V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3. Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah Provinsi Sulawesi
Analisis shift share terdiri dari tiga komponen yaitu komponen pertumbuhan nasional (PN), komponen pertumbuhan proporsional (PP), dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW). Adapun komponen-komponen yang digunakan dalam analisis shift share hanya sebatas teknik perhitungan saja dan bukan analitik.
Komponen pertumbuhan nasional (PN) menjelaskan seberapa besar pengaruh pertumbuhan nasional terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Nilai komponen PN sektor-sektor perekonomian di Sulawesi Tenggara semuanya bernilai negatif pada kurun waktu tahun 1997-2000 (Tabel 5.4). Jika nilai PN negatif, hal itu berarti perubahan produksi nasional secara umum, perubahan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, dan adanya berbagai kebijakan ekonomi nasional tidak mempengaruhi sektor-sektor perekonomian di Sulawesi Tenggara. Sektor dengan nilai komponen PN terendah adalah sektor pertanian, yaitu sebesar -42,23 milyar. Nilai tersebut mengindikasikan jika terjadi perubahan kebijakan nasional, maka pertumbuhan sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Tenggara tidak akan terpengaruh dengan kebijakan tersebut. Sementara itu sektor perekonomian yang memiliki nilai komponen PN yang paling tinggi di antara sektor-sektor yang lainnya adalah sektor listrik, gas dan air bersih yaitu sebesar -1,06 milyar. Hal ini berarti jika terjadi perubahan kebijakan nasional atau perubahan pertumbuhan ekonomi nasional, maka sektor listrik, gas dan air bersih jika dibandingkan dengan sektor-sektor yang lain adalah yang paling terpengaruh.
Sektor perekonomian pada kurun waktu tahun 2001-2005 dilihat dari komponen pertumbuhan nasional, terjadi perubahan yang cukup signifikan. Semua sektor-sektor perekonomian nilai komponen pertumbuhan nasionalnya positif. Sektor pertanian adalah yang berubah paling signifikan dibandingkan sektor-sektor lainnya. Jika sebelum penerapan otonomi daerah nilai komponen PN sektor ini adalah yang paling rendah, maka sesudah penerapan otonomi daerah, sektor pertanian merupakan sektor perekonomian yang paling tinggi nilai komponen pertumbuhan nasionalnya yaitu sebesar 116,33 milyar rupiah (Tabel 5.4). Sehingga hal tersebut menjadikan sektor pertanian adalah yang paling mudah terpengaruh dengan perubahan-perubahan ekonomi nasional. Sementara pada masa penerapan otonomi daerah, sektor dengan nilai komponen PN terendah adalah sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar Rp 4,47 milyar rupiah. Sehingga perubahan kebijakan ekonomi nasional tidak akan terlalu mempengaruhi sektor ini.
Tabel 5.4. Nilai Komponen Pertumbuhan Nasional Provinsi Sulawesi Tenggara Sebelum dan Sesudah Penerapan Otonomi Daerah
1997-2000 2001-2005 No Sektor Perekonomian
PN PN
1 Pertanian -42,23 116,33
2 Pertambangan dan Galian -4,01 10,70
3 Industri Pengolahan -11,21 28,52
4 Listrik, Gas dan Air Bersih -1,06 4,47 5 Bangunan dan Konstruksi -16,18 32,89 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran -16,87 53,82 7 Angkutan dan Komunikasi -11,55 45,20 8
Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan -7,42 17,96
9 Jasa Lainnya -23,15 62,77
Nilai komponen PP (pertumbuhan proporsional) menjelaskan mengenai perubahan relatif PDRB sektor-sektor perekonomian suatu wilayah dengan perubahan PDB sektor-sektor perekonomian. Jika nilai komponen PP > 0, berarti suatu sektor perekonomian di suatu wilayah relatif memiliki laju pertumbuhan yang cepat. Sebaliknya jika nilai komponen PP < 0, berarti suatu sektor perekonomian di suatu wilayah laju pertumbuhannya relatif lambat.
Sektor-sektor yang memiliki nilai PP negatif (PP < 0) sebelum penerapan otonomi daerah ada lima sektor (Tabel 5.5). Lima sektor tersebut antara lain; sektor bangunan dan konstruksi dengan nilai PP sebesar -51,76 milyar rupiah atau turun sebesar -26,01 persen, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar -20,65 persen. Turunnya laju pertumbuhan kedua sektor ini sudah dijelaskan di bagian awal pembahasan, yaitu karena kedua sektor tersebut sangat terpengaruh dengan krisis ekonomi. Kemudian sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar -5,50 persen, sektor angkutan dan komunikasi sebesar -0,40 persen. Sementara itu sektor dengan laju pertumbuhan tercepat adalah sektor listrik gas dan air bersih dengan nilai komponen PP sebesar 3,65 milyar atau tumbuh sebesar 28,12 persen.
Empat sektor perekonomian di Sulawesi Tenggara pertumbuhannya relatif lambat sesudah penerapan otonomi daerah. Hanya saja terdapat perbedaan sektor-sektor perekonomian yang pertumbuhannya lambat antara masa sebelum penerapan otonomi daerah dengan masa sesudah penerapan otonomi daerah. Sektor-sektor perekonomian yang sebelum otonomi daerah pertumbuhannya cepat menjadi lamban pada masa penerapan otonomi daerah. Sektor-sektor tersebut
antara lain; sektor pertambangan dan galian sebesar -9,81 milyar rupiah atau melemah -19,34 persen, sektor jasa lainnya sebesar -17,97 milyar atau melemah -6,04 persen, kemudian sektor pertanian sebesar -31,99 milyar rupiah atau melemah -5,80 persen, kemudian sektor industri pengolahan dengan nilai PP sebesar -1,64 milyar atau tumbuh -1,21 persen. Pada kurun waktu 2001-2005, sektor perekonomian yang memiliki laju pertumbuhan tercepat adalah sektor angkutan dan komunikasi dengan nilai komponen PP sebesar 64,02 milyar atau tumbuh sebesar 29,88 persen. Adapun laju pertumbuhan di sektor ini sangat didukung oleh pertumbuhan dari sub sektor komunikasi.
Tabel 5.5. Nilai Komponen Pertumbuhan Proporsional Provinsi Sulawesi Tenggara Sebelum dan Sesudah Otonomi Daerah
1997-2000 2001-2005 No Sektor Perekonomian
PP Persen PP PP Persen PP
1 Pertanian 56,26 10,83 -31,99 -5,80
2 Pertambangan dan Galian 4,47 9,06 -9,81 -19,34 3 Industri Pengolahan 7,83 5,68 -1,64 -1,21 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 3,65 28,12 0,97 4,58 5 Bangunan dan Konstruksi -51,76 -26,01 15,04 9,64 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran -11,42 -5,50 5,27 2,07 7 Angkutan dan Komunikasi -0,56 -0,40 64,02 29,88 8
Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan -18,84 -20,65 5,34 6,27
9 Jasa Lainnya 24,03 8,44 -17,97 -6,04
Sumber : BPS, 1997-2005 (Data diolah)
Komponen PPW (pertumbuhan pangsa wilayah) digunakan untuk mengetahui sektor-sektor perekonomian mana saja di suatu wilayah yang memiliki keunggulan komparatifnya tinggi dan sektor-sektor mana saja yang keunggulan komparatifnya rendah. Jika nilai komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) suatu sektor perekonomian tertentu di Sulawesi Tenggara lebih besar sama dengan nol atau PPW ≥ 0, maka sektor perekonomian tersebut
memiliki keunggulan komparatif yang tinggi. Namun jika nilai komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) suatu sektor perekonomian tertentu di provinsi Sulawesi Tenggara lebih kecil dari nol (PPW < 0), berarti sektor perekonomian tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif.
Hanya terdapat satu sektor perekonomian di Provinsi Sulawesi Tenggara yang negatif nilai pertumbuhan pangsa wilayahnya sebelum penerapan otonomi daerah. Sektor tersebut adalah sektor pertanian dengan nilai komponen PPW sebesar -2,24 milyar rupiah. Sementara itu sektor yang mempunyai keunggulan tertinggi adalah sektor angkutan dan komunikasi, dengan nilai komponen PPW sebesar 61,29 milyar rupiah atau sebesar 43,15 persen (Tabel 5.6).
Empat sektor perekonomian yang sebelum otonomi daerah adalah sektor yang kompetitif, sesudah penerapan otonomi daerah tidak lagi menjadi sektor unggulan. Empat sektor tersebut antara lain; sektor industri pengolahan dengan nilai PPW sebesar -19,63 milyar, sektor bangunan dan kontruksi dengan nilai PPW sebesar -18,87 milyar, sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai PPW sebesar -5,59 milyar, dan sektor angkutan dan komunikasi dengan nilai PPW sebesar -42,24 milyar atau turun sebesar -19,71 persen. Sektor pertanian mengalami peningkatan sebesar 14,75 persen, dengan nilai PPW sebesar 81,34 milyar. Dengan nilai PPW sebesar itu, sektor pertanian sesudah penerapan otonomi daerah adalah sektor yang kmpetitif bersama sektor pertambangan dan galian. Tercatat nilai komponen PPW dari sektor pertambangan dan galian mengalami peningkatan sebesar 72,66 persen. Tingginya pertumbuhan ini cukup wajar, mengingat Provinsi Sulawesi Tenggara juga kaya akan barang tambang.
Tabel 5.6. Nilai Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara Sebelum dan Sesudah Penerapan Otonomi Daerah
1997-2000 2001-2005 No Sektor Perekonomian PPW Persen PPW PPW Persen PPW 1 Pertanian -5,194 -1,00 81,34 14,75
2 Pertambangan dan Galian 1,06 2,15 36,85 72,66 3 Industri Pengolahan 1,80 1,30 -19,63 -14,52 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 3,38 26,02 3,01 14,19 5 Bangunan dan Konstruksi 11,96 6,01 -18,87 -12,10 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 53,36 25,72 -5,59 -2,19 7 Angkutan dan Komunikasi 61,29 43,15 -42,24 -19,71 8
Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan 15,13 16,58 15,93 18,71
9 Jasa Lainnya 2,47 0,87 0,14 0,05
Sumber : BPS, 1997-2005 (Data diolah)
5.4. Pergeseran Bersih dan Profil Pertumbuhan Sektor-Sektor