BAB IV PERAN ADVOKAT NON MUSLIM DALAM MENANGAN
B. Analisis Kompetensi Advokat Non Muslim di Pengadilan
1. Kompetensi Advokat Non Muslim dalam Hukum Materiil
Hukum materil yaitu hukum yang mngatur tentang aturan- aturan yang tertulis atau sudah dikodifikasikan. Dalam hal hukum materil yang berada di Pengadilan Agama yaitu berlaku aturan-aturan yang tertulis dan disahkan atau sudah dilegalkan oleh pemerintah dalam penggunaanya. Seperti Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang pernikahan, dan Kompilasi Hukum islam, selain peraturan tersebut diperbolehkan juga untuk menggunakan hukum Islam yang lain seperti al-Quran, Hadits, Ijma‟, danQiyas (Idris, 1991:223).
54
Pembolehan tersebut dikarenakan hakim dalam memutuskan perkara-perkara yang dihadapinya diberi kekuasaan yang seluas- luasnya untuk mengadili sendiri hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur‟an, Hadits,Ijma‟, dan Qiyas. Oleh karena itu timbul berbagai keputusan yang berbeda-beda dalam suatu masalah yang sama, hal ini disebabkan adanya perbedaan yang bermacam-macam dalam cara berijtihad menafsirkan hukum Islam.
Untuk mengetahui kompetensi advokat non muslim melalui hukum materil, penulis mengambil dari salinan putusan yang dilakukan oleh advokat non muslim. Adapun mengenai putusanya yakni sebagai berikut:
Salinan putusan No:0788/Pdt.G/2011/PA.SAL. Mengenai salinan ini membahas tentang perkara cerai talak. Dalam hal ini penggugat mengajukan permohonan gugatan dengan alasan bahwa mulai bulan November tahun 2008 antara pemohon dan termohon sering terjadi percekcokan dan pertengkaran terus-menerus yang sulit untuk didamaikan kembali. Pertengkaran dan percekcokan itu terjadi karena termohon selalu melawan/membantah nasehat-nasehat pemohon dan sering kali mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang istri kepada suaminya. Percekcokan dan pertengkaran itu juga terjadi karena termohon tidak pernah puas atas pendapatan yang diberikan pemohon sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah bagi keluarga. Sejak pertengkaran itu terjadi pemohon
55
telah meninggalkan kediaman bersama tanpa seijin termohon sampai sekarang tidak pernah kembali sehingga sampai saat ini antara pemohon dan termohon telah dalam keadaan pisah ranjang dari rumah tiga tahun lamanya, dan selama itu tidak pernah berkumpul sebagai layaknya suami istri. Setelah kejadian tersebut pemohon sudah berusaha menyesalkan masalah rumah tangga ini dengan melibatkan baik keluarga pemohon maupun termohon dengan tujuan merukunkan kembali rumah tangga namun usaha tersebut tidak berhasil disamping itu demi keutuhan rumah tangga pemohon sudah berusaha beberapa kali menemui termohon dan mengajak kembali hidup bersama untuk membina rumah tangga namun usaha tersebut tidak berhasil karena termohon tidak mau bahkan mengatakan sebaiknya bercerai saja karena sudah tidak dapat meneruskan rumah tangga dengan pemohon.
Dengan demikian rumah tangga pemohon dan termohon telah tidak harmonis sesuai dengan tujuan perkawinan karena termohon selaku istri dengan sengaja telah tidak taat dan tidak patuh (nuyuz) kepada pemohon selaku suaminya sehingga jalan terbaik adalah menjatuhkan talak.
Sehingga dalam perkara ini advokat yang diberi kuasa menggunakan hukum materil Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 39 Ayat (2) yang menyatakan “untuk melakukan perceraian
harus ada cukup alasan bahwa antaara suami dan istri itu tidak akan
56
Islam, menyatakan“Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam
rumah tangga”.
Dari dalil-dalil yang sudah tertera di atas Majlis Hakim memutuskan:
a. Mengabulkan permohonan pemohon
b. Memberi ijin kepada pemohon untuk menjatuhkan talak
Roj‟i terhadap termohon di depan sidang Pengadilan Agama Salatiga
c. Menghukum pemohon untuk memberikan kepada termohon:
1) Mut‟ah berupa uang sebesar Rp.5.000.000,- (Lima juta) 2) Nafkah iddah sebesar Rp.900.000,- (Sembilan ratus
ribu rupiah)
3) Nafkah lampau selama 3 bulan sebesar Rp.900.000,- (Sembilan ratus ribu rupiah)
4) Menghukum pemohon unuk membayar biaya perkara sebesar Rp.331.000,- (Tiga ratus tiga puluh satu ribu rupiah).
Salinan putusan Nomor: 876/Pdt.G/2014/PA.Sal. Merujuk salinan putusan ini membahas mengenai perkara Gugat Cerai. Bahwa penggugat dengan tergugat telah berpisah tempat tinggal usampai
57
sekarang selama 12 tahun karena tergugat pergi meninggalkan penggugat tanpa seijin penggugat disebabkan telah menikah lagi secara syiri dengan seorang wanita bernama Nur Mahmudah dan telah mempunyai 3 orang anak dan sampai sekarang tergugat tidak pernah pulang ke tempat tinggal bersama dirumah orangtua Penggugat. Bahwa selama berpisah rumah selama 12 tahun tersebut, tergugat tidak pernah memberi nafkah kepada penggugat serta telah membiarkan penggugat sebagaimana isterinya. Bahwa penggugat sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup bersama dengan tergugat. Dari permasalahan tersebut advokat yang diberi kuasa memakai dalil dari Kompilasi Hukum Islam pasal 116 huruf (g) “telah cukup alasan
bagi penggugat untuk mengajukan gugatan cerai melalui Pengadilan Agama Salatiga”.
Mulai duduk perkara sampai primer yang diajukan oleh penggugat hanya sebagian yang diputus, bahwa tergugat tidak hadir di persidangan dan tidak menyuruh orang lain untuk menghadap sebagai kuasanya meskipun telah dipanggil secara patut dan sah oleh Jurusita Pengadilan Agama Salatiga, sementara itu tidak ternyata bahwa ketidak hadirannya itu disebabkan oleh suatu halangan yang sah serta gugatan tersebut tidak melawan hukum dan beralasan, sehingga tergugat tidak dapat didengar keteranganya oleh karena itu dapat dinyatakan bahwa tergugat dalam keadaan tidak hadir dan sesuai
58
dengan pasal 125 HIR gugatan tersebut dapat dikabulkan dengan verstek.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas kiranya pengadilan agama salatiga majelis hakim berkenan memeriksa dan menjatuhkan putusan sebagai berikut:
1. Menyatakan tergugat yang telah dipanggil dengan resmi dan patut untuk menghadap di persidangan tidak hadir 2. Mengabaikan gugatan penggugat dengan verstek 3. Menyatakan syarat Ta‟lik telah terpenuhi
4. Menetapkan jatuh talak satu khul‟i tergugat kepada penggugat dengan iwadl Rp.10.000,- (Sepuluh ribu rupiah) 5. Memerintahkan Panitera Pengadilan Agama Salatiga untuk
mengirimkan salinan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ke Kantor Urusan Agama Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, untuk dicatat dalam daftar yang disediakan untuk itu
6. Menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.466.000,- (Empat ratus enam puluh enam ribu rupiah).
Dari dua salinan putusan yang telah didapatkan oleh penulis, bahwa advokat non muslim dalam menggunakan dalil-dalil untuk membuat surat gugatan atau permohonan hanya menggunakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 serta Kompilasi Hukum Islam.
59
Walaupun oleh para ulama telah menyepakati bahwa dalam Kompilasi Hukum Islam itu juga telah tercantum hukum-hukum Islam.
Dari keterangan diatas bisa diketahui bahwa advokat non muslim kurang kompeten dalam mengenai hukum materil, karena dalam menggunakan hukum materil di Pengadilan Agama soal membuat gugatan, jawaban dan yang lainya hanya menggunakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam saja, padahal juga dibolehkan menggunakan hukum islam seperti Al-
Qur‟an, Hadits, Ijma dan Qiyas. Yangmana itu dijadikan dasar oleh
hakim untuk mengadili. Namun demikian mereka tetap sah dan memenuhi syarat dalam mempraktekkan dalil-dalil yang sudah dibuktikan, karena tidak ada keharusan untuk menggunakan hukum syariat Islam dalam pembuatan gugatan, permohonan, ataupun jawaban dalam beracara di Pengadilan Agama. Dan itu dibuktikan bahwa sampai sekarang mereka dalam praktek menangani sengketa dari kliennya dapat selesai dan diputus oleh hakim dengan baik.
2. Analisis Kompetensi Advokat Non Muslim dalam Hukum Formil
Hukum acara pengadilan agama atau hukum formil adalah peraturan hukum yang mengatur bagaimana mempraktekan hukum perdata materil dengan perantara hakim atau cara bagaimana bertindak di muka Pengadilan Agama dan bagaimana cara hakim
60
bertindak agar hukum itu berjalan sebagaimana mestinya (Mukti, 2000: 7).
Untuk mengetahui kompetensi advokat non muslim melalui Hukum Formil ini penulis melakukan wawancara kepada advokat. Adapun hasil wawancara tersebut yakni:
Pertama, dengan Susi advokat non muslim (nama samaran) sesuai dengan apa yang telah dialami dan dijalani berkarir sebagai advokat, menurutnya proses beracara di Pengadilan Agama Salatiga lebih bagus dan lebih baik daripada di Pengadilan Negeri, karena dalam menangani perkara dan dalam memberikan informasi tentang Pengadilan Agama sangat jelas, selama beracara di Pengadilan Agama tidak ada yang di kecewakan, serta dalam menangangani perkara beliau belum pernah ada kendala atau kesulitan yang dihadapinya. Peradilan Agama sudah sesuai dalam hal menyelesaikan perkara dengan peradilan yang lainya. Beliau mengawali karirnya sebagai advokat sejak tahun 2008 sampai sekarang. Adapun jenis-jenis perkara yang di tangani di antaranya yaitu perkara cerai gugat, cerai talak, gono-gini Islam dan hak asuh anak. Akan tetapi dari beberapa jenis perkara tersebut yang paling banyak di tangani adalah perkara perceraian. Jika dibuat rata-rata pertahun beliau menangani perkara ± 5-10 perkara pertahun.
Kedua, dengan Andi advokat non muslim (nama
61
merasakanya dengan baik dan tertib sesuai dengan hukum perdata di pengadilan Negri, selama dalam beracara ia tidak pernah mengalami kesulitan atau bahkan lancar-lancar saja, ia sudah mengawali karirnya sebagai advokat sejak tahun 2000 sampai sekarang. ia mampu melaksanakan kuasanya dalam beracara di Pengadilan Agama Salatiga. Menurutnya bahwa praktek di pengadilan agama pelayananya jelas dan mudah karena hanya menyangkut masalah perdata saja, dari perkara-perkara yang telah ditanganinya hampir semua dapat di selesaikan dengan baik, karena biasa menangani menyangkut perkara cerai gugat dan permohonan cerai talak, selain itu ada juga mengenai perkara warisan, gono-gini. Beliau mengawali karirnya sebagai advokat sejak tahun 2000 sampai sekarang, dan dalam mengangani perkara pertahun jika dirata-rata kurng lebih 42 perkara, dari perkara yang ia tangani kebanyakan memenuhi target dan berhasil diselesaikan.
Ketiga,denganIstiani advokat non muslim (nama samaran) tidak jauh berbeda dengan advokat yang lainya dalam hal ini ia juga mengatakan bahwa berperkara di Pengadilan Agama berjalan dengan baik-baik saja, apalagi dalam pemberian pelayanan di Pengadilan Agama lebih tertib dibandingkan dengan Pengadilan Umum, itu terlihat dari administrasi dan jauh dari tindak korupsi, kolusi dan nepotisme. Dalam sebuah lembaga negara itu yang sekarang ini sedang marak dibicarakan mengenai Pengadilan Agama.
62
Jika dibandingkan dengan Peradilan Agama yang lain, Peradilan Agama Salatiga lebih baik. Secara keseluruhan dalam beracara di Peradilan Agama ia tidak pernah mengalami kesulitan,ia mengwali karirnya sebagai advokat yaitu sejak tahun 2000 hingga sekarang, dalam menangani perkara jika dirata-rata pertahun kurang lebih 16 perkara, dari perkara yang telah ia tangani kebanyakan memenuhi target atau berhasil. Secara keseluruhan tidak ada kesulitan dari perkara yang sudah ia tangani.
Dalam melakukan praktek pemberian kuasa di Pengadilan Agama Salatiga, mereka (advokat non muslim) tidak mengalami kesulitan bahkan lancar, karena di Pengadilan Agama hanya menangani masalah perdata untuk orang-orang Islam. Dalam artian menurut asas personalitas keislaman bahwa peradilan Agama hanya menyelesaikan perkara perdata untuk orang-orang Islam, melainkan non muslim juga dapat beracara di Pengadilan Agama. Tergantung dari akad pertama yang mereka lakukan bukan dilihat dari personalnya. Contohnya orang muslim yang melakukan akad nikah
dengan menggunakan syari‟at Islam dan ditengah dalam membina
rumah tangga salah satu dari mereka atau dua-duanya masuk agama non-muslim, maka ketika mereka menginginkan penyelesaian perkara mengenai keluarga harus di Pengadilan Agama tidak di Pengadilan Negeri.
63
Selama ini, Pengadilan Agama dalam melakuan penyelesaian perkara kebanyakan mengenai perkara perceraian baik cerai talak maupun cerai gugat dan bidang perkawinan menjadi kewenangan dan kekhususan Pengadilan Agama adalah hal-hal yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu; a. Izin beristri lebih dari seorang (pasal 3 ayat 2);
b. Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21 tahun, dalam hal orang tua atau wali keluarga dalam garis lurus ada perbedaan pendapat (pasal 6 ayat 5);
c. Despensasi kawin (pasal 7 ayat 2);
d. Pencegahan perkawinan (pasal 17 ayat 1);
e. Penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah (pasal 21 ayat 30);
f. Pembatalan perkawinan (pasal 22);
g. Gugatan kelalaian atas kewajiban suami atau istri (pasal 34 ayat 3); h. Perceraian karena talak (pasal 39);
i. Gugatan perceraian (pasal 40 ayat 1); j. Penyelesaian harta bersama (pasal 37); k. Mengenai penguasaan anak-anak (pasal 37);
l. Ibu dapat memikul biaya penghidupan anak bila bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak memenuhinya (pasal 41 sub b);
64
m.Penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada bekas istri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas istri (pasal 41 sub c);
n. Putusan tentang sah atau tidaknya seorang anak (pasal 44 ayat 2); o. Putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua ( pasal 49 ayat 1); p. Penunjukan kekuasaan wali (pasal 53 ayat 2); dan lainya mengenai
perkawinan (Manan, 2005: 13).
Pengadilan Agama tidak mengatur secara khusus mengenai advokat, tapi hanya mengenai hal-hal dalam pengajuan perkara di Pengadilan. Apalagi mengenai advokat yang berlatar belakang non muslim, karena kompetensi mereka sama dengan advokat yang berlatar belakang muslim. Keberadaan mereka dalam mempraktekkan profesinya tidak ada dampaknya malahan mereka lebih senang beracara di Pengadilan Agama Salatiga baik dalam segi pelayanan administrasi, informasi itu jelas apalagi mengenai biaya ada kejelasan perincian habisnya berapa biaya yang harus dikeluarkan.
Sesuai hasil wawancara yang telah penulis dapatkan bahwa dalam melakukan praktek pemberian kuasa di Pengadilan Agama Salatiga, mereka (advokat non muslim) tidak mengalami kesulitan ataupun hambatan yang tidak bisa diselesaikan, bahkan sebaliknyamereka dalam menjalankan tugasnya lancar-lancar saja saat beracara di Pengadilan Agama Salatiga.
65