IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Analisis Komponen Pertumbuhan Ekonomi
Peningkatan kegiatan ekonomi yang diindikasikan oleh kenaikan PDRB suatu wilayah dapat diperluas atas tiga komponen (Sjafrizal, 2008). Secara rinci ketiga komponen tersebut adalah peningkatan PDRB yang disebabkan oleh faktor luar (kebijakan nasional/provinsi) atau sering disebut dengan efek pertumbuhan ekonomi regional (Nij). Pengaruh kedua adalah pengaruh struktur pertumbuhan sektor dan subsektor, atau disebut dengan industrial mix-effect (efek bauran industri (Mij) dan terakhir adalah pengaruh keuntungan kompetitif wilayah studi (Cij).
Secara agregat, dari tahun 2003 hingga tahun 2008 terjadi pertambahan tingkat PDRB di Kabupaten Parigi Moutong sebesar 786,82 milyar rupiah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 96,97 persen lebih disebabkan karena efek pertumbuhan ekonomi di tingkat provinsi. Tidak bisa dielakkan bahwa kondisi perekonomian kabupaten akan dipengaruhi oleh kinerja perekonomian provinsi, nasional bahkan perekonomian global. Kabupaten Parigi Moutong yang merupakan small open economy dalam perekonomian Sulawesi Tengah sangat mudah terpengaruh oleh perkembangan ekonomi Sulawesi Tengah.
Sementara pengaruh daya saing Kabupaten Parigi Moutong terhadap perekonomian hanya mampu mendorong pertambahan perekonomian Kabupaten Parigi Moutong sebesar 7,83 persen. Hal ini jauh lebih rendah dibanding dengan pengaruh komponen pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah, yang menunjukkan masih rendahnya daya saing atau rendahnya kemandirian daerah.
Tabel. 4.4 Perubahan Sektoral dan Komponen yang Mempengaruhi Ekonomi Kabupaten Parigi Moutong 2003-2008 (juta rupiah)
Sektor/Subsektor Ekonomi Total Peningkatan PDRB Dij Dampak Pertumbuhan Ekonomi Sulteng Nij Dampak Bauran Industri Mij Dampak Pangsa Wilayah Cij (1) (2) (3) (4) (5) 1. Pertanian 399.088 442.414 (98.180) 54.854 1.1. Tanaman Bahan Makanan 134.613 188.701 (45.462) (8.626) 1.2. Tanaman Perkebunan 151.437 139.144 (13.346) 25.639 1.3. Peternakan 14.499 27.244 (14.209) 1.464 1.4. Kehutanan 11.304 30.348 (15.486) (3.558) 1.5. Perikanan 87.236 56.976 (8.926) 39.186
2. Pertambangan dan Penggalian 10.949 9.628 (1.102) 2.423
2.1 Migas - - - -
2.2 Pertambangan non migas - - - - 2.3 Penggalian 10.949 9.628 (1.102) 2.423
3. Industri Pengolahan 48.329 44.997 (11.356) 14.688 3.1. Industri Migas - - - - 3.2. Tindustri non migas 48.329 44.997 (11.356) 14.688
4. Listrik dan Air Bersih 876 846 (186) 216
4.1. Listrik 746 718 (199) 227
4.2. Gas - - - -
4.2. Air Bersih 130 128 25 (23)
5. Bangunan 66.836 40.226 9.709 16.900
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 130.457 96.312 10.807 23.338 6.1. Perdagangan Besar dan Eceran 126.259 93.430 11.556 21.273 6.2. Hotel 622 415 (19) 227 6.3. Restoran 3.576 2.467 (188) 1.297
7. Angkutan dan Komunikasi 50.649 60.559 31.452 (41.362) 7.1. Angkutan 49.536 59.916 25.512 (35.892) 7.2. Komunikasi 1.113 643 1.417 (948)
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 9.005 4.349 1.189 3.466 8.1. Bank 6.489 2.101 1.659 2.729 8.2. Lembaga Keuangan Non Bank 485 495 (36) 26 8.3. Jasa Penunjang Lemb. Keuanga - - - - 8.3. Sewa Bangunan 96 53 (1) 44 8.4. Jasa Perusahaan 1.936 1.700 112 124 9. Jasa-jasa 70.633 63.630 19.920 (12.917) 9.1. Pemerintahan Umum 49.492 36.435 9.550 3.507 9.2. Swasta 21.141 27.195 11.537 (17.592) Jumlah 786.822 762.962 (37.747) 61.107
Sumber: BPS Kabupaten Parigi Moutong (diolah)
Pengaruh dari efek bauran industri/sektoral terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Parigi Moutong mengakibatkan pertumbuhan negatif, yakni sebesar 4,80 persen. Hal ini menunjukkan bahwa dampak dari struktur ekonomi Sulawesi Tengah justru menurunkan PDRB Kabupaten Parigi Moutong sebesar Rp. 37,75 milyar.
Tabel. 4.5. Dampak Pertumbuhan Regional Sulawesi Tengah terhadap Perekonomian Kabupaten Parigi Moutong
Sektor/Subsektor Ekonomi Dampak Pertumbuhan Regional Sulteng Nilai (Juta Rupiah) Persentase
(1) (2) (3)
1. Pertanian 442.414 110,86
1.1. Tanaman Bahan Makanan 188.701 140,18 1.2. Tanaman Perkebunan 139.144 91,88 1.3. Peternakan 27.244 187,91 1.4. Kehutanan 30.348 268,47 1.5. Perikanan 56.976 65,31
2. Pertambangan dan Penggalian 9.628 87,94
2.1 Migas - -
2.2 Pertambangan non migas - -
2.3 Penggalian 9.628 87,94
3. Industri Pengolahan 44.997 93,11
3.1. Industri Migas - -
3.2. Tindustri non migas 44.997 93,11
4. Listrik dan Air Bersih 846 96,61
4.1. Listrik 718 96,29
4.2. Gas - -
4.2. Air Bersih 128 98,46
5. Bangunan 40.226 60,19
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 96.312 73,83 6.1. Perdagangan Besar dan Eceran 93.430 74,00
6.2. Hotel 415 66,68
6.3. Restoran 2.467 69,00
7. Angkutan dan Komunikasi 60.559 119,57 7.1. Angkutan 59.916 120,95 7.2. Komunikasi 643 57,80
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 4.349 48,30
8.1. Bank 2.101 32,37
8.2. Lembaga Keuangan Non Bank 495 102,01
8.3. Jasa Penunjang Lemb. Keuanga - -
8.3. Sewa Bangunan 53 55,70 8.4. Jasa Perusahaan 1.700 87,82 9. Jasa-jasa 63.630 90,09 9.1. Pemerintahan Umum 36.435 73,62 9.2. Swasta 27.195 128,64 Jumlah 762.962 96,97
Sumber: BPS Kabupaten Parigi Moutong (diolah)
Pada tingkat sektoral, pengaruh perekonomian Sulawesi Tengah terlihat jelas pada beberapa sektor yaitu sektor pertanian, sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor industri. Pertambahan output yang terjadi pada sektor pertanian selama periode analisis mencapai 442,42 milyar rupiah. Pengaruh pertumbuhan ekonomi di tingkat provinsi mampu mempengaruhi sektor pertanian hingga 110,86 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan-kebijakan di
sektor pertanian yang telah diambil oleh Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah maupun Pemerintah Pusat sangat membantu pengembangan sektor pertanian. Pada sektor perdagangan, hotel dan restoran dampak pertumbuhan Sulawesi Tengah memberikan penambahan PDRB Parigi Moutong sebesar 96, 31 milyar rupiah, sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan tambahan sebesar 60,56 milyar rupiah, nilai lebih lengkapnya seperti yang terdapat pada Tabel 4.5.
Sementara itu, kondisi struktur ekonomi Sulawesi Tengah pada periode ini, justru berpengaruh negatif terhadap penciptaan pertumbuhan PDRB di sektor pertanian pada Kabupaten Parigi Moutong. Pengaruh bauran industri di sektor ini mencapai negatif 4,80 persen, yang berarti bahwa dengan kondisi struktur ekonomi seperti ini justru melemahkan karena mengurangi output di Kabupaten Parigi Moutong sebsesar 37,75 milyar rupiah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa industri yang berlokasi di Parigi Moutong termasuk ke dalam kelompok industri yang secara regional provinsi kurang berkembang pesat dan bahkan struktur industri tersebut kurang cocok berada di Parigi Moutong.
Pengaruh bauran industri secara sektoral terlihat adanya tiga sektor yang mengalami pelemahan terparah karena efek bauran industri yaitu sektor pertanian, industri pengolahan, dan sektor pertambangan dan penggalian. Sektor pertanian mengalami penurunan PDRB sebesar 98,18 milyar rupiah atau sebesar negatif 24,60 persen. Sektor industri pengolahan mengalami penurunan PDRB sebesar 11,36 milyar rupiah atau sebesar negatif 23,50 persen. Sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan PDRB sebesar 1,1 milyar rupiah atau sebesar negatif 10,07 persen.
Tabel. 4.6. Dampak Bauran Industri Sulawesi Tengah terhadap Perekonomian Kabupaten Parigi Moutong
Sektor/Subsektor Ekonomi
Dampak Bauran Industri Sulteng
Nilai (Juta Rupiah) Persentase
(1) (2) (3)
1. Pertanian (98.180) (24,60)
1.1. Tanaman Bahan Makanan (45.462) (33,77) 1.2. Tanaman Perkebunan (13.346) (8,81) 1.3. Peternakan (14.209) (98,00) 1.4. Kehutanan (15.486) (137,00) 1.5. Perikanan (8.926) (10,23)
2. Pertambangan dan Penggalian (1.102) (10,07)
2.1 Migas - -
2.2 Pertambangan non migas - -
2.3 Penggalian (1.102) (10,07)
3. Industri Pengolahan (11.356) (23,50)
3.1. Industri Migas - -
3.2. Tindustri non migas (11.356) (23,50)
4. Listrik dan Air Bersih (186) (21,28)
4.1. Listrik (199) (26,65)
4.2. Gas - -
4.2. Air Bersih 25 18,94
5. Bangunan 9.709 14,53
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 10.807 8,28 6.1. Perdagangan Besar dan Eceran 11.556 9,15
6.2. Hotel (19) (3,09)
6.3. Restoran (188) (5,26)
7. Angkutan dan Komunikasi 31.452 62,10
7.1. Angkutan 25.512 51,50
7.2. Komunikasi 1.417 127,36
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 1.189 13,21
8.1. Bank 1.659 25,57
8.2. Lembaga Keuangan Non Bank (36) (7,45) 8.3. Jasa Penunjang Lemb. Keuanga - - 8.3. Sewa Bangunan (1) (1,11) 8.4. Jasa Perusahaan 112 5,78 9. Jasa-jasa 19.920 28,20 9.1. Pemerintahan Umum 9.550 19,30 9.2. Swasta 11.537 54,57 Jumlah (37.747) (4,80)
Sumber: BPS Kabupaten Parigi Moutong (diolah)
Penurunan PDRB karena efek bauran industri pada sektor sektor tersebut mengindikasikan bahwa struktur perekonomian sektor tersebut tidak cocok
dengan kondisi Parigi Moutong. Namun terdapat beberapa sektor yang mempunyai efek bauran industri positif yang mengindikasikan bahwa struktur industri tersebut sesuai dengan kondisi Parigi Moutong. Dua sektor yang mengalami dampak positip terkuat adalah sektor angkutan dan komunikasi sebesar 31,45 milyar atau sebesar 62,10 persen dan sektor jasa-jasa yaitu sebesar 19,92 milyar atau sebesar 28,20 persen terhadap total output yang tercipta di sektor jasa-jasa, secara lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Pengaruh komponen differential shift yang menunjukkan tingkat daya saing wilayah, secara sektoral terlihat positip hampir pada semua sektor kecuali sektor angkutan dan komunikasi dan sektor jasa jasa. Sektor pertanian mampu memberi andil terhadap pertambahan output ekonomi di sektor pertanian sebesar 13,74 persen atau sebesar 54,85 milyar terhadap total output yang tercipta di sektor pertanian. Sementara itu, pengaruh komponen differential shift pada sektor sektor angkutan dan komunikasi dan sektor jasa jasa menunjukkan penurunan yang masing-masing sebesar dan 81,66 persen dan 18,29 persen yang mengindikasikan lemahnya daya saing atau kemandirian dalam kedua sektor ini.
4.2.2. Pergeseran Sektor-Sektor Perekonomian (Pergeseran Bersih/Net Shift)
Pergeseran bersih (PB) diperoleh dari hasil penjumlahan antara proporsional shift dan different shift di setiap sektor perekonomian. Apabila PB > 0, maka pertumbuhan sektor di Kabupaten Parigi Moutong termasuk dalam kelompok yang progresif (maju). Sedangkan PB < 0 artinya sektor perekonomian di Kabupaten Parigi Moutong termasuk kelompok yang lamban.
Tabel 4.7. Pergeseran Bersih (Net Shift) Sektor Perekonomian Kabupaten Parigi Moutong
Sektor/Subsektor Ekonomi Pergeseran Bersih
Juta Rupiah Persentase
1. Pertanian (43.326) (10,86)
1.1. Tanaman Bahan Makanan (54.088) (40,18)
1.2. Tanaman Perkebunan 12.293 8,12
1.3. Peternakan (12.745) (87,91) 1.4. Kehutanan (19.044) (168,47)
1.5. Perikanan 30.260 34,69
2. Pertambangan dan Penggalian 1.321 12,06
2.1 Migas - -
2.2 Pertambangan non migas - -
2.3 Penggalian 1.321 12,06
3. Industri Pengolahan 3.332 6,89
3.1. Industri Migas 0 0
3.2. Tindustri non migas 3.332 6,89
4. Listrik dan Air Bersih 30 3,39
4.1. Listrik 28 3,71
4.2. Gas - -
4.2. Air Bersih 2 1,54
5. Bangunan 26.610 39,81
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 34.145 26,17
6.1. Perdagangan Besar dan Eceran 32.829 26,00
6.2. Hotel 207 33,32
6.3. Restoran 1.109 31,00
7. Angkutan dan Komunikasi (9.910) (19,57) 7.1. Angkutan (10.380) (20,95) 7.2. Komunikasi 470 42,20
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 4.656 51,70
8.1. Bank 4.388 67,63
8.2. Lembaga Keuangan Non Bank (10) (2,01)
8.3. Jasa Penunjang Lemb. Keuangan - -
8.3. Sewa Bangunan 43 44,30 8.4. Jasa Perusahaan 236 12,18 9. Jasa-jasa 7.003 9,91 9.1. Pemerintahan Umum 13.057 26,38 9.2. Swasta (6.054) (28,64) Jumlah 23.860 3,03
Sumber: BPS Kabupaten Parigi Moutong (diolah)
Berdasarkan Tabel 4.7, secara agregat pergeseran bersih di Kabupaten Parigi Moutong menghasilkan nilai positif, yang turut memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan PDRB pada periode 2003-2008 di Kabupaten Parigi Moutong sebesar 23,86 milyar rupiah atau sebesar 3,03 persen. Struktur perekonomian Parigi Moutong yang tidak sepenuhnya sesuai dengan struktur
perekonomian Sulawesi Tengah mampu diimbangi dengan nilai daya saing wilayah. Hal ini juga menunjukkan bahwa secara umum, Kabupaten Parigi Moutong termasuk kedalam kelompok daerah yang progresif (maju).
Di tingkat sektoral, hampir semua sektor memiliki nilai PB > 0 kecuali dua sektor yang memiliki PB < 0 yaitu sektor pertanian dan sektor angkutan dan komunikasi. Pada sektor pertambangan, pergeseran bersihnya mampu menambah pertumbuhan output sebesar 1,32 milyar rupiah atau sebesar 12,06 persen terhadap total pertumbuhan di sektor tersebut. Begitu juga yang terjadi di sektor industri pengolahan, sektor listrik, sektor bangunan, sektor perdagangan, sektor pengangkutan, sektor keuangan dan sektor jasa-jasa pergeseran bersihnya turut menambah pertumbuhan output ekonomi di Kabupaten Parigi Moutong. Lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 4.6. Sementara pada sektor pertanian pergeseran bersih justru membebani tingkat pertumbuhan output sebesar (43,33) milyar rupiah.
4.2.3. Analisis Kuadran Proportional Shift (PS) dan Differential Shift (DS)
Dengan melihat besaran PS dan DS, maka suatu daerah/sektor dapat dikategorikan menjadi empat kelompok/kuadran. Dengan menggunakan alat analisis Shift Share, dapat dilihat dari pendekatan DS dan PS sekaligus, pada periode 2003-2008 secara agregat posisi perekonomian (PDRB) Kabupaten Parigi Moutong terletak pada Kuadran IV (PS negatif dan DS positif). Hal ini berarti bahwa ekonomi Kabupaten Parigi Moutong mengalami pertumbuhan relatif lambat dibanding pertumbuhan Sulawesi Tengah tetapi secara umum memiliki
daya saing yang relatif tinggi serta arah pertumbuhan ekonomi sektor dominan di Kabupaten Parigi Moutong sejalan dengan arah pertumbuhan sektor dominan di tingkat Sulawesi Tengah.
Gambar 4.1. Proportional Shift (PS) dan Diference Shift (DS) Sektor Ekonomi di Kabupaten Parigi Moutong Periode 2003-2008
industri pengolahan LGA bangunan perdagangan angkutan keuangan jasa-jasa pertanian penggalian -50.000 -40.000 -30.000 -20.000 -10.000 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 -100.0 00 -90.00 0 -80.00 0 -70.00 0 -60.00 0 -50.00 0 -40.00 0 -30.00 0 -20.00 0 -10.00 0 0 10.000 20.000 30.000 40.000 D S PS Kua dra n I I I
Kua dra n I V Kua dra n I
Kua dra n I I
Pada kuadran II (PS positif dan DS negatif) ditempati oleh sektor jasa-jasa dan sektor angkutan dan komunikasi. Hal ini memberikan pengertian bahwa sector-sektor tersebut berada pada posisi tertekan tapi sedang berkembang (developing). Sektor-sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor ekonomi yang
memiliki laju pertumbuhan yang cepat, tetapi sektor tersebut tidak mampu bersaing dengan sektor ekonomi dari wilayah lain (daya saingnya rendah).
Sementara itu, tidak terdapat sektor ekonomi di Kabupaten Parigi Moutong yang menempati kuadran III (PS negatif dan DS negatif). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada sektor ekonomi di Kabupaten Parigi Moutong yang dikategorikan sebagai sektor yang terbelakang dan berdaya saing lemah atau dikategorikan terbelakang.
Di kuadran IV ditempati oleh sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas dan air bersih. Kelompok sektor ini mempunyai kecenderungan sebagai sektor yang tertekan tetapi berpotensi (highly potential). Kelompok sektor ini memiliki tingkat daya saing yang tinggi tetapi laju pertumbuhannya lambat.