jangka panjang) setiap tahunnya, seiring dengan adanya penambahan pada ekuitas perusahaan. Penurunan pada kewajiban tidak lancar disebabkan oleh adanya penurunan pada beberapa pos kewajiban tidak lancar yaitu hutang sewa pembiayaan dan obligasi konversi. Hutang sewa pembiayaan yang dimiliki perusahaan adalah transaksi sewa pesawat Airbus tipe A-330 yang dibiayai oleh Lloyd. Hutang sewa pembiayaan tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 38,85% atau sebesar Rp 1.381.036.932.910,- kemudian menurun kembali pada tahun 2010 sebesar 26,36% atau sebesar Rp 623.811.111.725,-. Obligasi konversi yang dimiliki perusahaan pada tahun 2008 sebesar Rp 1.018.809.000.000,- adalah obligasi wajib konversi kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Pada bulan Desember 2009, perusahaan dengan Bank Mandiri menyetujui restrukturisasi dan penyelesaian obligasi wajib konversi tersebut dengan melakukan pembayaran tunai sebesar Rp 50.940.000.000,- dan sisanya sebesar Rp 967.869.000.000 dikonversi menjadi saham perusahaan. Oleh sebab itu, obligasi konversi pada tahun 2009 dan 2010 menjadi nihil.
Peningkatan ekuitas pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk disebabkan oleh adanya penambahan modal saham sebagai akibat dari restrukturisasi 95% obligasi wajib konversi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang dikonversi menjadi modal saham. Pada tahun 2008 modal saham perusahaan adalah sebesar Rp 8.152.629.000.000,- kemudian mengalami peningkatan sebesar 11,87% atau sebesar Rp 967.869.000.000,-. Sehingga modal saham yang
dimiliki perusahaan pada tahun 2009 dan 2010 bertambah menjadi Rp 9.120.498.000.000,-.
3. Profitabilitas
Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu. Untuk mengukur profitabilitas PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam menghasilkan laba, penulis memperbandingkan laba bersih dengan pendapatan usaha (net profit margin), perbandingan laba bersih dengan total aset (return on total assets), dan perbandingan laba bersih dengan total ekuitas (return on common equity). Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa net profit margin dan return on total assets mengalami peningkatan pada tahun 2009 kemudian menurun kembali pada tahun 2010. Sedangkan return on common equity terus mengalami penurunan setiap tahunnya.
Perubahan yakni naik turunnya kemampuan perusahaan menghasilkan laba terjadi karena laba bersih perusahaan mengalami peningkatan pada tahun 2009 lalu menurun kembali pada tahun 2010. Perubahan laba bersih perusahaan pada tahun 2009 dan 2010 dipengaruhi oleh total beban usaha. Pada tahun 2008 laba bersih perusahaan adalah sebesar Rp 975.048.626.198,- Pada tahun 2009 laba bersih perusahaan mengalami peningkatan sebesar Rp 4,47% atau sebesar Rp 43.567.309.247,- menjadi Rp 1.018.615.935.445,-. Peningkatan ini disebabkan oleh menurunnya total beban usaha perusahaan sebesar 5,86% atau sebesar Rp 1.054.383.472.960,-. Sehingga total beban usaha tahun 2009 adalah sebesar Rp 16.942.084.694.513,- lebih sedikit jika
dibandingkan total beban usaha tahun 2008 sebesar Rp 17.996.468.167.473,-. Pada tahun 2010 laba bersih perusahaan mengalami penurunan sebesar 49,39% atau sebesar Rp 503.094.079.754,-. Penurunan ini disebabkan karena adanya peningkatan pada total beban usaha sebesar 15,7% atau sebesar Rp 2.659.406.137.695,-. Sehingga total beban usaha pada tahun 2010 meningkat hingga sebesar Rp 19.601.490.832.208,-.
Penurunan yang terjadi dalam tiga tahun berturut-turut pada return on common equity tidak hanya disebabkan adanya perubahan pada laba bersih perusahaan tetapi juga disebabkan karena adanya peningkatan pada total ekuitas. Peningkatan ekuitas perusahaan disebabkan karena penambahan modal saham sebagai akibat dari adanya konversi 95% obligasi wajib konversi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi modal saham. Pada tahun 2008 modal saham perusahaan adalah sebesar Rp 8.152.629.000.000,- kemudian mengalami peningkatan sebesar 11,87% atau sebesar Rp 967.869.000.000,-. Sehingga modal saham yang dimiliki perusahaan pada tahun 2009 dan 2010 bertambah menjadi Rp 9.120.498.000.000,-.
Dengan melihat penurunan yang terjadi hingga tahun 2010 pada rasio-rasio yang mengukur profitabilitas pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk disimpulkan bahwa perusahaan mengalami penurunan dalam menghasilkan laba baik dari pendapatan usaha, penggunaan total aset, ataupun penggunaan ekuitas yang dimiliki perusahaan.
4. Aktivitas
Aktivitas menunjukkan kemampuan dan keefektivan perusahaan dalam mengelola aset yang dimiliki. Hal ini menunjukkan apakah perusahaan menghasilkan cukup banyak volume bisnis jika dilihat dari investasinya untuk aset. Dalam mengukur tingkat aktivitas pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk penulis menggunakan perputaran piutang dan perputaran total aset. Perputaran piutang perusahaan terus mengalami penurunan setiap tahunnya, sedangkan perputaran total aset mengalami penurunan pada tahun 2009 kemudian meningkat kembali pada tahun 2010.
Perubahan tingkat aktivitas yang dicapai perusahaan selama tiga tahun berturut-turut yakni pada tahun 2008 hingga 2010 dipengaruhi karena adanya perubahan pada jumlah pendapatan perusahaan setiap tahunnya. Selain itu, peningkatan pada perputaran piutang dipengaruhi juga oleh meningkatnya rata-rata piutang. Sedangkan perubahan naik dan turunnya perputaran total aset juga dipengaruhi oleh adanya penurunan pada total aset.
Pada tahun 2009 pendapatan usaha mengalami penurunan sebesar 7,7% atau sebesar Rp 1.489.301.809.995,-. Penurunan ini disebabkan oleh adanya penurunan pada penerbangan berjadwal yaitu sebesar 9,4% atau sebesar Rp 1.420.856.251.464,-. Pada tahun 2010 pendapatan usaha perusahaan mengalami peningkatan sebesar 9,37% atau sebesar Rp 1.673.957.870.395,-. Peningkatan ini disebabkan karena meningkatnya penerbangan berjadwal sebesar 16,21% atau sebesar Rp 2.220.976.751.850,-.
Rata-rata piutang perusahaan pada tahun 2008 mencapai Rp 299.323.708.107,-. Pada tahun 2009 rata-rata piutang mengalami
peningkatan sebesar Rp 61.478.870.287 sehingga rata-rata piutang pada tahun 2009 menjadi Rp 360.802.578.393,-. Pada tahun 2010 rata-rata piutang perusahaan adalah sebesar Rp 436.580.659.214,- yakni mengalami peningkatan sebesar Rp 75.778.080.820,- dibandingkan rata-rata piutang tahun 2009.
Total aset yang dimiliki perusahaan pada tahun 2009 adalah sebesar Rp 14.802.423.237.228 yaitu mengalami penurunan sebesar 3,28% atau sebesar Rp 501.408.166.264,- jika dibandingkan total aset tahun 2008 sebesar Rp 15.303.831.403.492,-. Total aset yang dimiliki perusahaan pada tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 7,68% atau sebesar Rp 1.136.405.316.049,- sehingga total aset tahun 2010 adalah sebesar Rp 13.666.017.921.179,-.
Dengan melihat kecenderungan penurunan hingga tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa perusahaan mengalami penurunan dalam menghasilkan volume bisnis jika dilihat dari total investasi yang dilakukan perusahaan untuk aset yang dimiliki yaitu piutang dan total aset.
5. Analisis Du Pont
Berdasarkan analisis Du Pont yang telah dilakukan pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan pada tingkat pengembalian atas ekuitas selama tiga tahun berturut-turut yaitu tahun 2008 hingga 2010. Pengembalian atas ekuitas PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada tahun 2008 adalah sebesar 71,35%, kemudian pada tahun 2009 mengalami penurunan hingga mencapai 31,69%, dan pada tahun 2010 mencapai 14,91%. Penurunan ini disebabkan karena adanya penurunan pada
pengganda ekuitas dan perubahan pada tingkat pengembalian atas total aset perusahaan.
Pengganda ekuitas PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang mengalami penurunan setiap tahunnya adalah akibat dari total aset yang juga mengalami penurunan setiap tahunnya, walaupun total ekuitas yang dimiliki mengalami peningkatan. Penurunan pada total aset disebabkan oleh adanya penurunan pada aset lancar dan aset tidak lancar. Aset lancar pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 8.95% atau senilai Rp 729.422.370.391,-, kemudian pada tahun 2010 aset lancar menurun kembali sebesar 7,49% atau senilai Rp 315.506.615.295,-. Aset tidak lancar pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 0,82% atau sebesar Rp 87.492.411.168,-, kemudian pada tahun 2010 menurun kembali sebesar 6,93% atau sebesar Rp 820.898.700.754,-.
Tingkat pengembalian total aset perusahaan mengalami peningkatan pada tahun 2009 kemudian menurun kembali pada tahun 2010. Hal ini disebabkan karena laba bersih perusahaan mengalami peningkatan pada tahun 2009 kemudian menurun kembali pada tahun 2010. Selain itu, perubahan pada laba bersih ini sejalan dengan penurunan pada total aset yang dimiliki perusahaan.
Perubahan pada laba bersih perusahaan pada tahun 2009 dan 2010 dipengaruhi oleh total beban usaha. Pada tahun 2008 laba bersih perusahaan adalah sebesar Rp 975.048.626.198,-. Pada tahun 2009 laba bersih perusahaan mengalami peningkatan sebesar Rp 4,47% atau sebesar Rp 43.567.309.247,- menjadi Rp 1.018.615.935.445,-. Peningkatan ini disebabkan oleh menurunnya total beban usaha perusahaan sebesar 5,86%
atau sebesar Rp 1.054.383.472.960,-. Sehingga total beban usaha tahun 2009 adalah sebesar Rp 16.942.084.694.513,- lebih sedikit jika dibandingkan total beban usaha tahun 2008 sebesar Rp 17.996.468.167.473,-. Pada tahun 2010 laba bersih perusahaan mengalami penurunan sebesar 49,39% atau sebesar Rp 503.094.079.754,-. Penurunan ini disebabkan karena adanya peningkatan pada total beban usaha sebesar 15,7% atau sebesar Rp 2.659.406.137.695,-. Sehingga total beban usaha pada tahun 2010 meningkat hingga sebesar Rp 19.601.490.832.208,-.
Penurunan total aset disebabkan oleh adanya penurunan pada aset lancar dan aset tidak lancar. Penyebab penurunan aset lancar pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk telah dijelaskan pada bagian rasio lancar. Penurunan aset tidak lancar PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk disebabkan oleh menurunnya aset tetap yang dimiliki perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan adalah aset pesawat berupa rangka pesawat, mesin, simulator, dan rotable parts, serta aset non pesawat berupa kendaraan, tanah, bangunan perlengkapan dan peralatan. Pada tahun 2008 aset tetap yang dimiliki perusahaan adalah sebesar Rp 6.552.911.158.504,- kemudian terus mengalami penurunan hingga tahun 2010. Pada tahun 2009 aset tetap mengalami penurunan sebesar 2,75% atau sebesar Rp 178.028.892.856,- sehingga saldo pada tahun 2009 adalah sebesar Rp 6.374.882.265.648,-. Pada tahun 2010 aset tetap kembali menurun sebesar 12,12% atau sebesar Rp 5.602.508.956.465,- sehingga saldo aset tetap tahun 2010 adalah sebesar Rp 5.602.508.956.465,-.
Dengan melihat analisis yang telah dilakukan penulis terhadap tingkat likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, aktivitas, serta analisis Du Pont selama tiga tahun berturut-turut pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, perusahaan melakukan beberapa hal untuk mencapai rencana jangka panjang yaitu Quantum Leap yang telah dicanangkan perusahaan antara lain:
a. Memperbaiki posisi kewajiban yang dimiliki perusahaan, baik kewajiban lancar dan kewajiban tidak lancar (jangka panjang)
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terus melakukan perbaikan pada posisi kewajibannya selama tiga tahun berturut-turut yaitu tahun 2008 hingga 2010. Hal ini terlihat pada kewajiban lancar dan kewajiban tidak lancar yang dimiliki perusahaan terus mengalami penurunan hingga tahun 2010. Kewajiban lancar yang dimiliki perusahaa pada tahun 2008 adalah sebesar Rp 7.085.154.280.368,- kemudian pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 10,41% atau sebesar Rp 737.476.733.560,-. Penurunan ini mengakibatkan saldo akhir kewajiban lancar pada tahun 2009 mencapai Rp 6.347.677.546.808,-. Kewajiban lancar pada tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 17,43% atau senilai Rp 1.106.402.073.869,- sehingga saldo akhir kewajiban lancar pada tahun 2010 mencapai Rp 5.241.275.472.939,-. Kewajiban tidak lancar pada tahun 2008 adalah sebesar Rp 6.802.696.302.093,- kemudian pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 23,09% atau sebesar Rp 1.568.974.188.282,-. Penurunan ini mengakibatkan saldo akhir kewajiban tidak lancar pada tahun 2009 mencapai Rp 5.233.722.113.811,-. Kewajiban tidak lancar pada tahun 2010 juga mengalami penurunan yaitu sebesar 5,32% atau sebesar Rp
278.435.674.540,- sehingga saldo akhir kewajiban tidak lancar pada tahun 2010 adalah sebesar Rp 4.955.286.439.271,-.
Penurunan pada kewajiban lancar dan kewajiban tidak lancar hingga tahun 2010 menunjukkan bahwa perusahaan melaksanakan pengurangan terkait pendanaannya melalui hutang. Penurunan kewajiban tidak lancar pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk disebabkan karena perusahaan melaksanakan restrukturisasi pada Obligasi Konversi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi modal saham dan berhasil menyelesaikan restrukturisasi hutang dengan seluruh kreditur termasuk European Export Credit Agency (ECA) pada tanggal 22 Desember 2010.
Untuk mencapai Quantum Leap, perusahaan perlu untuk menekan penggunaan pendanaan melalui hutang lancar agar dapat meningkatkan tingkat likuiditas dan menurunkan rasio hutang perusahaan. Perusahaan dapat melakukannya dengan melunasi kewajiban yang dimiliki baik kewajiban lancar dan kewajiban tidak lancar. Selain itu, mengontrol pendanaan operasi perusahaan melalui hutang.
b. Mencapai growth yang telah ditargetkan pada tahun 2011 yaitu melakukan Initial Public Offering (IPO) pada awal tahun 2011
Pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) mencerminkan bahwa PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk adalah perusahaan yang berkembang dan memiliki reputasi yang cukup baik untuk dapat diperhitungkan masyarakat atau investor. Dengan dicatatkannya saham PT Garuda Indonesia (Persero)
Tbk menjadikan para investor, pemerintah, dan masyarakat memperhatikan perkembangan serta kinerja yang telah dicapai perusahaan.
Dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk telah melaksanakan Initial Public Offering (IPO) sebagai salah satu program pencapaian Quantum Leap, maka sebagai perusahaan terbuka PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk perlu untuk meningkatkan pencapaian operasional perusahaan dan tetap menjaga pelayanan yang berkualitas. Hal ini dilakukan agar perusahaan tetap mempertahankan reputasinya dan juga sebagai bentuk pertanggung-jawaban kepada para investor yang telah menanamkan modalnya untuk perusahan.
c. Profitable growth yaitu perusahaan menjaga tingkat pendapatan yang tinggi dan tetap menghasilkan laba setiap tahun
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk telah berusaha untuk mencapai profitable growth. Hal ini tercermin dari pendapatan usaha perusahaan pada tahun 2010 yang mengalami peningkatan sebesar 9,37% atau sebesar Rp 1.673.957.870.395,-. Selain itu perusahaan juga tetap menghasilkan laba bersih setiap tahunnya walaupun pada tahun 2010 laba bersih perusahaan mengalami penurunan. Laba bersih pada tahun 2008 adalah sebesar Rp 975.048.626.198,-. Pada tahun 2009 laba bersih perusahaan mengalami peningkatan sebesar Rp 4,47% atau sebesar Rp 43.567.309.247,- sehingga saldo akhir tahun 2009 mencapai Rp 1.018.615.935.445,-. Pada tahun 2010 laba bersih perusahaan mengalami penurunan sebesar 49,39% atau sebesar Rp 503.094.079.754,- sehingga saldo akhir tahun 2010 mencapai Rp
515.521.855.691,-. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tetap mengontrol tingkat profitabilitas yang dicapai perusahaan setiap tahunnya.
Menjaga tingkat pendapatan yang tinggi dapat dilakukan perusahaan dengan melakukan penambahan rute penerbangan dan mengembangkan layanan penerbangan dengan brand Citilink. Hal ini dilakukan agar perusahaan dapat meningkatkan pendapatan usaha yang diperoleh perusahaan setiap tahunnya.
Perusahaan dapat menghasilkan laba jika memiliki pendapatan usaha yang lebih besar daripada total beban yang dikeluarkan. Oleh sebab itu, perusahaan perlu untuk mengontrol pengeluaran beban-beban yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan menekan total beban perusahaan tanpa harus mengurangi kualitas pelayanan perusahaan.
d. Cost discipline yaitu perusahaan fokus pada efisiensi biaya secara terus- menerus
Perusahaan telah berupaya untuk melaksanakan efisiensi biaya. Hal ini terlihat pada total beban usaha pada tahun 2009 yang mengalami penurunan sebesar 5,86% dibandingkan pada tahun 2008. Pada tahun 2010 total beban usaha mengalami peningkatan sebesar 15,7%. Peningkatan ini disebabkan karena perusahaan sedang melaksanakan penambahan dan peremajaan pada armada pesawat yang dimiliki.
Untuk mencapai cost discipline dalam rangka pencapaian rencana jangka panjang perusahaan, perusahaan perlu untuk melakukan perencanaan dalam
pengeluaran yang dilakukan. Perusahaan perlu untuk menekan total beban yang dikeluarkan perusahaan agar efisiensi terhadap biaya dapat terlaksana.
e. Modernisasi armada
Perusahaan melakukan penambahan pesawat terbang baru dan
mengeluarkan pesawat terbang yang tua. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk peningkatan efisiensi konsumsi bahan bakar dan efisiensi biaya
perawatan pesawat. Dengan demikian dapat menunjang tercapainya program